
Erwin mendapat laporan dari dokter yang menangani Zara. Dokter yang juga teman Om Rahman. Erwin meminta semua laporan pasien masuk di rumah sakit sekitar bandara. dokter yang curiga, langsung meminta Erwin mengecek.
Dia langsung mengabari Ditya, kalau Zara kemungkinan ditabrak. Maka dari itu Ditya datang bersama polisi yang kini menahan Hafiz.
"Hmmm . ."
Zara meringis memegang kepalanya yang dibalut perban.
Ditya mendekat menggenggam tangannya.
"Zara, aku panggilkan dokter ya ?"
Tangannya langsung menekan bel darurat.
Dokter teman Erwin datang memeriksa bersama suster.
"ini hasil tesnya sudah keluar, tidak ada luka dalam. Tinggal tunggu masa pemulihannya."
Syukurlah, Ditya bernafas lega mendengar keadaan Zara. Dokter dan suster pamit setelah Ditya mengucapkan terima kasih.
"mas, aku takut tidak bisa melihatmu lagi."
Lirih Zara dengan suaranya yang masih lemas.
"ssstt . Kamu tidak boleh bicara begitu, kamu baik baik saja Zara."
Suara pintu terbuka, tibalah Kusuma dan Atikah yang mengajak Dee.
Untungnya Zara sudah tidak di ruang ICU, jadi bebas menerima kunjungan di jam besuk.
"onti Zara . .".
Dee berlari, berhambur memeluk Zara yang masih berbaring.
"Dee, onti kangen sekali sama kamu."
Dengan selang infusan, tangan Zara mengelus kepala Dee.
"jangan tinggalin Dee sama ayah lagi. Ayah galau terus gak ada onti disini."
Semuanya terkekeh mendengar penuturan anak kecil itu.
"tidak akan. Karena onti dan ayah sudah sepakat akan menikah."
Sadar waktu tidak ada yang tahu, Ditya langsung melamar Zara dihadapan mertua dan anaknya.
Memang tidak ada cincin, tapi Ditya sungguh sungguh. Zara hanya mengangguk menjawab tatapan Kusuma juga Dee secara bersamaan.
"hore . . Akhirnya onti jadi mama Dee."
Dee meloncat kegirangan, akhirnya pecah telur juga. Usahanya tidak sia sia mendekatkan mereka.
"Dee jangan berisik, onti harus istirahat."
Ditya menghentikan perayaan Dee, tidak ingin mengganggu kesehatan Zara.
"mas, biarkan saja Dee. Aku suka jika dia bahagia."
Zara mencubit pinggang Ditya, sementara sang anak hanya meledek ayahnya puas.
Kusuma mengajak Ditya bicara diluar. Menanyakan kondisi Zara dan penyebabnya.
"Yang Ditya tahu, Hafiz teman baru Zara disana. Jelas sekali dia suka sama Zara. Mungkin dia menyusul Zara, sengaja atau tidak Ditya menunggu kabar dari polisi."
Kusuma manggut mengerti, dia menepuk bahu Ditya bangga.
"tolong jaga Zara, bahagiakan dia. Om percaya sama kamu."
Ditya mengangguk mantap, dengan keputusan yang dibuatnya bersama Zara.
Di kantor polisi, Hafiz masih dimintai keterangan. Alih alih bungkam, dia sangat lancar menceritakan kejadian perkara. Pernyataannya membuat takjub polisi yang bertugas, juga berhasil menghasilkan tanda tanya. Benarkah Hafiz pelakunya, mungkin saja laki laki itu sedang berbohong.
__ADS_1
Kemudian polisi berniat meminta keterangan dari dokter. Dialah orang pertama yang tahu siapa yang membawa korban ke rumah sakit.
"pak, anak saya tidak salah. ."
Tiba tiba mama Hafiz datang menangis terisak.
"mah, mama apa apan sih ?"
Hafiz frustasi, dia takut mamanya akan mengaku. Dia tidak tega jika Lestari harus di penjara. Semalam saja, Hafiz tidak kuat. Apalagi mamanya jika dinyatakan bersalah dan mendekam lama.
"saya yang nabrak korban, bukan Hafiz pak."
Pak polisi mempersilakan Tari duduk, kemudian melaporkan info terbaru pada Ditya.
Di kamar rawat, Ditya tengah asik menikmati momen berdua dengan Zara. Dia menyuapi Zara yang harus minum obat.
Zara masih saja menatap Ditya, ia masih tidak percaya kalau pria itu melamarnya.
"ada apa ?"
Ditya menyadari dirinya diperhatikan sejak tadi.
"tidak ada, aku hanya bahagia melihat Dee bisa ceria lagi."
"aku angkat telpon dulu . ."
Handphone disakunya bergetar, Ditya memotong percakapan. Zara mengangguk tak masalah.
"saya akan kesana, tolong jangan di proses dulu pak. terima kasih infonya."
Zara mengerutkan dahinya, sedikit ia menangkap pembicaraan Ditya. Apa mungkin itu mengenai kecelakaannya.
