
Kevin dan Juli berjalan menuju parkiran VIP.
Mata mereka tertuju pada mobil alphard hitam yang baru saja tiba.
Itu Damar, jelas terlihat oleh Juli. Damarpun turun dari mobil diikuti Sekar yang terlihat sangat lelah.
"Kalian sedang apa malam malam begini ?"
Damar menyapa Kevin juga Juli yang menghindari bertemu mata dnegannya.
"As you told, ini sudah malam dan aku akan mengantar Juli pulang.
Kita bicara nanti."
Kevin berniat menggandeng tangan Juli lalu pergi.
Namun Damar menahannya, sehingga mereka bertiga mematung.
Juli tidak menyangka kalau Damar akan berbuat itu dihadapan Sekar kekasihnya.
"Biar aku saja yang mengantar kalian pulang.
Sekar naiklah kekamarku, kamu tidak usah pulang."
Sekar hanya menurut apa yang Damar perintahkan.
Ia terlalu lelah untuk ikut campur masalah pribadi Damar akibat perjalanan jauh.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri."
Juli melepaskan tangan Kevin lalu berjalan meninggalkan kakak beradik itu.
"Lihat mas, Juli sudah tidak ingin melihatmu.
Tolong hargai perasaannya sekali saja."
Kevin memberi peringatan pada Damar sebelum ia mengejar Juli.
Damar hanya bisa menghela nafas kecewa.
Salahnya juga sudah mempermainkan perasaan Juli yang menyukainya.
Tapi semua yang dia lakukan hanya demi Kevin.
Damar tahu kalau Kevin juga menyukai Juli, hanya saja anak itu tidak berani mengungkapkannya.
Juli terus saja berjalan tanpa menengok ke belakang.
Padahal sejak tadi Kevin mengejar dan memanggil namanya berulang kali.
Saat Kevin berniat lari mengejar Juli dia bertabrakan dengan seseorang.
Ada rasa aneh yang dirasakan Kevin, sesuatu yang tajam menusuk perutnya.
Sebelum pergi orang itu sempat berbisik ditelinganya.
Tubuh Kevin melemas jatuh ke tanah, darah segar mulai mengalir keluar dari perutnya.
Sadar sudah tidak ada suara Kevin lagi, Julipun memberanikan diri menengok ke belakang.
"Kevin ! ! !"
Juli berteriak menghampiri Kevin yang sudah terbaring lemah tak jauh dari pintu masuk MHotel.
Juli meraih dan memangku kepala Kevin, penuh harap kalau ini hanya mimpi buruk baginya.
"Kevin bangunlah, aku mohon kamu harus tetap membuka matamu.
Tolong . . .
Siapapun aku mohon tolong Kevin !"
Juli berteriak agar ada yang bisa membantunya membawa Kevin ke rumah sakit.
Beruntung security bisa mendengar suara Juli.
"Tuan Kevin, kenapa dia mbak Juli ?"
Tanya security ikut panik melihat Kevin bersimbah darah.
"Tolong cepat panggilkan Damar dan mobilnya."
Security menuruti perintah Juli, kemudian dia meminta front desk mengabari Damar dikamarnya.
"Ini salahku Kevin, aku minta maaf sama kamu."
Juli terus saja menangis, ia sangat takut terjadi apa apa pada Kevin.
"Kevin !"
Damar datang dengan mobilnya yang sudah berada dipinggir jalan.
Dia langsung membantu Kevin masuk kedalam mobil.
Juli ikut agar bisa menjaganya di belakang.
Tak lama mobil Damar sudah melaju meninggalkan hotel menuju MHospital.
Di dalam perjalanan, Juli terus menggenggam tangan Kevin yang berada dipangkuannya.
Air matanya tidak mau berhenti menetes.
-I dont wanna lose you now-
Saat seperti ini Juli merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.
Itulah doa yang terlintas dibenaknya, Juli tidak ingin ditinggal Kevin secepat itu.
"Tenanglah Juls, Kevin akan baik baik saja."
Didepan Damar berusaha melihat keadaan Kevin lewat kaca spion.
"Ini salahku pak, harusnya aku menurut saja diantar Kevin."
