
Sebuah senyum kecut tergambar di wajah Verel tatkala pandangannya terhenti pada sosok wanita yang sangat tidak asing baginya.
Ekspresi yang sama juga ditunjukkan wanita itu.
"Meilin," gumam Verel masih dengan senyum kecut, menyebut nama wanita yang duduk di antara peserta rapat.
Drt
drt
drt.
Baru saja Verel akan mematikan ponselnya, tapi ada panggilan masuk.
Dua sudut bibir Verel dia tarik membentuk sebuah senyum yang semakin menambah ketampanannya.
Rapat yang seharusnya akan dimulai, terpaksa ditunda terlebih dahulu karena Verel berdiri dari kursi yang dia dudukki dan memilih keluar ruangan.
"Assalamualaikum," suara dari seberang.
"Waalaikum salam," jawab Verel dengan muka berseri.
"Sedang sibuk?"
"Aku memang selalu sibuk, kenapa kamu tanya kesibukkan padaku?" jawab Verel.
"Oh... ya sudah nanti saja aku hubungi kamu."
"E... e... e..., jangan dimatikan dulu, aku hanya bercanda. Ada apa Del?"
"Kamu kirim uang ke rekeningku?" lontar Delmira tanpa basa-basi.
"Sudah masuk ke rekening kamu?"
"Buat apa itu? Aku kan sudah bilang, aku tidak_"
"Aku tidak butuh uang kamu, begitu?" cekat Verel.
Terdengar hempasan dari Delmira.
"Nanti aku kembalikan ke kamu."
"Uang itu untuk rehab pembangunan di pondok Raudhatul Athfal," ujar Verel dengan cepat, "kamu kan pernah bilang pondok itu butuh dana untuk rehab pembangunan salah satu komplek pondok," sambungnya.
Delmira terdiam mendengar seksama apa yang diucapkan Verel. Dirinya memang pernah bilang ingin ikut menyumbang untuk pembangunan pondok tersebut. Pondok itu yang biasa Delmira datangi untuk mengikuti kajian islami setiap ba'da Maghrib. Letaknya tidak jauh dari warung dan rumah mbok Sa'diyah. Selepas ba'da Maghrib Delmira akan berangkat ke pondok dengan Safira.
"Tapi itu banyak sekali jumlahnya Rel. Apa tidak sebaiknya kamu serahkan sendiri ke pondok?"
"Serahkan kamu saja."
"Tidak takut aku akan kurangi nominalnya?" pancing Delmira.
"Kalau kamu mau, dengan senang hati kuserahkan uang itu, untuk yang ke pondok biar aku transfer lagi," sahut Verel.
Delmira terkekeh, aku hanya bercanda, "Insyaallah besok aku serahkan uangnya pada pengurus pondok. Nama lengkap kamu siapa, biar pengurus pondok catat dengan jelas nama donatur."
"Kamu bilang saja itu dari bayi kita. Aku khususkan untuk dia yang sudah memasuki usia 7 bulan di kandungan kamu. Mintakan doa sama pak kyai, semoga dia lahir dengan selamat dan jadi anak yang berbakti pada kedua orangtuanya."
Delmira tersenyum, tidak menyangka akan kebaikan dan perhatian Verel yang begitu besar pada calon bayinya.
"Hallo..., Del... masih dengar suaraku kan?"
"Ya dengar."
__ADS_1
"Aku kira kamu main tutup sambungan ini."
"Belum juga salam, buat apa aku selalu mengingatkan kamu untuk mengucap salam tapi aku tidak melakukan hal itu."
"Ya, ya. Sudah makan camilan?"
"Sudah, aku tidak kurang makan apapun. Setiap hari penjual buah membawakan buah-buahan untukku."
Verel terkekeh. Memang dia secara khusus memesan buah pada salah satu penjual buah di deretan ruko yang dekat dengan warung milik mbok Sa'diyah dan penjual itu selalu mengirimkan buah itu ke warung. Verel tidak akan melewatkan asupan gizi sempurna yang harus dimakan Delmira.
Terutama soal pikiran Delmira, Verel akan buatnya serileks mungkin. Tidak stres sedikitpun agar bayinya tetap sehat. Maka itu, Verel tidak pernah memaksa Delmira untuk mau menerima pinangan dari dirinya. Walaupun kenyataannya, cinta untuk Delmira dan bayi itu semakin menggunung.
"Sudah ya ... aku mau bantu mbok Sa'diyah."
