
Aisyah langsung membisu mendengar pengakuan Delmira.
"Maksud kamu?" lontar Aisyah dengan suara bergetar setelah lama terdiam.
"Delmira dijebak sahabatnya hingga dia hamil. Dulu Delmira memang mengakui kehamilannya padaku tapi saat itu, Delmira mengatakan hamil dengan kekasihnya bukan dijebak sahabatnya hingga akhirnya, aku tidak bisa mempertahankannya," terang Zaidan.
"Kamu tahu, tentang kehamilan Delmira?" tanya Aisyah.
Zaidan mengangguk.
"Dan hanya Ummi yang tidak tahu apa-apa?" nada suara Aisyah sedikit meninggi, "kalian anggap Ummi itu apa? Apa hanya patung? Hanya pajangan?"
Semua terdiam.
"Kamu bilang pada Ummi karena Delmira dan kamu sudah tidak cocok. Kenapa harus bohong dengan Ummi Zaid?" sambung Aisyah dengan raut kekecewaan yang teramat.
Aisyah terlihat mengempaskan napasnya kasar.
"Saat itu memang Ummi tahu kalau Delmira ada lelaki lain tapi tidak sampai dia hamil juga dengan lelaki itu!" terang Aisyah.
"Maaf Ummi, saat itu aku bohong soal kekasih non Delmira. Dia tidak pernah berselingkuh dari den Zaidan," jujur Fernando.
Aisyah lagi mengempaskan napasnya kasar, rasanya semakin banyak hal yang disembunyikan darinya. Mau mengintrogasi kebohongan Fernando soal kekasih Delmira pun rasanya sudah sangat jengah.
"Sekarang dimana anakmu Delmira?" sambung Aisyah, setelah diam mengontrol diri dari emosi.
"Anakku sudah meninggal Ummi," sahut Delmira dengan suara parau. Hatinya begitu sesak menahan kesedihan. Hati ibu siapapun pasti sedih kalau mengingat tentang anaknya yang telah tiada.
"Maaf, Ummi mau istirahat dulu. Kalian lanjutkan ngobrol," pamit Aisyah lebih memilih pergi dari hadapan Zaidan dan Delmira karena tidak tahu harus berkata apalagi.
Delmira menundukkan kepalanya setelah menatap langkah gontai Aisyah meninggalkan ruang tamu.
Zaidan terlihat diam, saling diam.
Hening tanpa suara.
"Biarkan Ummi istirahat terlebih dulu. Kamu juga harus istirahat, aku antar ke hotel," ajak Zaidan setelah terdiam lama.
Delmira mengangguk, pantatnya dia angkat dan berjalan terlebih dahulu.
Mereka salat Magrib terlebih dulu lalu makan malam.
"Sepertinya Ummi tidak merestui hubungan kita Zaid," ucap Delmira membuka suara.
Zaidan memilih mengunyah makanannya terlebih dahulu kemudian menelannya. Sejenak Zaidan menatap kearah Delmira.
"Ummi hanya butuh waktu sebentar. Insyaallah beliau akan merestui kita," ucap Zaidan.
"Seandainya tidak?"
"Itu hanya andaian kamu."
"Zaid, bisa saja kan andaian aku itu nyata."
"Aku akan minta Ummi tetap merestui kita."
"Dengan cara?"cecar Delmira.
"Cara yang pastinya membuat Ummi menyetujuinya."
"Issst kenapa diputar-putar sih jawabnya!" gerutu Delmira membuat Zaidan tersenyum lebar.
"Apa kamu meragukan kekuatan cinta kita?"
Delmira diam, menatap sejenak ke arah Zaidan.
"Kamu ragu?" ulang Zaidan karena Delmira tetap saja tidak buka suara.
"Kamu menyerah sampai di sini?" cecar Zaidan, hatinya sudah mulai kalut Delmira belum juga buka suara.
"Kalau aku tidak yakin, aku tidak akan menerima ajakan kamu," jawabnya kemudian.
Zaidan tersenyum merekah.
"Mari saling menguatkan dan yakinkan diri, Allah pasti akan memberi jalan yang terbaik untuk kita," ucap Zaidan penuh antusias.
Delmira melempar sebuah senyum lalu mengangguk cepat.
"Habiskanlah, setelah ini kamu istirahat."
Lagi, Delmira mengangguk sebagai jawaban dan diiringi senyum.
