Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Rencana


__ADS_3

Pagi itu semua keluarga berkumpul di restoran lantai 17.


Bu Atikah juga sengaja dijemput oleh driver kerumahnya untuk sarapan bersama.


Ditya dan Zoya bergabung dimeja mereka.


Zoya terlihat cantik mengenakan dress ibu hamil berwarna mustard.


"wah wah, yang sudah rindu berat sampai keluar rumah sakit pagi buta".


Pak Mahesa mulai menggoda ketika keduanya sudah duduk.


"papi kayak gak pernah muda aja".


Tia menimpal candaan papinya, semua yang mendengar ikut tersenyum.


"katanya jangan rindu pi, berat. Biar si kuslan yang tanggung".


Ditya termehek melontarkan kata kata yang terdapat disebuah novel terkenal.


"habis ini rencana kalian apa ? Zoya makin hari perutnya kan akan membesar, masih sanggup kerja ?"


Kini topik mereka berubah menjadi serius, Zoya hanya melirik kearah sampingnya.


Apa yang akan dikatakan oleh suaminya ? Zoya sangat penasaran.


"kalau masih memungkinkan, Zoya akan terus bekerja. Tapi semua clientnya yang akan datang ke hotel, untuk urusan yang lain Ditya akan mengurangi aktifitasnya".


Sudah ketok palu, keluarga harus menerima keputusan yang Ditya buat. Tidak ada lagi yang bisa mendesak Zoya, terkecuali keadaan diluar kendali.


"baiklah kalau memang begitu keputusannya. Ayo kita mulai sarapannya".


Bu Aulia mengajak semuanya melupakan masalah tadi, dan memilih makanan di setiap stall.


"ibu hari ini mau check up, semoga tubuh ibu tidak menolak ginjal baru".


Bu Atikah hendak pamit pada Zoya dan Ditya, mereka sedang menunggu mobil yang akan mengantar bu Atikah ke rumah sakit.


"maaf ya bu, Zoya tidak bisa antar. Bahkan saat ibu operasi Zoya juga tidak sempat menemani".


Perasaannya amat bersalah, sebagai keluarga satu satunya Zoya tidak mampu memberikan yang terbaik untuk ibunya.


"kan dokter bilang kamu jangan kelamaan di rumah sakit, takut tertular penyakit. Yang penting kamu dan cucu ibu sehat".


Bu Atikah tersenyum mengelus perut Zoya.


"hati hati ya bu".


Melihat mobil sudah tiba, Ditya mencium tangan bu Atikah di ikuti pula oleh Zoya.


Mobil yang membawa bu Atikah kini sudah luput dari pandangan keduanya. Ditya mengajak Zoya untuk kembali ke kamar.


Di sofa, Ditya membenamkan kepalanya diatas paha Zoya. Dia terus memegangi tangan istrinya, seolah sedang melepas rindu jutaan purnama.


Bertengkar dengannya membuat Ditya tidak bisa bernafas, sesak memenuhi rongga dadanya.

__ADS_1


Zoya mengamati Ditya yang menutup matanya, tangan kirinya bergerak mengusap rambutnya.


"bahkan seperti inipun, aku masih merindukanmu Zoya".


Ditya menyunggingkan senyumnya dan mengecup tangan Zoya berkali kali.


"mas . ."


Seperti ragu, Zoya ingin mengatakan sesuatu pada suaminya.


"aku mau usaha."


Perkataan Zoya membuat Ditya membuka mata, dan duduk sejajar dengannya.


Ditya masih diam, dia malah menatap tajam Zoya.


"aku tidak mungkin terus bekerja. Keluargamu selalu mendesak aku untuk berhenti. Aku pikir usaha yang tidak terlalu menyita waktu adalah option tepat mas".


Zoya tahu, Ditya diam karena sedang menunggu penjelasan darinya.


"bukankah tadi aku sudah memberi keputusan. Kalau kamu usaha, justru akan lebih menyita waktu. Bagaimana nanti mengurus baby X dan juga aku ?"


Terdengar jelas kalau Ditya tidak menyetujui rencana Zoya untuk usaha.


Zoya sadar, orang mungkin akan berpikir untuk apa dirinya bekerja ? Padahal sudah memiliki suami seorang pengusaha.


"aku tahu, selama kita menikah aku tidak pernah memberimu nafkah yang pasti. Bahkan kamu membiayai operasi ibu tanpa meminta padaku. Tapi bukan berarti aku tidak mampu menafkahimu Zoya. Aku sedang menyiapkan semuanya untuk kamu".


