
"Sama halnya Mbak Del kan, sampai kapanpun mas ganteng tetap ada di hati Mbak Del?" sambung Safira dan sontak membuat Delmira membeku kaku.
"Jangan sok tahu," gumam Delmira setelah sejenak terdiam, tangannya bergerak memasukkan semua kotak nasi ke dalam plastik besar.
"Duh Mbak Del, aku kan punya telinga, jadi ya dengar desas-desus tentang mas ganteng Zaidan."
"Issst jangan banyak cakap! Yuk jalan!" seru Delmira menyerahkan ujung plastik pada Safira agar ikut membantu mengangkat ke dalam mobil terbuka.
"Aku itu serba tahu loh Mbak Del," lanjut Safira setelah mobil itu melaju.
Mata Delmira fokus pada jalanan.
"Oya Mbak Del, om Verel tidak pernah ke sini lagi?"
"Mungkin dia sibuk," sahut Delmira tanpa menolehkan pandangannya.
"Dia tahu kalau di sini ada saingan terberatnya?"
"Maksud kamu?"
"Pura-pura tidak tahu," sungut Safira, "ya jelaslah yang aku maksud tuh, di sini ada mas ganteng Zaidan yang menjadi saingan terberat buat om Verel," terangnya kemudian.
"Verel sudah menikah," ujar Delmira.
"Menikah? Serius Mbak?"
"Hmmm," dengung Delmira sebagai jawaban.
"Menikah dengan siapa? Bukannya dia cinta mati dengan Mbak Del? Kenapa menikah dengan orang lain? Apa mungkin Mbak Del salah denger kali? Kalaupun sudah menikah mengapa tidak mengundang kita?" cecar Safira merasa tidak yakin apa yang dilontarkan Delmira.
"Kalaupun aku sebutkan orangnya, mana kamu tahu. Lagian kamu tuh masih kecil, belum tahu masalah orang dewasa."
"Issst! Aku sudah kelas 12 Mbak! Masih saja dibilang kecil!" gerutu Safira.
"Dan perlu Mbak Del tahu, setelah lulus aku mau dilamar Om ganteng loh," sambung Safira.
Citttt.....
Karena sangat terkejut Delmira sampai tidak konsentrasi dan hampir menabrak motor yang ada di depannya.
"Astaghfirullah haladhim..., Mbak Del hati-hati dong," ucap Safira tangannya berpegangan erat pada pegangan tangan yang terpasang di dashboard atap.
"Ucapan kamu yang bikin aku jantungan!" sahut Delmira.
"Maksudnya? Ucapan yang om ganteng akan melamar aku setelah lulus sekolah?"
"Ya iyalah!"
Safira terkekeh, "Mau ngapain lagi, aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dan kayaknya malaslah cari kerja. Ya sudah mending nikah saja
Plak.
"Aduh! Sakit Mbak!" sungut Safira, mengelus pahanya yang kena gampar Delmira.
"Turun!" titah Delmira setelah memarkir mobil di parkiran dealer motor Pekalongan.
Terlihat Safira masih mengerucutkan bibir sambil mengelus pahanya.
Delmira menahan tawa melihat ekspresi kesal di wajah Safira, "Biar kamu bangun dari kenyataan," ledeknya.
"Apaan Mbak Del ini!" gerutu Safira, kakinya turun dari mobil dan membantu Delmira mengangkat plastik berisi nasi kotak.
Delmira menaruh nasi kotak itu di meja yang ada di sudut ruang dealer motor Pekalongan.
"Mbak, kata Pak Zaidan, yang punya beliau suruh bawa masuk ke ruang kerjanya."
"Sendiri?" lontar Delmira pada pegawai tersebut.
"Harusnya sama aku, tapi berhubung Mbak datang sama adek Mbak, ya silahkan masuk bareng adek Mbak," jawabnya.
__ADS_1
"Oh... ya terima kasih," sahut Delmira membawa satu kotak nasi.
Sebenarnya Delmira agak ragu untuk masuk ke ruang itu. Namun, karena tidak ingin memperpanjang alasan dia terima permintaan Zaidan.
Delmira memberi salam dan mengetuk pintu ruangan.
