Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 88


__ADS_3

"Terima kasih kamu sudah mengingatkan Ummi," ucap Aisyah.


Meilin tersenyum bahagia.


"Kembali kasih Ummi. Aku hanya menyampaikan apa perlu aku sampaikan agar orang-orang yang ada di dekat Delmira tahu. Bahwa dia wanita ular yang kapan saja dapat mematuk orang di dekatnya."


"Harus menjadi hal yang lumrah manusia saling mengingatkan. Sekali lagi, Ummi ucapkan terima kasih. Sekarang, Ummi sangat yakin keputusan yang nantinya akan Ummi ambil," ujar Aisyah.


"Aku permisi dulu Ummi, assalamualaikum."


"Waalaikum salam," sahut Aisyah menatap wanita itu hingga tubuhnya tak terlihat karena terhalang pintu ruangan.


Aisyah mengempaskan napasnya, kepala dia sandarkan pada bantalan kursi. Kepalanya benar-benar merasa berdenyut.


"Apa perlu saya selidiki wanita itu Bu?" lontar asisten Aisyah.


"Tidak perlu. Kita tidak perlu memandang siapa yang berbicara tapi yang perlu kita perhatikan, apa yang dia sampaikan."


"Kalau yang dikeluarkan dari mulutnya adalah fitnah?"


Aisyah tersenyum, "Semoga aku bisa membedakannya dan mengambil hikmah dari semuanya," sahut Aisyah.


...****************...


"Baru tiga hari Mbak Del pergi, tapi mengapa rumah jadi sesepi ini?" gumam Safira menatap pintu kamar Delmira sebelum akhirnya dia masuk ke kamar miliknya.


Drt


drt


drt.


Satu panggilan masuk dengan nama kontak Mbak Del Cantik.


"Panjang umur," seru Safira langsung menyambungkan panggilan itu.


"Waalaikum salam," jawab Safira mendengar sapa salam dari seberang.


"Dua hari ditinggal aku, pasti kamu kangen," ucap Delmira.


"Pede banget Mbak Del ini!" gerutu Safira.


"Apa kabar kamu dan Mbok Sa'diyah?"


"Alhamdulillah baik. Mbak Del apa kabar?"


"Alhamdulillah juga baik."


"Mbok Sa'diyah sedang apa?"


"Masih di dapur."


"Kamu tidak bantu Simbok?"


"Ya bantulah. Inikan aku sengaja ke kamar. Mau ambil ponsel, barang kali ada pesan penting dari grup sekolah."


Sudah jadi rutinitas, Subuh hari adalah awal mereka beraktifitas. Mulai salat subuh jamaah di musala terdekat, mengaji Al Qur'an, dan menyiapkan dagangan warung.


Delmira mengalihkan panggilan ke video call. Safira menerima alihan itu.


Dia berjalan menuju dapur yang hanya berjarak dua ruang dari kamarnya.


"Mbah, Mbak Del mau bicara tuh," ucap Safira mengarahkan layar ponsel depan Sa'diyah.


"Subhanallah, Non Delmira. Assalamualaikum. Bagiamana kabarnya?"


Delmira membalas salam itu dan menyampaikan kabar baiknya pada wanita yang terlihat di layar ponsel.


Sa'diyah melempar senyum mendengar balasan Delmira.


'Semoga Allah memberikan kebahagiaan dunia akhirat untuk kamu non,' batin Sa'diyah berucap.


Ugh


ugh


ugh


Sedari tadi Sa'diyah sudah menahan batuknya tapi tetap saja tidak tertahan.


"Simbok sakit?" selidik Delmira melihat raut wajah Sa'diyah.


Dia hanya membalas dengan sebuah senyum.


"Sudah periksa ke dokter? Atau minum obat?" cecar Delmira.


"Mbok tidak sakit kok. Hanya sedikit tidak enak badan," sahut Sa'diyah setelah mengatur napas agar sesak dada yang sudah beberapa hari mengganggu kesehatannya tidak menimbulkan bunyi batuk lagi..


