
Ditya mengobati luka dikaki Zoya, secara telaten dia merawatnya. Mulai dari membersihkan, sampai membalutnya dengan kain kasa.
Keduanya kini sudah berbaring diranjang, sedikit melemaskan otot dan tenaga yang menegang.
"mas . ."
Zoya meletakkan kepalanya didada bidang Ditya.
"mmm.."
Pria itu masih menutup mata sambil memeluk tubuh Zoya.
"kamu tahu kan ? tidak ada selain kamu dihatiku. Seandainya aku harus menukar hidupku dengan kebahagiaan kamu, akan kulakukan."
Tatapan Zoya kosong ketika mengucapkan kata kata yang terlontar begitu saja. Hatinya seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.
"aku tidak akan menerimanya Zoya, aku hanya membutuhkan kamu. Apa yang sedang kamu coba katakan ? Aku perlu tahu isi hatimu, supaya aku bisa memperbaikinya."
Zoya hanya diam tidak menjawab, ia malah semakin mengeratkan tangannya memeluk Ditya.
"maukah kamu mencumbuku mas ? Kamu dekat, tapi aku selalu merindukanmu."
Tubuh Zoya bergerak duduk diatas Ditya, ia tersenyum menggoda mengibaskan rambutnya. Tingkah Zoya berhasil membuat Ditya terangsang dengan cepat.
"istriku semakin genit, aku tidak tahan ingin menggigitnya."
Secara brutal Ditya mel*mat bibir Zoya, penuh kejantanan. Tidak ada penolakan dari istrinya, malah ia semakin menggila mendapat perlakuan bar bar Ditya.
Pergulatan suami istri diatas ranjang yang mereka lakukan malam itu berbeda dari biasanya. Penuh hasrat membara, meluapkan rasa kepemilikan tubuh masing kasing. Zoya hanya milik Ditta, begitupun sebaliknya.
"aah Zoya, kamu milikku sayang . . Kau yang terbaik, ayo sayang.."
Ditya terus menghentakkannya pada Zoya yang duduk dipangkuannya.
"mmm mas, ah . ."
Tak kuasa menahan serangan Ditya, Zoya kembali mel*mat Ditya. Menggigit bibirnya untuk menyalurkan kenikmatan yang sedang berlangsung, Ditya membalas dengan meremas dua gunung kembar Zoya.
Zoya menikmati puncaknya, begitupun dengan Ditya.
"aku mencintaimu sayang . ." bisik Zoya ditelinga Ditya dengan nafas terengah engah.
"apa tidak sebaiknya kamu merekrut orang untuk membantu tugas kamu mas ? Aku tidak tega, melihat kamu melakukan semuanya sendiri."
Pagi hari Zoya sudah siap dengan masakannya, menyuguhkan hidangan diatas meja.
Ditya masih sibuk dengan laptopnya, sesekali meneguk kopi buatan sang istri.
"bagaimana kalau kerjaan Hotel aku bawa kekamar, kamu yang melakukannya selagi senggang. Aku tahu kamu kompeten Zoya, tahu mana yang baik dan tidak."
Tawaran Ditya memang tidak ada salahnya, selama bekerja bersama pak Mahesa wawasan Zoya memang sangat luas dan terbuka.
"akan aku coba mas, tetap saja untuk persetujuan keputusan tanda tangan kamu yang dibubuhkan."
Sebelum memberi Dee ASI, Zoya harus mendapat asupan. Sayur bayam sengaja ia buat untuk dirinya sendiri.
"apa itu ? Aku mau !"
__ADS_1
Penasaran sekali Ditya melihat Zoya menyantap sayur bening penuh dengan daun.
"sayur bayam mas, akan aku tuangkan."
Mereka menikmati sarapan dengan penuh kehangatan. Tidak akan ada badai yang tidak berlalu, semuanya akan baik baik saja jika kita kuat menghadapinya bersama.
"setelah pekerjaanku selesai, aku akan menjemput kalian. Kita akan pergi jalan jalan."
Sebelum pergi keruang kerjanya, Ditya menyempatkan mencium bibir Zoya. Mengisi energi untuk menghadapi hari yang melelahkan.
"iya mas, semangat kerjanya. Ingat, kamu punya aku dan Dee."
Ditya tersenyum, merasa paling beruntung bisa memiliki Zoya.
Bahkan laki laki yang hampir mendekati Zoya, mundur dengan sendirinya saat tahu hanya Ditya yang ada dihati Zoya.
Di Penthouse, Zoya sudah selesai menidurkan baby Dee. Bi Sumi pergi belanja sesuai perintahnya, karena persediaan sudah mulai habis.
Waktu senggannya ia isi dengan membantu Ditya mengecek laporan harian hotel.
"halo . ."
Zoya mengangkat telpon yang berbunyi dikamarnya.
