Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 75


__ADS_3

Verel duduk di luar ruang operasi. Dua tangannya menyangga kepala yang dia tundukkan dalam-dalam.


Sungguh kejadian ini membuat dirinya begitu shock, sampai seorang Verel Gigih Adhelard meneteskan air mata


Pikirannya hanya tertuju pada Delmira dan janin dalam kandungan Delmira.


"Nak Verel."


Suara parau yang menyebut namanya membuat kepala Verel terangkat.


Verel menatap pada wanita tua yang tersengal-sengal nafasnya, wajahnya begitu cemas, dan matanya terlihat sembam.


"Bagiamana keadaan non Delmira?" lontar Sa'diyah, bergetar dan penuh harap Delmira akan baik-baik saja.


Verel terdiam, mulutnya tidak mampu menjawab.


"Bagaimana Nak?" ulang mbok Sa'diyah karena Verel belum juga buka suara.


Sa'diyah terlihat lemas, diamnya Verel dapat diartikan nonanya dalam keadaan tidak baik, Raka sang asisten langsung memapah Sa'diyah duduk di samping Verel.


Mereka saling diam, dengan pikiran masing-masing.


"Maaf, keluarga pasien atas nama Delmira Cinta Kusuma. Adakah yang memiliki golongan darah A. Pasien kekurangan 2 kantong darah dan stok di rumah sakit kami sementara kosong?" tanya seorang suster.


"Ambil punya saya Sus!" ucap Verel berdiri dari tempat duduknya.


Raka langsung menegakkan pandangan, dia tahu benar tuannya fobia jarum suntik. Namun, kali ini yang dilakukannya sungguh luar biasa.


"Silahkan ikut kami Pak, biar kami cek terlebih dahulu," ucap perawat itu.


Setelah pengecekan, wajah Verel terlihat kecewa karena golongan darah yang dimilikinya tidak sesuai.


Raka yang sudah tahu golongan darahnya A langsung meminta pengecekan kelayakan untuk transfusi darah. Kebetulan dinyatakan layak, Raka pun segera melakukan transfusi.


Satu kantong darah lagi diambil dari salah satu anak buah Verel yang ikut juga mendonorkan darah.


Verel kembali duduk di kursi tunggu depan ruang operasi.


Setelah dua jam tim dokter pun keluar dan beberapa perawat mendorong ranjang Delmira ke ruang perawatan.


Kaki Verel akan mengejar roda ranjang yang tengah bergulir tapi seketika itu kakinya terhenti saat salah satu dokter memanggil perwakilan keluarga pasien.


Verel menoleh, Saya Dok," ucap Verel mendekat ke arah sang dokter.


"Maaf Pak, kami sudah berjuang untuk menyelematkan keduanya. Tapi Allah berkehendak lain, anak Bapak tidak bisa kami tolong. Sedangkan kondisi istri Bapak Alhamdulillah telah melewati masa kritis."


Ucapan dokter sungguh seperti sambaran petir untuk Verel hingga dia diam tanpa suara.

__ADS_1


"Kami bisa jenguk pasien?" lontar Verel, dengan suara bergetar setelah lama membisu.


"Biarkan pasien istirakhat dulu, dia juga belum siuman," jawab dokter.


"Aku minta pelayanan yang terbaik dari rumah sakit ini. Berapa pun biayanya," ujar Verel.


Dokter itu melempar sebuah senyum, "Insyaallah akan kami berikan layanan terbaik," jawab dokter itu.


Sementara itu, mbok Sa'diyah langsung mengurus pemakaman bayi.


Verel duduk di makam itu setelah menyusul untuk mengurus pemakaman.


Orang-orang yang ikut dalam prosesi pemakaman, satu persatu meninggalkan makam. Verel masih berdiri mematung menyaksikan gundukan tanah yang bernisan kecil. Kakinya kini bersimpuh di dekat makam.


"Ayah hanya menatap kamu sekali Nak, Ayah juga menggendong kamu sekali seumur hidup. Maafkan Ayah tidak bisa menjagamu dengan baik," tangan Verel meraba nisan kecil yang terpasang di kuburan bayi yang baru dia tatap wajahnya sekaligus baru dia gendong, tapi harus berpisah karena kematian.


"Katanya wajah kamu mirip dengan Ayah," dua sudut bibir Verel ditarik membentuk sebuah senyum, "kita belum sempat main bola bersama Nak, tapi Tuhan lebih sayang pada kamu. Ayah yakin, kamu akan bahagia di surga," sambung Verel tangannya bergerak cepat menyeka cairan bening yang keluar dari mata maupun hidungnya.


Sebuah kecupan mendarat di nisan kecil itu. Verel bangkit dari duduknya dengan langkah gontai meninggalkan makam anaknya. Dia ingat, ada wanita yang dia cintai sedang tergeletak tak berdaya di rumah sakit.


"Raka, langsung ke rumah sakit," titah Verel dengan nada lemas.


