
"pulanglah ! Kalau memang itu yang kamu mau, aku tidak akan memaksa kamu untuk menjagaku".
Mungkin jika Ditya menuruti kehendak Zoya, istrinya akan lebih berpikir jernih daripada sekarang.
Dengan berat hati, Zoya meninggalkan Ditya sendiri.
Hati perempuan memang tidak bisa ditebak. Saat diminta tinggal dia ingin pergi, ketika sudah pergi berharap di tahan.
Apa serumit itukah suatu hubungan rumah tangga ? Ini berbeda dengan hubungan pacaran.
Ditya dan Zoya memang tidak pernah mengalami masa pacaran.
Keduanya terpisah cukup lama hingga akhirnya bersatu. Butuh waktu untuk mendalami sikap masing masing.
"loh Zoya mau kemana ?"
Nek Hafsari menghampiri Zoya yang keluar dari kamar Ditya.
"Ditya meminta Zoya untuk pulang, katanya besok juga kan keluar rumah sakit".
"betul nek, biar Tia yang antar kak Zoya pulang. Lagipula tadi kak Zoya ping . . San".
Karena keceplosan Tia langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"benar apa yang Tia katakan Zoya ?"
bu Aulia memastikan kebenarannya pada Zoya.
"iya mi".
Ia membenarkan keadaannya yang sempat lemah itu.
"kalau begitu biar supir yang antar kalian kembali ke hotel, termasuk ibu juga".
Pak Mahesa memberi solusi agar tidak terjadi apa apa pada menantunya. Biar kedua orang tuanya yang menjaga Ditya malam ini.
Didalam Penthouse Tia sedang asik menonton tv, sementara Zoya dikamar baru saja selesai mandi.
"kalian lagi ada masalah ?"
Nek Hafsari menghampiri Zoya yang duduk di kursi rias.
"tidak nek, Zoya tidak mau mengganggu proses pemulihan Ditya. Akhir akhir ini Zoya juga sering cepat lelah".
Zoya mengubah posisi duduknya menghadap ke nek Hafsa.
"kalaupun ada masalah, nenek berharap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik. Tanpa harus bertengkar lama lama".
"iya nek. Zoya mau siapin makan malam, nenek istirahat saja dulu disini".
Zoya lebih suka memasak sendiri, daripada memesan room service. Kalaupun tidak masak, Ditya akan mengajaknya makan diluar agar tidak repot.
Di sofa, nampak Tia sedang mesem mesem memandangi layar handphone.
Membuat Zoya mengerutkan dahi melihatnya.
"kamu kenapa dek ? Kayaknya senang sekali".
"kak, aku pergi nonton sama kak Arga boleh ya ?".
Tia menghampiri Zoya yang sedang mencuci sayuran.
"tidak ada pergi keluar, kamu tanggung jawab kakak disini. Kalau mau, nonton film disini saja".
Mendengar suara ramai, bi Sumi keluar kamar dan mulai membantu Zoya.
"iya deh, kakak sama aja kayak kak Adit".
__ADS_1
alhasil Tia merubah rencananya, dia menyuruh front desk untuk memberi akses Arga masuk ke Penthouse.
ting nong. .
suara bel berbunyi, Tia yang tahu pasti siapa itu langsung beranjak dari sofa dan membukakan pintu.
"masuk kak Arga, maaf ya kita gak jadi ke bioskop. kak Zoya melarang".
Tia seolah lupa pesan dari kakaknya untuk tidak dekat dengan laki laki itu.
"benarkah ? berarti Zoya ada dirumah ?"
kata kata Tia menarik perhatian Arga, kemudian dia melihat sosok yang dimaksud tengah sibuk menata meja makan.
"kak Zoya, kak Arga sudah datang. kalau kakak izinin, boleh tidak ikut makan malam bersama kita ?"
Tia menarik tangan Arga untuk mendekat ke arah meja makan.
Zoya masih diam, tanpa mengalihkan pandangannya pada Tia.
"terserah Tia saja".
jawabnya singkat, lalu kekamar untuk memanggil nek Hafsa.
mereka menikmati dalam suasana hening, masih belum ada suara yang keluar.
"ekhem . ."
Tia memecah kediaman di meja makan, berharap ada yang memulai percakapan.
"nek, Zoya sudah selesai. Zoya ke kamar duluan ya, nanti kalau sudah selesai panggil bi Sumi aja".
nek Hafsari mengangguk, padahal makanan Zoya masih tersisa banyak. ia hanya memakan beberapa sendok saja.