Tangannya berhenti mengetuk tatkala ada sahutan dari dalam dan memerintah agar masuk.
Setelah pintu terbuka, Delmira melempar sebuah senyum pada pemilik ruangan. Dia lalu berjalan dan menaruh nasi kotak di meja kerja Zaidan.
Zaidan tertegun menatap Delmira tanpa kedip.
Mata Safira juga sama, menatap tanpa kedip ke arah Zaidan dengan rasa kagum yang luar biasa.
"Duduklah," pinta Zaidan melihat Delmira sudah membalikkan tubuhnya.
Bukannya Delmira yang duduk, melainkan Safira.
"Astaghfirullah haladhim, nih bocah!" greget Delmira, pantatnya terpaksa dia dudukkan lalu tangannya bergerak mencubit lemah di pinggang Safira.
"Auw auw!" jerit Safira, bibirnya mengerucut, "sakit tahu Mbak," keluhnya, mengelus pinggang.
Zaidan tersenyum menyaksikan itu.
"Bagaimana hari ini, lancarkah usahanya?"
"Seperti biasanya!" sahut Delmira, "pertanyaannya terlalu basa-basi!" gerutu Delmira kemudian.
"Maaf, aku sedang bertanya pada Safira, bagaimana usaha dia mendapat nilai terbaik? Bukankah tadi pagi dia ada ulangan Bahasa Indonesia?"
Safira terkekeh melihat ekspresi kesal Delmira, sekaligus dia merasa menang karena sakit pinggangnya langsung terbalas oleh perkataan Zaidan.
"Mas ganteng kok tahu, tadi aku ada ulangan?" heran Safira, "Hayo... mas ganteng diam-diam nguntit Safira ya? Jangan-jangan sebenarnya mas ganteng naksir aku, bukan Mbak Del?"
Zaidan hanya tersenyum sebagi balasan.
"Tapi maaf ya Mas. Mas ganteng harus terima kenyataan, kalau di hati Safira sudah terisi orang lain," ucap Safira.
Safira tersenyum senang.
Zaidan mengempaskan napasnya, matanya melirik ke arah Delmira.
"Kalau tidak ada hal penting, sebaiknya aku ke warung bantu mbok Sa'diyah," seloroh Delmira, entah kenapa merasa tidak suka dicueki Zaidan.
"Aku sudah menyuruh orang buat bantu mbok Sa'diyah jualan. Kamu duduk saja menemani ku makan siang."
"Issst, siapa juga kamu! Minta ditemani makan siang!" gumam Delmira masih dengan wajah kesal.
"Kamu lupa lagi. Aku kan calon suami kamu Delmira Cinta Kusuma," sahut Zaidan.
"Calon suami dari mana! Siapa juga yang setuju jadi calon istri kamu!"
"Mbok Sa'diyah sudah merestui kita Mrs. Delmira," ujar Zaidan memperkuat dengan sebuah alasan.
"Emmmm... so sweet sekali. Aku pengen juga dimanisi seperti ini," sela Safira.
"Berisik ini bocah!" ujar Delmira mencubit pinggang Safira kembali.
"Auw! Issst! Mbak Del ini jelmaan semut apa ya! Hobi sekali nyubit orang!" gerutu Safira.
Zaidan kembali tersenyum melihat mereka bersiteru. Pantatnya dia angkat, kakinya melangkah keluar ruangan. Tidak selang berapa lama, Zaidan datang membawa 2 kotak nasi.
"Cuci tangan dulu, kita makan bersama," ujar Zaidan meletakkan 2 kotak nasi di depan Delmira dan Safira.
"Aku tidak lapar!" tolak Delmira.
"Kebetulan sekali, Safira sudah sangat lapar!" seru Safira, penuh antusias ke wastafel untuk cuci tangan.
"Perlu aku ambilkan air untuk kamu cuci tangan?"
__ADS_1
"Tidak perlu!" sahut Delmira.
"Kalau begitu, silahkan." Tangan Zaidan bergerak mempersilahkan Delmira agar berjalan ke wastafel.
Delmira menyerah, dia bangkit dan segera cuci tangan. Zaidan pun mengekor.