Perasaan bersalahnya sangat besar, ini akan menjadi salah Juli kalau Kevin kenapa kenapa.
__ADS_1
"cobalah berpikir positif Juls."
Hanya itu yang bisa Damar katakan untuk menenangkan Juli yang panik.
Sesampainya mobil didepan IGD, Damar berteriak meminta petugas membawa brankar untuk adiknya.
"Silakan tunggu diluar !"
Suster meminta Damar dan Juli tidak masuk.
Mereka hanya menurut menaati peraturan rumah sakit.
Damar memeluk Juli agar gadis itu bisa lebih tenang.
"Berhentilah menangis, ini semua bukan salahmu Juli."
"Harusnya aku berhenti saat Kevin memanggilku.
Aku takut terjadi apa apa sama dia."
Juli masih membayangkan hal buruk mengenai kondisi Kevin.
"Pak Damar . ."
Dokter yang bertugas di instalasi gawat darurat akhirnya keluar.
Damar melepaskan pelukannya lalu mendekati dokter.
"Bagaimana keadaan Kevin dok ?"
"Beruntung luka yang diderita adik bapak tidak dalam, hanya sebuah goresan.
Kami juga masih memiliki stok darah, jadi semuanya baik baik saja."
Setelah cukup menyampaikan kabar Kevin, dokter itu kembali ke ruangannya.
Damar dan Juli bernafas lega mendengar penjelasan dokter. Syukurlah Kevin tidak terluka parah seperti yang dibayangkan Juli.
"Masuklah, kita temui Kevin sama sama.
Aku yakin dia mencarimu."
Damar mengajak Juli melihat keadaan Kevin di dalam.
Juli tampak ragu melangkahkan kakinya,
Ia hanya menggeleng menatap Damar lalu pergi begitu saja.
"Juli !"
Ingin sekali Damar mengejar Juli, namun Kevin membutuhkan seseorang untuk menjaganya saat ini.
Alhasil Damar memilih menengok keadaan adiknya.
Semoga saja Juli baik baik saja selama perjalanan pulangnya.
"Gimana rasanya ?"
Damar berdiri disamping Kevin yang masih berbaring diatas brankar.
"I'm fine,
Juli ?"
Kevin menengok kearah pintu namun tidak muncul juga orang yang dicarinya.
"Kevin Juli sangat merasa bersalah, dia tidak bisa melihatmu."
Damar terpaksa berkata jujur pada Kevin mengenai perasaan yang dialami Juli.
"Kenapa mas Damar membiarkannya pulang sendiri ?
Aku yakin Romi masih mengincarnya."
Kevin frustasi mengetahui Juli pulang sendirian tanpa Damar antar.
"maksud kamu,
Romi manager MCafe ?"
Damar baru ingat kalau dirinya pernah memergoki Juli sedang diganggu oleh laki laki itu.
"Romi yang menusukku mas, aku pikir dia berniat menyerang Juli."
Akhirnya Kevin menceritakan kronologi awal mula kejadian naas yang menimpanya.
"Berani beraninya dia berusaha merusak Tiara."
Damar mengepalkan tangannya, darahnya mulai mendidih disekujur tubuh.
Bukan hanya karena Tiara, namun dia juga mengkhawatirkan keselamatan Juli sekarang.
Namun Damar tidak bisa menunjukkannya didepan Kevin.
"Aku akan minta seseorang menjagamu disini Kevin.
Aku akan menggantikan posisimu memastikan Juli pulang dengan selamat."
"Tidak perlu, pergi saja !"
Kevin kali ini membiarkan Damar melakukan tugas yang selalu ingin ia lakukan.
Keduanya masih belum mengetahui usaha masing masing.
Kevin tidak tahu kalau Damar menjauhi Juli agar tidak menyuakainya lagi.
Bahkan dia pura pura pacaran dengan Sekar, supaya Kevin memiliki kesempatan mendapatkan Juli.
Di sisi lain, Kevin mati matian menganggap Juli hanya sebatas teman. Dia ingin kakaknya menerima gadis yang menyukainya.
Kevin rela berkorban demi kebahagiaan Damar. Karena Kevin juga tahu sebenarnya Damar menyukai Juli.
"come on Juls, pick up your phone."
