
"Mrs. Delmira, bisa jelaskan kenapa korbankan diri untuk menolongku?" ulang Zaidan.
"Kamu jangan baper, itu hanya reflek saja. Aku pasti semua orang akan melakukan itu," ujar Delmira entah itu sebuah sangkalan atau sebatas alasan.
"Orang lain belum tentu akan melakukan tindakan senekat itu," Zaidan kembali tersenyum, "seseorang mengabaikan keselamatan jiwanya demi menyelamatkan orang lain bisa juga karena hatinya memang super hero atau juga karena ada cinta untuk orang yang dia selamatkan," sambung Zaidan.
"Berarti aku super hero!" cekat Delmira, menarik selimut dan memejamkan matanya.
Cup.
"Terima kasih Sayang," ucap Zaidan dengan berani dan tekad yang bulat, mendaratkan satu kecupan di dahi Delmira.
"Issst! Kamu_" geram Delmira, mata membulat, telunjuk menunjuk ke arah Zaidan.
"Mau balas?" tantang Zaidan menyodorkan wajahnya, "dengan senang hati aku menerimanya," sambung Zaidan, memejamkan mata.
"Issst! Males banget!" sarkas Delmira lalu memposisikan diri membelakangi Zaidan duduk.
Zaidan kembali menorehkan senyum, membuat matanya lamat, menatap lekat punggung sang istri yang tampak masih bergerak untuk posisi ternyaman.
"Berdoa dulu Sayang," ajak Zaidan mengelus rambut Delmira.
"Jangan pegang asetku!" protes Delmira.
Zaidan tersenyum lalu menuntun Delmira untuk melantunkan doa akan tidur.
'Semoga Allah memberi hidayah padamu Sayang,' monolog batin Zaidan kemudian ikut tertidur tetap di kursi samping ranjang.
Waktu terus bergulir, tak berhenti satu detik pun.
Zaidan terlihat duduk bersimpuh di atas sajadah. Waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Setelah merapikan sajadah yang baru dia pakai untuk bermunajat pada Sang Pencipta, kakinya beranjak mendekat dan duduk di kursi samping ranjang.
Zaidan mengusap halus kepala Delmira, lalu menyelipkan anakan rambut yang menutup sebagian wajahnya ke belakang telinga.
Delmira terkesiap sekejap mendapati tangan yang telah menyentuh halus rambutnya.
"Sudah subuh Zaid?" lontar Delmira.
Sontak Zaidan tersenyum karena bukan penolakan Delmira yang biasa mendengungkan 'jangan sentuh asetku!' melainkan lontar tanya waktu subuh.
"Belum Sayang, baru juga jam 3 pagi," jawab Zaidan dan tangannya tetap membelai lembut rambut Delmira karena wanitanya ternyata belum terusik dengan perlakuan dirinya.
"Oh ... ya sudah aku tidur lagi," ujar Delmira lalu memejamkan matanya. Zaidan pun tetap melanjutkan aksinya. Membelai rambut Delmira.
...****************...
"Kamu tidak bangunkan aku?" lontar Delmira ketika bangun dan terlihat kamar sudah terang oleh sinar matahari.
"Subuh aku sudah bangunkan kamu Sayang, cuma kamu tidur begitu nyenyak."
"Sudah jam berapa?"
"Sembilan."
"Kamu tidak ke kantor?"
"Aku suami durhaka kalau sampai ke kantor ninggalin istri yang terbaring sakit karena menolongku," jawab Zaidan, tangannya bergerak membantu Delmira yang akan bangun dari tidurnya.
Drt
drt
drt.
"Aku terima panggilan dulu," izin Zaidan dan Delmira mengangguk sebagai jawaban.
"Assalamualaikum, ada apa Fer?"
__ADS_1
"Kamu tangani dulu," jawab Zaidan ketika Fernando memintanya menemui mitra kerja.
"Bilang aku sedang menjaga istriku," sambung Zaidan, setelah mengucap salam sambungan itu dia putus.
"Ada hal penting?" penasaran Delmira.
"Hanya masalah kecil," jawab Zaidan, meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
Delmira mengangguk merespon jawaban Zaidan.
"Mau kemana?" lontar Zaidan ketika Delmira menurunkan kakinya dari ranjang.
"Toilet. Mau ikut?" jengah Delmira sedikit bergerak pasti ditanyakan.
"Ya jelas ikut," sahut Zaidan seketika membuat mata Delmira membulat.
"Ayo jalan kenapa malah menatapku?" ujar Zaidan membawa kantong infus.
"Aku bisa sendiri. Lagian apa kamu tidak paham kalau tawaranku tadi itu bentuk sindiran halus?!" greget Delmira.
Zaidan tersenyum tangannya tetap memegang infus. Delmira pun pasrah. Mereka berjalan ke toilet bersama.
"Apa kamu tetap mau di sini?!" sarkas Delmira.
"Ya Sayang, aku keluar dulu," sahut Zaidan dengan senyum mengembang di wajah, tangan kanannya menaruh infus di tempatnya lalu kakinya melangkah keluar.
"Pegang infusnya tidak usah pegang aku," elak Delmira ketika dia sudah keluar toilet.
"Kalau bisa dua-duanya kenapa pilih salah satu," sahut Zaidan.
Lagi, Delmira hanya pasrah.
"Sarapan dulu Sayang," tawar Zaidan ketika Delmira duduk menyandar di ranjang.
Zaidan membimbing Delmira untuk berdoa terlebih dahulu.
Zaidan tersenyum karena Delmira menerima suapan dari dirinya.
