
Hari itu Ditya sangat giat bekerja, mengerjakan ini itu. Mengecek laporan keuangan, harian. Bertemu kolega, dan sejumlah client penting.
Demi menghabiskan waktunya, dia tak sabar ingin cepat pulang.
"pak, ada paket untuk bapak".
Yani menyerahkan sebuah map cokelat berukuran kecil pada Ditya yang akan pulang itu.
"thanks".
Ditya meraihnya dari tangan Yani, dan bergegas ke parkiran mobil.
Tanpa membukanya, Ditya meletakan map itu kekursi sebelahnya. Langsung saja dia tancap gas menuju rumah bu Atikah.
"aku pulang. ."
Kepulangan Ditya disambut oleh suasana ramai dibutik milik Zoya. Banyak barang baru, membuat pelanggan sibuk memilih.
"mas tolong jagain Dee, aku handle ini dulu".
Zoya menghampiri Ditya dan mencium tangan suaminya.
"iya".
Bahagia sekali rasanya bagi Ditya mendapat perlakuan manis dari Zoya. Entah karena istrinya sudah mulai membuka hati, atau refleks karena kehebohan yang terjadi.
"ayo masuk, kamu pasti lelah".
Bu Atikah menjemput Ditya yang masih asik menyaksikan Zoya kerepotan.
"tadi sebelum rame, Zoya sudah siapkan makan malam buat kamu. Masih panas, kamu bisa langsung makan".
Ketika Zoya masak, bu Atikah yang menjaga butik. Untung saja Dee masih tidur, jadi tidak terganggu.
"Zoya seperti sudah menemukan dunianya bu, Ditya sangat malu". Diruang tamu, Ditya tertunduk setelah melepas sepatu kerjanya.
"biarkan pengalaman buruk berlalu. Kalian hanya perlu melangkah kedepan bersama".
Benar apa kata mertuanya, harusnya dari dulu Ditya meraih tangan Zoya. Kali ini dia tidak akan mundur lagi, Ditya masih sangat mencintai Zoya.
"Ditya lihat Dee dulu ya bu".
Seorang ayah pasti merasa lelahnya akan hilang ketika sudah bertemu dengan buah hati.
Dilihatnya Dee sedang tidur nyenyak, Ditya mengelus pipinya dengan hati hati.
"huuh. . Akhirnya mereka sudah bubar".
Zoya merebahkan tubuhnya bersandar di sofa. Keringatnya memenuhi kening, dan nafasnya terengah engah.
"setelah kering, kamu langsung mandi. Kita makan malam sama sama".
Tahu Zoya kelelahan, bu Atikah membantunya menyiapkan makanan di atas meja.
Sementara Zoya ingin segera membersihkan tubuhnya yang lengket.
Saat masuk kamar, Zoya mendapati Ditya yang hanya mengenakan handuk. Segar sekali pemandangan yang dilihat oleh Zoya.
Sekian lama mereka terpisah, kini kembali kekehidupan layaknya suami istri.
"aku masih suamimu, jangan malu begitu".
Melihat Zoya yang gugup, Ditya juga ikut ikutan.
"aku mau mandi mas".
__ADS_1
Dengan langkah cepat Zoya masuk kekamar mandi. Tanpa membawa handuk dan pakaian dalam yang baru.
"mas . . Tolong ambilkan handuk !"
Tidak lama kemudian Zoya berteriak dari dalam kamar mandi.
Ditya terkekeh mendengarnya, otaknya mulai usil.
Dia malah berdiri disebelah pintu kamar mandi. Tidak menjawab, agar Zoya berpikir suaminya sudah keluar kamar.
Ceklek . .
Pintu kamar mandi terbuka. Zoya berjalan dengan santainya tanpa busana.
Ditya pernah mengalami hal yang sama dulu.
Wanita itu kini tengah memakai pakaian dalamnya.
Ditya memeluk Zoya dari belakang secara tiba tiba. Sontak Zoya sangat terkejut.
Ada pergerakan tangan Ditya yang menyentuh bekas operasi caesarnya.
"aku merindukanmu sayang, amat dalam".
Dia berbisik ditelinga Zoya, menghirup aroma tubuh yang sudah lama hilang dari penciumannya.
"kamu pikir aku tidak ? Aku sangat tersiksa mas, kamu membuatku menjalani malam yang sangat panjang tanpa kehadiranmu".
Tanpa rasa ragu, Zoya membalikan badannya dan memeluk Ditya.
"kenapa kita harus seperti ini ? Aku bahkan bisa memberimu ratusan kesempatan. Tapi jika kamu tidak menginginkannya, maka lepaskan saja aku mas".
"dengar Zoya ! Kesalahanku adalah kebodohan terbesarku. Aku dan Conni tidak pernah melakukan hubungan intim, percayalah aku mohon".
Ditya melepaskan pelukannya, ingin melihat wajah Zoya ketika mereka menyelesaikan masalah.