Ditya menutup telpon dan mendekat kembali.
"ada apa mas ?"
"Zara . .
Sebenarnya Ditya tidak ingin memberitahu, tapi Zara juga berhak memutuskan.
"mas, aku yang salah tidak lihat jalan. Lagi pula aku tidak apa apa, jadi jangan diproses ya ? Aku mohon."
Ditya menghela nafas, mengelus puncak kepala Zara.
"baiklah, maaf tapi Hafiz sudah ditahan semalaman. Soalnya dia menanggung kesalahan bu Lestari."
Kasihan, Hafiz sampai rela melakukannya. Pasti dia merasa bersalah pada Zara.
Setelah proses pencabutan laporan beres, Hafiz bisa bebas keluar dari kantor polisi bersama Tari.
"mah, kita ke rumah sakit ya ! Minta maaf sama keluarga Zara."
Ajak Hafiz pada mamanya yang fokus menyetir. Tari mengangguk setuju lalu kembali melaju ke rumah sakit.
Zara bosan hanya duduk bersandar, ia mencoba berjalan untuk mengambil sesuatu.
Buket bunga yang berada di meja tamu, pemberian Ditya.
Tubuh yang belum sepenuhnya pulih, Zara kehilangan keseimbangan pada kakinya. Ia hampir terjatuh, untung saja seseorang yang baru masuk menahannya.
"Zara, hati hati !"
Ucapnya terkejut memangku Zara, dengan cepat Zara membetulkan posisinya.
"terima kasih mas."
Zara kembali duduk di brankar, ia melihat sosok wanita yang datang bersama laki laki dihadapannya.
"Zara, ini mamaku. Aku mau minta maaf atas nama mama, yang mengakibatkan kamu begini."
Hafiz sangat menyesal, sejujurnya dia malu untuk menemui Zara. Menatapnya saja terasa tidak pantas, seolah Hafizlah yang melakukan kesalahan itu.
__ADS_1
"tidak mas, tante gak salah. Zara yang kurang memperhatikan jalan."
Zara tersenyum pada Tari dan Hafiz, berusaha meyakinkan kalau dirinya baik baik saja.
"Zara, saya minta maaf ya. Semoga kamu tidak membenci tante, apalagi Hafiz."
"enggak tante, sama sekali Zara gak benci kalian."
Pintu terbuka, munculah Ditya yang baru kembali dari kafe untuk makan siang.
"tante, kenalin ini mas Aditya."
Tari melirik kearah Ditya yang berdiri disamping Zara. Pria itu hanya diam tak menyapa.
"Zara, kami pamit ya. Sekali lagi maaf, dan terima kasih."
Lagi lagi Hafiz tidak nyaman jika ada Ditya disana. Apalagi situasinya mereka sedang melakukan kesalahan.
"Iya mas, tante."
Hafiz segera mengajak Tari keluar, padahal wanita itu masih ingin mengatakan sesuatu.
"mas, kenapa diam saja ? Apa kamu masih marah soal . ."
"tidak Zara, aku hanya ingin kamu tidak memikirkan hal lain. Cukup fokus untuk cepat pulih."
Ditya meraih tangan Zara dan menyatukan jemari mereka.
"mmm . ."
Zara mengangguk patuh.
🍀🍀🍀
Beberapa hari setelah Zara keluar dari rumah sakit, Ditya dan keluarganya mendatangi rumah Kusuma untuk melamar Zara.
Siapa yang paling bahagia, kalau bukan Dee. Anak itu tak pernah kehilangan senyumannya.
"Semoga kalian lancar sampai hari H ya, doa kami menyertai kalian."
Aulia menyodorkan cincin untuk Ditya pakaikan di jari manis Zara. Begitupun Zara melakukan hal yang sama.
"amin mih, terima kasih untuk restu kalian."
Ditya merangkul Zara bangga, mereka resmi bertunangan. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, yaitu satu bulan yang akan datang.
"Zara . ."
Ditya dan Zara kini duduk berdua, menjauh dari kehebohan keluarga yang sedang mengobrol ria.
"iya mas ?"
Jawab Zara masih menatap pemandangan keakraban keluarganya.
"terima kasih, kamu sudah mau menerimaku my fiance."
mendadak Ditya mencium pipi Zara secara kilat, gadis itu hanya tersipu malu dengan pipi merona.
"kalau kamu menyakitiku, Dee akan aku rebut."
"haha, kamu jahat sekali."
Ditya terkekeh mendengar ancaman Zara.
"iya, dia kan lebih sayang sama aku mas."
Zara dengan kebaya pas badannya beranjak, menggoda Ditya. pria itu bergegas mengejarnya sampai dapat.
semoga Ditya akan selalu tersenyum lepas seperti itu. Zara juga ingin bahagia, dengan perhatian yang Ditya berikan. ia mulai merasa perubahan luar biasa, Ditya semakin romantis.
meski Zara tahu betul, mungkin Ditya masih belum bisa mencintainya dengan utuh. ia akan terus berusaha mendapatkan cintanya yang mungkin masih milik Zoya.
__ADS_1