Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 100


__ADS_3

"Ke rumah saja Fer!" titah Zaidan.


"Den, kali ini tidak bisa, klien menginginkan bertemu langsung dengan Aden," sanggah Fernando.


Zaidan terdiam. Klien yang satu ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Perusahaan yang dia miliki mau membiayai para pekerjanya untuk mengambil motor dalam skala besar.


Matanya kini menatap ke arah istrinya yang sedang sibuk meracik bumbu dan memotong sayuran untuk menu makan siang.


"Kamu beritahu Pak Hidayat , pertemuannya diundur, pukul 1 siang nanti."


"Beliau menginginkan untuk sekalian mengundang anda makan siang di rumah barunya Den," sahut Fernando.


"Aku tutup dulu teleponnya, nanti kuhubungi kamu," ucap Zaidan kemudian setelah lama diam.


"Fernando, Yang?" lontar Delmira begitu Zaidan mendekat, membantu Delmira yang sedang mencuci wortel.


Zaidan mengangguk sebagai jawaban.


"Ada masalah di dealer?" cecar Delmira melihat wajah suami terlihat berubah.


"Tidak sih."


"Lalu kenapa?" lontar Delmira mulai memotong wortel yang sudah dia cuci.


"Kenapa apanya?" Zaidan memastikan.


"Kenapa wajah kamu ditekuk seperti ini?" gemas Delmira mencubit dua pipi Zaidan setelah meletakkan wortel dan pisau yang sebelumnya dipegang.


Karena posisi Delmira yang tinggi badannya hanya sebatas bahu Zaidan, dia sampai jinjit untuk meraih pipi sang suami.


"Nanti jatuh Sayang," ujar Zaidan meraih pinggang Delmira menahan tubuh sang istri agar tidak terjatuh.


"Pingin nyubit biar kamu tersenyum Sayang," sahut Delmira dengan manja.


Tubuh Zaidan dia bungkukan lalu wajahnya didekatkan ke Delmira.


"Caranya bukan dicubit begitu Sayang tapi coba dicium keduanya," balas Zaidan tidak kalah manja.


Rona wajah Delmira langsung memerah, "Issst! Itu sih maunya kamu," ujarnya mendorong pelan pipi kanan suaminya dan tangannya bergerak melepas tangan Zaidan yang sempat melingkar di pinggangnya.


Zaidan tetap tidak bergeming, wajahnya tetap saja dia sodorkan pada sang istri, berharap ada kecupan hangat mendarat di dua pipinya.


Cup cup.


Sebuah senyum bahagia tercetak di wajah Zaidan begitu Delmira mendaratkan ciuman di kedua pipinya.


"Bonus Yang," lirih Zaidan, jari telunjuknya menempel di bibir, isyarat agar Delmira juga mendaratkan kecupan di benda kenyal itu.


Delmira membulatkan mata, "Ogah! Takut nglunjak minta lebih!" sungut Delmira tapi wajahnya tetap mengembangkan sebuah senyum.


Seolah tidak peduli penolakan dari Delmira, Zaidan tetap mematungkan diri, matanya kini sengaja dia pejamkan, tubuhnya masih sedikit membungkuk dan wajah didekatkan pada sang istri.


Delmira tersenyum menatap kelakuan suaminya. Dia berdiam diri, menelisik setiap inci wajah tampan itu.


"Setampan ini, mana bisa aku tidak tergoda rayuan kamu," lirih Delmira berucap namun masih dapat didengar jelas Zaidan.


Zaidan pun semakin melebarkan senyumnya.


"Makanya kasih bonus Yang," sahut Zaidan masih dengan posisi sama.


Cup.


Sekilas kecupan itu menempel di bibir Zaidan.


Bukan Zaidan kalau dia ambil diam atas perlakuan istrinya, dia langsung meraih tubuh Delmira agar semakin mendekat ke arah dirinya. Balasan cepat pun dia lakukan. Namun, lebih lama dan lebih menyatu.


Zaidan melepas pagut*annya, menatap wajah Delmira yang semakin tersipu.


"Jangan menatapku seperti itu," protes Delmira wajahnya ditutup dengan dua tangan.


"Coba aku lihat wajah memerah kamu," rayu Zaidan menarik tangan Delmira yang menempel di wajahnya.


"Zaid!" protes Delmira mengadu kekuatan dengan Zaidan.


"Aku harus lihat," ujar Zaidan tidak kalah sengit masih mencoba menyingkirkan tangan Delmira.


Tangan Delmira terpaksa dia turunkan dari wajahnya.


