
"Kalau urusanku sudah selesai, boleh... aku menemui kamu lagi?" lontar Verel, entah kenapa matanya kini penuh cairan bening membayangkan malam ini menjadi pertemuan terakhir dengan Delmira.
"Di pemakaman umum, ada bayi yang menanti doamu Rel. Jika berkunjung ke sana, mampirlah ke rumah mbok Sa'diyah," balas Delmira.
Verel tersenyum bahagia, "Terima kasih." Hanya itu yang mampu Verel ucapkan. Dia langsung membalikkan tubuh, mengusap cairan di pelupuk mata yang hampir jatuh ke pipi. Ini alasan Verel pula kenapa dia langsung membalikkan tubuh dan melangkah pergi.
Baru dua langkah, kakinya kini dia hentikan. Tubuh Verel berbalik dan netra kini memandang pada mbok Sa'diyah yang duduk di tepi ranjang.
"Titip Delmira Mbok," ucap Verel.
Sa'diyah mengangguk pelan, kakinya melangkah ke arah dimana Verel berdiri.
"Kamu yang tabah, jaga kesehatan, jaga diri," ucap Sa'diyah mengelus bahu Verel.
Verel menggenggam tangan yang sudah keriput itu, lalu menciumnya.
"Terima kasih Mbok," balas Verel lalu dirinya melangkahkan kaki kembali.
"Kenapa tidak salam?" sindir Delmira ketika Verel sudah di ambang pintu.
Verel menghentikan langkahnya, kembali tersenyum, sebenarnya dia ingin berlama-lama dan bicara panjang kali lebar bersama Delmira, tapi apakah pantas? Pasti jawabannya tidak.
Verel menghempaskan napas, menata gejolak jiwa dan hati, lalu tubuhnya berbalik, "Assalamualaikum," ucapnya kemudian.
Delmira menampakkan sebuah senyum, "Waalaikum salam, hati-hati di jalan," jawab dan pesan Delmira.
Verel tersenyum mengangguk sebagai balasan.
Setelah tubuh Verel dan Raka tak terlihat, mata Delmira kini berpindah tatap pada ponsel yang dia pegang. Dia membuka galeri ponsel. Mulutnya kini tersenyum menatap foto yang dikirim Verel.
"Dia lucu sekali Mbok," ucap Delmira, tangannya mengelus layar ponsel.
"Dia pasti bangga memiliki Ibu dan ayah seperti kalian," sahut Sa'diyah.
Delmira tersenyum mengangguk, menarik napas dalam-dalam lalu mengempaskan kasar, seakan ingin membuang sesak dalam dada. Tangannya bergerak menyeka cairan bening yang tertampung di pelupuk mata.
"Non yang kuat. Pasti ini jalan yang terbaik dari Allah."
Untuk yang kedua kali bagi Delmira kehilangan darah dagingnya dan dua-duanya meninggal dalam kecelakaan. Hati siapa yang tidak sedih mengingat itu semua.
"Dia pasti bersama kakaknya di surga," lirih Delmira.
"Amin ya Allah," sahut Sa'diyah.
...****************...
"Kamu yang terlebih dulu bermain api! Salah satu mitra kerjaku tiba-tiba memutuskan hubungan kerja, dia bilang ada orang yang menyuruhnya melakukan itu, aku selidiki ternyata kamu!" teriak Putra.
__ADS_1
Plak.
Bugh
Bugh.
Satu tamparan jatuh di pipi dan dua bogeman mendarat di perut Putra, dia pun tersungkur.
"Kamu siapa berani teriak-teriak di depanku hah?!" Verel menarik kerah kemeja Putra. Terlihat hidung dan sudut bibir Putra mengeluarkan darah.
"Kamu tahu, kesalahan kamu terlalu fatal! Kamu harus menanggung pembalasanku!" ucap Verel melepas cengkraman di kerah kemeja Putra dan mendorong tubuhnya dengan kuat hingga Putra tersungkur kembali.
"Mengklamufase barang ilegal agar terkesan legal, bukankah itu melanggar hukum? Berapa banyak, negara mengalami kerugian karena pasokan barang kamu, seperempat legal dan 3/4 barang ilegal?" cicit Verel mengorek fakta bisnis Putra.
Mata Putra terlihat menyala menahan amarah karena Verel berhasil mengetahui rahasia besarnya.
"Bukti sudah ada di tanganku, perlu aku bongkar pada kepolisian?" ancam Verel dengan tatapan tajam dan gigi gemeretak.