Mereka mulai membuka kotak nasi, berdoa, lalu memakan suap demi suap.
Delmira menepikan acar, dia memang tidak suka acar kuning timun dan wortel.
Zaidan langsung mengambil acar itu dan menukar oseng tempe miliknya ke dalam wadah makan Delmira.
"Sayang kalau acar yang enak ini kamu buang," ujar Zaidan melihat ekspresi terkejut pada raut wajah Delmira.
Delmira lalu memilih diam. Namun dalam lubuk hati terdalam dia tersenyum, 'Kamu masih ingat, lauk apa yang tidak aku suka,' batin Delmira berucap.
"Kalau tidak suka, kenapa masak acar?"
"Justru kata pelanggan, acar aku yang bikin nagih," ujar Delmira.
"Aku setuju dengan mereka," sahut Zaidan.
"Main setuju saja!"
Zaidan tersenyum mendengar ucapan Delmira, "Tapi serius Mrs. Delmira, acar kamu memang enak. Nanti kalau kita sudah menikah. Kalau kamu ada waktu senggang, dan ingin memasakkan makanan untukku, jangan lupa buatkan acar yang sama seperti ini."
"Siapa juga yang mau nikah dengan kamu!" balas Delmira.
Zaidan kembali menarik dua sudut bibir membentuk sebuah senyum.
"Tentu saja kamu Mrs. Delmira, karena yang bisa membalas cintaku ya cuma kamu."
"Hmmm," dengung Delmira merasa pasrah dengan jawab Zaidan.
Lama mereka hening, melanjutkan makan hingga tidak bersisa sedikitpun nasi dan lauk yang mereka makan.
Sewaktu berjalan dari cuci tangan, Delmira melihat bingkai foto yang ada di salah satu sudut ruang. Terpampang gambar wanita tua duduk bercengkrama dengan Zaidan.
"Bagaimana kabar Ummi Aisyah?" lontar Delmira, dan sebenarnya hal ini ingin dia lontarkan sejak awal berjumpa dengan Zaidan.
Delmira masih merasa sangat bersalah. Membalas kebaikan Aisyah dengan kejahatan, ya kejahatan karena tiba-tiba meninggalkan Zaidan, anak terkasihnya.
"Alhamdulillah baik," sahut Zaidan dengan ekspresi wajah yang berubah.
Hati Delmira tiba-tiba terusik,. Tidak dipungkiri, walaupun bibirnya menolak untuk menerima pinangan dari Zaidan. Namun, hatinya jelas merasa bahagia dan mau menerima pinangan itu.
"Bagaimana, kalau Ummi Aisyah tidak merestui hubungan kita?" lontar Delmira dengan suara lirih.
Zaidan tersenyum lebar, hatinya berbunga-bunga, begitu bahagia mendengar pertanyaan Delmira. Matanya tetiba berembun karena terlalu bahagia.
"Subhanallah, kamu terima lamaranku Mrs. Delmira?" retoris Zaidan.
"A...apa aku mengatakan itu?" lontar Delmira, terbata.
Zaidan kembali tersenyum.
'Senyum kamu itu loh Zaid!' rutuk batin Delmira terpanah melihat sekilas wajah Zaidan yang menampilkan sebuah senyum termenawan menurut Delmira.
Deg
deg
deg.
"Safira, kita pulang saja," ajak Delmira merasa jantungnya sudah mulai tidak sehat berada di dekat Zaidan.
Delmira menarik paksa Safira untuk keluar ruangan.
Zaidan hanya pasrah, menatap lekat Delmira yang tergopoh keluar ruangan. Sebuah senyum masih tercetak jelas di wajah Zaidan. Matanya kini berpindah tatap pada layar monitor yang menghubungkan cctv. Tatapan Zaidan tidak lepas dari wanita yang memakai jilbab menjuntai hingga dada dan gamis panjang yang dia kenakan.
__ADS_1
"I love you Mrs. Delmira," lirih Zaidan melihat mobil yang dikendarai Delmira sudah meninggalkan parkiran.
pagi menyapa 🤗 adakah yang mau kasih pemanis lagi untuk mereka berdua? yuk tebar kemanisan di kolom komentar. 🤭