"Puas?!" sungut Delmira memperlihatkan wajah memerahnya pada Zaidan.

__ADS_1


Zaidan menggeleng.


"Issst!" Delmira terlihat kesal tapi tetap sikap manjanya masih mendominasi.


"Aku mau melanjutkan masak, hampir Zuhur," alih Delmira mengulek bumbu yang sudah ada di cobek.


"Aku akan makan di luar," lirih Zaidan dan sontak membuat Delmira menghentikan apa yang sedang dia lakukan.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?!" sungut Delmira mengerucutkan bibirnya.


"Ini mendadak Sayang, tadi Fernando telepon."


"Itu bukan mendadak kalau kamu langsung sampaikan padaku!" protes Delmira masih dengan wajah yang ditekuk.


"Maaf," sesal Zaidan yang akhirnya harus mengatakan itu semua walaupun sebenarnya tidak ingin melihat istrinya sedih karena hal seperti itu.


"Klienku mengundang makan siang di rumah barunya. Klien kali ini sangat penting Sayang. Dia tidak boleh diabaikan. Kalau kerja sama ini berjalan lancar, dealer akan ada untung banyak," terang Zaidan.


"Sayang," panggil Zaidan masih berharap diizinkan Delmira.


Biasanya Delmira tidak bersikap seperti ini. Sewaktu Zaidan memutuskan untuk menemaninya dan bekerja dari rumah, Delmiralah yang pertema kali menolak keputusan Zaidan karena dianggap terlalu lebay.


Akan tetapi, karena terlalu nyaman ditemani Zaidan, dalam satu minggu ini, setiap Zaidan izin keluar untuk urusan kerja yang sangat genting, entah kenapa Delmira selalu tidak rela untuk mengizinkannya.


"Makan dulu dengan aku setelah itu terserah!" ujar Delmira bibirnya masih mengerucut karena terlalu kesal.


"Tapi Say_"


"Ya sudah sana pergi! Buang saja itu sebagian lauk yang sudah masak!" geram Delmira.


Zaidan menelan salivanya dengan susah.


Memang dirinya kali ini merasa salah. Hanya saja waktu sangat mendesak dan pertemuannya kali ini sangatlah penting.


"A... aku makan yang sudah matang ya," ujar Zaidan langsung ambil piring mengambil nasi dan juga lauk yang ada di meja makan.


Walau hanya ada ikan goreng di meja makan, Zaidan tetap menyantapnya.


"Mbok...," panggil Delmira.


"Lanjutkan buat sayurnya," pinta Delmira pada mbok Muna.


Kini Delmira duduk di kursi makan, menatap ke arah Zaidan yang sedang mengisi piring dengan nasi.


"Di meja hanya ada ikan," ujar Delmira tangannya bergerak mengambil gelas diisi air putih, "minum saja airnya lalu kamu pergi," lanjut Delmira yang merasa tidak tega kalau suaminya hanya makan ikan goreng tanpa sayur, tangannya menyodorkan gelas.


Zaidan terlihat ragu untuk mengambil gelas itu hingga Delmira sedikit memaksa agar Zaidan menerimanya.


"Kamu harus sehat Sayang. Asupan makan harus ada sayurnya," ujar Delmira.


Zaidan tersenyum lalu meminum air dalam gelas yang diberikan Delmira.


"Terima kasih Sayang," sahut Zaidan.


"Aku mandi dulu," sambungnya gegas ke lantai atas.


...****************...


"Sayang, ayo makan?"


Delmira mengangguk pelan.


Zaidan merangkul bahu Delmira untuk keluar kamar menuju ruang makan.


"Ummi belum pulang Zaid?" lontar Delmira karena kursi Aisyah kosong tanpa pemiliknya.


"Sebelum pulang aku sempatkan diri mampir ke rumah sakit, ummi sedang sibuk dan bilang akan pulang malam."


Delmira mengambil beberapa menu makan. Tangannya bergerak mengelus perut yang terasa mulas.


"Kenapa Sayang?" tanya Zaidan melihat Delmira nyengir seperti menahan sakit.


Delmira menggelengkan kepala, setelah berdoa dia gegas makan.


Dia merasa ada tanda-tanda kelahiran. Namun, dia juga tahu, dirinya harus tenang. Tetap harus makan untuk memberi asupan nutrisi tubuh.


Selesai makan, Delmira memilih untuk tidak ikut naik ke lantai atas karena merasa mulai sulit untuk naik turun tangga dengan kondisi perutnya yang semakin mulas.