"maaf bu, ada pak Abi Mahesa dibawah. Beliau ingin bertemu dengan ibu, apa yang harus saya lakukan ?"
Sepertinya Sarah yang berada diujung telpon, sesaat Zoya berpikir.
"apa Ditya ada dikantor ?"
Mendengar jawaban Sarah, Zoya menghela nafas yang terdengar jelas di telpon.
Berat sekali memutuskan sesuatu tanpa persetujuan Ditya.
"suruh dia naik keatas, antar sama kamu Sarah. Saya minta tolong sekali."
Zoya merasa butuh perlindungan sejak tahu Bima memiliki sifat memaksa. Bi Sumi masih diluar, ia merasa takut harus menghadapi pria itu.
Kalau Zoya menjamu Bima diluar, itu tidak baik bagi keadaannya.
Banyak mata yang mengawasi.
"baik bu."
Sarah menutup sambungan dan naik keatas bersama Bima. Laki laki yang bermarga sama dengan Direktur utama MHotel.
Ketiga kalinya bel berbunyi dipencet oleh Sarah. Zoya masih berdiri ragu dibelakang pintu.
Haruskah ia tidak membukanya saja ?
Ceklek,
Dengan terpaksa Zoya membukakan pintu untuk Bima.
"selamat siang bu . ."
Sarah menyapa Zoya, dia melihat wajah Zoya semakin pucat. Seolah memberi signal dengan tatapannya 'tolong aku'.
__ADS_1
"masuklah !"
Sarah masuk terlebih dahulu diikuti langkah tegap seorang Bima. Zoya mengajak mereka ke sofa ruang TV. Bima duduk sementara Sarah hanya berdiri.
"akan kubuatkan minum, tunggu sebentar."
Niat hatinya ingin mengulur waktu, Zoya tidak bisa menyembunyikan rasa tegangnya dihadapan Bima.
"apa nona Sarah tidak sibuk ? Sampai repot mengantarku, dan sepertinya sedang mengawasiku."
"dia akan menjaga Dee, bisa tolong kamu lihat keadaannya Sarah ?"
Sarah mengangguk, dia berjalan kearah pintu kamar yang terbuka. Mungkin disanalah keberadaan anak bu Zoya.
"aku tidak akan menyakitimu Zoya, jadi tidak usah takut. Aku datang kemari untuk memberi tahu sesuatu. Papa akan menyerahkan perusahaannya untukku, asal aku menjauh dari kehidupan kalian. Tapi aku sudah tidak menginginkannya lagi Zoya. Sekarang tujuanku adalah kamu."
Apa yang dikatakan Bima itu benar ? Zoya tidak ingin tertipu oleh semua ucapannya.
Mana mungkin mertuanya segampang itu merelakan perusahaan untuk Bima.
"terserah apa maumu Bima, bukan urusanku. Segeralah pergi, saya tidak ingin melihat kamu disini !"
Zoya berdiri disamping pintu, memerintah Bima untuk segera keluar.
Namun pria itu tidak hilang akal, dia malah berjalan masuk kekamar dimana Dee sedang disana.
"bapak mau apa ? Tolong lepaskan baby Dee !"
Sarah berusaha menarik Dee dari pangkuan Bima, Zoya yang mendengar ada keributan langsung berlari kedalam.
"lepaskan anakku, apa yang kamu inginkan ?"
"ikut denganku sekarang, Dee akan aman jika kamu menurut Zoya."
Demi keselamatan Dee, Zoya mau tidak mau harus menuruti keinginan Bima.
Karena Zoya melunak, Bima menaruh kembali Dee ditempat tidurnya.
Bima melajukan mobilnya meninggalkan MHotel. Membawa Zoya secara paksa, entah apalagi yang sedang direncanakan Bima.
tak lama kemudian Ditya sampai dihotel, dia langsung naik ke Penthouse. tak sabar ingin bertemu dengan istrinya. berbagi kebahagiaan atas keberhasilannya memenangkan projek baru.
"Sarah, ada apa ? Zoya mana .."
Pintu sejak tadi sudah terbuka, Dee yang menangis kencang membuat Sarah kebingungan.
"maafkan saya pak, baby Dee terus menangis. Bu Zoya diajak paksa oleh pak Abi Mahesa."
Mendengar penuturan Sarah, Ditya kalap saat itu juga. Pikirannya kacau membayangkan hal buruk yang bisa saja Bima lakukan pada istrinya.
"ada apa Tuan ?"
Bi Sumi tiba dengan membawa beberapa kantung belanjaan.
"bi tolong jaga Dee, Sarah kamu turun dan cek cctv. Saya butuh plat mobil Bima secepatnya !"
Mereka menuruti perintah Ditya, Bi sumi cuci tangan sebelum menggendong Dee. Dan sarah kembali keposisinya, melakukan tugas yang diberikan Ditya.
__ADS_1