"Mbok, ponselnya tolong kasihkan ke Safira."


Sa'diyah menuruti permintaan Delmira. Safira yang duduk dekatnya menerima ponsel itu.


"Ada apa Mbak?" lontar Safira.


"Nanti antar Simbok ke dokter sebelum kamu berangkat sekolah."


"Simbah tidak mau ke dokter."


"Harus mau!"


"Tuh Mbah, dengerin Mbak Del, aku kan yang kena omel." protes Safira.

__ADS_1


Sa'diyah tersenyum, ya nanti Simbah ke dokter," ujar Sa'diyah mengelus pucuk kepala Safira.


"Ya sudah Mbak, aku siap-siap antar Simbok."


"Ya, hati-hati. Assalamualaikum."


Setelah menjawab salam dari Delmira Safira memutus sambungan telepon itu.


"Harusnya aku tanya, apa mbak Del bertemu dengan om ganteng ku?" gumam Safira sendiri, lalu gegas mandi.


Perasaannya tetap sama. Entah itu sebatas kagum atau mengarah cinta. Rasanya setiap hari hanya terbayang senyum langka milik om ganteng Raka.


Huft.


Safira mengempaskan napasnya kasar.


'Kalau begini terus aku bisa gila! Mikir lelaki yang jelas sulitku jangkau,' umpat batin Safira.


Sementara Delmira yang akan menaruh ponsel, dikejutkan dengan telepon masuk dari Zaidan.


"Waalaikum salam," sahut Delmira.


"Sudah bangun?"


"Dari subuh Zaid," jawab Delmira.


"Alhamdulillah. Ya sudah, aku tutup teleponnya. Jangan lupa nanti sarapan, assalamualaikum."


"Waalaikum salam,' jawab Delmira lirih dan agak bingung dengan kelakuan Zaidan.


"Aneh sekali itu orang! Telepon cuma ngomong begitu?!" umpat Delmira, geleng-geleng kepala.


Tapi anehnya setelah itu Delmira tersenyum sendiri, merasa senang dengan perhatian kecil dari Zaidan.


Kakinya kini melangkah ke lemari kaca. Lama matanya menatap diri yang terpantul di kaca.


"Duh kenapa nih kotoran nempel di sudut mata?" Tangan Delmira gegas mengambil tisu dan membersihkannya.


Tiba-tiba ada bayangan Zaidan dari balik kaca. Delmira tersentak, terkejut menatap kembali kaca yang ada di depan. Tangannya bergerak mengucek mata.


"Astaghfirullah haladhim," lirih Delmira mengelus dadanya. Dia bergegas pindah tempat ke kasur. Tubuhnya dia rebahkan. Mata yang sedari sengaja dia pejamkan langsung dia buka penuh.


"Ya Allah... bahkan saat menutup mata pun ada Zaidan," gumam Delmira.


"Astaghfirullah haladhim!" seru Delmira. Terperanjat bangun dari tidur telentang.


"Kenapa di langit-langit kamar juga ada Zaidan? Pakai senyum segala!" umpat Delmira.


"Ah... bisa stres aku, dimana-dimana kenapa ada Zaidan?" sambungnya.


Delmira gegas keluar kamar hotel. Niat awalnya memang akan jalan pagi di taman hotel tapi sempat tertunda karena menelepon Mbok Sa'diyah dan dapat telepon Zaidan. Kini dia sudah di taman. Kakinya bergerak untuk jalan santai mengurai bayang semua sang pujaan hati


...****************...


Di rumah keluarga almarhum Fatah.


Zaidan dan Aisyah terlihat duduk menikmati sarapan pagi. Mereka saling diam.


"Tadi malam Ummi tidur nyenyak?" lontar Zaidan mengawali pembicaraan.


"Alhamdulillah," sahut Aisyah.


"Delmira masih di Jakarta?"


Zaidan tidak langsung menjawab, otaknya penuh tanya mengapa Aisyah menanyakan hal itu.


