Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 52


__ADS_3

'Aku harap ini yang terbaik buat kamu Zaid,' batin Delmira.


"Zaid," panggil Aisyah setelah masuk ke kamar dan melihat Zaidan mematung di samping jendela kamar.


"Ada apa dengan kamu dan Delmira, Nak?" tanya Aisyah langsung ke inti pertanyaan.


Mata Zaidan tetap memandang keluar jendela menatap wanitanya yang sudah keluar gerbang rumah. Bibirnya hanya bisa menyungging satu senyum sebagai jawaban atas tanya yang dilontarkan sang ummi.


"Mungkin ini jalan yang terbaik yang harus kita tempuh Ummi."


"Tapi kenapa Nak? Apakah sama sekali tidak diperbaiki?"


Zaidan menggeleng.


"Maafkan aku Ummi."


"Sebesar apa permasalahan kalian sampai tidak dapat dipecahkan?"


"Kami beda visi dan misi Ummi."


Aisyah mengempaskan napasnya. "Dalam rumah tangga itu pasti ada perbedaan Nak. Justru perbedaan itulah yang harusnya bisa menyatukan cinta kalian. Mengisi kelebihan dan kekurangan pasangan masing-masing."


"Kamu kejar dia!" titah Aisyah. Namun, Zaidan malah mendekat dan memeluk Aisyah, menangis menjadi pilihan laki-laki yang hatinya tengah rapuh itu.


Tangan Aisyah bergerak mengelus punggung anaknya. Berharap beban hidupnya berkurang.


"Yang sabar Nak," lirih Aisyah walaupun dia sendiri tidak paham betul permasalahan yang dihadapi anak dan menantunya tapi yang harus dilakukannya sekarang adalah menguatkan hati sang anak.


Sementara itu, Delmira sudah sampai di sebuah kos yang tidak jauh dari rumahnya yang dulu. Kakinya turun dari mobil setelah menyerahkan uang pada sopir lalu melangkah masuk ke dalam kos.


Beberapa penghuni kos yang kebetulan ada di luar, menatap aneh ke arah Delmira.


"Mbak, ibu kosnya ada di dalam?"


"Itu," jawab seorang wanita menunjuk bangunan sebelah kos.


Delmira sengaja memilih tempat kos dari pada hotel untuk mengirit uang tabungannya. Apalagi dia harus membayar lawyer yang akan mengurus perceraiannya. Isi ATM dari Zaidan memang lebih dari cukup. Bahkan untuk hidup sederhana seumur hidup mungkin juga akan cukup. Namun, Delmira sudah bertekad tidak akan memakai kartu itu.


Setelah bercakap dengan ibu kos, akhirnya Delmira mendapat kunci kamar kos.


Kakinya masuk ke dalam kos yang cukup sederhana.

__ADS_1


"Aku harus terbiasa dengan semua ini," gumam Delmira setelah matanya memindai penuh ruang kos yang hanya berdiameter 4x6. Di tempat kos itu hanya tersedia 1 kasur tidur dan 1 kamar mandi. Kalau ada keperluan dapur bisa langsung ke dapur umum tempat kos.


...****************...


"Kamu bohong Mrs. Delmira! Kamu bilang kamu akan tinggal di rumah kekasihmu! Kenyataannya kamu tinggal di kos ini! Apa jangan-jangan kekasih yang kamu maksud itu kekasih bohongan? Katakanlah sejujurnya, apa yang menimpa kamu?" cecar Zaidan yang telah mengetahui tempat Delmira tinggal dan langsung mendatanginya.


"Aku sementara di sini. Rumah yang akan kami tempati jauh Zaid. Sedangkan dia sekarang ada di luar negeri. Besok setelah sidang pertama dia akan menjemputku."


"Apa itu kebohongan lagi?"


"Aku minta besok kamu tidak datang di persidangan agar sidang berjalan lancar," ujar Delmira tanpa menjawab pertanyaan Zaidan.


Gugatan cerai akan dikabulkan dengan cepat kalau Zaidan sebagi tergugat tidak hadir dalam persidangan. Delmira juga terpaksa merekayasa alasan agar gugatan perceraiannya diterima oleh pengadilan. Tidak mungkinkan dia mengatakan sedang hamil dengan pria lain. Bukan dapat akta cerai mungkin yang dia dapat masalah yang bertambah runyam.


Pernikahan yang sudah berjalan 8 bulan terpaksa harus pupus di tengah jalan di saat hati Delmira mulai dia buka untuk sang suami. Semua balas dendamnya memang berganti cinta. Namun, kenyataan hidup ternyata belum berpihak padanya, Delmira harus melewati batu sandungan, bukan batu sandungan tapi melewati gunung tinggi untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki. Dia harus menelan pil pahit, hamil dengan pria lain di saat cintanya mulai tumbuh mekar.


"Sedikit pun tidak ada rasa untukku Mrs. Delmira?"


"Aku wanita beristri yang hamil dengan orang lain, apa lagi yang kamu harapkan dariku?!" suara Delmira meninggi.


Zaidan menangkap arti dari perkataan Delmira adalah sebuah keadaan yang sudah terlanjur, "Kenapa kamu bisa hamil dengan dia? Apa kamu dijebak olehnya? Atau memang kamu punya rasa dengan dia?" lontar Zaidan dengan tatapan tajam. Baru kali ini wajah Zaidan terlihat begitu menakutkan tidak seperti biasanya, wajah dia terlihat teduh dan penuh kelembutan.


