
Mobil yang membawa Sekar akhirnya tiba di carpot.
Gilang bersama istrinya Ayu menggandeng puteri kecil mereka. Usia Senja baru menginjak 3 tahun.
Cantik, lucu dan menggemaskan.
Sekar selalu merindukan keponakannya itu.
"Wah Senja lihat, tempat kerja tante Sekar besar dan bagus banget ya ?"
Ayu melirik kearah Sekar, ia ikut senang kini adik iparnya sudah bisa dikatakan sukses.
"Kak Ayu ini terlalu memuji, Sekar cuma sekretaris disini."
Sekar merendah tidak ingin berbangga hati.
Jabatannya sama saja dengan pesuruh, hanya istilahnya saja yang keren.
Sekar mengakui kalau tugasnya memang tidak terlalu sulit. Hanya saja saat menumpuk terbengkalai akibat dirinya mengikuti kemauan Damar, terkadang Sekar kewalahan.
Baru dua bulan saja Sekar sudah lolos dari masa training.
Ia resmi diangkat jadi staf setelah Ditya datang menemuinya.
"Sekar apa Damar selalu tidur disini ?"
Gilang penasaran dengan kehidupan laki laki sukses itu.
Sukses diusia muda, meneruskan sebuah perusahaan besar sangatlah tidak mudah.
Gilang saja kewalahan mengurus perusahaannya yang bergerak dibidang furniture.
Harus memutar otak agar tidak kalah saing dengan toko furniture merk luar.
"Iya, sejak kecil Damar memang tinggal disini.
Semua kenangannya tersimpan rapi di Penthouse miliknya."
Ah Sekar jadi ingat pas dirinya menginap di griya tawang milik Damar akibat kelelahan.
Kamar yang ia tempati ternyata milik Zoya istri pertama Ditya.
Foto foto semasa ia hidup terpajang rapi.
Anggap saja itu musium yang menyimpan sejuta kenangan indah Ditya dan Zoya.
Sekar memang sudah tahu kalau Damar dan Kevin kakak adik beda ibu.
Rumit memang kehidupannya, entah dari mana keberanian Sekar muncul mulai menyukainya.
Sekar beruntung bisa dihargai oleh seorang laki laki seperti Damar. Disisi lain ia juga sangat tahu diri, kalau Damar tidak pernah menyukainya.
Ia hanya sebagai pelarian semata, Gilang dan kakak iparnya tidak boleh tahu semua masalah hidup Sekar.
"Silakan . ."
Pramusaji menuntun Sekar menuju meja, Damar memilih dinning resto di lantai 17.
Agar memberi kesan private saat membahas hal hal penting. Ya, ini memang menjadi pertemuan penting karena Ditya yang meminta langsung.
"Selamat datang . ."
Ditya menyambut Gilang yang jauh lebih muda darinya.
Usia Gilang hanya 2 tahun lebih tua dari Damar anak pertamanya.
"Terima kasih pak Komisaris."
Gilang menyambut jabatan tangan Ditya penuh rasa hormat.
Dia tak menyangka bisa bertemu pengusaha sukses itu.
Perlu digaris bawahi, Ditya dan Damar memang mewarisi seluruh kekayaan dari orang tua mereka.
Tapi usaha tidak akan berhasil jika mereka hanya berleha leha saja.
Keduanya memiliki cara masing masing untuk lebih memajukan lagi perusahaan yang kini berdiri sangat kokoh.
"Silakan duduk,"
Zara meminta Gilang dan keluarganya duduk dimeja yang sudah tertata rapi.
"Saya Zara, senang bisa bertemu kalian."
Kakaknya belum terbiasa dengan perlakuan VIP yang kini mereka rasakan.
Mereka sederhana, saat ingin makan ya tinggal makan saja.
Berbeda dengan malam itu, semuanya sudah diatur sedemikian rupa agar sang tamu merasa puas.
"Terima kasih sudah mau menerima undangan kami.
Saya senang Sekar bisa membantu Damar dalam pekerjaannya.
Dia banyak berkontribusi sejak bergabung."
__ADS_1
Ditya langsung keinti, ia mengutarakan apa yang sudah ingin disampaikannya.
"Kami lega saat tahu Damar dekat dengan seseorang, dan ternyata itu Sekar.
Damar itu sangat tertutup pada siapapun."
Tambah Zara melirik kearah Sekar.
"Damar mana ya ?
Saya tidak sabar ingin melihat langsung CEO yang katanya tampan sekali . ."
Gilang berhasil mencairkan suasana, membuat Ditya dan Zara terkekeh mendengar pujiannya.
"Nah itu dia . ."
Zara melihat kedatangan Damar bersama adiknya Kevin dari arah lift.
Keduanya bahkan sering di bilang kembar, bentuk wajah Damar dan Kevin similiar.
Maklum bukan, mereka satu darah dari seorang ayah yang sama.
"Maaf menunggu lama mas Gilang, mbak Ayu."
Damar menyalami calon kakak iparnya.
"Tante Sekar, om Damar ganteng hehe."
Gelak tawa mengikuti ucapan Senja yang menggemaskan.
"Thank you Senja, om senang akhirnya bisa ketemu kamu."
Zara memperhatikan ekspresi Damar seksama.
Anak yang dia besarkan dengan sepenuh hati mulai terbuka hatinya.
Sekian lama Damar membatasi diri dari dunia luar, terkadang Zara khawatir dia akan lepas kendali.
Malam itu, Zara melihat Damar berseri menanggapi sanjungan seorang anak kecil.
Troli makanan akhirnya sampai didekat meja VIP.
Juli berdiri dibelakang Alin penuh rasa gugup.