"Kamu jangan merasa senang! Aku hanya capek berdebat terus dengan kamu, makanya aku mau disuapi kamu!" gumam Delmira.
Zaidan mengangguk pelan masih dengan senyum.
"Cukup Zaid," pinta Delmira setelah beberapa suap sudah masuk ke lambungnya.
"Satu suap lagi Sayang," ujar Zaidan.
"Sudah Zaid," tolak Delmira tapi terpaksanya mulut membuka karena sendok sudah di depan mulut.
Zaidan kembali tersenyum melihat Delmira mengunyah makanan dengan wajah besingut.
"Minum Sayang," tawar Zaidan langsung menyodorkan ke mulut Delmira dan dengan terpaksa lagi Delmira meminumnya.
Tangan Zaidan gegas mengusap sisa air yang menempel di dua sudut bibir Delmira.
"Jangan senyam-senyum terus! Sudah kamu keluar saja temui Ummi sana!" titah Delmira mendorong tubuh Zaidan yang ada di tepi ranjang.
Tangan Zaidan malah menarik tangan Delmira hingga tubuh sang istri masuk dalam dekapannya.
"Zaid!" tolak Delmira menjauhkan dada Zaidan. Bukan malah melepas tapi Zaidan tetap mendekap dan tersenyum menang.
"Ehem... ."
Suara deheman membuat Zaidan melepas pelukannya.
"Maaf mengganggu kemesraan kalian," ucap Meilin berjalan mendekat ke arah Zaidan dan Delmira.
Meilin menampakkan senyum. Walaupun tahu sendiri, hati dengkinya tidak akan rela sahabatnya bermesraan di depan matanya.
__ADS_1
"Silahkan duduk," tawar Zaidan berdiri dari tepi ranjang.
"Bagaimana keadaan kamu Del?"
"Seperti yang kamu lihat," ketus Delmira.
Zaidan terkejut mendengar jawaban Delmira.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Padahal aku sangat khawatir mendengar kamu terluka demi menolong suami kamu," ujar Meilin.
Delmira terdiam.
"Silahkan diminum," sela Zaidan menawarkan minuman dingin dari kulkas.
Meilin membalas dengan senyum dan anggukkan.
Zaidan melangkah berpindah di tepi ranjang kiri.
"Kamu sangat beruntung Zaidan memiliki istri seperti Delmira."
"Memang aku beruntung," sahut Zaidan.
"Aku bawa coklat kesukaan kamu Del, dimakan ya."
"Terima kasih," jawab Delmira singkat.
"Kamu mau coba makan dulu Zaidan?" tawar Meilin menyodorkan coklat.
"Jangan!" cekat Delmira mengambil coklat itu lalu ditaruh di sampingnya duduk.
"Biar aku yang habiskan," sambung Delmira. Entah kenapa dirinya merasa takut kalau coklat itu mengandung racun dan nantinya termakan Zaidan.
Meilin menyunggingkan senyum, "makan bersama pasti lebih romantis," sela Meilin.
"Aku ke toilet dulu," pamit Zaidan merasa tidak terbendung ingin buang air kecil. Kakinya gegas masuk toilet.
"Pemandangan yang sangat menakjubkan. Makan disuapi, minum diminumi, dipapah masuk ke toilet. Wow wow wow...sungguh perkembangan yang luar biasa. Apalagi sapaan 'sayang' yang selalu Zaidan lontar untuk kamu," sindir Meilin setelah pintu toilet tertutup.
"Ada keperluan apa kamu ke sini?!" tukas Delmira merasa geram ternyata Meilin menyaksikan semua perlakuan Zaidan pada dirinya.
"Aku ya jenguk teman sakit," jawab Meilin dengan nada dibuat-buat terkesan haru.
"Mei!" geram Delmira melototkan mata.
"Ups! Tapi boong," seru Meilin dengan wajah girang.
"Yang jelas aku mau memastikan. Kalau tindakanku sangat tepat. Seandainya aku tidak ambil langkah cepat pasti sekarang kamu sudah mengikrar cinta dengan Zaidan. Duh... balas dendamku tidak kau balaskan dong," terang Meilin diiringi senyum mengejek.
"Sekarang, aku malah semakin puas melihat semuanya. Tidak hanya Zaidan yang akan terluka tapi juga kamu Del. Itu artinya, sekali mengayuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui," sambung Meilin diikuti tawa tapi sekejap, tangan langsung membungkam mulutnya sendiri.
"Brengsek kamu Mei!" geram Delmira.
"Kamu sih, sudah aku ingatkan jaga pakai hati. Eh...malah pakai hati, ya begini resikonya. Aku bergerak satu langkah menjalankan rencana cadangan."
Delmira mer*emas seprai dan hampir saja tangannya mendarat di pipi Meilin kalau dia tidak dikejutkan dengan pintu toilet yang terbuka.
"Eh, suami kamu sudah keluar. Tadinya Delmira mau aku tinggal saja tapi aku merasa kasihan nanti tidak ada yang menjaganya. Ya sudah aku nunggu kamu keluar dulu.
"Oh... maaf tadi sekalian pup," sahut Zaidan karena saat hendak keluar toilet perutnya merasa mules.
"Tidak apa-apa, santai saja."
"Aku pulang dulu Del," pamit Meilin mendekat Delmira dan mencium pipi kanan kiri Delmira.
"Aku yakin kamu akan meninggalkan Zaidan cepat atau lambat. Tidak mungkin kan wanita kotor seperti kamu bersanding dengan Zaidan," bisik Meilin di dua telinga Delmira.
"Terima kasih Zaidan, titip sahabatku ya, dah... ."
__ADS_1
jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