"Baik Tuan," jawab Raka.


...****************...


"Sadaqallahul adhim."


Sa'diyah mengakhiri ngajinya lalu meletakkan Al Qur'an dalam laci nakas.


Wajah Sa'diyah kini menatap lekat Verel.


'Lelaki ini, dia benar-benar tulus mencintai non Delmira,' batin Sa'diyah.


"Apa kamu tidak lapar?" tanya Sa'diyah kemudian, melihat bungkusan plastik berisi makanan yang Raka bawa tetap belum tersentuh oleh Verel.


"Mbok dulu yang makan, biar aku yang jaga Delmira," jawab Verel tanpa mengalihkan tatapannya pada Delmira.


"Kita makan bersama," ajak Sa'diyah, "non Delmira pasti akan marah kalau temannya tidak mau makan gara-gara dirinya," sambung Sa'diyah.


"Aku_"


Ucapan Verel terhenti melihat Sa'diyah melempar senyum, menganggukkan kepala. Isyarat agar Verel mau menerima ajakannya.


Verel pun menurut, bangkit dari duduknya dan berpindah ke sofa panjang yang berada tidak jauh dari ranjang pasien.


"Makanlah," pinta Sa'diyah menyodorkan satu bungkus makanan pada Verel. Satu bungkus lagi sudah dibuka dan siap disantap oleh dirinya.

__ADS_1


"Terima kasih Mbok," ucap Verel, mulutnya dia buka untuk memakan nasi.


"Habiskan makannya," pinta Sa'diyah.


"Sudah Mbok, aku sudah kenyang."


"Sudah dua hari kamu menjaga non Delmira, jangan lupa untuk makan tepat waktu. Berapa suap, yang penting perut kamu diisi, jangan sampai kosong. Untuk menjaga non Delmira harus fisik kuat dan sehat."


Verel membalas dengan sebuah anggukan kecil.


'Aku tahu, sebenarnya kamu baik padaku mbok, hanya... selama ini kamu tidak perlihatkan padaku,' batin Verel.


Kemudian Verel kembali duduk di kursi dekat ranjang pasien.


Lama Verel diam memindai wajah Delmira, tanpa sejengkal pun terlewati dari matanya, "Kamu tidak bosan, sudah 2 hari ini kamu tidur," ujar Verel.


Tangan Verel sebenarnya ingin sekali meraba wajah milik Delmira, menarik tangan yang terkulai tak berdaya itu lalu mengecupnya dengan lembut.


Akan tetapi, Verel tahu, itu hanya keinginan semata. Tidak mungkin dia melakukan itu. Seandainya dalam keadaan sadar pasti Delmira akan marah. Ini yang menjadi dasar Verel menahan diri untuk mencurahkan rasa sayang dengan bahasa tubuh. Terlebih lagi, Delmira sering mengingatkan kalau bukan mahram tidak boleh saling sentuh.


"Kamu sengaja, tidak bangun? Kamu takut aku marah hah? Aku janji Del, aku tidak akan marah pada kamu?" sambung Verel dengan suara yang mulai terdengar parau.


"Aku tahu, kamu melakukan itu karena ingin menyelematkan aku. Dan...tanpa kamu hiraukan, ada nyawa kamu dan bayi kita yang sangat berharga lebih dari nyawaku telah menjadi korban."


Tangan Verel bergerak menyapu air mata yang masih menggenang di pelupuk mata. Hati Verel memang sangat sakit, memang kecewa dengan tindakan Delmira yang sudah membahayakan nyawa sendiri bahkan nyawa anak dalam kandungannya.


Namun, Verel lebih menyalahkan diri sendiri atas inseden yang telah terjadi.


Sa'diyah terdiam menyaksikan semuanya.


Sementara itu, Safira yang baru masuk ruangan terpaksa menahan diri untuk memberi salam. Terlebih lagi, Raka malah menarik belakang kerah bajunya agar keluar ruangan.


"Issst! Mau apa!?" kesal Safira


"Jangan masuk dulu, beri waktu tuan Verel berbicara dengan non Delmira," ujar Raka.


"Issst! Beri waktu apaan!? Kursi samping ranjang itu sampai panas karena diangkremi om Verel!" sindir Safira, "aku yang selalu diberi waktu hanya sebentar! Setelah itu disuruh simbah pulang. Eh, ini belum tegur sapa dengan mbak Del, malah di suruh keluar ruangan!" gerutu Safira.


"Kamu pasti belum makan, kita makan dulu," ajak Raka tanpa menjawab sanggahan dari Safira.


"Hmmm," pasrah Safira karena perutnya memang sudah sangat lapar.


Tapi, ketika kaki Safira dan Raka akan melangkah. Tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan dokter yang tergesa-gesa masuk ke ruang perawatan Delmira.


malam menyapa 🤗 vote yuk🙏🥰😘


maaf ya, dari kemarin kak Mel sibuk RL jadi tidak bisa up 🙏

__ADS_1


__ADS_2