Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 49


__ADS_3

'Mungkin alat itu rusak, aku harus check ke dokter kandungan,' monolog batin Delmira.


Delmira benar-benar tidak fokus dengan pekerjaan. Livia teman kerjanya sampai menegur beberapa kali.


"Mbak, seharusnya yang dikerjakan dulu yang ini, astaghfirullah haladhim...mbak kenapa?" keluh Livia tiga kali dia layangkan protes untuk laporan pemasaran tapi tiga kali itu pula Delmira melakukan kesalahan.


"Oh, maaf Liv," jawab Delmira.


"Ya Allah Mbak, dari tadi Mbak Del juga minta maaf tapi please Mbak, aku jadi mengulang pekerjaan terus."


"Ya minta maaf cerewet," sahut Delmira mencubit gemas pipi Livia yang umurnya memang jauh di bawah Delmira.


"Apa Mbak gegar otak gara-gara insiden penjambretan itu?"


"Ngaco kamu," sanggah Delmira dengan mengerucutkan bibirnya.


"Mbak istirakhat sajalah biar aku selesaikan," pasrah Livia.


"Tidak apa-apa nih?"


Livia mengangguk.


"Thanks anak baik."


"Emmm... aku keluar kantor ya,"


"Mau apa?"


"Ada urusan penting," jawab Delmira.


"Tapi jangan lama-lama takutnya ada manajer sidak ke ruang kerja kita."


"Siap anak manis," jawab Delmira. Dirinya gegas keluar ruangan.


Delmira lebih percaya pada Livia, kalaupun nantinya ada manajer yang sidak, pasti dia memberikan alasan yang kuat.


Jari tangannya berselancar di layar ponsel untuk memesan taksi on line. Tidak butuh lama taksi itu sudah ada di halaman rumah sakit.


Taksi itu meluncur sesuai pesanan Delmira hingga mobil itu berhenti di sebuah klinik kandungan.


Delmira gegas membayar dan turun dari mobil, sebelumnya, masker sudah Delmira kenakan terlebih dahulu. Kakinya melangkah ke tempat pendaftaran.


"Kurang berapa pasien lagi Mbak?"


"Lima pasien lagi Mbak," jawab petugas itu.


Delmira mencari kursi kosong untuk dia tempati.


Matanya menatap sepasang muda mudi yang ada di depannya.


Terlihat si lelaki perhatian dengan wanita yang dipastikan istrinya.


Beberapa kali mereka terlibat omongan sederhana tapi omongan itu membuat mereka saling senyum atau tawa. Tangan lelaki itu sesekali mengelus perut istrinya yang sudah membesar.


'Yang kuharapkan seperti mereka, bukan seperti yang aku alami sekarang,' batin Delmira.


Sungguh sebagi wanita yang pernah merasakan hamil, dulu almarhum suaminya juga memperlakukan dirinya seperti itu. Dan sungguh, walaupun Delmira ragu akan hasil tes kehamilan yang tadi pagi dia pakai, sebenarnya dia merasa ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya.

__ADS_1


'Aku tidak tahu harus berbuat apalagi kalau ternyata aku benar-benar hamil,' monolog batin Delmira, hatinya terasa sesak teramat.


Delmira masuk ke ruang periksa setelah dirinya dipanggil petugas.


Rasa nervous, keringat dingin, dan tubuh pun bergetar.


"Ada keluhan apa Nyonya Delmira?" tanya dokter setelah mempersilahkan Delmira duduk di depan meja kerjanya.


"Em... sudah satu bulan ini belum haid Dok."


"Silahkan berbaring biar saya periksa."


Delmira mengangguk, membaringkan tubuh.


Stetoskop menempel di dada dan perut Delmira. Lalu tangan dokter meraba perut Delmira.


"Apa sudah pakai tes kehamilan?"


Delmira terdiam sedikit ragu untuk membalasnya tapi sebuah anggukan akhirnya dia tunjukkan.


Dokter itu tersenyum melihat jawaban Delmira.


"Maaf ya Nyonya, perutnya saya beri gel dulu," izin sang dokter, tangannya kemudian bergerak menekan transducer di perut Delmira.


Dokter tersenyum, "Baru terlihat kantung janin karena usianya masih sangat muda. Selamat ya Nyonya, usia kehamilannya sudah 5 minggu."


Delmira terdiam. Sungguh kalimat itu tidak ingin dia dengar. Apa yang menghantui otaknya benar-benar terjadi.


Dengan lemas Delmira keluar dari klinik. Kakinya berjalan tanpa arah.


'Bagaimana aku menghadapi semuanya?' monolog batin Delmira.


...****************...


"Turun!" titah Verel tak terbantahkan membuat wanita yang sedang berusaha memu*askannya langsung beranjak.


Dia segera mengenakan pakaiannya dan keluar dengan uang yang tetap Verel berikan walaupun permainannya tidak dia selesaikan.


Verel mengusap wajahnya dengan frustasi. Sebatang rokok dia nyalakan, mulai dia sesap hingga kepulan asap itu memenuhi kamar pribadinya.


"Apa yang ini juga tidak bisa menggo*yangkan ranjang kamu?!" sindir Raka asisten Verel dengan menyunggingkan senyum setelah masuk ke kamar sang Tuan.


