Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#84


__ADS_3

Setelah menghabiskan 3 botol infusan, Zara diperbolehkan pulang oleh dokter.


Selama di perjalanan, Zara hanya diam tak berusara.


Ia menyandarkan kepala sambil memeluk perutnya.


"Ra, aku sudah minta ART juga supir untuk bekerja mulai besok. Jadi Dee biar antar jemput sama supir saja, urusan bersih bersih ada 2 ART."


Ditya membuka suara, ia tidak ingin terjadi apa apa lagi pada istri dan anaknya.


Sementara Zara tidak menanggapi laporan dari suaminya.


" mulai besok aku akan bekerja dirumah, aku bisa menemani kamu."


Lanjutnya lagi melirik sebentar kesamping, terlihat Zara sudah mulai terlelap.


" Aku minta maaf Zara, kamu pasti tersiksa selama ini."


Bisik Ditya kemudian mengelus pelan kepala Zara.


🍀🍀🍀


Pagi hari yang cerah, sinar mentari mulai menyoroti kamar melalui celah gorden.


Wajah yang terlelap mulai terganggu dengan kehadiran itu, ia menggeliat terbangun.


"selamat pagi istri . ."


Ditya sejak tadi duduk di tepi ranjang menunggu istrinya.


"ya ampun, aku kesiangan mas harus siapin sarapan. Dee juga pasti sudah telat ke sekolah, kenapa kamu gak bangunin aku ?"


Nyerocos sekali cara bicara Zara yang sudah turun dari tempat tidur.


"hei tenang, sarapan ada bi Atin yang buat. Dee juga sudah berangkat diantar pak Halim tadi."


Ditya menahan Zara untuk duduk disampingnya.


"siapa mereka mas ?"


Pertanyaan Zara membuat Ditya terkekeh.


"kamu tidur pas aku kasih tahu ada 2 ART dan 1 supir yang kerja mulai hari ini."


"kenapa ? Apa aku gak becus ngurus Dee, kamu masih marah sama aku mas ?"


Ditya memeluk Zara yang mulai menangis, hangat sekali pelukan itu. Pelukan yang sudah lama tak Zara rasakan.


"aku gak mau kamu lelah karena mengurus Dee. Lagipula kamu kan sekarang mengandung anakku, aku ingin kalian baik baik saja."


Zara membalas pelukan Ditya, semoga kejadian kemarin tidak terulang kembali.


Ia takut sekali jika Ditya marah seperti itu.


"mas . ."


Mendadak Zara melepaskan pelukan Ditya, ia berlari ke kamar mandi dengan menutup mulutnya.


"Ra, kamu baik baik saja ?"


Suaminya ikut menyusul, Zara mulai muntah muntah tanpa mengeluarkan apapun.


Tangan Ditya memijat tengkuk sang istri, ini pasti morning sickness.


"perutku mual sekali mas, ,"


"sabar ya sayang, aku akan selalu ada buat kamu. Habis ini kamu minum susu ibu hamil, aku sudah buatkan di bawah."


Zara mengangguk, setelah mandi mereka turun untuk sarapan bersama.


Menjelang siang Ditya menemani Zara menonton TV di ruang tengah.


Sesekali ia mengecek laporan yang dikirimkan Yani sekretarisnya melalui email.


"mas, aku gak apa kok kalau kamu memang harus bekerja. Lagian dirumah sekarang sudah rame."


Zara sedang bermanja manja dengan suaminya, ia yang tengah tiduran di paha Ditya memeluk perutnya.

__ADS_1


"aku ke kantor kalau ada janji temu atau rapat penting saja Ra. Itu sudah diputuskan dan disetujui HRD."


Cup . .


Ditya mengecup pipi Zara yang mulai sedikit tembem.


"mas aku lagi pengen makan ice cream, tapi di beliin kamu. Mau kan ?"


"oke siap, aku akan borong ice cream buat istri tercinta."


Zara bangun dari posisinya, ia sangat senang mendengar kata tercinta dari mulut Ditya.


"mas aku boleh tanya sesuatu ?"


Tatapan Zara berubah menjadi penuh arti, Ditya mengernyitkan dahinya penasaran apa yang ingin ditanyakan Zara.


"perasaan kamu ke aku sebenarnya gimana mas ?"


Sesaat hening, Ditya tidak langsung menjawab pertanyaan Zara. Ia tidak ingin salah bicara dan mempengaruhi emosi Zara yang sedang hamil.


"dengar Zara, jika aku tidak mencintai kamu aku tidak mungkin memutuskan untuk menikah sama kamu. Karena aku tidak mau menyakiti perasaan kamu sayang.


Rasa ingin menyatu bersamamu adalah murni keinginan hatiku."


Zara masih belum menanggapi, ia menunggu Ditya mengungkapkan semua isi hatinya.


"jangan sekalipun berani berpikir kalau aku tidak menginginkanmu Ra. Aku berterima kasih Dee mempertemukanku sama kamu. Kamu sangat baik sama kami sayang, aku tidak mau kehilangan kamu."


Ditya meraih Zara dan memeluknya, berharap istrinya percaya kalau dia benar benar menyayanginya sepenuh hati.


"Terima kasih mas, tapi aku ingin ice cream sekarang juga."


Ditya tertawa melihat Zara yang sekarang menjadi tidak sabaran.


