Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#148


__ADS_3

Juli rindu suasana kampus.


Kalau saja masa masa dulu bisa sama seperti sekarang, ia tidak akan merasa kesepian.


Banyak yang datang dan pergi dihidupnya.


Ia berjalan menyusuri koridor kampus menuju kantin.


Juli harus fokus menyelesaikan beberapa tugasnya sebelum kembali menemui Sofia.


Jadi, selagi dirinya sibuk bekerja dan mengurus Damar suaminya itu sudah berhasil mendapat penggemar dikampus.


Ada senyum sinis diujung bibir Juli. Andai saja ia bisa melabrak dan membeberkan kalau Juli adalah istri dari pria yang Sofia sukai.


Saat dirinya muncul dipintu kantin gadis itu langsung melambaikan tangan kearah Juli.


Senyumnya ceria seperti tak ada beban.


Berbeda diusianya Juli memiliki masalah cukup besar.


Juli membelah keramaian pelanggan kantin.


Ia berjalan lalu duduk dikursi depan Sofia.


"Sudah beres ?"


Tanya Sofia lebih terdengar seperti temannya saja.


Juli malah terkekeh geli mendengar pertanyaan Sofia. Juli menebak kalau Sofia gadis baik. Hanya dia tidak tahu dosen idamannya itu siapa dan bagaimana kehidupannya.


"Kamu gak ada mata kuliah ?"


"Ada kak, pusing gue masuk kelas. Mendingan disini ngobrolin pak Damar."


Juli suka gaya bicara Sofia, jujur apa adanya. Lihatlah style berpakaiannya, ia mengenakan jeans sobek sobek lengkap dengan tangtop kemeja kotak kotak dan sepatu kets.


"Kenapa kamu tanya sama saya ?"


Benar, pasti Sofia setidaknya mengetahui tentang Damar.


"Senior bilang pak Damar cuma akrab sama loe kak.


Ya katanya sih pak Damar tertutup sama orang lain."


Sofia menjawab enteng lalu menyedot mineral waternya.


"Terus ?"


"Bantuin gue ya kak, seenggaknya sampai gue bisa deket aja gue udah bersyukur."


Gadis blasteran bule itu menggenggam erat tangan Juli memohon agar Juli mau menolongnya.


"Maaf saya gak bisa Sofia."


Juli mengambil tasnya kemudian bangkit pergi dari area kantin.


"Gue akan berusaha ngeyakinin loe kak Juliana."


Teriak Sofia pada Juli yang sudah meninggalkan kantin.


Ada ada saja gadis zaman sekarang. Mereka bahkan tidak tahu siapa Damar, bisa bisanya Sofia menyukai Damar.


Tapi tunggu, wajar mereka mengagumi seorang Damar Aditya secara dia tampan, kaya juga berwibawa.


Hmm Juli berpikir harus segera mengadakan diskusi penting dengan Damar. Mungkin sekalian ia memberitahu kabar bahagia untuknya.


Belum ada jadwal mata kuliah, Juli berjalan menuju parkiran setelah mendapat pesan dari Kevin kalau hasil tesnya sudah keluar.


"Kita ke MHospital ya pak Ifan."


Perintah Juli pada Ifan yang membukakan pintu untuknya.


"Baik non."


Ifanpun melajukan mobil meninggalkan kampus.

__ADS_1


"Halo mas, ada apa ? Ini aku mau ambil hasil tes."


Setengah perjalanan Damar melakukan panggilan masuk ke handphone Juli.


"Juli aku mungkin akan pulang terlambat.


Bagaimana kalau kamu menginap dirumah mama ?"


Terdengar suara resah Damar disebrang sana.


"kenapa mas ? Aku butuh bicara hal penting sama mas Damar."


Juli kecewa, mendengar kabar Damar lembur disaat dirinya hendak memberi kejutan.


"Aku minta maaf sayang, , keadaan hotel kacau balau.


Ada oknum memposting review buruk tentang hotel."


Hening seketika, Juli menghela nafas mencoba memahami situasi perusahaan suaminya.


"Iya mas, nanti aku menginap dirumah mama saja. Kamu baik baik ya dikantor, semoga masalahnya cepat selesai."


Juli menundukan kepala berusaha menyimpan kembali air matanya.


"Kamu hati hati. Ifan akan menjaga kamu."


Segera saja Damar memutuskan sambungan telpon.


Gagal sudah rencananya malam ini. Tidak apa, Juli masih memiliki waktu luang untuk memberitahu Damar.


Setibanya dirumah sakit Juli langsung menuju lab. Ia akan bertemu dr. Bara sesuai instruksi Kevin tadi.


Sayangnya dr. Bara masih bersama pasien sebelumnya.


"Tolong berhati hati, kamu tidak boleh melakukan aktifitas berlebih.


Sebaiknya kita mempercepat proses kemo demi . ."


Tampaknya kekasih Tiara itu sedang memeriksa pasien cancer.