Tanpa menyahuti ucapan asistennya, Verel tetap menyesap rokok yang sudah terbakar lebih dari setengah.


"Wanita itu benar-benar mengusik kesenangan kamu," ujar Raka, "aku semakin penasaran dengan dia," lanjutnya.


Tetap saja Verel tidak menyahutinya, mata dan otaknya berjalan sendiri melanglang hingga Indonesia.


"Apa schedule-nya tidak bisa kamu kosongkan dua hari dalam satu bulan ini?" geram Verel pada sang asisten, berharap walaupun dua hari bisa libur dan segera pulang ke Indonesia untuk menemui wanita yang hampir satu bulan ini mengganggu aktifitas bercintanya.


"Semua jadwal sudah aku rancang sematang mungkin dan tidak ada satupun yang boleh kamu lewatkan."


"Sial! Asisten macam apa kamu!" umpat Verel membaut barisan gigi Raka terlihat.


"Dari sekian wanita yang disediakan tidak ada satu pun yang membuat kamu mende*sah. Menurutku sih bukan wanitanya tapi letak kesalahan pada kamunya, Tuan muda Verel Gigih Adhelard."


Verel mematikan rokoknya lalu meminum orange jus yang dituangkan Raka.

__ADS_1


"Kamu Carikan dukun!"


"What! Dukun? Tuan Verel, ini Maurice bukan Indonesia" heran Raka.


"Wajah kamu biasa saja jangan seterkejut itu!" sahut Verel melempar bungkus rokok ke Raka.


"Delmira sepertinya main guna-guna," lanjut Verel.


Sontak Raka terkekeh mendengar gumaman tuan mudanya.


"Kamu percaya dengan hal begitu Tuan?"


"Wajahnya tidak bisa aku tepis dari mataku. Bahkan setiap aku sedang bermain dengan wanita, dia selalu hadir membayangi! Bagaimana aku bisa bermain enak kalau dianya malah menatapku dengan wajah sendu! Brengsek wanita itu!"


Kembali Raka dibuat terkekeh dengan umpatan atau pujian Verel pada wanita yang berhasil memporak-porandakan pikiran dia.


"Atau jangan-jangan Tuan jatuh cinta dengan dia?"


"Kampret kamu! Dalam hidupku tidak ada yang namanya jatuh cinta! Apalagi dengan wanita bayaran seperti dia!" kesal Verel tapi ketika mengucapkan kata 'seperti dia' nada bicara Verel melemah. Entah kenapa ada rasa tidak rela memandang lemah Delmira.


"Mungkin ini karma untuk seorang casanova seperti Tuan?"


Verel menatap tajam ke arah Raka, "Aku selalu baik pada mereka-mereka. Bahkan mereka selalu berterima kasih dan minta dipanggil aku lagi karena aku memperlakukan mereka dengan manusiawi! Jadi mengapa aku mendapat karma? Hah!"


"Perlakuan Tuan pada mereka memang manusiawi tapi perbuatan Tuan mencicipi mereka yang menjadikan tidak manusiawi," ucap Raka dengan nada lembut.


"Jangan mulai ceramah di depan aku, ceramah sana di masjid!" kesal Verel tangannya kembali bergerak mengambil sebatang rokok.


"Menikahlah Tuan, pasti almarhum Mama Tuan senang," sambung Raka.


"Jangan bawa-bawa Mama dalam hal ini," jawab Verel terlihat wajahnya yang langsung berubah, "kamu sana menikah dulu baru aku akan menikah!" lanjutnya.


"Bagaimana aku bisa menikah kalau setiap detik, menit, jam harus dengan Tuan," sanggah Raka.


"Kemarin pas di Indonesia aku kasih kamu cuti satu minggu kenapa tidak kamu gunakan untuk mencari jodohmu."


"Cari jodoh satu minggu? Itu mustahil Tuan, bagaimana aku bisa cari jodoh dalam waktu sesingkat itu?"


"Sama halnya, aku juga tidak punya waktu untuk mencari jodoh lalu menikahinya. Buat apa menikah, kalau kenikmatan se*x bisa aku dapatkan kapan saja," elak Verel.


"Rumah tangga tidak hanya berbicara tentang se*x Tuan tapi di situ tempat fitrahnya seorang manusia, berpasang-pasangan."


"Sudah kamu nikah dulu, baru aku percaya dengan apa yang kamu omongkan."


"Doa kan Tuan."


Verel melirik ke arah Raka yang terlihat pasrah dan ingin menghentikan perdebatannya.


"Kamu mau kemana?!" cekat Verel melihat Raka berjalan ke arah pintu kamar.


"Tidur lah Tuan."


"Tetaplah di sini! Temani aku sampai tertidur!"


"Tuan jangan macam-macam, apa karena wanita yang datang ke sini tidak dapat memu*askan Tuan dan sekarang Tuan ingin dipuaskan aku?"


"Kampret! Aku masih normal!" geram Verel melempar bantal ke arah Raka hingga membuat Raka terkekeh.

__ADS_1


'Aku harus cari jalan agar pulang lebih cepat!' batin Verel.


pagi menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2