
'Astaga nasibku buruk sekali! Dulu dikhianati suami sebelum akhir hidupnya! Sekarang dikhianati suami di pernikahan yang baru 1 bulan!' monolog batin Delmira.
"Apa kamu masih menghubunginya?!" tanya Delmira dengan polos.
Zaidan terdiam, 'Tidak mungkin aku menjawab ya. Bersandiwara masih berhubungan dengan Khanza bukan jalan terbaik. Tidak mengklarifikasi cincin itu tidak sengaja kesimpan saja, aku sudah gelisah apalagi harus berbohong dan menutupi kebohongan dengan kebohongan,' monolog batinnya.
"Hah! Diam kamu berarti ya!" simpul Delmira.
"Jangan menyimpulkan sesuatu yang sama sekali tidak kamu tahu," ujar Zaidan.
"Lalu apa susahnya jawab ya atau tidak. Malah diam!" umpat Delmira.
"Aku baru mau buka mulut Sayang, tapi kamu sudah menyimpulkan bahwa terlebih dahulu."
Delmira membulatkan mata mendengar Zaidan menyapa dengan sebutan sayang.
'Mudah sekali dia menyebut sayang! Ternyata penilaian awalku benar. Dia suka ngegombal!' geram batin Delmira bersuara.
"Assalamualaikum Pak, maaf permisi ada titipan buat Bapak."
"Masuk," titah Zaidan mendengar suara dari luar.
Seorang pegawai perempuan masuk, berjalan mendekat ke arah Zaidan lalu meletakkan bungkusan plastik.
__ADS_1
"Dari Bu Halwah," ujar pegawai itu.
"Oh, Bu Halwah?"
Resepsionis mengangguk membenarkan retoris Zaidan.
"Dia ke dealer?"
"Ya Pak, cuma nitip ini ke resepsionis. Sepertinya beliau buru-buru."
"Ok, terima kasih."
"Sama-sama Pak, saya permisi dulu."
Di sela perbincangan mereka ada wanita yang melongo tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
'Lebih buruk nasibku. Ternyata tidak hanya satu. Tapi dua wanita sekaligus,' batin Delmira dan wajahnya sudah benar-benar tidak bersahabat dengan keadaan yang ada.
Zaidan membuka bungkusan plastik itu.
"Dia bawa banyak sekali jajan," ucap Zaidan melihat isi plastik ada berbagai jenis olahan jajan beku.
"Oh, orang tuanya ke Jakarta, membawa oleh-oleh dan ini oleh-oleh khusus untukku dari orang tuanya. Aku juga dapat salam dari mereka," ucap Zaidan sendiri sambil membaca pesan masuk dari Halwah.
__ADS_1
"Aku mau ambil berkas, cepat kamu tanda tangani. Aku tidak ingin menonton drama konyol kamu dengan wanita-wanitamu!" sela Delmira dengan suara bergetar.
Zaidan terlihat menarik dua sudut bibirnya, "Katanya kamu menikah denganku karena motif balas dendam. Mengapa baru selangkah jalan, kamu melihat wanita-wanita mendekati aku, kamu sudah kepanasan seperti ini?"
"Apa jangan-jangan, kamu mulai main hati denganku? Kamu jatuh cinta dengan pasangan kamu ini?" lanjut Zaidan.
"Jangan kepedean! Aku hanya tidak suka pengkhianatan!"
"Aku ulang lagi! Aku tidak suka pengkhianatan!" ucap Delmira suara lebih meninggi dengan mata yang berkaca dan napas yang tersengal-sengal menahan amarah, giginya masih gemeretak seusai mengeluarkan suara.
Zaidan menatap lekat manik mata Delmira. Entah kenapa hatinya ikut merasakan perih melihat wajah wanita di depannya menyiratkan kepedihan mendalam.
'Ada apa dengan kamu Del? Apa kamu pernah dikhianati? Mengapa aku melihat ada sayatan luka yang dalam di wajahmu?' batin Zaidan penuh tanya.
Dia sendiri sebenarnya sengaja melakukan sandiwara. Seolah-olah masih ada hubungan dengan mantan kekasihnya. Lalu entah itu kebetulan atau Tuhan semesta alam yang telah mengatur semuanya. Tiba-tiba ada kiriman dari Halwah. Berlanjutlah dirinya bersandiwara menanggapi Halwah, wanita yang satu tahun lalu pernah menyatakan ingin menjadi istrinya.
"Maaf," lirih Zaidan merasa terlalu jauh mempermainkan Delmira dengan sandiwara yang dirinya ciptakan.
Delmira mengatupkan mulutnya. Kata maaf yang dia dengar dari mulut Zaidan seolah menjadi oase untuk dirinya yang dirundung panas. Panas karena mengingat pengkhianatan Raffat juga pengkhianatan yang diduga dilakukan lelaki yang sekarang sah menjadi suaminya walau hanya sebatas sah di atas buku nikah.
"Maaf, apa aku mengingatkan kamu pada hal yang pernah kamu alami?" tanya Zaidan dengan lembut dan sontak pertanyaan dari Zaidan membuat Delmira membelalakkan mata.
Malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian 🥰😍😘
__ADS_1