"demi beberapa hari sisa hidup saya dok ?


Pasien perempuan menyela perkataan seorang dokter lalu keluar begitu saja membanting pintu ruangannya.


Juli tidak bermaksud menguping, menurut bagian informasi dia bisa langsung menemui dr. Bara didalam.


Si pasien menatap tajam Juli yang berdiri mematung.


Mereka sama sama diam tak bersuara.


Apa Juli mengenalnya ? Ya, baru tadi pagi Juli bertemu dengan gadis dihadapannya.


"Sofia . . ."


Lirih Juli tak menyangka kalau Sofia penggemar Damar ternyata mengidap penyakit serius.


"Kak Juli ada perlu apa ketemu kak Bara ?"


Sofia memanggil dr. Bara dengan sebutan kakak bukan dokter.


"Ambil tes lab. Sofia kamu , , "


"Gue tunggu kak Juli diparkiran. Jangan lama lama sama kakak gue, dia mau nikah bentar lagi sama dokter disini."


Perintahnya ketus lalu pergi meninggalkan Juli.


Beberapa detik Juli perlu berpikir, jadi Sofia adiknya Bara ?


Kenapa sikapnya galak sekali sama kakak sendiri.


"Juli ya ? Silakan masuk."


Bara memang pernah bertemu Juli itupun sudah lama. Saat Juli terkena DBD bersamaan dengan pemeriksaan David papinya.


"Terima kasih dok."

__ADS_1


Kemudian Juli duduk tegang menatap Bara. Bara mengeluarkan amplop berlogo MHospital hasil tes darah milik Juli.


"Wah selamat ya, kamu positif 8 minggu nih."


Senyum lebar menampilkan gigi putih rapi milik Bara menambah kebahagiaan Juli mendengar kebenaran dugaannya.


"Alhamdulillah, terima kasih dok."


Tangannya bergerak menerima amplop tersebut dari Bara.


"Apa kamu mau USG ? Aku bisa atur jadwalnya sama Tiara."


"Mmm, , mungkin lain waktu dok.


Saya mau melakukannya sama mas Damar.


Oh iya, tolong rahasiakan ini dari siapapun ya dok ! Biar saya kasih mereka kejutan."


Juli meminta sedikit bantuan dari Bara calon suami Tiara.


"As you wish Juls. ."


Bara tidak masalah menuruti keinginan Juli. Lagipula sebagai dokter Bara harus menjaga privasi pasiennya.


"Saya permisi dr. Bara, sekali lagi terima kasih."


Juli tidak bisa lama lama ia harus mengejar Sofia diparkiran. Julipum segera pamit keluar dari ruangan Bara.


Hasil tes Juli masukan kedalam tas sambil berjalan mencari keberadaan Sofia.


Pikirannya campur aduk setelah tak sengaja mendengar percakapan mereka tadi.


"Kak Juli . ."


Tegur seseorang dari belakang ketika Juli melewati satu lorong penghubung ke kantin depan.


"Gue laper tadi, jadi makan dulu."


Cengir Sofia menuntun tangan Juli supaya kembali berjalan.


"Mobil loe yang mana kak ?"


Juli menunjuk kearah Ifan menggunakan pandangannya.


Penuh percaya diri Sofia masuk ke mobil begitu saja.


"Kita kemana non ?"


"Non, nona ? Wah kak Juli terbaik. ."


Mendengar Ifan menyebut Juli dengan sebutan non Sofia terkagum kagum.


"Kita antar Sofia dulu ke rumahnya."


"Loh gak mau gue kak, mending ke rumah kak Juli aja. Sekalian gue mau curhat soal pak Damar lebih banyak. Lihat deh kak !"


Antusias sekali Sofia menceritakan soal Damar.


Ia mengeluarkan handphone, lockscreennya berhasil menyita perhatian Juli.


Sofia melakukan foto selfie bersama Damar berlatar belakang kelas di kampus.


"Jangan sekarang ya Sofia, hari ini saya banyak pekerjaan."


Sejujurnya Juli enggan membahas suaminya ke perempuan lain. Mengingat penyakit Sofia Juli mendadak iba.


"Janji, lain kali kak Juli harus ketemuin aku sama pak Damar baru aku mau pulang."


Juli tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Sofia.


Sementara Ifan mulai bingung mendengar orang asing membahas bosnya terus menerus didepan istrinya.


"Oke fine. Kasih tahu pak Ifan alamat rumah kamu."


Alhasil Ifan mengantarkan Sofia terlebih dulu sebelum akhirnya Juli pulang ke rumah. Juli perlu mengambil perlengkapan pribadinya untuk menginap.

__ADS_1


laptop, buku buku mata kuliah hingga pakaian gantinya Juli masukkan ke koper.


Ketika Juli selesai mengepak barang, ia turun tangga untuk meminta Ifan segera mengantarnya kerumah Kevin.


__ADS_2