"Apa kamu mau melahirkan?" lontar Zaidan merasa panik dengan keadaan Delmira.

__ADS_1


Delmira mengangguk pelan, bibirnya menampilkan sebuah senyum, "Jangan tegang seperti itu. Aku yang akan melahirkan, kenapa wajah kamu yang terlihat pucat," ledek Delmira.


"Ya Allah, sempat-sempatnya mengejek aku," sahut Zaidan membuat Delmira semakin melebarkan senyum.


"Kamu ambil semua perlengkapan yang sudah aku kemas di dalam tas," pinta Delmira.


"Mbok...," panggil Zaidan pada ART nya yang ada di dapur.


"Ya Den," sahut mbok Muna.


"Tolong jaga Non Delmira, aku akan ke atas ambil tas," pinta Zaidan.


"Non Delmira mau melahirkan?"


Delmira mengangguk pelan.


"Kita jalan keluar Mbok," pinta Delmira dan diiyakan mbok Muna.


Zaidan gegas mengambil perlengkapan melahirkan yang sudah tertata rapi dalam tas. Setelah tas itu dia ambil, kakinya segera menuruni tangga dan menyusul Delmira yang berjalan keluar rumah.


"Apa aku gendong saja?" tawar Zaidan melihat istrinya kesusahan jalan.


"Tidak perlu Zaid," tolak Delmira masih dengan wajah nyengirnya menahan sakit.


Perjalanan ke rumah sakit yang seyogyanya, cepat dirasa terlalu lama karena Zaidan meminta pak Imran untuk menjalankan mobil dengan hati-hati.


Sesampai di rumah sakit, Zaidan memapah Delmira untuk jalan ke ruang IGD.


Menunggu beberapa menit, dia pun dipindahkan ke ruang bersalin.


"Sudah pembukaan empat Bu," ucap seorang perawat.


Delmira mencoba tenang menghadapinya. Sesekali menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan-lahan saat kontraksi itu terjadi.


Zaidan masih setia mendampingi sang istri. Tangannya yang sakit karena diremat sang istri tidak berasa sakit, yang terpenting istrinya lebih tenang.


Kontraksi mulai dirasa lebih sering bahkan Delmira sudah sesekali mengejan karena dorongan bayi yang ada di dalam kandungan ingin keluar.


Dokter dan perawat sudah bersiaga dalam ruangan.


Sementara itu, Aisyah yang ada di luar ruangan juga tidak kalah cemas dengan situasi yang ada.


Zaidan mengelus pucuk kepala Delmira sambil menggumamkan doa lalu dikecuplah pucuk kepala itu.


Delmira masih bertempur antara hidup dan mati memperjuangkan diri dan anaknya.


"Ibu, tolong posisi kakinya ditekuk lebih dalam, pegang dua kaki ibu erat-erat. Pandangan ibu mengarah pada perut ibu ya, tolong ketika mengejan jangan pejamkan mata," ucap perawat mengarahkan Delmira agar siap-siap posisi lahiran.


Delmira menuruti apa yang diarahkan perawat tanpa menyahuti dengan sebuah jawaban.


"Sekali lagi ibu, tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan. Ayo ibu mengejan lagi. Anaknya sudah mulai terlihat," imbuh dokter memberi semangat.


Zaidan masih menatap cemas dengan situasi yang dia hadapi untuk pertama kalinya.


"Ayo Ibu kembali mengejan, kasihan dedeknya ingin cepat keluar, kepalanya sudah terlihat."


Di saat seperti itu, Delmira merasa sakit yang teramat seperti tidak kuat namun harus dikuatkan demi sang anak.


"Sayang, tolong ambil minum," pinta Delmira.


Zaidan langsung menyodorkan sebuah minuman penambah ion. Delmira pun gegas meminumnya memakai sedotan hingga tandas.


Setelah mengumpulkan tenaga agar kuat mengejan, Delmira lakukan lagi mengejan, tapi kali ini lebih lama agar bayinya keluar.


Oek oek oek...


Lahirlah seorang bayi tampan.


"Alhamdulillah," lirih Delmira dan Zaidan serentak.


"Satu lagi ya Bu, siap-siap untuk mengejan kembali," ucap perawat.


Selang lima menit lahir kembali anak satunya.


"Laki-laki lagi Ibu," ucap salah satu perawat.


"Alhamdulillah," lirih Delmira dengan perasaan lega dan senyum mengembang dari wajahnya.


pagi menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 maaf ya baru bisa menyapa kalian 🙏

__ADS_1


__ADS_2