"Ya, semalam dia tidur di hotel," jawab Zaidan kemudian.


"Ummi ingin menemui Delmira?"


Aisyah tersenyum, "Ummi sudah sangat yakin dengan keputusan Ummi_"


Sengaja Aisyah memotong kalimat, wajahnya kini beralih tatap pada anaknya, Zaidan diam tanpa reaksi.


"Ummi tetap tidak merestui hubungan kalian. Apa yang akan kamu lakukan?"


Makanan yang sudah ada di sendok, Zaidan letakkan di piring, "Aku tidak bisa membantah keinginan Ummi karena Ummi wanita yang selama ini mengasuhku, aku akan menghormati keputusan Ummi. Tapi... Delmira juga wanita yang tidak bisa aku diamkan. Dia masa depanku."


Zaidan berhenti ucap, matanya kini berpindah tatap kearah Aisyah.


"Aku hanya berharap, ada belas kasih yang Ummi berikan pada kami," sambung Zaidan.


"Allah memberikan hal lebih pada kamu Zaid, apa kamu tidak ingin mencari pasangan yang lebih sempurna dibandingkan Delmira?"


Zaidan tersenyum, "Kesempurnaan hanya milik Allah. Tidak ada hal yang bisa ku sombongkan. Bahkan, kalau Allah menakdirkan aku dan Delmira kembali, itu adalah anugerah yang benar-benar Allah berikan pada kita."


"Sepertinya kamu sangat yakin bisa bersama dengan Delmira lagi?" cecar Aisyah.


"Kalau aku sendiri tidak yakin, bagaimana aku bisa meyakinkan Delmira untuk mau menerima aku."


Aisyah mengempaskan napasnya.


"Kemarin, ada yang datang ke kantor Ummi. Dia berbicara tentang Delmira."


"Apakah itu_"


"Ummi tidak peduli siapa dia," cekat Aisyah.


"Yang aku pedulikan, pernyataan dia tentang Delmira membuat Ummi semakin yakin."


Aisyah kembali lagi menghentikan ucapannya yang masih menggantung.

__ADS_1


"Sebenarnya, saat Ummi bicara pada kamu tidak merestui hubungan kalian. Ummi sempat merasa ragu. Jujur saja, keraguan itu seketika sirna setelah kedatangan seorang wanita ke kantor Ummi."


"Aku harap Ummi tidak menerima begitu saja informasi dari orang asing," ujar Zaidan.


"Justru orang ini yang membuat mata hati Ummi terbuka. Ummi harus merestui hubungan kalian."


Siang itu, setelah mendengar informasi dari wanita yang datang ke kantornya. Aisyah dapat menyimpulkan satu hal. Selama ini Delmira hanya difitnah dan dijebak oleh orang yang iri pada kehidupannya.


Mulut Zaidan terlihat menganga, masih tidak percaya dengan ucapan Aisyah.


"Ummi_"


"Cepat kabarkan pada Delmira. Nanti malam undang dia makan malam."


Zaidan melebarkan senyum.


"Ummi berangkat kantor dulu, assalamualaikum."


"Waalaikum salam, tapi ini serius kan, Ummi tidak ngerjain aku?"


"Apa tampang Ummi ada bercandanya?" sahut Aisyah lalu melanjutkan langkah yang sempat terhenti.


Zaidan menghabiskan makanannya yang belum habis. Wajahnya terus memancarkan rona kebahagiaan. Dia sudah tidak sabar menemui sang pujaan hati untuk menyampaikan kabar gembira itu.


"Kita jalan Fer," pinta Zaidan setelah keluar rumah dan masuk ke mobil yang mesinnya sedang dipanaskan Fernando.


"Ini masih terlalu pagi Den," ucap Fernando, melihat jam tangannya menunjukkan pukul 06.45.


"Aku sengaja sepagi ini," sahut Zaidan.


Fernando melihat aneh pada sikap bosnya, pantatnya dia dudukkan di kursi pengemudi dan menurut untuk melajukan mobilnya ke kantor.