Ditya bangkit dan merubah posisi duduknya diatas meja untuk berhadapan dengan Zoya.


sejujurnya Zoya tidak ingin kehidupannya terus menghadapi perdebatan.


tapi kalau tidak diselesaikan dengan cara berdiskusi maka artinya dia lari dari kenyataan.


"Jadi jenis usaha apa yang sudah menarik perhatian kamu ?"


kini Ditya bersikap seolah dia pebisnis yang ingin mendengar penjelasan dari calon pengusaha baru.


"planner, aku mau usaha yang bergerak dibidang organizer. kan nanti kita bisa jadi mitra".


Zoya melebarkan senyumnya pada Ditya, membayangkannya saja bisa membuat ia bahagia.


"aku kasih kamu izin, tapi bukan berarti aku membiarkan kamu terus bekerja".


meski berat, Ditya berusaha untuk membuat Zoya nyaman melakukan hal yang diinginkannya.


"terima kasih mas".


Zoya memeluk Ditya dengan erat, memang tidak mudah menghadapi setiap masalah. ia akan berusaha untuk terus terbuka pada suaminya.


setelah Zoya terlelap menikmati tidur siangnya, Ditya diam diam melangkahkan kakinya keluar kamar. mengendap agar tidak membangunkan Zoya.


kasihan dia, akhir akhir ini waktu tidurnya berkurang karena mengurus ini itu.


"tuan mau kemana ? takut non Zoya tanya".

__ADS_1


bi sumi menghentikan langkah Ditya yang berniat membuka pintu.


"saya ada di coffee shop bi, ketemu teman".


kemudian dia turun menggunakan lift, dan benar menuju coffee shop.


disana sudah ada seorang laki laki yang tengah duduk menikmati ice americanonya.


"lama sekali, kamu pikir aku ini pengangguran apa ?"


Laki laki itu mengomel karena sudah hampir setengah jam menunggu Ditya.


"loe kan tahu Ga, gue punya istri yang harus dijaga. gue cuma mau bilang terima kasih, loe sudah menyetir untuk Zoya saat mengantar ke rumah sakit".


tidak ingin basa basi, Ditya langsung ke tujuannya meminta Arga datang.


"anytime Dit, aku akan selalu bantu keluargamu. apalagi Zoya, yang sudah menarik perhatianku sejak awal".


Arga masih belum menyerah, dia bahkan sengaja mengibarkan bendera perang.


"******* loe Ga ! loe kan tahu adek gue naksir saat kalian pertama kali bertemu. loe pikir gue akan tinggal diam ?"


Ditya geram sekali melihat tingkah Arga yang tidak sadar juga,


rasa percaya dirinya membakar emosi Ditya. Tia adiknya mungkin masih bisa dikendalikan untuk tidak melanjutkan perasaannya. apa kabar dengan Zoya ? bersiaplah rumah tangganya akan selalu diterjang badai orang ketiga.


"kalau begitu kasih aku satu kesempatan lagi Dit ! akan kuperbaiki pertemanan kita, maka Zoya aman dariku".


sesaat Ditya berpikir, benarkah Arga ingin memulainya dari awal ?


bagaimana kalau dia dikhianati lagi olehnya.


dulu saat kuliah, Arga mencuri ide Ditya ketika mengerjakan projek kuliah.


sepele memang, tapi bagi pria itu menyakiti harga dirinya.


"oke, asal kamu jauhi Zoya aku akan mulai memberi kesempatan bagimu".


mau tidak mau, Ditya menyetujui kesepakatannya dengan Arga.


Arga tahu betul, Zoya bukanlah seseorang yang harus diperjuangkan olehnya. tapi kalau mereka berteman, tidak masalah bukan ? mungkin Arga juga akan memberi pengertian pada Tia, kalau dia tidak bisa membalas perasaannya. agar Tia tidak terluka nantinya.


"Bi, Aditya pergi kemana ?"


Zoya terbangun karena merasa haus, dan tidak menemukan suaminya.


"tuan turun ke bawah non, katanya ada teman".


bi sumi tengah sibuk menyiapkan bahan makanan untuk makan siang.


"bi Sumi, masaknya buat bibi aja. aku sama Ditya mau makan diluar".


moodnya sedang tidak enak memakan masakan rumah, rasanya Zoya ingin makan diluar. berkencan dengan Ditya, bertiga bersama baby X.


"baik non".

__ADS_1


bi Sumi mengangguk lalu tersenyum pada Zoya.


__ADS_2