Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 89


__ADS_3

Zaidan yang sedang menatap heran dengan sikap Delmira lalu mengiyakan permintaannya.


"Loh, Zaidan."


Sapa seseorang membuat mereka yang sudah ada di lobi hotel menghentikan langkahnya.


"Assalamualaikum," sapanya mendekat ke arah Zaidan.


"Waalaikum salam."


"Sedang apa di sini?" lontarnya.


Dagu Zaidan menunjuk ke arah Delmira.


"Oh... Mbak Delmira," ucapnya menyebut nama Delmira.


Delmira melempar senyum pada wanita itu. Otaknya mulai memutar ingat wanita yang memanggilnya.


"Aku Halwah, rekan kerja Zaidan," ucapnya mengerti wajah Delmira penuh tanya.


Delmira melebarkan senyum, dia baru ingat setelah wanita itu menyebutkan nama.


"Astaghfirullah haladhim, maaf sekali, aku sering lupa wajah dan nama seseorang."


Halwah tersenyum sebagai balasan, "Santai saja Mbak," sahutnya. Namun, mata Halwah masih penuh telisik pada pipi kiri Delmira yang terlihat ada bekas luka.


Delmira yang menyadari itu langsung menutup pipinya dengan tangan.


"Maaf Wah, kita ada urusan penting. Kami tinggal dulu ya," pamit Zaidan yang merasa ada rasa ketidaknyamanan pada Delmira dengan tatapan Halwah yang penuh telisik.


Halwah mengangguk pelan, matanya belum juga lepas dari rasa penasaran, "Silahkan, ucapnya terbata.


Zaidan mempersilahkan agar Delmira jalan terlebih dahulu.


Delmira menundukkan pandangan, dia terlihat hanya diam sepanjang perjalanan. Kalau pun Zaidan bertanya pasti Delmira tidak fokus untuk menjawabnya.


Mereka sampai di rumah sakit.


"Tidak usah ditutup, kamu tetap cantik Mrs. Delmira," ucap Zaidan mencoba menenangkan hati wanitanya.


Delmira tersenyum kecut. Entah kenapa, biasanya dia akan merasa tak acuh mendengar sindiran, ucapan atau bahkan tatapan orang pada wajahnya. Namun, kali ini mengapa jadi lain hal.


Zaidan mengiringi langkah kaki Delmira.


Kali ini pun sama, orang-orang menatap Delmira penuh dengan telisik. Sesekali ada yang sambil berbisik-bisik di telinga satu orang ke orang lain.


"Apa kita kembali hotel saja?" tawar Zaidan melihat Delmira yang semakin tidak nyaman dengan keadaan.


"Tidaklah, kita kan tinggal ke lantai atas," tolak Delmira kakinya tetap melangkah masuk ke dalam lift.


Zaidan dan Fernando juga ikut masuk.


Mata Zaidan melirik ke arah Delmira, ingin sekali tubuh wanita itu dia tarik ke dalam tubuhnya dan tangan Delmira dieratkan pada tangannya. Namun, Zaidan sadar itu tidak mungkin. Dia harus sabar demi iman dan taqwa pada Sang Kuasa juga demi menghormati sang kekasih.


"Dia yang berbisik, menatap kamu dengan telisik, karena belum kenal kamu seutuhnya. Manusia hanya sekilas memandang fisik seseorang. Dia tidak tahu, kalau hatinyalah yang paling utama. Inner beauty lebih dari segalanya dibanding cantik muka semata," terang Zaidan kembali mencoba menumbuhkan rasa percaya diri pada Delmira.


Lift itu terbuka.


"Tunggu Mrs. Delmira," cekat Zaidan.


Delmira menghentikan langkahnya. Kaki Zaidan maju beberapa langkah dan sekarang berdiri di depannya.


"Aku yakin, akan menemui Ummi dalam keadaan seperti ini?"


"Kenapa denganku?" bingung Delmira.


Zaidan mengempaskan napasnya, "Dari hotel kamu begitu semangat. Tapi, setelah di lobi semangat kamu tiba-tiba kendor. Apalagi sampai di rumah sakit. Semangat kamu makin loyo," terang Zaidan, "ada apa?" retorisnya, walaupun Zaidan sendiri tahu Delmira berubah sikap karena merasa tidak percaya diri dengan penampilan wajahnya yang sekarang karena bekas luka di pipi kiri.


"Tarik napas panjang, keluarkan perlahan," pinta Zaidan.