Bukan hanya akan sesak menyaksikan Damar bersama Sekar, Juli juga akan bertemu Ditya ayah kedua laki laki yang dekat dengannya.
"Selamat malam bapak dan ibu. Kami dengan bangga menghidangkan beberapa menu kesukaan pak Damar sejak kecil. Semoga kalian menyukainya."
Alin memerintahkan anak service mulai menyajikan appetizer, main course hingga dessert.
Senja juga suka teppanyaki."
Senja lagi lagi menggemaskan semua yang mendengar bicara cadelnya.
Damar memang sengaja memesan menu masakan Jepang. Sejak kecil dia suka sekali, kata Ditya itu masakan yang selalu ibunya buat.
Setiap orang mendapat satu set teppanyaki lengkap.
Mereka juga disuguhkan dengan tata hidang cantik juga rapi.
Sayang jika harus di makan, Kevin sampai mengambil beberapa gambar.
"Makan yang banyak Senja, Om secara khusus meminta teman om untuk membuatnya.
Namanya kak Juliana."
Kecuali Gilang dan Ayu, semua menengok kearah Juli berdiri kaku.
"Ini enak Damar seperti di resto Jepang asli, kamu pandai merekrut chef hebat."
Gilang baru saja mencicipi udang tempura.
Ketika kata duplikat, Juli benar benar memasak menu yang tingkat kemiripannya 99%.
1%nya tergantung selera yang menikmati, cocok atau tidak.
"Juls . ."
Kevin bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Juli yang sibuk membagikan makanan.
"Kenapa kamu gak bilang hari ini kerja ?"
Seperti tidak menghiraukan kehadiran ayahnya, Kevin mengajak Juli bicara.
"Kevin aku sedang bekerja, kembalilah ke tempatmu."
Juli tidak nyaman mendapat tatapan Ditya, sejak tadi pria itu memperhatikannya.
"Kevin duduklah. Ayah mau membahas soal tanggal pertunangan kakakmu."
Benar saja Ditya langsung memanggil Kevin.
Kevin mengamati raut wajah Juli setelah ayahnya menyebut kata pertunangan.
Hanya diam, Juli terus saja sibuk sendiri tanpa melihat kearah manapun.
__ADS_1
Mata Juli setia memandangi masakannya.
"Aku akan mengantarmu pulang. Laters Juls . ."
Mau tidak mau Kevin harus segera ke kursinya.
"Alin, bisakah kalian meninggalkan kami ?
Simpan saja semua menu dimeja."
Ditya meminta waktu dan privasinya, Alin hanya mengangguk tersenyum.
"Ayo Juls . ."
Alin mengajak Juli sementara meninggalkan 2 pramusaji untuk stand by.
Juli sempat menoleh kearah belakang, ia melihat Damar.
Mata keduanya bertemu sesaat sebelum Juli lenyap dari pandangan Damar.
"Dee ayah minta tanggung jawab kamu sebagai lelaki.
Jika kalian serius, ayah akan siapkan pesta pertunangan kalian. Tanggalnya terserah kalian saja."
Zara melirik Damar, apa yang akan anak itu katakan pada suaminya. Ia tahu kalau Damar tidak mencintai Sekar.
Jelas ada sesuatu yang tidak beres dengan hubungan mereka.
"Kasih kami waktu yah, Sekar dan aku perlu memahami satu sama lain. Agar semua tidak berantakan nantinya.
Tidak apa kan mas Gilang, mbak Ayu ?"
Salah Damar sepenuhnya, seharusnya dia tidak menyeret Sekar kedalam masalah pribadinya.
"Mas terserah kamu dan Sekar, jangan terburu buru."
Gilang dan Sekar bersamaan saling tatap, Sekar mengangguk samar setuju dengan jawaban sang kakak.
"Oke, ayah juga setuju. Mari kita lanjutkan makan malam ini, silakan."
Ditya menyudahi pembahasan serius, sudah sepatutnya dia sebagai ayah mengerti kemauan anak anaknya.
"Senja, udangnya mau lagi sayang ? Oma punya banyak nih."
Zara menambahkan udang ke piring Senja yang duduk dihadapannya.
"Bilang apa Senja ?"
Sekar mengingatkan keponakannya.
"Thank you oma . ."
Ucap senja menggunakan bahasa inggris.
"Sekar saya harap kamu akan bertahan bersama Damar.
Bantu dia dalam kondisi apapun, kehadiranmu sangat berarti."
Permintaan Ditya terdengar ambigu, menyangkut pekerjaan kah atau soal hati ?
"Sekar akan berusaha pakom."
Sebutan Sekar terhadapnya mengingatkan Ditya pada sosok Zoya mendiang istrinya.
Ditya seperti melihat Zoya muda di diri Sekar.
Didalam pantry, Juli berusaha menenangkan pikirannya.
Masih terngiang ngiang perkataan Ditya ditelinganya.
Benarkah Damar akan bertunangan dengan Sekar ?
Secepat itukah Damar melampiaskan perasaannya.
"Damar bukan milik kamu Juls, wake up !"
Tangan Juli kembali fokus mengambil beberapa macam saus siap saji.
"Juls . .
Mr. Dee ingin kamu naik ke kamarnya. akan ada roomboy yang mengantar."
Alin masih setia bertugas, ia akan pulang jika urusannya dengan Damar sudah selesai.
"Tapi mam aku harus pulang."
Juli berusaha menolak, karena ini memang sudah jam pulangnya.
"Perintahnya Juls."
Alin pasrah tidak bisa membantu.
Juli menghela nafas, membawa keranjang stok kebutuhan dapur yang diminta pak Geri.
Ia kemudian berganti pakaian di toilet yang tersedia diloker.
__ADS_1