Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 129


__ADS_3

Masih dengan ekspresi yang sama, Kahfi tenang menanggapi ancaman yang keluar dari mulut kakak seniornya, Bryan.


"Lepaskan tangan kamu dari bahu dia!" seru Kaffah tidak tahan dengan sikap Bryan pada adiknya. Matanya menatap tajam dan telunjuk mengacung ke arah siswa yang masih mengeratkan tangan di Kahfi, bukan dekapan persahabatan yang Bryan tunjukkan melainkan dekapan sebuah ancaman.


Bryan mengarahkan pandangan ke sumber suara. Dia pun tertawa mengejek melihat ke arah Kaffah.


"Omongin saudara kamu, kalau ingin selamat, jangan coba-coba deketin cewek incaranku!" seru Bryan mendorong tubuh Kahfi hingga tubuhnya tertangkap Kaffah.


Emosi Kaffah memuncak, membenarkan posisi adiknya agar tegap, lalu dia maju dengan tatapan sengit dan tangan mengepal.


"Berhenti!" cegat seorang siswi tepat di hadapan Kaffah.


Mata Kaffah memutar ke siswi tersebut, sebuah dengusan keluar dari mulut Kaffah.


"Aku mohon jangan lakukan itu," lirih siswi itu, sekilas mata mereka beradu lalu dengan cepat siswi itu menundukkan pandangannya.


"Apa kamu akan terus memegang tanganku seperti ini!" sentak Kaffah karena selain siswi itu berdiri hanya berjarak beberapa senti meter, juga tangannya menggenggam erat tangan Kaffah yang tadi mengepal.


"Eh, maaf," siswi itu gegas melepas cengkramannya.


Memundurkan tubuhnya satu langkah, tangannya bergerak menyelipkan anakan rambut ke belakang telinga karena rasa gugup yang mendera.


Bryan terlihat mendengus melihat adegan itu.


Setelah mengurai rasa gugup dengan menghirup oksigen dalam-dalam lalu keluarkan perlahan, seketika tubuhnya dibalik, menghadap ke arah Bryan, tatapannya tajam seperti elang yang siap menerkam mangsa.


Bryan menelan salivanya dengan susah, selama kenal dengan Icha, baru kali ini dirinya melihat gadis yang dia taksir berwajah semenakutkan itu.


"Kamu naksir aku?!" lontar Icha tanpa basa-basi.


Kepala Bryan seakan kaku hanya untuk dianggukkan apalagi mulutnya, seakan rapat terkunci, membisu tiada suara.


"Aku tanya sekali lagi, kamu naksir aku?" ulang Icha yang belum mendapatkan jawaban dari lelaki yang posisinya tepat ada di depannya.


"Bukankah berulang kali aku katakan pada kamu, aku ingin jadi pacar kamu," ucap Bryan kemudian.


"Yang aku tanyakan, apa kamu naksir aku?"


"Kalau tidak naksir kamu, ngapain aku ingin jadi pacar kamu," jawab Bryan gugup.


Icha terlihat mendengus, "Dapatkan aku dengan cara yang fair, jangan sampai mengganggu privasi orang. Tentang siapa yang nantinya bakal aku balas cintanya, atau bisa saja aku mencintai orang yang tidak mencintai aku. Semuanya terserah hatiku! Tidak dapat dipaksa dan tidak dapat diganggu gugat," terang Icha panjang lebar.


Dan baru kali ini Icha melakukan hal senekat itu.


"Paham?!" sambung Icha, masih dengan tatapan yang menakutkan.


Bryan mengangguk pelan.


"Sekarang kamu pergi!" titah Icha mengacungkan jarinya ke arah luar.

__ADS_1


"Pergi atau selamanya aku tidak ingin mengenal kamu!" lanjut Icha, suaranya meninggi.


Tanpa menyahuti ucapan Icha, Bryan pun pergi disusul dua temannya.


Icha menundukkan pandangannya, kakinya tiba-tiba bergetar hebat, jalan pun terasa gontai.


Tangan Kaffah dan Kahfi reflek akan memapah Icha yang hampir jatuh, untung saja ada teman Icha yang dengan gesit sudah ada di samping Icha.


Dia menuntun untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dekat mereka.


"Duh air minum kita habis," ucap Sasi yang tahu, temannya harus diberi minum agar lebih tenang.


Kahfi menyodorkan botol berisi air mineral, "Sudah aku minum tapi tidak tersentuh mulutku," ucapnya agar teman Icha tidak ragu untuk meminumkan air mineral itu ke Icha.


Satu, dua teguk, teguk lagi, hingga botol yang berisi setengah dari isi penuh 600 ml tandas masuk ke lambung Icha.


"Nyali kamu cukup besar juga! Tidak berani tapi kamu tampil dengan begitu berani," sindir Kaffah melihat keadaan Icha sekarang.


"Aku bosan dengan situasi yang sama. Dia selalu seperti itu pada...," Icha menghentikan kalimatnya, memandang sebentar ke arah Kahfi.