Delmira menurut apa yang menjadi titah Zaidan karena jujur saja perasaannya sekarang memang sangat tidak karuan. Ada rasa insecure yang tiba-tiba menghinggapinya.


"Sudah merasa tenang?" lontar Zaidan setelah Delmira melakukan apa yang dimintanya.


Delmira mengangguk sambil melempar senyum.


"Jangan hanya mengangguk, jawab dengan semangat," protes Zaidan.


"Ya, aku sudah mulai tenang," jawab Delmira.


Zaidan tersenyum membalasnya karena benar, wajah Delmira sudah terlihat lebih tenang dan memancarkan rona semangat.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Aisyah.


Dia tercengang melihat anaknya datang dan juga membawa Delmira.


"Subhanallah, anak Ummi bawa Delmira juga. Ayo duduk."


Delmira pun duduk begitu Zaidan dan Fernando.


"Kangen dengan suasana rumah sakit?"


Delmira tersenyum membalas tanya Aisyah.


Tangan Aisyah bergerak memegang tangan Delmira.


"Maafkan Ummi karena sudah salah menilai kamu," ucap Aisyah, wajahnya terlihat serius.


"Aku yang banyak salah dengan Ummi. Harusnya aku yang meminta maaf pada Ummi," balas Delmira.


Aisyah tersenyum Delmira pun membalas senyum. Dua wanita lalu saling memeluk satu dengan lain.


"Ummi menyesal, dulu membiarkan kamu dan Zaidan berpisah," ujar Aisyah dan tanpa terasa air matanya jatuh.


"Aku juga menyesal, dulu pergi tanpa pamit Ummi," sahut Delmira juga dengan tangis.


Lama mereka saling mengadu dan memeluk penuh kerinduan hingga keduanya pun melepas pelukan itu.


Aisyah menyeka air mata Delmira, "Kamu semakin cantik Nak," ucap Aisyah.


Tangan itu memegang bekas luka di pipi kiri Delmira, "Kejadian apa yang telah menimpamu, sampai menorehkan bekas seperti ini?"


Delmira menundukkan pandangannya.


"Sebuah kecelakaan Ummi," jawab Delmira.


"Tapi bagi Ummi, goresan ini tetap saja tidak mengurangi kadar kecantikan kamu. Malah bagi Ummi, kamu semakin cantik dengan jilbab yang melekat di kepalamu," ujar Aisyah, tangannya bergerak mengangkat dagu Delmira agar wajahnya terlihat.


"Terima kasih Ummi," balas Delmira.


Delmira menatap ke arah Zaidan, seakan mengisyaratkan kelegaan hatinya karena ummi Aisyah juga berkata hal yang sama seperti Zaidan.


Sebuah anggukan dan senyum Zaidan lempar sebagai balasan.


"Ya Ummi," sahut Delmira.


"Ummi ingin kamu bercerita banyak hal pada Ummi."


Delmira mengangguk.


"Zaid, kalau kamu mau ke kantor. Ke kantor saja, biar Nak Del menemani Ummi di sini," pinta Aisyah.


Zaidan mengarahkan pandangan pada Delmira dan Delmira mengangguk sebagai jawaban.


"Biasa, kalau dua wanita ini sudah bersama, aku yang giliran dikacangin," gumam Zaidan.


Aisyah dan Delmira terkekeh mendengar jawaban Zaidan dan laki-laki itu kemudian pamit pergi.


...****************...


Malam itu pun Delmira datang memenuhi undangan makan malam.


Aisyah dan Delmira kembali terlihat akrab ngobrol ini itu selama mereka tidak bertemu.


"Ummi jadi tidak sabar ingin bertemu dengan simbok Sa'diyah," sahut Aisyah ketika Delmira berbicara kebaikan Sa'diyah.


"Semoga Allah mengizinkan jalan untuk bertemu bersama," ujar Delmira.


"Amin ya Allah," sahut Aisyah, "Astaghfirullah haladhim, gara-gara bicara ini itu, itu ini akhirnya Ummi sampai lupa membahas masa depan kalian, tentang pernikahan kalian. Allahhu Akbar, maaf sekali. Ummi itu ingatnya kalian masih suami istri."


Delmira mengembangkan senyum. Jujur saja Delmira juga sampai lupa membahas pernikahan.


"Bahas pernikahan saja sampai lupa, apalagi perhatikan anak malang yang kalian abaikan ini," protes Zaidan karena seperti biasanya, diabaikan oleh keduanya.


Delmira tertawa geli melihat mimik Zaidan yang terlihat cemberut.