"Jangan terlalu capek."
"Ya, iya, sudah tidak terhitung berapa kali kamu mengingatkan aku hal ini," balas Delmira.
"Aku tidak akan bosan untuk selalu mengingatkan kamu Del."
"Hmmm," dengung Delmira terdengar pasrah, "assalamualaikum," sambung Delmira lalu menutup sambungan teleponnya setelah Verel membalas salamnya.
Dua sudut bibir Verel dia tarik kembali membentuk sebuah senyum. Hatinya benar-benar berbunga-bunga dapat bicara lama dengan Delmira. Apalagi pembicaraan tadi disertai dengan canda kecil.
Verel mengempaskan napasnya perlahan, mengontrol gejolak hati yang semakin bertalu-talu kalau terus saja dia ikuti.
"Ada apa Ka?" lontar Verel melihat Raka ternyata sudah berdiri di sampingnya dan ekspresi Raka mulutnya masih melongo menatap Verel.
Raka langsung menggelengkan kepala, takut jawabnya membuat mood tuannya berubah.
"Mulutnya cepat kamu katupkan! Tidak takut apa lalat buat sarang di dalam," ledek, melangkah masuk ke ruang rapat kembali.
"Tuan juga sama, jangan cingas-cingis sendiri, dikira pasien RSJ yang kabur," balas Raka.
Verel hanya mendengus mendengar balasan Raka karena sekarang dirinya sudah akan duduk di kursi pimpinan rapat.
Tatapan Meilin tidak lepas dari Verel.
'Ternyata proyek hotel barunya milik kamu Rel? Hebat sekali kamu! Usaha kamu sudah maju, kini melebarkan sayap di dunia perhotelan,' gumam batin Meilin.
'Mengapa sekarang aku merasa khawatir, apakah kamu akan mencampur adukkan masalah pribadi kamu dengan pemilihan tender proyek ini?' sambung batin Meilin, merasa tak karuan.
'Tenang Mei! Dia orang yang profesional tinggal kamu tunjukkan keprofesionalan kamu. Pasti kali ini kamu akan memenangkan tender ini!' batin Meilin berucap, menyemangati diri.
Satu, dua, tiga peserta tender sudah mempresentasikan masing-masing gagasan mereka.
Perusahaan tempat Meilin bekerja tampil diurutan keempat. Dia memperkenalkan diri dan perusahaannya. Lalu mulai mempresentasikan gagasan perusahaan kontraktornya.
Jelas, singkat, padat, mengena, dan tampil perfeksionis setidaknya penilaian yang boleh dilekatkan pada Meilin. Bahkan peserta lain memberikan applaus.
Meilin izin duduk setelah berpresentasi.
Urutan kelima ada kontraktor perusahaan ternama yang dipimpin oleh Andra Aksara Barata.
Tim Marketing dari perusahaan itu mulai berpresentasi. Setelah akhir dari presentasi Andra menambah presentasinya.
"Saya sedikit menambahkan hal penting dari perusahaan kami," ucap Andra mengawali pembicaraan setelah dirinya bangkit dari kursi duduk.
"Di perusahaan kami, tidak ada yang namanya waktu terbuang sia-sia. Kami selalu usahakan untuk tepat waktu. Apalagi untuk janji dengan mitra kerja, kami juga sangat mengusahakan tepat waktu. Itu poin penting mengapa perusahaan kita masuk dalam jajaran kontraktor populer di Indonesia. Begitu saja Pak semoga poin penting ini bisa Pak Verel tangkap maksud dan artinya," terang Andra.
"Maaf, satu hal lagi. Setiap rapat, kami akan serius mengikuti jalan rapat. Membosankan atau tidak rapat itu, ponsel akan selalu kami matikan untuk menghargai rapat yang tidak dihadiri hanya satu dua orang saja," lanjut Andra, merasa jengah melihat sikap seenaknya sendiri yang ditunjukkan Verel sampai menerima telepon begitu lama.
Verel tersenyum mendengar itu, dia tahu maksud dari Andra.
__ADS_1
"Terima kasih Bapak Andra. Ini juga menjadi catatan penting untuk saya. Saya juga selalu menerapkan tepat waktu dan tepat janji. Tapi sungguh, Bapak Andra luar biasa, dia benar-benar menyentil saya yang sebenarnya malas untuk datang ke rapat ini," Verel menelan salivanya.
