Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Hilang


__ADS_3

Sebelum pergi, Zara perlu menyelesaikan sesuatu. Bagaimanapun, ini salahnya sudah memberi kesempatan sejak pertemuan pertama mereka.


Kini ia duduk di kedai kopi yang ternyata milik Hafiz.


Sesekali Hafiz memang masih menemuinya, tapi sebagai teman. Yang siap mengantar kemanapun, dan membantu jika Zara kesusahan.


"maaf lama."


Hafiz yang baru bisa menemuinya, duduk melepas efron kebesarannya.


"tidak apa mas, kedaikan lagi ramai."


Zara berusaha tersenyum, meski ia tak ingin Hafiz salah mengartikan.


"mau makan apa ?"


"tidak usah mas, Zara kesini mau pamit."


Kedua tangan Zara saling memeluk gugup, takut sekali menyinggung perasaan Hafiz.


"besok Zara akan pulang, papa hanya memyuruh untuk mengurus apotek sampai lancar. Terima kasih ya mas, atas kebaikan kamu selama ini. Maaf kalau ada salah."


"iya, sama sama Zara. Kalau nikah jangan lupa undang mas."


Hafiz menyunggingkan senyuman termanisnya. Ia ingin berpisah dengan Zara dalam keadaan bahagia. Mengenalnya saja sudah lebih dari cukup. Inilah sebuah definisi cinta yang terpendam.


"semoga sukses selalu ya mas Hafiz."


Zara mengulurkan tangannya, Hafiz segera menerima jabatan tangan gadis yang sudah mencuri hatinya saat pertemuan pertama.


"Izinkan mas mengantarmu pulang Zara ?"


Zara mengangguk tak masalah, baginya Hafiz sudah seperti sahabat. Tanpa pamrih, dia selalu ada untuknya. Tidak banyak teman yang dimiliki Zara, sejak kecil jantungnya lemah. Kusuma akhirnya selalu membatasi kehidupan Zara.


✈️✈️✈️


Antusias sekali, Zara keluar dari pintu kedatangan. Ia hanya membawa tas berisi dompet dan handphone. Baju bajunya memang sengaja disimpan di rumah mbah putri untuk stok. Sewaktu waktu jika berkunjung ada pakaian ganti.


Tidak ada yang menjemput, rencananya Zara ingin memberi kejutan pada orang terkasihnya.


Saking semangatnya, Zara cepat cepat keluar dari area bandara. Melihat mobil taxi online yang ia pesan, ia sampai tak sadar jika menyebrang tanpa tengok kanan. Mobil yang melaju kini sudah menghantam tubuhnya. Zara terbaring lemah, darah segar keluar dari kepalanya.


Tidak keras mobil itu manabrak karena sudah terrem, benturan kepala Zara lah yang berpengaruh ketika ia terjatuh.


Orang orang mulai menghampiri, mengecek keadaan Zara. Si pengemudi turun, meminta orang untuk mengangkat Zara ke mobilnya. Dia langsung melajukan mobilnya.


Bertahanlah, dia akan membawanya ke rumah sakit terdekat.


"apa anda walinya ?"


Dokter keluar dari ruang IGD selesai menangani Zara.


"iya benar, bagaimana keadaannya dok ?"


Khawatir juga gugup, itulah yang tergambar jelas pada sorot matanya.


"kami akan melakukan serangkaian tes, kondisi pasien masih kritis. Kami membutuhkan darah O, kebetulan stok golongan pasien sedang kosong. Kabari secepatnya kalau ada yang cocok."

__ADS_1


Dokter meninggalkannya, mengurus pemindahan Zara ke ruang ICU.


Dia belum siap memberitahu keluarganya, bagaimana kalau mereka menuntut dan melapor ke polisi ? Kebetulan sekali, golongan darahnya sama O. Dia langsung memanggil suster untuk melakukan transfusi darah.


"Bu, apa kabar ? Zara dimana, aku kangen sama dia."


Suara pria semangat menerima panggilan telpon dari seseorang.


"loh, Zara kan terbang ke jakarta pagi tadi. Memangnya dia belum pulang ?"


Tanya wanita sepuh itu cemas, ini sudah malam. Dia menelpon ingin tahu perkembangan hubungan cucunya.


"tidak ada bu, aku malah belum tahu kabar kepulangannya. Ya Tuhan, kemana anak itu ? Aku coba tanya Aditya dulu."


Kusuma langsung mematikan sambungan, menelpon Ditya segera.


Atikah duduk menunjukkan tatapan penuh tanya, namun Kusuma masih saja menantikan suara Ditya.