"Mohonlah padaku, agar aku sedikit meringankan balasan untukmu. Namun, tentunya kamu tahu siapa aku. Verel Gigih Adhelard bukanlah pembunuh, tapi aku lebih suka orang mati perlahan, dengan kemampuan yang aku miliki, orang itu akan bunuh diri karena tidak kuat menanggung berbagai tekanan hidup. Ataupun aku bisa memakai cara lain yang lebih keji lagi tanpa aku turun langsung," sambung Verel penuh penekanan.
Kakinya melangkah dan berhenti di sofa kebesarannya, lalu pantatnya dia dudukkan di sana. Kopi yang tersaji di atas meja dia seruput dengan nikmat, lalu tangannya berpindah gerak, memantik korek api untuk menyalakan sebatang rokok.
Wajah Putra mulai terlihat takut. Dia memang mendengar pengakuan secara langsung seseorang yang sedang berurusan dengan Verel.
Putra berjalan merangkak mendekat ke arah Verel, "Aku mohon, lepaskan aku. Aku masih harus mengurus istriku yang punya penyakit kronis. Aku mohon, aku mohon Tuan Verel," ucap Putra, merangkul betis Verel.
Putra terlihat ragu.
"Cium kakiku!" ulang Verel dengan suara meninggi.
Putra pun gegas melakukannya walaupun dalam hatinya jelas enggan melakukan hal hina seperti sekarang.
Kali ini, dia benar-benar takut dengan berbagai tindakan dan ancaman dari mulut Verel. Putra mengakui Verel memiliki power yang luar biasa dan pengakuannya kini terbukti.
Verel tertawa keras ketika Putra melakukan apa yang dirinya titahkan, "Aku akan sedikit mengurangi balasanku."
Putra mendengus kesal. Yang diharapkannya bukan hanya pengurangan tapi maaf dari Verel lalu melepaskannya.
"Lepaskan aku, aku mohon Tuan. Aku... aku akan berkata jujur mengenai semuanya." mohon Putra.
"Apa Tuan tidak berpikir kalau Tuan salah sasaran?" lanjut Putra.
Verel tersenyum sinis mendengar ucapan Putra, "Kamu mau mengeluarkan dalih agar kamu terbebas?"
Putra menggeleng cepat.
"Kamu tahu, orang yang kamu celakai adalah orang yang ku cintai lebih dari nyawaku. Di dalam perutnya ada bayi yang sudah aku nantikan kehadirannya. Tapi, semuanya hilang sekejap!" Mata Verel menyala penuh dendam dan luka.
__ADS_1
"Kamu pikir, itu tidak sakit?" Verel melebarkan sebuah senyum bengis. Tangannya mence*kik leher Putra kuat-kuat.
Putra mencoba melepas tangan Verel dari leher tapi rupanya kekuatan dia lebih kuat.
Mata Putra mulai melotot, napasnya seperti terhenti di tenggorokan, Verel baru melepas ceki*kannya lalu melempar tubuh Putra.
Ugh
ugh
ugh.
Napas Putra tersengal-sengal juga mengeluarkan batuk.
"Kamu bodoh Rel!" ucap Putra dengan lantang. Dia merasa punya energi lebih untuk mengatakan itu.
Bugh
bugh.
Dua bogeman keras mendarat kembali di perut Putra.
"Kamu masih punya nyali hah?!"
Putra terkekeh sambil mengusap sudut bibirnya, "Aku senang melihat kamu terpancing emosi," ucapnya kemudian.
Verel tersenyum sinis.
Beberapa bogeman kembali dia layangkan.
"Dasar bodoh kamu Rel!" Putra kembali berteriak dengan kalimat yang sama.
"Bodoh karena kamu sampai tidak tahu, siapa yang membuatku berani mencoba membunuh wanitamu!"
Verel menatap sengit ke arah Putra tapi kali ini, dia penasaran kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan Putra.
"Kamu ingin tahu?" sambung Putra sengaja membuat Verel penasaran.
"Tapi kamu harus berjanji untuk melepaskan aku."
"Tidak usah berbelit-belit, katakan apa yang ingin kamu katakan," balas Verel.
"Aku melakukannya karena Meilin. Dia menawarkan diri untuk menjadi wanitaku asal aku mau melakukan apa yang dia inginkan."
Tangan Verel mengepal, giginya gemeretak.
"Aku terima tawaran menggiurkan dari Meilin. Dia wanita yang hebat dalam urusan ran*Jang," lanjut Putra diiring sebuah tawa. Jiwanya sudah pasrah apa yang nanti akan dia terima dari pengakuannya. Bahkan Putra juga siap kalau kematiannya ada di tangan Verel Gigih Adhelard.
__ADS_1
malam menyapa π€ komen dongπ