"Saya manusia biasa, terkadang tidak bermood melakukan apapun. Tapi tiba-tiba saya teringat anda semua yang sudah susah payah merancang jadwal hingga bisa hadir di tempat ini," lanjut Verel dengan sebuah senyum.
"Oh ya, satu hal lagi. Maaf, tadi telepon yang tidak bisa saya abaikan. Dari wanita yang sedang mengandung anakku."
Deg.
Sontak Meilin membelalakkan mata, batinnya menerawang siapa yang dimaksud Verel, 'Apakah wanita yang dimaksud Verel itu Delmira?' batin Meilin penuh tanya.
"Jadi, mana bisa aku abaikan dia? Tidak ada hal yang lebih penting darinya. Perlu kalian tahu, hotel yang akan kalian bangun, itu akan menjadi miliknya," sambung Verel.
"Apa Bapak Andra bisa memahami itu?" lontar Verel menatap ke arah Andra.
Andra tersenyum menganggukkan kepala. "Maaf, saya kurang tahu kalau itu dari istri Anda," ucapnya kemudian.
'Kalau istri, apakah dia dan Delmira sudah menikah?' batin Meilin bertambah penasaran.
"Baiklah, saya akan langsung umumkan kontraktor yang akan menangani pembangunan hotel."
Semua mata tertuju pada Verel, berharap merekalah yang dipilih oleh Verel. Namun, tidak bagi Meilin, dia memang sangat berharap bisa memenangkan tender tapi otaknya kali ini masih dipenuhi pertanyaan terkait Delmira dan Verel.
"Saya pilih PT. Gemilang Prakarsa, milik Bapak Andra," sambung Verel.
Sebuah applaus terdengar memberi selamat terpilihnya perusahaan itu.
"Tunggu sebentar! Kami sangat penasaran, atas pertimbangan apa Bapak Verel memilihnya? Apa atas hal suka-suka?" protes ceo dari perusahaan Meilin bekerja.
"Kalau atas suka-suka Bapak memilih, untuk apa kami diundang?" sambung CEO itu menahan amarah karena merasa kalah dari Andra.
Verel menampakkan senyum, "Kalau boleh jujur, perusahaan Bapaklah yang menampilkan prospek paling bagus. Tapi ada satu kekurangannya dan kekurangan itu terlalu fatal."
"Apa kekurangan kami Pak? Kami bisa langsung membenahinya," sahutnya.
"Bapak Antonio memelihara bawahan semacam dia." Jari Verel menunjuk ke arah Meilin.
Semua mata tertuju pada Meilin. Meilin mendengus kesal merasa dipojokkan.
"Aku tidak mungkin bekerja sama dengan wanita kejam, dan licik sepertinya!" lanjut Verel membuat suasana rapat semakin tidak terarah. Wajahnya menampakkan senyum kebencian.
"Tuan, kita akhiri rapat ini," bisik Raka agar Verel menghentikan aksinya yang sungguh di luar dugaan. Selama dengan Verel, dirinya tidak pernah melihat aksi Verel yang tidak normal seperti sekarang.
Verel memutar kakinya, menurut apa yang diminta Raka.
"Kalau permasalahan hanya pada pegawai saya, Saya bisa langsung bereskan dia!" cekat Antonio dan otomatis ucapannya menghentikan langkah Verel seketika.
"Anda akan_"
"Saya akan memecatnya!" sahut Antonio dengan lantang.
Meilin membelalakkan mata merasa tidak terima, "Tapi Pak_"
"Kamu diam!" potong Antonio mengarah ke Meilin.
Verel tersenyum mendengus, "Benarkah itu?"
"Meilin, hari ini juga kamu aku pecat!" ujar Antonio secara cepat agar Verel percaya apa yang menjadi ucapannya.
"Bagus Pak," Verel menepuk dua tangannya.
"Tapi sayang, keputusan Pak Antonio terlambat beberapa menit dari keputusan saya untuk menerima kerja sama dengan Bapak Andra. Saya tidak mungkin menarik keputusan yang sudah kubuat. Tapi sungguh saya apresiasi keputusan Bapak, lain kali kita bekerja sama Pak," sambung Verel menepuk bahu Antonio.
Kaki Verel melangkah kembali meninggalkan ruang rapat.
__ADS_1
'Brengsek kamu Rel! Aku akan balas perlakuaanmu!' batin Meilin, tangannya mengepal.
pagi menyapa 🤗 like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian 😍😘