"tunggu ya, aku beli di toko terdekat dulu."


Sebelum pergi Ditya mengecup kening Zara.


Zara masih belum bisa mempercayai perkataan suaminya. Benarkah Ditya sudah bisa membuka hati dan mulai mencintai dirinya ?


Efek kehamilannya Zara selalu merasa lemas sekujur badan. Ia kembali rebahan di sofa sambil menunggu suaminya pulang.


Ting nong . .


Bel rumah berbunyi, bi Atin yang lagi ke pasar dan bi Mia gosok baju alhasil Zara yang berjalan ke arah pintu. Masak Ditya cepat sekali kembali, apa itu Dee yang sudah pulang.


Saat pintu dibukanya, Zara terkejut melihat siapa yang datang.


"mama . ."


Dee memeluk Zara yang tingginya masih jauh darinya.


"Dee sudah pulang sayang, pak Halim memang gak jemput kamu ? Kok kamu pulang sama om Hafiz."


Zara tidak suka melihat Dee diantar pulang Hafiz. Sejak ia menikah Zara tidak ingin bertemu laki laki yang bukan muhrimnya.


"tenanglah Zara, supirnya memang jemput tapi aku yang mengajaknya."


Hafiz berusaha menahan Zara untuk tidak marah melihat dirinya.


"Terima kasih mas Hafiz sudah mengantar, tapi maaf Zara gak bisa terima tamu laki laki kalau suami tidak ada."


Ya, Zara mengusir Hafiz secara kasar tanpa basa basi.


"Zara kenapa kamu berubah ? Kamu bukan Zara yang aku kenal saat pertama kali bertemu.


Aku tahu kamu tidak bahagia menikah dengannya."


"jangan sok tahu kamu, aku mohon pergi sekarang juga atau aku panggil penjaga."


Bukannya menuruti permintaan Zara, Hafiz malah menarik tangannya menuju mobil yang terparkir di area rumah Ditya.


"mah mama mau kemana ?"


Dee berlari mengejar Zara yang kini sudah duduk didalam mobil.


"buka mas ! Kamu bikin anakku ketakutan."

__ADS_1


"dia bukan anakmu Zara ! Kenyataannya kamu hanya jadi pengasuhnya, apa kamu tidak sadar akan hal itu ?"


Ketika bertemu dengan Zara didepan gerbang sekolah, Hafiz tak tega melihat wajah perempuan itu yang pucat dan tak terurus.


Ia bisa menyimpulkan kalau Zara kelelahan menjadi istri Ditya.


Ditya baru tiba dengan motor matiknya, dia melihat mobil asing dimana Dee berusaha menggedor jendelanya.


" B U K A !"


Tangannya memukul kaca dibagian Hafiz duduk. Gagal sudah rencananya membawa pergi Zara.


Brug . .


Setelah keluar Hafiz langsung menerima pukulan telak dari Ditya.


"brengsek loe ganggu istri orang, sudah bosan hidup loe Hafiz ?"


"kamu yang brengsek Aditya, kamu tidak bisa membahagiakan istrimu. Tidak mengurusnya dengan baik sampai dia tidak bisa mengurus dirinya.


Apa kamu tidak lihat, perbedaannya saat gadis dan sekarang menjadi istrimu ? Cih . ."


Tidak ingin menimbulka keributan dan mengganggu tetangga, Hafiz naik kemobil dan pergi dari rumah itu.


"Ra kamu tidak apa apa ?"


Ditya mendekati Zara yang tampak masih terkejut.


"aku baik baik saja mas, ice cream ?"


Ditya terkekeh mendengar istrinya berusaha mencairkan suasana.


"ayo kita masuk."


Ketiganya kembali duduk di sofa ruang TV, Zara juga memberikan ice cream untuk Dee.


Ia tak tega kalau harus memakannya sendirian.


Diluar suara klakson mobil sangat bising, siapa lagi yang datang kali ini.


"itu pasti mereka."


Ditya bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


Mata Zara berbinar ketika keluarganya datang bersamaan.


Ada Kusuma-Atikah, Mahesa-Aulia juga Tia-Arga bersama tiara.


"mantu mami apa kabar ? Selamat ya, bentar lagi jadi mama."


Aulia memeluk Zara yang masih sibuk memegang ice cream cone.


"kok Zara gak tahu kalian mau datang, kan biar Zara siapin makan siang."


"Kejutan dong. Kita bawa makanan banyak, jadi kamu gak usah masak. Jangan sampai kamu terlalu lelah nak."


Atikah juga ikut mendekati Zara mengelus perutnya yang masih datar.


"berapa bulan Ra ?"


Tia memang lebih suka memanggil nama dari kakak iparnya. Katanya biar lebih dekat seperti teman.


"baru 8 minggu."


Jawabnya singkat menebar senyum bahagia.


"kalian pasti lapar, ayo kita makan."


Atikah mengajak keluarga menuju meja makan untuk makan siang.


Suasana sangat ramai sampai Zara tak kuat menerima perhatian dari mereka.


Mulai dari nasehat hingga kiat kiat menjadi ibu hamil.


"papi suka keputusan Ditya untuk tidak pergi ke kantor. Jadi Zara tidak sendirian."


Mahesa memang tidak pernah menuntut puteranya bekerja setiap hari. Toh sekarang dia sudah menjadi pemilik perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2