
'Seperti tidak asing dengan nama Khanza,' gumam batin Delmira.
'Sudahlah lupakan! Kepalaku bisa retak mengingat nama seseorang,' lanjut batin Delmira.
Dia kembali ke topik pembicaraan dengan calon pembeli mobil.
"Kakak bisa cek m-banking, aku sudah transfer," ucap wanita yang dengan nama Khanza setelah melakukan persetujuan harga.
Tangan Delmira bergerak membuka aplikasi m-banking yang ada di ponsel.
"Sudah masuk, thanks ya. Ini surat-surat mobilnya."
"Aku beli mobil Kakak," ucap Khanza.
"Ya, belilah."
"Sah ya Kak," lanjut Khanza mengulurkan tangan.
Delmira membalas uluran tangan itu.
"Tunggu tangannya jangan kalian lepas, biar aku foto," pinta uncle Khanza.
Selesai jual beli mobil Delmira memilih pergi dengan taksi on line.
"Tidak usah masuk Mas, turun di sini saja," pinta Delmira. Dia turun dari mobil setelah memberi uang pada pengemudi taksi on line.
"Kembaliannya ambil Mas."
"Terima kasih Mbak," sahut sopir taksi.
Delmira mengangguk lalu melangkah masuk ke sebuah bangunan bertuliskan panti asuhan Raudhatul Jannah.
Kakinya melangkah cepat ke ruang pengurus panti.
Tok
tok
tok.
"Siang Bu," sapa Delmira ketika pintu dibuka dan sosok Bu Asih menjawab sapa itu dan mempersilahkan Delmira duduk.
"Anak-anak yang balita kok sepi Bu?"
"Oh ... mereka sedang di aula, ada kunjungan dari dinas kesehatan, hari ini jadwal pemberian imunisasi."
Delmira mengangguk.
"Mbak Del mau kemana?"
"Tidak usah Bu, lain kali saja. Oh ya, aku titip untuk mereka Bu," ujar Delmira menyerahkan amplop coklat. "tapi jumlahnya tidak seberapa Bu."
"Terima kasih ya Allah... nanti akan kami urus untuk keperluan mereka. Semoga Mbak Delmira rejekinya semakin banyak dan barokah,."
"Amin. Maaf Bu, aku langsung pamit."
"Kok cepetan Mbak?"
"Iya ada perlu," jawab Delmira beralasan.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Delmira keluar dari panti asuhan menaiki taksi on line kembali.
"Habis ini mau kemana? Mau ngajak nongkrong teman, semua sibuk kerja. Nasib bener jadi pengangguran seperti ini! Apa aku jalankan lagi kuliner on line aku? Kan lumayan buat tambah penghasilan." monolog Delmira sampai tidak terasa dia sudah sampai di rumah.
"Sudah sampai Mbak," ucap sopir.
Mata Delmira menatap rumah mewah berlantai dua itu dari luar gerbang.
"Mas puter lagi, kita ke mega mall raya ya."
"Baik Mbak," jawab si sopir.
Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di lokasi. Delmira turun menapaki jalan dan masuk ke gedung yang tinggi nan megah itu. Setelah masuk gedung, dia mulai berjalan dari satu anchor ke anchor lain.
Beberapa barang sebenarnya sudah menggoda iman Delmira. Namun, Delmira sekarang dan dulu berbeda. Untuk sekarang, duit adalah perkara yang sulit dicari jadi tidak boleh sembarangan dikeluarkan.
"Tahan Del, tahan. Kamu ke sini cuma cuci mata." gumam Delmira.
Aroma salah satu anchor makanan cepat saji menggugah perut Delmira yang kosong. Dia langsung duduk diantara deretan kursi yang tertata rapi di dalam anchor.
Seorang pelayan memberikan lembar menu.
"Pake geprek ya Mbak."
"Uangnya langsung ya Kak."
"Oh, iya." Delmira mengeluarkan uang warna biru dari dalam dompet.
Tanpa butuh waktu lama, hidangan itu tandas.
Delmira berjalan kembali mengitari mall raya. Setelah puas melihat-lihat. Catat! Hanya melihat-lihat tanpa membeli, Delmira turun menggunakan tangga jalan ke lantai dasar.
'Ke toilet dulu ah,' monolog Delmira.
"Lepas!" teriak Delmira karena orang yang dia tabrak malah mendekapnya.
"Makanya kalau jalan hati-hati Mrs."
Deg.
Suara yang sangat tidak asing bagi Delmira. Pucuk kepala Delmira yang hanya sebatas dada orang yang dia tabrak membuat Delmira menengadahkan wajah untuk memastikan orang tersebut benar yang ia duga.
Delmira nyeringis begitu praduganya benar.
