Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 113


__ADS_3

"Kamu menolak lamaran dari Fernando?" simpul Wulan dengan wajah yang tegang.


Semua menolehkan pandangannya ke Yasmin, tentunya dengan ribuan pertanyaan yang menyokol di kepala masing-masing orang.


"Bu...Bu... bukan itu maksud aku Ma," sanggah Yasmin dengan terbata.


"Lalu?" cecar Wulan.


"Maaf, aku permisi keluar sebentar," izin Yasmin, memilih keluar untuk menghilangkan rasa gugup yang mendera.


Tujuh menit berlalu, Yasmin pun masuk ke ruangan.


"Maaf, boleh aku menyela sebentar," ucap Yasmin setelah pantatnya dia dudukkan.


Sengaja dia berbicara secepat mungkin bahkan memilih menyela pembicaraan ummi Aisyah dengan mama Wulan untuk mengurai rasa gugup sekaligus kebimbangan yang tiba-tiba berbisik di telinganya. Dia yakin, bisikan itu adalah bisikan setan yang datang menjelma dalam bentuk sindrom pranikah.


"Boleh Nak, silahkan bicara," sahut Aisyah.


"Aku menerima lamaran Fernando," ujar Yasmin tanpa ba bi bu, sedikit pun tidak terbata, gugup maupun nervous, atau lebih tepatnya dengan mantap dia berujar.


Semua terdiam mendengar ucapan Yasmin.


"Apa ada yang salah dengan ucapanku?" lontar Yasmin merasa bingung karena semua pandangan tertuju pada dirinya dengan raut wajah melongo.


Selang beberapa detik kemudian, Fernando menundukkan pandangan sambil menahan senyum, begitu juga yang lain. Terkecuali mama Wulan, dia tertawa keras.


"Ma, jangan malu-maluin aku, ada yang salah dengan ucapanku?" rengek Yasmin menggoyangkan lengan mamanya.


"Tidak ada yang salah Nak, mama tertawa karena kamu terlihat sangat gugup melebihi gugupnya anak TK kalau di suruh maju di depan teman-temannya," ledek Wulan.


"Yasmin mengerucutkan bibirnya, "Mama jahat!" celetuk Yasmin.


"Kami tahu lah, kamu tidak mungkin menolak anak Ummi yang tampan rupawan ini," sela Aisyah.


"Alhamdulillah, kalau seperti ini, besok kita langsung urus syarat pernikahan kalian," sambung Aisyah.


"Setuju. Lebih cepat lebih baik," sahut Wulan dengan begitu antusias. Dia memang termasuk yang sangat mendukung hubungan Yasmin dengan Fernando bahkan kejadian sewaktu dirinya memperkenalkan dengan lelaki lain, bukan Fernando pada Yasmin, juga saat itu mama Wulan tidak terlalu mantap.


Penolakan Yasmin tatkala itu sebenarnya membuat Wulan merasa senang.


"Urusan selanjutnya biar kita yang urus Ma," ucap Yasmin.


"Tidak! Kita juga harus ikut urus," jawab serentak Wulan dan Aisyah, mereka berpikir, seandainya Yasmin yang urus, waktunya pasti dilama-lamakan sedangkan kalau mereka ikut urus, sudah tentu waktu lebih cepat.

__ADS_1


"Kalau kalian juga ikut urus, dua Minggu ini tolong selesaikan," pinta Yasmin.


"Siap!" jawab mereka, kembali serentak.


"Kompak sekali," gumam Zaidan.


...****************...


Sementara itu, di tempat lain. Sewaktu sore sudah menyapa bumi tercinta.


Delmira yang sudah tampil cantik nan bersih, sedang menemani dua jagoannya makan.


"Makan dulu Kaffah, jangan lari-larian terus," ujar Delmira melihat anaknya yang lebih asyik lari dibandingkan makan, sampai-sampai suster Fina engap mengejar bocah itu.


Sedangkan Kahfi lebih memilih bermain susun puzzle. Gerak Kahfi memang tidak seaktif Kaffah, dia lebih suka bermain yang sederhana tanpa mengeluarkan energi banyak.


"Maaf Nya, ada tamu," ujar mbok Muna mendekat ke arah Delmira.


"Siapa Mbok?"


"Assalamualaikum Kak Delmira," sapa seorang wanita cantik melangkah mendekat ke arah Delmira.


"Waalaikum salam," jawab Delmira menolehkan pandangan ke sumber suara.


"Aku mengikuti Asisten rumah tangga kak Delmira. ART bilang kalau kak Del masih bermain dengan si kembar," terangnya memotong ucapan mbok Muna.


"Tidak ada apa-apa Mbok," ucap Delmira melihat wajah ART-nya penuh sesal.


"Kalau begitu saya permisi dulu Nya."


Sebuah anggukan ditunjukkan Delmira sebagai jawab ucapan mbok Muna.