"kami memang pernah tidur bersama, itu karena tidak kebagian kamar. Tidak ada yang terjadi Zoya, Conni memang menyukaiku tapi aku tidak. Dia selalu merasa nyaman saat bersamaku, aku hanya menganggapnya teman penghilang rasa sepiku tanpa kamu".
Disitulah letak kesalahan Ditya, ia melampiaskan kerinduannya pada Zoya dengan menerima kehadiran Conni.
"kamu jahat dan egois mas".
Kebenciannya kembali menyeruak dalam diri Zoya.
Ia mengalihkan perhatiannya dengan memakai baju tidur yang menggantung di almari.
"aku tahu, tapi diantara aku dan Conni tidak pernah memulai apapun. Aku sudah mengakhirinya Zoya, aku akan mulai menebus kesalahanku."
"aku tidak bisa menjanjikan apapun mas, biar waktu yang akan memberi jawaban untuk kita".
Karena ibunya sudah menunggu, Zoya menyudahi perdebatan itu dan mengajak Ditya makan malam.
Secara telaten, Zoya melayani Ditya seperti biasanya.
Menuangkan air, menaruh nasi dan lauknya kepiring Ditya.
Ibunya tersenyum memperhatikan tingkah keduanya.
"terima kasih sayang".
Ucap Ditya mulai melahap makanannya.
Zoya sengaja masak karena Ditya akan
Menginap.
__ADS_1
Ia memasak sapotahu sayur, beef teriyaki dan chicken nuget. Menu mudah yang selalu ia buat saat masih tinggal bersama.
"mumpung Ditya disini, ibu mau bahas soal akikahnya baby Dee. Baiknya menurut kalian saja, supaya dipercepat".
Bu Aulia yang melihat anak dan mantunya sudah selesai makan, mulai membahas hal penting.
"biar adil, Ditya akan siapkan acaranya dihotel bu. Rencananya Zoya akan Ditya bawa kembali kesana. Untuk butik biar ada karyawan yang bekerja".
Tanpa berdiskusi dengan Zoya, Ditya spontan mengatur rencana kedepannya bersama Zoya.
Dia melirik kearah Zoya, menunggu respon yang akan dilontarkannya.
"bagaimana Zoya ?"
Bu Atikah jug ingin tahu jawaban dari anaknya.
"Zoya ikut apa kata mas Ditya bu".
Alhamdulillah, mereka bernafas lega mendengar keputusan Zoya. Semoga ini langkah awal dari usaha mereka berbaikan.
malam mulai larut, Zoya masih memberi asi untuk Dee. dengan penuh kesabaran, ia menunggu Dee hingga merasa kenyang, meski tubuhnya sudah sangat lelah.
tiba tiba Ditya memijat kaki Zoya yang sedang berselonjor.
"mas, tidak usah. kamu tidur saja".
setengah berbisik Zoya melarang Ditya melakukannya.
"ini tidak ada apa apanya, daripada perjuangan dan pengorbanan kamu yang begitu besar untukku Zoya".
tak menghiraukan Zoya, Ditya terus memijat kaki Zoya hingga kebagian telapak keduanya.
"terima kasih mas, karena sudah mempertahankan aku. dan terus berusaha meyakinkan aku".
akhirnya Dee sudah tertidur kembali, Zoya meletakkannya diranjang khusus bayi dengan kelambu anti nyamuk.
tempat tidur Dee memang sekamar dengannya, supaya Zoya bisa leluasa menjaga dan mengawasinya.
Ditya membopong Zoya dan menidurkannya diranjang.
sempat menberontak, Zoya pasrah mendapat perlakuan romantis dari Ditya.
"boleh aku melakukannya ?"
tidak ingin menyakiti perasaan Zoya, Ditya meminta izin terlebih dahulu.
"aku masih istri sah kamu mas, tubuhku seutuhnya milik kamu".
Zoya tersenyum malu malu, Ditya mematikan saklar lampu. hanya menyisakan lampu tidur sebagai penerang.
aksinya dimulai dengan mencium kening Zoya, turun ke hidung lalu mengecup bibirnya.
lama sekali mereka melakukannya, melepas rindu yang terpendam selama ini.
tangan Ditya kini sibuk membuka kancing baju milik Zoya, melepaskan celana dan melemparnya sembarang.
terbayar sudah, rasa nikmat yang sama sama mereka rindukan. Ditya memintanya berkali kali, dan Zoyapun tidak menolaknya.
"ea . . ea . ."
aktifitas ranjang mereka terhenti karena Dee mengompol, dan popoknya harus diganti secepat mungkin.
"jadi begini rasanya".
Ditya mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang, dengan keadaan masih telanjang bulat.
__ADS_1
dia tersenyum geli melihat Zoya mengurus Dee tanpa sehelai kainpun menutupi tubuh mulusnya.