Zaidan mendekatkan wajahnya ke wajah Delmira.
Ada getar aneh ketika wajah lelaki itu dekat, semakin dekat dan...
Dugh.
Dahi Zaidan sengaja dibenturkan ke dahi Delmira membuat sekali lagi Delmira menjerit.
"Zaidan melepas dekapannya, terlihat Delmira mengelus dahi yang menjadi korban adu.
"Seenaknya kamu Zaid! Aku harus membalas kamu!" teriak Delmira langsung lompat menaiki punggung Zaidan. Seketika Zaidan jatuh oleng karena ilmu bela diri yang Delmira miliki. Walaupun kecil dapat melumpuhkan lawan yang memiliki tubuh lebih besar.
Zaidan yang tersungkur langsung dinaiki Delmira.
Dugh.
__ADS_1
"Auw!" jerit Zaidan. begitu dahi Delmira dia benturkan ke dahinya.
"Kita impas!" seru Delmira.
Kalian tahu, bagaimana reaksi pengunjung mall yang lain?
Bohong kalau mereka cuek, jelaslah adegan tiap adegan yang dimainkan dua insan itu menjadi momen yang mengundang banyak pengunjung untuk menyaksikannya. Bahkan dengan senangnya mereka mengabadikan momen tersebut dengan foto maupun video.
Dua petugas datang karena ada kegaduhan. Delmira dan Zaidan langsung dibawa ke pos keamanan tanpa mendengar penjelasan dari keduanya.
"Ya Mbak, Mas, silahkan buat keterangan di pos keamanan. Kalian ikut dengan kami ke sana. Tolong kerja samanya agar situasi mall kembali kondusif," ujar petugas keamanan mendengar protes dari Delmira dan Zaidan.
"Tolong jelaskan pada kami ada kejadian apa?" tanya petugas setelah mendudukkan keduanya di pos jaga.
Delmira dan Zaidan seketika saling menoleh.
"Dia mesum Pak!" jawab cepat Delmira menunjuk ke Zaidan.
"Saya suaminya Pak," sahut Zaidan.
"Enak saja! Status suami buat alasan!" protes Delmira tangannya dia lipat, nada suaranya tidak senang dengan jawaban Zaidan.
"Mas jangan mengada-ada, saya serius tanya."
"Saya juga serius jawab," sambung Zaidan.
Petugas keamanan mengempaskan napas, berpindah tanya pada Delmira, "benar dia suami Mbak?"
Delmira terlihat gugup, "Ya...., ya iya sih dia suami aku," jawab Delmira dengan suara melemah.
"Nah kalau dia emang suami Mbak, terus maksud perkataan Mbak mesum itu apa?" heran petugas itu.
"Dia main peluk aku!" jawab Delmira.
"Suami peluk istri apakah dikatakan mesum?"
"Bagi aku ya!" sahut Delmira pantatnya dia angkat dan ngeloyor pergi.
"Mbak tunggu! Kita selesaikan dulu!" pinta petugas keamanan.
"Maaf, saya susul istri saya dulu Pak," pamit Zaidan.
"Tunggu Bung! Jaga itu istri model kayak dia. Barang antik," pesan dan ledek petugas keamanan membuat Zaidan melebarkan senyum.
Zaidan melingkarkan tangan ke bahu wanita di sampingnya. Setelah dia berjalan dengan langkah panjang untuk menyusul Delmira yang terlebih dahulu berjalan.
Tangan Delmira langsung menurunkan tangan Zaidan. Zaidan mengulang kembali dan kali ini lebih mengeratkan tubuh Delmira ke tubuhnya, "kita harus jalan seperti ini biar petugas keamanan tidak curiga status suami istri yang kamu lontarkan," ujar Zaidan tepat di telinga Delmira.
"Kita kan emang suami istri!" seru Delmira, menjawab refleks.
Zaidan tersenyum puas dengan pengakuan Delmira.
'Sial! Aku dikerjai lagi sama cecenguk ini!' gerutu batin Delmira menatap sengit ke arah Zaidan.
"Mobil kamu biar dibawa Fernando, kita pulang bareng," ajak Zaidan tangannya masih belum lepas merangkul Delmira dan sedikit gerakan memaksa, mengarahkan Delmira jalan sesuai arahan dirinya.
"Mobil aku sudah dijual!" celetuk Delmira dan sontak tangan kanan membekap mulutnya sendiri karena meras keceplosan.
Zaidan menghentikan langkah otomatis Delmira pun ikut berhenti.
__ADS_1
"Dijual?" ulang Zaidan merasa tidak percaya.
tengah malam menyapa🥱🥱🥱 jangan lupa like komen, hadiah vote rate 🙏 tips hadiah dari iklan video juga mau pakai banget🙏😍🥰😘