"kalau Aditya tahu kamu datang kesini, dia pasti akan marah sekali. tolong jaga sikap kamu, terlebih ini rumah Ditya yang sudah beristri".
walau motivasinya adalah Zoya, tapi Arga sadar diri itu tidak akan mungkin. bukan inginnya juga memperalat Tia, karena Tialah yang mengejar Arga.
"baik nek. saya hanya ingin memulainya dari awal lagi, bagaimanapun Ditya teman lamaku".
Tia jadi merasa bersalah mengajak Arga datang bertamu.
Arga harus menerima omelan neneknya, dan sikap acuh Zoya.
karena suasana tidak memungkinkan, Arga memilih pamit. tidak ada acara nonton film malam itu.
Zoya merebahkan tubuhnya diatas kasur, berharap segera terlelap untuk melupakan masalahnya hari ini.
membina rumah tangga memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. kita harus menerima segala sesuatunya dengan ikhlas. baik buruk, suka dukanya, bahkan kekurangan masing masing.
harus saling melengkapi, memberi dukungan satu sama lain.
sesulit apapun keadaannya, jangan pernah menyerah apalagi mundur.
Ditya dan Zoya sama sama merenung ditempat terpisah. apa salah mereka, dan hal apa yang seharusnya tidak dilakukan untuk memperburuk keadaan.
"aku merindukanmu mas ( Zoya )"
keduanya bergumam secara bersamaan tanpa saling mengetahui.
ada rindu yang amat dalam, terpendam karena jarak dan situasi.
dret dret . .
ada telpon masuk ke handphone Zoya yang disimpan dimeja sebelah ranjang.
Zoya bangun dan duduk ditepi ranjang untuk mengangkatnya.
__ADS_1
"halo mas . .?"
ternyata Ditya yang menelponnya terlebih dulu, padahal Zoya juga sempat berpikir untuk menghubungi Ditya.
"kamu sudah makan ?"
tanya Ditya disebrang sana.
"sudah, tapi tidak seenak makan sama kamu". Zoya menggigit bibirnya, malu mengatakan kalau dirinya merindukan Ditya.
"disini makanannya juga tidak enak, aku rindu masakan kamu sayang . ."
sudah lama Zoya tidak mendengar panggilan itu keluar dari mulut Ditya.
"rindu masakanku atau yang masaknya ?"
Tanya Zoya hati hati.
"kamu, aku juga rindu baby X. apa aku pulang sekarang saja ?"
tak sabar rasanya Ditya ingin bertemu dengan istrinya.
"mmm, itu harapanku. tapi kamu harus istirahat mas, besok aku jemput ?"
Zoya tersenyum menutup matanya, rasa malunya harus ia buang jauh jauh demi berbaikan dengan Ditya.
"tidak usah, kamu tunggu mas saja. tidurlah sayang, supaya waktu berjalan cepat".
untuk kesekian kalinya, Ditya mampu membuat Zoya dimabuk asmara.
Zoya bisa jatuh cinta berkali kali pada Ditya, begitupun sebaliknya.
🌙️
"Zoya hamil sebelum menikah"
"dia kan sekretaris cem ceman mertuanya sendiri"
"itu anak suaminya atau mertuanya"
"Zoya, kamu selingkuh dengan Arga ! lebih baik kita berpisah saja"
kata kata itu terlontar sangat keras, memekik ditelinga Zoya.
kenapa orang orang begitu tega menuduhnya ? bahkan Ditya mengatakan kalau dirinya berkhianat.
semoga ini hanya mimpi, Zoya berusaha untuk bangun dari tidurnya.
"Zoya bangun ! Zoya . ."
seseorang mengguncangkan tubuh Zoya yang sejak tadi mengigau. keringatnya membasahi bantal, rambut dan keningnya.
"mas . ."
ketika membuka mata, Zoya langsung memeluk Ditya. syukurlah itu semua hanya mimpi.
"kamu mimpi buruk ? sampai nenek dan Tia khawatir kamu belum bangun juga".
Ditya membelai rambut Zoya untuk menenangkannya.
"maafkan aku mas, aku mohon. aku yang salah".
Zoya mengeratkan pelukannya, tidak ingin mimpi buruknya menjadi nyata. ia sangat takut kehilangan Ditya.
"tenanglah, aku memaafkanmu karena rasa bersalahmu. bukan karena kamu memang salah. lebih baik kamu mandi, dan kita sarapan bersama di restoran".
Zoya menuruti kata kata Ditya dengan cepat, ia pergi ke kamar mandi.
__ADS_1