"Ada yang iri nih," ledek Aisyah, mencubit lengan anaknya.


"Sakit Ummi," lirih Zaidan dan Aisyah semakin terkekeh karenanya.


"Oke, kita bahas pernikahan kalian," seru Aisyah.

__ADS_1


Zaidan terlihat antusias.


"Kamu, Zaid. Inginnya kapan?"


"Satu minggu setelah ini Ummi," seru Zaidan.


Aisyah tersenyum mendengar jawaban Zaidan.


"Kalau kamu Del?"


"Aku terserah Zaidan," jawab Delmira.


"Jangan terserah. Kalau kamu minta besok juga bisa," sahut Zaidan.


"Auw! Ummi, sakit, kenapa Ummi suka sekali mencubit lengan Zaidan?"


"Bukan waktunya bercanda, ujar Aisyah.


"Astaghfirullah haladhim, ngapain Zaidan bercanda. Kan tinggal panggil penghulu," jawab Zaidan, netranya berpindah tatap ke arah Delmira.


Delmira yang merasa ditatap langsung menundukkan pandangannya.


"Bagaimana Mrs. Delmira?" lontar Zaidan, "Maukah?" sambung Zaidan.


Plak.


"Auw! Astaghfirullah haladhim, Ummi... sakit," keluh Zaidan mengelus kepalanya yang kena timpukan kertas tipis.


"Jangan bercanda, Ummi tidak suka. Ini masalah penting," sahut Aisyah.


"Ya, maaf Ummi," sesal Zaidan.


"Tunggu Ummi, sebelum kita lanjut bicara. Ada hal yang tidak kalah penting," cekat Zaidan.


"Masalah apa?" telisik Aisyah.


Zaidan berdiri, dia meraba saku celana dan kaosnya.


"Kamu cari apa?" tanya Aisyah.


Tanpa menjawab tanya Aisyah, mata Zaidan kini berpindah cari ke lantai. Lalu kakinya melangkah ke meja makan. Namun, barang yang dia cari juga tidak dia temukan.


"Ummi tanya cari apa?"


"Kalau aku jawab, nanti tidak akan jadi surprise Ummi," sahut Zaidan.


"Mencari ini?" sela Delmira menyodorkan sebuah kotak kecil dan menaruhnya di meja.


Zaidan terlihat lega, benda yang dia cari ternyata ada di tangan Delmira. Sebuah senyum yang tadi sempat mengembang kini langsung dia tarik.


'Mrs. Delmira yang menemukan, duh gagal deh mau buat kejutan,' batin Zaidan berucap.


"Ummi Aisyah yang menemukan, lalu kasihkan ke aku," jujur Delmira.


"Ya Allah Ummi, kenapa dikasihkan ke Delmira. Gagal dong kejutannya."


Aisyah terkekeh dan juga Delmira.


"Lagian kamu mau kasih kejutan semacam apa sih?" tantang Aisyah.


Zaidan mengambil kotak kecil itu. Tubuhnya kini berlutut di depan Delmira, "Delmira Cinta Kusuma, maukah kamu menerimaku kembali?" ucap Zaidan dengan menunjukkan sikap yang begitu manis.


Aisyah tersenyum, dia menatap ke arah Delmira lalu menganggukkan kepala sebagai isyarat agar Delmira juga menyetujui permintaan Zaidan walaupun Aisyah tahu, tanpa dia suruh pun Delmira akan menerima lamaran itu.


"Mau sekali," sahut Delmira.


"Alhamdulillah," ucap Zaidan dan Aisyah bersamaan.


"Ya sudah pakaikan itu cincinnya," suruh Aisyah pada Zaidan yang masih menyodorkan kotak berisi kalung di depan Delmira.


"Tolong pasangkan Ummi," pinta Zaidan.


Aisyah tersenyum lebar, titahnya tadi hanya sebuah pancingan, apakah Zaidan akan melebihi batas ataukah tetap akan menahan diri dari nafsu.


"Subhanallah, semoga cinta kalian hingga ke surga," ujar Aisyah setelah memasangkan cincin di jari manis Delmira.


"Tiba-tiba kasih cincin, cincin dari mana nih?" telisik Aisyah.


"Ummi kepo," sahut Zaidan.


Delmira tersenyum dengan canda mereka.

__ADS_1


'Ya Allah, semoga saja ini bukan mimpi. Lancarkan niatan baik kami ya Allah," batin Delmira berucap.


malam menyapa 🤗 like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2