Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 128


__ADS_3

Siswi itu langsung menundukkan pandangannya, mengalihkan ke arah yang lain.


Kahfi tersenyum kecut menerima kenyataan.


Pe'i yang duduk di samping Kahfi merasa curiga, pandangannya kini menatap ke arah dimana mata Kahfi menjatuhkan tatap.


"Die cewek populer, cerdas, bahkan masuk kriteria genius. Anak orang tajir, cantik, sopan, menarik, perfeksionis. Semakin tinggi nile seorang cewek maka semakin sulit buat ngedapetinye. Belum lagi, saingannye pasti bukan orang sembarangan," terang Pei.


Kahfi tersenyum lalu menundukkan pandangan.


"Tapi lu punye kasempatan buat ngedapetin ntuh cewek bro," sambung Pe'i menepuk lengan Kahfi.


Seperti mendapat suntikan semangat, Kahfi menengadahkan pandangan ke arah Pe'i.


"Gue yakin, lu pasti bisa!" imbuh Pe'i disambut senyum lebar dari Kahfi.


Seorang kakak kelas, meminta siswa baru bergabung dengan kelompok yang sudah dibagi berdasarkan absensi yang sudah mereka tandatangani.


"Hai, perkenalkan, aku Icha. Kakak di sini tugasnya mendampingi kelompok kalian, tolong buat yel-yel kelompok ya," pintanya


"Bukan juga ekskul pramuka, kenapa pakai yel-yel sih Kak?" protes seorang siswi.


Icha menampilkan sebuah senyum mendengar protes dari salah satu siswi, "Tidak hanya di pramuka, bahkan setiap pembelajaran juga kalian menyerukan yel-yel. Fungsinya buat membangkitkan semangat belajar. Jadi, apa salahnya, di kegiatan PMR ini kalian buat yel-yel," jelas Icha.


Kahfi masih saja melihat dengan diam kakak senior yang menjadi pendamping kelompoknya. Matanya lekat menatap ke arahnya. Debar jantungnya semakin bisa dia kendalikan, tapi suara hatinya masih saja menjerit memanggil nama gadis baru dia tahu, dan kini tepat berada di depannya.


Icha terpaksa menundukkan pandangan, dia mengetahui, sejak awal muncul di antara kelompok itu, Kahfi tidak lepas pandang dari dirinya.


Pe'i menyubit pinggang sahabatnya, Kahfi terlihat nyeringis menahan sakit.


Icha tersenyum, mencuri pandang ke arah Kahfi dan sahabatnya yang menurut pandangan dirinya sangat lucu.


Kahfi ikut mengembangkan senyum melihat sebuah senyum di wajah Icha.


Kegiatan PMR tidak berlangsung lama karena awal pertemuan. Yel-yel menjadi pekerjaan rumah untuk pertemuan berikutnya.


Kahfi sengaja pulang akhir setelah teman-teman yang lain sudah keluar ruangan.


"Pulpen yang tadi aku pinjam," ucap Kahfi menyerahkan pulpen hitam pada Icha.


Icha menerima pulpen itu lalu memasukkan ke dalam tas.


"Terima kasih," sambungannya.


Icha mengangguk.


"Boleh minta nomor yang bisa aku hubungi, barangkali ada hal yang aku tanyakan mengenai yel-yel," pinta Kahfi atau tepatnya sebuah paksaan karena dirinya langsung membuka aplikasi hijau dan menyodorkan kode scan QR.


Mata Icha memutar keluar ruangan, seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


Teman Icha lebih dulu menyecan kode tersebut.


"Sudah aku simpan tampan," ujarnya.


Kahfi tersenyum, tangannya masih menyodor berharap Icha segera ikut menyecan kode QR WA nya.


"Nama aku Sasi," ucapnya memperkenalkan diri.


"Hai," balas Kahfi, singkat padat dan mengena.


Hehehe mengena hati Sasi yang merasa tidak dianggap keberadaannya, karena setelah bilang hai, Kahfi melabuhkan tatapan pada Icha seorang.


"Ape ntuh artinya, kalau kite kesulitan buat yel-yel atau sekedar minta pendapat, suruh ame pendamping nyang lain?" celetuk Pe'i, melihat Icha tidak juga menanggapi permintaan Kahfi.


Icha merogoh tas, mengambil benda pipih canggih miliknya. Kemudian menyecan kode yang terpampang di layar ponsel Kahfi.


Dua sudut bibir Kahfi ditarik membentuk sebuah senyum, "Terima kasih," ucap Kahfi kemudian berlalu.


