
"Mbok, aku kangen," lirih Delmira.
"Ada perlu apa ya Mbak?" tanya seorang gadis remaja ketika dia keluar dari dalam rumah dan mendapati Delmira sedang duduk di kursi teras.
"Hai, aku mau bertemu dengan mbok Sa'diyah," jawab Delmira berdiri dari duduknya.
"Simbah masih ngaji tuh," ujarnya menunjuk ke arah wanita tua dengan mukena yang masih membalut tubuhnya.
Delmira tersenyum tatkala melihat mbok Sa'diyah dari arah jauh. Suara wanita tua itu masih sama tapi wajahnya sudah terlihat lebih tua dari 15 tahun yang lalu. Namun, pancaran wajah bersih aman sejuuj masih memancar dari wajahnya.
"Biar aku tunggu di sini saja sambil nunggu simbok selesai," ucap Delmira.
Gadis berkerudung yang ada di depan Delmira tidak langsung menyahuti ucapan Delmira, dengan penuh telisik dia menatap dari ujung rambut hingga kaki, tatapannya juga tidak luput dari koper yang Delmira letakkan di sampingnya duduk.
"Adek mau pergi?" tanya Delmira melihat gadis itu menjinjing tote bag dan memegang kunci motor.
Gadis itu mengangguk pelan tapi tatapannya masih penuh telisik.
"Ya sudah adek pergi saja biar aku tunggu mbok Sa'diyah di sini," sambung Delmira.
__ADS_1
Lagi, gadis itu mengangguk walau ada perasaan ragu. Dimana tidak ragu, bagi gadis itu, Delmira adalah sosok asing dan di zaman sekarang, kejahatan bisa terjadi dengan berbagai modus.
"Kok, gag jadi pergi?" Bingung Delmira, ketika gadis itu memilih duduk di samping Delmira.
"Nunggu simbah selesai ngaji," jawabnya dengan nada ketus.
Delmira membalas dengan senyum getir.
"Ngomong-ngomong, Mbak itu siapa ya?"
"Aku... aku dulu pernah diasuh mbok Sa'diyah."
Suara mbok Sa'diyah sudah tidak terdengar lagi. Terdengar seoakan kaki melangkah keluar.
"Kebiasaan kamu Safira, kalau keluar, pintu tidak ditutup," gerutu suara yang dipastikan dari mbok Sa'diyah.
"Loh...kok masih di sini?" Tangan mbok Sa'diyah menunjuk ke arah Safira. Lantas, matanya langsung mengarah pada sesosok wanita yang duduk di samping cucunya ketika Safira menunjuk ke arah Delmira.
"Ya Allah... Non... Non Delmira," seru Sa'diyah antara percaya tidak percaya. Tubuhnya mendekat dan langsung memeluk Delmira.
__ADS_1
"Mbok Sa'diyah masih kenal aku?"
"Ya Allah Non... walaupun mbok dan kamu sudah pisah lama tapi jelas wajah kamu masih Mbok ingatlah," sahut Sa'diyah, "ayo masuk, tidak baik tamu ada di luar," ajaknya.
"Kamu kok masih di situ Saf?" lontar Sa'diyah melihat sang cucu masih berdiri mematung, "Tidak jadi ngaji?" tanya lanjut.
"Jadilah," sungut Safira kalau, menyalakan mesin motor lalu melajukannya.
"Eh, main pergi tidak salam Salim dulu!" protes Sa'diyah.
"Assalamualaikum Mbah!" teriak Safira tanpa menghentikan laju motornya.
Sa'diyah mempersilahkan Delmira masuk. Kakinya kemudian melangkah ke dalam untuk membuat teh asli dari Pagilaran. Dulu, sewaktu bekerja dengan orang tua Delmira, teh seperti itu adalah kesukaannya.
"Tidak usah repot-repot Mbok," ujar Delmira.
"Tidak ada yang merasa direpotkan," balas Sa'diyah, "silahkan minum Non," tawarnya kemudian.
Delmira beberapa kali menyeruput teh itu, "Mbok, untuk sementara, boleh aku nginap di rumah Mbok?"
__ADS_1
Sa'diyah tercengang, bukan karena keberatan akan permintaan dari Delmira tapi penasaran apa yang sebenarnya menimpa padanya.