"Sudahlah, intinya aku tidak suka sikap posesifnya dia, padahal kami tidak ada hubungan apapun selain hanya teman," terang Icha, tubuhnya bangkit, karena sudah mulai tenang, "kita pergi saja," ajak Icha yang sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu.


Kahfi menatapkan pandangan pada Icha, hingga tubuh gadis itu tidak terjangkau oleh matanya.


Sedangkan Kaffah, dia menatap penuh selidik adiknya, sesekali ke arah Pe'i dan punggung Icha.


"Apa kamu akan tetap di sini saja padahal dia sudah tidak terlihat oleh mata?!" sindir Kaffah.


Kahfi tersenyum kecil mendengar ucapan saudara kembarnya.


"Cepat pesan taksi on line. Waktu hampir Magrib," ujar Kaffah.


"Bukankah itu mobil_" ucapan Kaffah terhenti begitu saja saat melihat lelaki yang turun dari mobil tersebut.


"Maaf, saya disuruh nyonya Delmira untuk menjemput Den Kaffah dan Den Kahfi," ucapnya menghampiri si kembar.


"Terima kasih Pak," ucap Kahfi tanpa penolakan.


"Kenapa pakai jemput sih!" gerutu Kaffah yang sedari awal memang tidak ingin diantar jemput. Namun, kali ini dengan terpaksa dirinya harus mau. Kakinya pun melangkah masuk ke mobil.


"Pe'i kita pulang dulu," pamit Kahfi kemudian masuk ke mobil setelah Pe'i mengangguk kepalanya.


"Kenapa merahasiakan itu padaku?" lontar Kaffah setelah mobil itu berjalan memasuki jalan kota, dan telah menempuh setengah perjalanan.


Sore itu jalan tidak lengang. Bahkan, kecepatan mobil tidak dapat mencapai 60 km perjam.


"Tidak ada yang perlu diceritakan," sahut Kahfi.


Kaffah menyunggingkan senyum mendengar jawaban saudara kembarnya.

__ADS_1


"Setidaknya aku tahu, kenapa si Bryan sampai kenapa-napain kamu, ternyata hanya masalah cewek," ujar Kaffah, dengan mimik tak suka.


"Apa kamu tidak bisa cari cewek yang tidak bermasalah?" lontar Kaffah, "sekali berurusan dengan cewek, eh bermasalah," sambungnya masih menunjukkan rasa tidak suka.


Kahfi hanya diam, tidak membenarkan ataupun menyangkal ucapan saudaranya.


"Kalau dilihat dari fisik, dia memang cantik, berpikiran dewasa, dia juga cerdas. Buktinya dia cerdas bisa menggaet kamu," ujar Kaffah masih memberikan ceramah senja.


Kaffah mengejar langkah Kahfi setelah mereka turun dari mobil.


"Hei, kamu tidak ingin mengatakan sesuatu? Atau memang benar apa yang semua aku katakan!?" seru Kaffah masih mengejar langkah Kahfi hingga masuk ke dalam rumah dan langkah mereka terhenti di anakan tangga paling bawah.


"Eh, eh, pulang-pulang kok nggak salam?" sela Delmira mengiringi kedatangan kedua anaknya.


"Assalamualaikum Mom," sapa keduanya sambil mencium punggung tangan Delmira dengan takdhim.


"Aku mandi dulu Mom," pamit Kahfi menaiki anakan tangga terlebih dahulu.


"Hei! Tunggu!" teriak Kaffah kakinya gegas melangkah.


"Kaffah, nanti dulu! Ada yang ingin Momyang bicarakan dengan kamu."


Kaffah yang sudah menaiki dua anakan tangga, terpaksa memundurkan langkah.


"Ada apa Mom?"


Delmira menatap seksama ke arah anaknya, "Kamu juga ada ekskul seperti Kahfi?" telisiknya.


Kaffah menggeleng.


"Kenapa pulangnya sampai sore? Apa jangan-jangan kamu main? Main dengan siapa? anak mana? Rumahnya dimana? Anaknya baik tidak?" cecar Delmira.


"Mom, mom!"Cekat Kaffah agar Delmira berhenti bicara.


Seketika Delmira terdiam.


"Aku tidak main, aku ikut ekskul di sekolah."


Delmira diam, "Ekskul bela diri?" tanyanya dengan hati-hati.


Kaffah mengangguk.


"Issst! Anak Momyang, kenapa tidak bilang dari awal? Kalau bilang dari awal Momyang nggak bakal introspeksi kamu sampai seperti ini!"


Kaffah tersenyum lebar, "Aku sama pappy mau kasih kejutan ke Mommy," seloroh Kaffah, kakinya berjalan kembali menaiki anakan tangga.


Kaffah gegas ke kamar, dia lihat saudara kembarnya sudah bersih dan ganti baju Koko untuk siap-siap jamaah ke masjid.


"Sudah mandi, terlihat fresh. Sekarang bisa dong jawab kekepoanku. Kamu cinta dia? Kamu ada hubungan khusus dengannya?" cecar Kaffah.

__ADS_1


__ADS_2