
'Aku tahu, ada yang kamu tutupi Mrs. Delmira. Tidak tahu kenapa, aku ikut sedih melihat rona kesedihan terpancar dari raut wajah kamu,' batin Zaidan.
Zaidan mematikan mesin mobil karena sudah sampai di parkir rumah.
"Pak Imran, tolong masukkan ke garasi," pinta Zaidan pada lelaki yang sudah bekerja untuk keluarga Fatah lebih dari 10 tahun.
"Baik Den," jawab Imran menerima kunci mobil.
Zaidan berjalan cepat mengejar langkah Delmira yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam," sahut Delmira dengan lirih ketika Zaidan mengucap salam.
Delmira berjalan ke arah kursi rias setelah keluar dari toilet kamar. Dia baru saja membersihkan wajah.
Zaidan duduk di tepi ranjang, sesekali melirik Delmira yang sedang menghapus sisa make up dan memberi krim pada wajahnya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Delmira melihat gelagat Zaidan.
"Tanyalah?" Lanjut Delmira kini wajahnya beralih tatap ke arah Zaidan.
"Aku hanya mau ucapin terima kasih karena tadi siang kamu menjenguk abah."
Delmira terdiam, hatinya melontar tanya 'kenapa Zaidan bisa tahu kalau tadi siang dia sempatkan untuk menjenguk abah Fatah padahal saat itu abah Fatah tidur dan Zaidan masih di kantin?'
"Jangan ngarang!" sahut Delmira.
Zaidan membuka nakas, mengambil sebuah benda, mendekat ke arah Delmira dan menunjukkan benda itu ke Delmira.
"Antingku!" seru Delmira tangannya segera meraih anting yang masih dalam genggaman Zaidan.
Sebenarnya saat dandan Delmira sudah tahu antingnya tinggal satu. Namun, situasinya Delmira gugup jadi dia tidak begitu menghiraukan anting tersebut.
"Jadi kamu yang ambil!" tuduh Delmira.
"Berterima kasihlah karena anting itu aku temukan di kamar rawat abah."
Mata Delmira membulat mendengar ucapan Zaidan.
"Tapi kamu tidak bilang aneh-anehkan saat abah tertidur?" cemas Zaidan.
"Yang aneh itu kamu! Sudah tahu Abah tidur, kalaupun aku ajak bicara dia tidak akan mendengar!" kesal Delmira.
"Bisa juga, mata tidur tapi telinga mendengar," sambung Zaidan.
__ADS_1
"Tunggu! Kamu tanya aku bicara aneh-aneh pada abah, kamu takut aku bicara yang membuat abah kamu down?" cecar Delmira.
"Aku ingin melihat Abah sehat kembali," jawab Zaidan.
"Dia masih bisa kamu tatap, masih bisa kamu raba, masih bisa melihat tawanya, sedangkan aku?!" Delmira tersenyum kecut, menghela napasnya.
"Bagaimana perasaan aku?! Aku rasa kamu lebih tahu karena dia hanya sakit kamu sedih dan khawatirnya seperti ini! Berbeda denganku!" lanjut Delmira penuh penekanan.
Kaki Delmira beranjak dari kursi rias berpindah ke ranjang, merebahkan tubuh lalu memejamkan matanya.
'Aku hanya bermonolog pada pak tua, mengapa dia memintaku menikah dengan kamu kalau tidak menginginkan aku mencabut tuntutan, lalu apa sebenarnya yang dia mau karena ternyata tidak menginginkan aku mencabut tuntutan. Itu saja yang aku ucapkan. Apa perkataan itu berpengaruh dengan kesehatan pak tua?' gerutu batin Delmira sebelum akhirnya, matanya yang sudah dia pejamkan benar-benar terpejam dan mulai masuk ke alam mimpi.
Zaidan terdiam, apa yang dikatakan Delmira benar adanya. Dia melangkah ke arah toilet dalam kamar untuk mengambil air wudhu. Kemudian menjalankan salat isya.
...****************...
"Non... Non Delmira," panggil seorang wanita tua sambil menepuk lengan Delmira.
Delmira menggeliat, perlahan membuka matanya, "mengapa Simbok? Dimana Zaidan?" tanya Delmira dengan suara khas bangun tidur
"Den Zaidan ya jelas sudah berangkat kerja! Lagian suami berangkat kerja sampai tidak tahu!" celoteh Mbok Muna.