Namun, sebelum kakinya benar-benar meninggalkan ruangan itu, Kahfi membalikkan tubuh lalu berseru, "Aku harap ketika bertemu, kita tidak pura-pura tidak saling mengenal."


Icha tersenyum kecil mendengar ironi yang dikeluarkan Kahfi.


"Cie...," sorak teman beberapa teman Icha yang masih ada dalam ruangan.


"Dia tampan sekali Cha," seru Sasi membungkam mulut sendiri dan tubuhnya melompat-lompat kecil, setelah tubuh Kahfi tidak terlihat.


"Eh, tunggu, kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah itu cowok," cekat Sasi.


"Perasaan kamu saja," jawab Icha.


"Beneran Cha," Sasi meyakinkan.


Icha pura-pura tidak menanggapi, padahal dahi temannya masih mengerut memikir tentang kebenarannya.


"Yuk ah pulang, langit keburu gelap.


"Ya, aku ingat! Dia cowok yang kemarin ikut berkelahi dengan Bryan and the gang kan!?" lontar Sasi.


"Sudah ah, ngapain juga kami pikir-pikir, cepat pulang!" seru Icha menarik tangan Sasi agar keluar dari ruangan.


Sementara itu, di lapangan Kaffah sedang lari-lari kecil untuk pemanasan.


Hal itu biasa dia lakukan sebelum materi dasar di sampaikan oleh pelatih.


Bugh.


Tubuh Kaffah jatuh dan menindih tubuh gadis yang ada di depannya karena tadi sempat tidak konsentrasi.


"Auw!" jerit gadis itu mendorong tubuh Kaffah.

__ADS_1


"Maaf," ucap Kaffah.


Gadis itu mendengus, "Selalu sial kalau bertemu dengan kamu!" umpatnya, bangkit sendiri.


"Aku sudah bilang maaf, dan tidak ingin berurusan dengan kamu!" sungut Kaffah menjauh dari gadis itu.


'Aku yang kena sial kalau bertemu kamu!' monolog batin Kaffah, matanya tak lepas dari tatapan yang tertuju pada gadis tersebut.


"Ada apa?!" lontar pelatih melihat dua muridnya bersiteru.


"Tidak ada apa Pak," jawab gadis itu.


"Nabila, jangan membuat keributan lagi dengan cowok itu!" bisik Devi, teman gadis itu.


'Cewek ini! Sungguh arogan! Untung dia cewek, kalau cowok, sudah aku hajar babak belur!' monolog batin Kaffah, matanya menatap tidak suka pada gadis yang dianggap pembawa sial.


Beberapa gerakkan dasar ditunjukkan sang pelatih untuk membuka pertemuan awal.


Sama halnya, kegiatan ekskul bela diri juga melakukan pertemuan sebentar.


Kaffah berjalan pergi dari lapangan karena kegiatan ekskul itu sudah selesai.


Tangannya merogoh ponsel, karena tadi sempat lihat anak ekskul PMR sudah keluar ruangan.


"Tuh bocah nunggu aku selesai ekskul tidak?" gumam Kaffah sebelum akhirnya panggilan itu terhubung.


"Kamu dimana?"


"Parkir depan," jawab Kahfi.


"Aku berjalan ke situ," ucap Kaffah memutus sambungan teleponnya.


Kakinya berjalan cepat agar sampai di parkir depan.


Tidak butuh lama, dia sudah melihat saudara kembarnya yang berdiri bersama teman satu mejanya.


Kaki Kaffah semakin cepat berjalan.


Tiba-tiba, ada 3 siswa yang menghampiri Kahfi.


"Hebat! Hebat! Sekarang malah berani terang-terangan mengutarakan isi hati kamu pada cewekku!" ucap seorang yang sangat tidak asing bagi Kahfi maupun Kaffah, dia merangkul Kahfi dan menepuk lengan Kahfi.


Kahfi tetap diam. Tidak sedikitpun terusik apa yang diomongkan kakak kelasnya.


"Aku ingatkan! Jangan lagi dekati Icha! Dia cewek incaranku sejak lama. Kalau sampai kamu dekati dia lagi, aku bakal buat perhitungan sama kamu!" bisiknya, penuh dengan ancaman.


Masih dengan ekspresi yang sama, Kahfi tenang menanggapi ancaman yang keluar dari mulut kakak seniornya, Bryan.


"Lepaskan tangan kamu dari bahu dia!" seru Kaffah tidak tahan dengan sikap Bryan pada adiknya.

__ADS_1


__ADS_2