"Kamu mabuk? Sejak kapan kamu menyentuh alkohol?" lontar Zaidan dan Delmira hanya diam.


"Kamu bilang dia kekasih kamu dan akan bertanggung jawab atas kehamilanmu. Apakah itu bohong? Dia tidak akan datang pada kamu. Kalian melakukan kesalahan satu malam? Kamu ditinggalkan oleh dia dan kamu juga memilih jalan untuk meninggalkan aku, begitukah?" sambung Zaidan.


"Aku memang melakukan kesalahan karena bercinta sebelum akta cerai di tanganku. Hanya itu kesalahanku. Kekasihku minta segera urus perceraian, dia langsung terbang ke Indonesia untuk menjemputku," sahut Delmira yang jawabannya tentu hanya sebuah rekayasa agar semakin menyakinkan Zaidan.


Delmira mengempaskan napasnya kasar.


"Sebaiknya kamu pulang. Lupakan aku. Semoga kamu bisa bahagia dengan orang yang nantinya akan menjadi penggantiku," ucap Delmira dibuat setegar mungkin tatkala mengucapkan kalimat itu walaupun dalam hatinya sangatlah hancur.


Delmira mendorong tubuh Zaidan agar keluar dari kosnya.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa melupakan kamu Del?" tanya Zaidan sontak membuat tangan Delmira melemah saat mendorong tubuh Zaidan.


"Aku akan hidup bahagia dengan calon ayah dari bayi yang aku kandung. Aku harap hal yang sama pada kamu, hidup penuh dengan kebahagiaan dengan orang lain yang akan menjadi istrimu kelak," sahut Delmira tangannya lalu menutup pintu.


"Kita pergi Den," ajak Fernando yang sedari tadi hanya bisa mendengar dan menyaksikan mereka.


Zaidan melangkah pergi. Walaupun dalam hati masih penuh tanya dan mengharapkan kejelasan dari Delmira.

__ADS_1


"Aku sudah selidiki semuanya, tapi tidak ada hal yang mencurigakan dari kejadian sebelumnya yang menimpa non Delmira. Yasmin bilang, setahu dia, non Delmira tidak punya kekasih setelah meninggalnya Raffat. Tapi itu setahu Yasmin karena menurutnya, non Delmira tergolong pribadi yang tertutup kalau mengenai percintaan," lapor Fernando setelah mobil itu berjalan.


Fernando melirik ke arah bos mudanya yang hanya diam tanpa menyahuti sepatah katapun.


"Aku juga selidiki kebenaran buku kehamilan yang non Delmira tinggalkan. Dia memeng benar-benar hamil," ucap Fernando, hal yang sudah sepuluh hari lalu Fernando selidik tapi baru dia laporkan ke Zaidan karena saat itu Zaidan melarangnya untuk menyelidiki hal itu.


"Sebaiknya Den Zaidan tidak datang ke pengadilan agar gugatan itu segera dikabulkan pengadilan. Untuk apa semuanya dipertahankan Den? Kalaupun Den Zaidan dapat mempertahankan non Delmira tapi kenyataannya non Delmira benar-benar hamil dengan lelaki lain? Bagaimana nasib ke depannya?"


"Aku takutnya dia dijebak," sahut Zaidan, "aku merasa janggal, apa yang telah menimpanya. Kamu selidik kembali semuanya."


Fernando menelan salivanya dengan susah, "aku rasa itu hanya perasaan Den Zaidan," ucapnya kemudian.


"Kamu aku tugaskan untuk menyelidikinya kembali bukan untuk menyanggah apa yang aku yakini!" tukas Zaidan.


"Baik Den," pasrah Fernando.


...****************...


Suasana siang hari ini begitu panas. Delmira bangkit dari kursi persidangan. Dalam hatinya benar-benar bersyukur karena Zaidan tidak hadir di sidang pertamanya. Kakinya kini melangkah keluar menuju tempat parkir.


Dia bercakap sebentar dengan pengacaranya, sebelum pengacara itu pergi dengan mobil yang dia kendarai.


Delmira menatap sekitar, rasanya sedari tadi ada yang memperhatikannya. Benar saja ada sesosok orang yang sangat tidak asing baginya.


Dia berjalan melangkah menghampiri Delmira.


"Assalamualaikum," sapa Zaidan.


"Waalaikum salam," sahut Delmira.


"Bagaimana kabar kamu? Hari ini aku tepati janji untuk tidak hadir dalam persidangan."


"Baik. Terima kasih kamu tidak masuk ke ruang sidang. Aku harap sidang kedua, kamu juga tidak hadir," sahut Delmira kakinya akan melangkah pergi tapi dicekat oleh Zaidan.


"Tunggu! Aku minta kamu juga penuhi janji kamu. Temui aku dengan kekasihmu."


Delmira terdiam dan seketika langkahnya terhenti.


"Hai Manis," sapa seseorang dan sontak membuat Zaidan dan Delmira menoleh ke sumber suara. Bahkan mata Delmira terbelalak dengan kedatangan secara tiba-tiba pria yang ada di depannya.


siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian yang masih setia dengan cerita ini 😍🥰😘

__ADS_1


__ADS_2