"Kita ke hotel Fer," ucap Zaidan.


"Ya Allah... aku sampai lupa, ada non Delmira di hotel. Pantesan wajah tuan begitu berseri-seri," ledek Fernando.


Zaidan tidak menyahuti ucapan Fernando. Dia tetap saja melempar sebuah senyum dan otaknya hanya ada nama dan wajah Delmira.


Perjalanan yang hanya berjarak 15 menit pun terasa begitu lama.


"Besok lagi tambah kecepatan. Jalan seperti siput!" protes Zaidan.


Fernando hanya menggelengkan kepala, "Tidak heran terasa lama karena sudah tidak sabar akan bertemu sang pujaan hati," ledek Fernando mengekor langkah Zaidan.


"Zaid," sebut Delmira sewaktu membuka pintu dan Zaidan ada di depan matanya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Delmira dengan suara lirih mulut tetap melongo dan tatapan mengarah pada dua orang yang datang.


"Pasti hanya hayalanku," bantah Delmira pada diri sendiri.


"Hayalan apa?" lontar Zaidan kakinya melangkah masuk di susul Fernando.


Delmira membulatkan mata, 'Ya Allah... ini bukan hayalan. Astaghfirullah haladhim, apa aku mendekati kurang waras?' monolog batin Delmira.


Zaidan tersenyum menatap Delmira yang berdiri mematung di ambang pintu.


"Sudah sarapan?"


Delmira mengangguk pelan.


"Mau ikut ke dealer?"


"Mau ngapain?"


"Dari pada di hotel sendirian malah dihantui bayang-bayang orang ganteng sepertiku," ucap Zaidan.


"Astaghfirullah haladhim, sejak kapan dia menjadi se- pede ini!" umpat Delmira dan sontak membuat barisan gigi putih Zaidan terlihat.


"Kalau tidak mau ya sudah, tapi nanti malam kamu harus datang ke rumahku. Ummi mengundang makan malam."


"Ummi?" retoris Delmira, pikirannya sudah penuh tanya apa yang akan Ummi bicarakan padanya. "Apakah Ummi akan memintaku untuk meninggalkan kamu dengan memberi ganti sebuah rumah atau mobil atau cek, seperti yang ada dalam sebuah film? Ummi seharusnya tahu, aku tidak mungkin menerimanya!" sambung Delmira.


Zaidan sempat terdiam, bingung, "Kamu salah makan sewaktu sarapan?" lontarnya kemudian.


Delmira tersenyum nyeringis, "Biasanya dalam film kan seperti itu," lirih Delmira.


"Kebanyakan nonton film!" seloroh Zaidan.


"Tidak kok hanya sesekali waktu saja, bener deh. Aku kan sibuk dengan bisnis baruku," jawab Delmira.


Zaidan menghempaskan napasnya, matanya menatap tajam ke arah Delmira.


Delmira kembali nyeringis melihat tatapan sengit dari Zaidan, "Maaf, apa aku salah ucap?" tanya Delmira sedikit ragu.


"Salah besar!" sungut Zaidan, "ummi sudah merestui hubungan kita," sambung Zaidan.


Delmira membulatkan mata, "Benar begitu?" lontar Delmira dan tanpa terasa pelupuk matanya tiba-tiba penuh dengan cairan bening.


Zaidan mengangguk.


"Alhamdulillah," lirih Delmira, tangannya bergerak cepat menyeka air mata yang sudah tidak terbendung lagi.


"Ya sudah, tidak usah nunggu nanti malam, kita temui ummi Aisyah sekarang!" ajak Delmira, dengan antusias kakinya melangkah mengambil tas yang ada di atas nakas.


"Ayo, tunggu apalagi!" seru Delmira.


Zaidan yang sedang menatap heran dengan sikap Delmira lalu mengiyakan permintaan Delmira.


sore menyapa 🤗 like komen hadiah vote rate 🙏

__ADS_1


__ADS_2