Damar masih memelankan mobilnya menyusuri jalan.
__ADS_1
Berharap menemukan Juli yang mungkin saja masih mencari kendaraan.
Tangannya juga masih sibuk menelpon Juli.
-halo ?-
Akhirnya Juli mengangkat panggilan Damar.
"Juliana kamu dimana ?"
Damar tidak bisa mengatur suaranya agar tidak terdengar khawatir.
"Haruskah aku menjawab semua pertanyaan bapak ?
Bapak ini bukan siapa siapaku.
Kalau saja bapak tidak menghalangi kami saat mau pulang mungkin Kevin tidak akan terluka.
Jadi aku mohon, berhenti mencariku !"
Juli langsung mematikan sambungan setelah puas meluapkan amarahnya. Pikirannya yang kacau membuatnya tidak bisa berkata kata lain.
"Ada apa Juls ?"
Tanya seseorang yang menghampiri Juli ditepi ranjang.
Juli langsung memeluknya meminta kekuatan.
"Ema, apa yang harus aku lakukan ?
Romi melukai Kevin, dia pasti melakukannya karena aku."
Juli sengaja datang kerumah Ema, dia tidak berani pulang ke kost miliknya. Romi bisa saja mengikuti Juli sejauh itu.
"Ya Tuhan,
aku ikut prihatin Juls. Semoga Romi segera mendapat ganjarannya."
Ema juga tahu sifat asli Romi yang tersembunyi.
Dirinya juga hampir menjadi korban kalau saja Romi tidak tahu kedekatan Ema dan Hasan.
"Boleh kan aku menginap disini ?"
Ema mengangguk tak masalah, baginya Juli seperti saudara jauh yang lama tak dijumpainya.
🌙️🌙️🌙️
Hingga larut malam Juli masih belum bisa memejamkan matanya.
Takut, sedih, merasa bersalah semuanya menyatu.
Bagaimana kalau keluarganya tahu Kevin terluka gara gara Juli.
Neneknya, mama Zara apalagi ayahnya pasti akan melarang Juli berteman dengan Kevin.
Juli tidak bisa terus terusan bersama Kevin.
Ia tidak ingin ada yang terluka karena keberadaannya.
Benar apa kata nek Atikah, mereka bertiga akan terluka jika Juli masih ada didalam hidup keduanya.
Tapi kemana Juli harus melarikan diri ?
Hidupnya sudah cukup mengalami pelarian selama ini.
Ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.
Juli segera membukanya, mungkin saja itu kabar penting yang entah dari siapa.
Kevin :
Besok jadilah asistenku !
Setidaknya kamu harus merawatku, aku sudah bisa pulang.
Aku pulang ke penthouse mas Damar.
Juli tidak menghiraukan pesan dari Kevin.
Ia lebih memilih memejamkan matanya agar bisa melupakan masalahnya hari ini.
Tak kunjung mendapat balasan Kevin yang duduk disofa depan TV menelpon Juli.
Perasaannya dipenuhi rasa khawatir takut Juli menjauhi dirinya.
"Belum tidur ?"
Sekar keluar dari kamar tamu berniat mengambil air minum.
"Sepertinya kalian semakin dekat saja, apa Damar membawamu ke rumah orang tua kami ?"
Sejujurnya Kevin tidak setuju jika kakaknya menjalin hubungan dengan Sekar. Terlepas benar atau tidaknya hubungan mereka.
"Haha kamu tidak menyetujui hubungan kami ?
Bukankah bagus untukmu, kamu jadi bisa . ."
"Sekar !"
Damar menghentikan perkataan Sekar agar tidak menceritakan semuanya pada Kevin.
"Kami pergi ke cirebon Kevin, tidak usah menginterogasi kekasihku seperti itu."
Kevin mengabaikan ucapan Damar lalu masuk ke kamar pribadi miliknya.
Sekar hanya menatap Damar yang mengangkat kedua bahunya.
Seolah itu bukan masalah berarti bagi bosnya.
"Kenapa kamu memutar bola matamu Sekar ?"
Damar berjalan mendekati Sekar yang masih berdiri didepan pintu.
"Tidak ada, aku hanya malas melihat wajah bapak."
__ADS_1
Jawab Sekar asal saja.