__ADS_1
Setelah makanan itu habis, Zaidan mengantar Delmira hingga ke pintu kamar hotel.
"Kalau ada apa-apa, segera telepon," pesan Zaidan.
"Ya Mr. Z," balas Delmira dengan sebuah canda.
Zaidan tersenyum mendengar balasan Delmira, "Assalamualaikum," pamitnya kemudian.
Delmira membalas salam itu lalu masuk ke kamar.
Zaidan dan Fernando gegas melangkah ke tempat parkir.
Mobil melaju, memasuki jalanan kota, membaur dengan mobil lain hingga mobil itu kembali lagi masuk ke garasi rumah milik keluarga Zaidan.
"Ummi mau bicara Zaid," cegat Aisyah di ruang tengah.
Zaidan mengurungkan niat untuk menaiki anakan tangga. Kakinya dia putar, melangkah ke kursi lalu pantatnya dia dudukkan di sofa kosong.
"Maaf, Ummi tidak bisa merestui hubungan kalian."
Deg.
Kalimat keramat yang ditakutkan Zaidan akhirnya keluar dari mulut Aisyah.
Zaidan sejenak diam.
"Zaid, Ummi menginginkan kamu mendapat wanita yang baik. Dia tidak perlu sempurna. Namun, setidaknya, dia bukan bekas lelaki yang tidak halal. Ketika kamu mendapatkan dia dalam keadaan janda, Ummi masih bisa toleran tapi sekarang, bagaimana bisa Ummi merestuinya?"
Bulir air mata yang sedari tadi tertampung di pelupuk mata lolos begitu saja membasahi dua pipi Aisyah.
"Maaf Nak," sambung Aisyah dengan suara bergetar.
Zaidan masih terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa melihat wanita yang telah merawatnya dari kecil itu mengeluarkan air mata.
"Delmira memilih berkata jujur agar hubungan yang kelak kita jalani tidak ada kebohongan. Bahkan, dia tidak tega membohongi calon mertuanya," sahut Zaidan akhirnya membuka suara, tangannya bergerak menyeka air mata sang ummi.
"Ummi, sebaiknya Ummi istirahat dulu. Jangan terlalu banyak beban pikiran," sambung Zaidan kemudian.
"Maaf Nak, Ummi tetap saja tidak merestui hubungan kalian."
"Delmira hanya korban Ummi. Dia tidak pantas diperlukan seperti ini. Maaf Ummi kalau aku berbicara lancang," ujar Zaidan, pantatnya dia angkat dan memilih pergi dari hadapan Aisyah.
"Waalaikum salam," sahut Yasmin dari balik pintu ruang kerjanya.
Delmira terlihat histeris dan memeluk sahabatnya itu.
"Kemana saja kamu pergi? Jahat sekali tidak kasih kabar?" sungut Yasmin, raut wajahnya terlihat datar tidak seheboh Delmira.
"Issst temanku yang kaku ini, tidakkah kamu senang bertemu dengan teman lama!" protes Delmira.
"Salah kamu menghilang tanpa kabar," jawab Yasmin.
"Maaf ya maaf," rayu Delmira.
"Menghilang tanpa kabar, tiba-tiba datang dan bawa kabar akan rujuk dengan mantan suami, benar begitu?"
Delmira tersenyum lalu mengangguk dan tangannya bergerak mencubit pinggang Yasmin.
Yasmin hanya menggeliat sebagai reaksi.
Sahabat Delmira yang satu ini memang tidak seekspresif sahabat yang lain. Dia cenderung diam dan tidak banyak kata.
"Geli kek biar calon suaminya ganteng," canda Delmira karena Yasmin tidak bereaksi geli dicubit pinggangnya.
Yasmin duduk dan baru mempersilahkan Zaidan dan Fernando duduk.
"Aku tidak kamu persilahkan duduk?"
"Tanpa dipersilahkan pun kamu juga akan duduk," sahut Yasmin, walaupun bercanda tetap saja wajahnya datar.
Delmira tersenyum melihat wajah kaku Yasmin.
"Senyum dikit di depan calon suami," ledek Delmira mengarahkan pandangan ke arah Fernando dan Yasmin
"Aku ambilkan minum," ujar Yasmin tanpa menjawab ledekan Delmira.
Tidak lama Yasmin datang membawa beberapa minuman.
"Kapan kalian menikah?" lontar Yasmin.