"ada apa om ?"


Tanya Ditya heran.


"Dit, Zara sama kamu tidak ? Kata mbah putri dia naik pesawat pagi. Sampai sekarang . ."


"Ditya akan cari sekarang ke apartemennya."


Sadar ada yang tidak beres, Ditya langsung menutup telponnya.


Ditya segera naik lift, menuju pintu rumah Zara. Tangannya terus menggedor pintu, juga bel secara bersamaan. Berharap Zara ada membukakannya.


Cukup lama, masih tidak ada jawaban juga. Ditya turun ke ruang keamanan, meminta rekaman cctv. Sejak pagi tidak nampak Zara di layar monitor itu.


Benar, Zara sudah landing sekitar pukul 7 lebih.


"kamu dimana Zara . ."


Batin Ditya tersiksa mencari keberadaan Zara. Sejak tadi Dee dan dirinya berada di rumah Mahesa. Semoga saja Zara pergi ke hotelnya, diapun menelpon front desk. Berharap ada nama Zara di guest list. Nyatanya nihil.


🍀🍀🍀


2x24 jam sudah berlalu, keluarga yang panik sudah melaporkan kehilangan Zara dikantor polisi. Ditya juga menyuruh orang untuk menelpon beberapa hotel juga rumah sakit. Siapa tahu yang semoga saja, tidak terjadi Zara menjadi salah satu pasien.


"Bagaimana ini mas ? Aku khawatir sama Zara."


Atikah dan Kusuma berada didalam mobil, sepulang dari kantor polisi.


"dia baik baik saja, dia anak yang kuat."


Kusuma meyakinkan diri sendiri, berdoa kalau Zara tidak apa apa dimanapun ia berada.


"aku tidak ingin kehilangan dia, tolong temukan Zara mas."


Pinta Atikah kemudian bersandar dibahu suaminya.


Selama itu juga Zara masih belum sadar, namun dokter bilang dia sudah melewati masa kritisnya.


Penabrak itu masih setia menunggu dikursi luar.

__ADS_1


"mah . . Bagaimana bisa ?"


Seorang laki laki baru saja tiba dengan tergesa gesa. Wanita paruh baya itu hanya menggenggam tangan anaknya.


"tolong mama, mama takut dipenjara. Dia masih belum sadar."


Mulai terdengar isak tangis.


Laki laki itu memeluk sang mama, memberi dukungan agar kuat.


"Hafiz mau lihat dia mah . ."


Mamanya mengangguk, mengajak Hafiz masuk kedalam.


Hafiz, dia terbang ke jakarta karena kabar dari mama yang tanpa sengaja menabrak seseorang. Kakinya mulai mendekati brankar.


Sungguh terkejut, Hafiz melihat sosok gadis yang ia kenal. Perasaan baru kemarin mereka berpisah.


"mah, dia gadis yang Hafiz ceritakan sama mama. Kenapa bisa begini ?"


Ucapnya frustasi, Hafiz mengusap wajahnya kasar.


"mama juga bingung, kita harus bagaimana nak ?"


Kembali wanita itu meminta solusi dari masalahnya.


"kita telpon orang tuanya mah, bagaimanapun mereka harus tahu. Selebihnya biar Hafiz yang tanggung, mama pulang dan istirahat."


Mama selalu percaya keputusan anak semata wayangnya. Dia selalu bersikap bijak dan kritis. Tubuhnya juga sudah lelah berjaga selama 2 hari ini.


"Dit, ada kabar soal Zara.


Dia sekarang ada di . . ."


Ditya menerima panggilan dari Erwin, tubuhnya langsung lunglai mendengarnya. Tak lama lama dia langsung menuju tempat Zara.


Perasaannya berkecamuk sambil menyetir.


-kamu harus baik baik saja Zara !-


Harap Ditya, tangannya memukul stir mobil. Kecepatannya ia tambah agar cepat sampai.


Ditya berlari setelah bertanya ke suster, hingga sampai diujung lorong. Dia melihat sosok laki laki yang tidak asing, pernah ditemuinya sekali.


Hafiz berdiri menyambut kedatangan Ditya.


"katakan !"


Tangan Ditya mencengkram kerah baju Hafiz, matanya memerah menahan amarah.


"aku tidak sengaja, maafkan aku."


Bukk . .


Kasar sekali Ditya mendorong Hafiz hingga membentur tembok.


"Zara sudah lewati masa kritisnya, tapi belum sadar."

__ADS_1


Pandangan Hafiz beralih kearah 2 polisi yang datang. Sementara Ditya masuk kedalam.


__ADS_2