Delmira mencibirkan bibir, tubuhnya beringsut turun dari ranjang kemudian melangkah ke toilet kamar untuk mandi. Lima belas menit setelah itu, dia keluar.
"Mbok, nanti ngomong sama ART yang bagian cuci baju. Kalau baju yang banyak payet jangan di masukkan mesin cuci, selain itu, bra punya aku juga jangan dimasukkan mesin cuci."
"Jangan khawatir, den Zaidan sudah ngomongi ke ART bagian cuci baju."
"Zaidan?" retoris Delmira merasa tidak percaya apa yang diucapkan mbok Muna.
"Ya, segitu perhatiannya kan den Zaidan. sayang saja istrinya...ck ck, sekedar menemanin dia sarapan dan mengantar suaminya untuk berangkat kerja saja tidak dia lakukan," sindir mbok Muna atau tepatnya ucapan secara langsung tanpa sedikit pun alih-alih.
"Mbok Muna sepertinya tidak menyukai istri bos?"
"Bisa dikatakan seperti itu," sahut mbok Muna tanpa sedikitpun rasa takut.
Delmira nyeringis kecut.
"Zaidan selalu menuruti apa yang aku minta. Simbok tidak takut, kalau_"
"Kalau aku dipecat?!" cekat mbok Muna.
Delmira tertawa mengejek karena Delmira sengaja agar menggantung kalimatnya. Seperti apa yang dia duga, mbok Muna akan melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Itu Simbok tahu," sahut Delmira.
"Non terlalu bahagia, takutnya nanti menangis setelah ini. Ingat, den Zaidan orang yang sangat menawan. Siapa pun takkan menolak cintanya. Perlu Non garis bawahi. Sebelum menikah dengan Non, den Zaidan sebenarnya akan menikah dengan wanita cantik yang solekha. Bisa saja takdir berkata lain, Mbak Khanza kembali dengan den Zaidan," ucap mbok Muna penuh penekanan.
"Simbok permisi dulu Non," sambung mbok Muna berlalu dari hadapan Delmira setelah seprai terpasang.
"Apa maksudnya dia bicara seperti itu? Agar aku cemburu? Maaf saja, siapa Zaidan sampai aku cemburu!" kesal Delmira.
"Apa dia sedang menggurui agar aku jadi istri yang baik, biar tidak ada kata selingkuh atau ditinggalkan suami? Sepertinya hal itu juga aku lakukan saat aku menjadi istri Raffat. Aku meladeninya dengan baik. Aku menanggalkan pekerjaanku di perusahaan ternama demi menjadi istri yang sempurna, melayani suami dan anak, nyatanya? Aku juga diselingkuhi," lanjut Delmira dengan geram.
"Oh my God! Aku sampai lupa ada janji dengan seorang!" seru Delmira ketika mengambil ponsel dan membaca pesan masuk di aplikasi hijau.
Delmira membalas pesan itu lalu dengan segera meraih kunci mobil, mengambil tas dan berjalan cepat ke parkir mobil.
Dua puluh menit Delmira sampai di salah satu rumah makan cepat saji.
Di sana sudah duduk seorang wanita dan lelaki.
"Hai... maaf ya aku terlambat," ucap Delmira.
"Tidak apa-apa Kak," jawab wanita cantik dengan kepala dibalut jilbab.
"Silahkan lihat mobilnya," tawar Delmira.
"Uncle, tolong periksa mesinnya," pinta wanita itu pada lelaki yang duduk di depannya.
Mereka berjalan ke arah mobil Delmira yang ada di tempat parkir.
"Kelihatannya mobil kesayangan, apa tidak sayang kamu jual?" tanya lelaki yang dipanggil uncle oleh wanita cantik yang bersamanya.
"Kalau butuh itu sudah tidak ada kata sayang. Sekalipun itu benar-benar yang kita sayang," jawab Delmira.
"Kamu jual berapa?"
"Tentang harga aku sudah kirim pesan padanya," sahut Delmira dagunya menunjuk ke arah wanita cantik itu.
"Kamu setuju dengan harga itu Khanza?" tanya lelaki itu pada wanita cantik yang berjilbab.
Delmira membulatkan mata saat mendengar nama panggilan yang dilontarkan lelaki itu.
'Seperti tidak asing dengan nama Khanza,' gumam batin Delmira.
siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate, tips hadiah dari iklan video juga mau😘🥰😍
__ADS_1
lope lope buat kalian