"Secepatnya," sambar Zaidan memotong Delmira yang sudah menjawab dengan sepatah kata.
__ADS_1
"Aku turut bahagia," jawab Yasmin.
"Kamu, kapan?" tanya balik Delmira.
"Segera menyusul Non Delmira dan den Zaidan," jawab Fernando.
"Yang ditanya aku, bukan kamu," protes Yasmin.
"Ya Allah, aku tinggal selama setahun kukira hubungan kalian ada kemajuan," ledek Delmira melihat Yasmin yang masih bersifat ketus.
"Tidak ada hubungan istimewa di antara kita," sahut Yasmin.
Delmira tersenyum lalu melirik ke arah Fernando, "Fer, menyerah saja," ucapnya kemudian.
"Tidak ada kata menyerah dalam kamusku Non," jawab Fernando membuat Delmira melebarkan senyum.
"Kamu ke sini untuk interogasi aku dan Fernando?" lontar Yasmin matanya tajam menatap Delmira.
Delmira terkekeh.
"Cepat Zaid, kamu bawa pergi saja wanita ini!" ujar Yasmin.
Zaidan membalas dengan sebuah senyum.
"Sungguh aneh kalian, senyum tertawa seperti itu!" sungut Yasmin.
"Kamu yang terlalu aneh Yas," seru Delmira.
"Kita keluar, cari makan siang," ajak Zaidan.
"Ide yang bagus," balas Delmira.
"Aku harus jaga butik. Kalian pergi saja!" sahut Yasmin.
"Sahabat satuku ini memang tiada akhlak! Ayo cepat ikut pergi!" Delmira menarik paksa tangan Yasmin."
"Yang tiada akhlak itu teman kamu si Meilin," seloroh Yasmin.
Seketika tangan Delmira melemahkan tarikannya.
Yasmin yang merasa keceplosan bicara, ganti menarik tangan Delmira untuk keluar ruangan menyetujui ajakan Zaidan.
"Maaf aku salah bicara, dia bukan teman kamu, bukan temanku juga bukan teman Silvia dan Marsya," ucap Yasmin menggandeng tangan Delmira untuk berjalan terlebih dahulu.
Delmira tersenyum mendengar ucapan maaf Yasmin. Kata yang sangat jarang diucapkan sesosok Yasmin adalah kata mutiara maaf dan baru kali ini Delmira mendengar dari mulut Yasmin.
'Rupanya ada perubahan pada kamu Yas,' batin Delmira.
Sementara di tempat lain.
Tepatnya di rumah sakit Medika Internasional dan lebih tepat lagi di ruang kerja Aisyah, duduklah seorang tamu.
"Saya perhatikan, sepertinya tidak asing dengan wajah kamu," ucap Aisyah.
Wanita itu tersenyum, "Ingatan anda sangat baik Ummi Aisyah," sahutnya.
"Ada keperluan apa? Ada hal yang bisa saya bantu?" lontar Aisyah.
"Aku datang hanya akan memberikan informasi penting mengenai calon menantu anda."
"Maksud kamu?"
"Mengenai Delmira Cinta Kusuma," cekatnya.
"Oh, ada apa dengan calon menantuku?"
"Dia tidak pantas bersanding dengan Zaidan. Wanita bekas orang! Terlihat sok suci, alim, tapi dia pernah berselingkuh dan hamil dengan lelaki lain. Janda yang tidak mengaca diri, mengincar lelaki kaya dan muda."
Huft.
Wanita itu mengempaskan napasnya kasar. Dadanya bergemuruh mengucap nama seseorang dengan sederet kecacatan yang dia lekatkan.
"Satu hal lagi! Delmira masih berhubungan dekat dengan lelaki yang pernah menghamilinya. Jadi, apakah wanita itu pantas bersanding dengan Zaidan? Ummi tidak takut, Delmira mengulang kesalahan yang sama? Selingkuh dengan lelaki lain lalu hamil dan membuat Zaidan terluka kembali?" ucapnya panjang lebar.
Aisyah hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita yang duduk di depan meja kerjanya.
'Aku tidak akan biarkan kamu bahagia Del! Sampai matipun aku akan buat kamu merasakan penderitaan sama seperti yang aku rasakan sekarang! Kamu juga harus merasakan sakit apa yang adikku rasakan!' batin wanita itu.
malam menyapa 🥱
tinggalkan like komen hadiah vote rate 🙏
__ADS_1