"Kita ke ruang tamu saja," ajak Delmira pada tamu yang sepertinya mengenal dirinya lebih dari biasa.


"Tidak kenapa Kak, aku di sini saja, biar bisa lihat si kembar," sahutnya menatap ke arah Kaffah dan Kahfi, pantatnya dia dudukkan di kursi yang ada di salah satu sudut taman, dan kursi itu tidak jauh dari tempat bermain si kembar.


Delmira mengekor langkah kaki wanita cantik itu, pantatnya kemudian juga dia dudukkan di kursi yang berseberangan dengan wanita tersebut.


Mata Delmira kini menatap lekat ke arah wanita itu.


"Oya, perkenalkan. Aku Putri," ujarnya menyodorkan tangan.


Delmira menelisik wanita yang memperkenalkan diri sebagai Putri, lalu membalas uluran tangan Putri.

__ADS_1


"Kamu yang kemarin kirim hadiah untuk Kaffah dan Kahfi?"


Putri mengangguk cepat, "Aku mitra kerjanya Mas Zaidan. Kebetulan, perusahaan Daddy dipercayakan sama aku. Jadi, otomatis aku kenal dengan mas Zaidan.


"Oh," sahut Delmira hanya dengan satu suku kata, dia mulai tidak suka pada gaya Putri yang sok akrab pakai menyapa Zaidan dengan sapaan mas.


Putri tersenyum dengan tanggapan Delmira.


"Kakak sepertinya cinta banget dengan mas Zaidan," celetuk Putri.


"Ya jelas cinta lah, dia kan suami aku," sungut Delmira nada suaranya jelas menunjukkan apa yang ada dalam hatinya.


Hal itu membuat Putri semakin melebarkan senyum.


"Mas Zaidan juga sangat mencintai Kakak," sambung Putri.


Kali ini Delmira tidak menyahuti ucapan Putri, dia lebih memilih diam, netranya sekali lagi lekat menatap wanita cantik itu.


"Setidaknya sudah dua tahun lebih beberapa hari, pertama kali aku bertemu dengan mas Zaidan. Saat itu, aku baru lulus kuliah dari luar negeri. Daddy aku mengadakan acara syukuran sekaligus mengundang kolega bisnisnya, termasuk mas Zaidan."


Delmira diam mencoba mendengar apa yang diceritakan Putri.


"Pandangan pertama yang membuatku jatuh cinta. Ya, aku sangat tidak percaya dengan cinta. Namun, kenyataannya aku malah jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan lelaki yang sudah beristri pula," sambungnya.


Darah Delmira yang sudah mendidih semakin mendidih mendengar pernyataan menjijikkan dari Putri. Namun, Delmira mencoba menahan amarahnya. Dia sangat ingat nasehat guru ngajinya, orang-orang yang dapat menahan amarah merupakan salah satu ciri orang bertakwa dan berbuat kebajikan.


'Tapi dalam hal ini, apa perlu aku tahan amarah? Dia terang-terangan mengakui cinta pada suamiku!' gejolak batin Delmira.


"Aku hanya merasa kasihan pada suamiku. Pasti dia sangat tidak nyaman bekerja sama dengan mitra kerja semacam anda," sahut Delmira berbicara dengan tenang. Padahal dalam hatinya sangatlah dongkol.


Putri tersenyum menampakkan barisan giginya yang putih rata.


"Benar apa kata Kak Del. Setelah Daddy percayakan perusahaannya pada aku. Setengah tahun kemudian Zaidan memutuskan kontrak kerja sama. Padahal aku sudah tawarkan kerja sama yang tentunya akan membuat dealer nya semakin maju. Dia tetap sikekeh menolak semuanya."


"Kita hanya kerja sama selama setengah tahun. Itu pun dia tidak pernah mau untuk melakukan meeting hanya berdua, pasti dia akan membawa pasukan atau pengawal setianya. Jadi, kak Del rugi kalau berpikiran yang aneh-aneh pada suami Kak Del," terang Putri yang bisa menebak isi otak Delmira.


"Siapa juga yang curiga dengan suami!" elak Delmira yang jelas berbanding terbalik dengan isi hatinya.


Hati Delmira sungguh meronta, penuh tanya, kenapa Zaidan tidak menceritakan hal ini pada dirinya, dicintai wanita lain secara terang-terangan tapi sedikitpun tidak pernah menyinggung masalah ini.


'Zaidan! Kapan kamu pulang?! Biasanya juga sudah pulang!' monolog batin Delmira, mengharap sang suami pulang dan segera menyelesaikan cinta pandangan pertama sang mitra kerja.


"Jadi, apa tujuan anda datang menemui saya?" tanya Delmira.

__ADS_1


malam menyapa 🤗 jangan lupa klik like komen hadiah


__ADS_2