
'Maafkan aku,' batin Delmira ketika mata Delmira berhenti tatap pada bantal yang biasa dipakai Zaidan.
Entah kenapa elu hatinya terasa begitu sakit. Kakinya kini melangkah lunglai masuk ke toilet kamar. Langkahnya terhenti di depan bathtub. Tangannya memutar keran dan tubuhnya masuk ke bathtub tanpa melucuti pakaian yang dikenakan.
Air hangat sedikit demi sedikit menggenang di bathtub. Delmira membiarkan tubuhnya tertanam dalam air. Bahkan beringsut hingga ujung rambut tanpa absen tersentuh air.
'Aku kotor!' teriak batin Delmira. Tubuhnya yang sudah tertanam air di dalam bathtub rasanya tidak ingin dia angkat. Namun, hati lain berontak ingin segera bangkit.
Napas Delmira tersengal-sengal setelah bisikan setan memintanya untuk menenggelamkan diri di bathtub kamar gagal terusik bisikan malaikat. Dengan lemas Delmira bangkit dari bathub melepas pakaian yang basah kuyup. Tangannya meraih sabun dan sikat gigi untuk membersihkan diri.
Berjam-jam di kamar mandi, kini Delmira sudah meringkuk di kasur dengan balutan piyama. Lamat-lamat matanya terpejam karena lelah yang sedari tadi menghampirinya.
Langkah kaki seorang yang memasuki kamar sampai tidak membuat Delmira terbangun. Tubuhnya semakin mendekat ke arah ranjang. Sebuah senyum tercetak di wajahnya setelah mata tanpa terlewatkan menyapu tiap inci tubuh Delmira.
"Satu minggu absen dari kamu, kenapa kangennya luar biasa Mrs. Delmira?" gumam Zaidan, manik matanya lekat menatap wajah sang istri.
"Apa kabarmu Sayang?" lanjut Zaidan.
"Selalu curang, setiap aku video call yang dinyalakan kamera belakang, kamu sengaja membuatku semakin menanggung rindu?" monolog Zaidan dan kali ini tangannya sudah tidak dapat dia tahan untuk tidak menyentuh wajah cantik sang istri.
"Jangan!" teriak Delmira, napasnya tersengal-sengal bangkit dari tidur. Wajahnya terlihat bingung menatap lelaki yang ada di depannya.
Zaidan melebarkan senyum melihat reaksi Delmira.
"Sudah pernah aku peringatkan, jangan tidur sore hari. Kalau bangun jadi linglung kan?" ucap Zaidan dengan gemas menoel hidung Delmira.
Delmira terdiam, menatap dengan seksama lelaki yang berbicara padanya.
"Maaf." Hanya itu yang mampu Delmira ucapkan dengan lirih.
Zaidan tersenyum mendengar kata maaf dari Delmira, "sudah makan?" lontarnya kemudian.
Delmira terdiam.
"Pasti belum. Kita makan," ajak Zaidan meraih tangan istrinya.
Refleks Delmira menampik tangan Zaidan. Namun, reaksi Zaidan bukanlah marah melainkan tersenyum. Senyum yang biasa dia layangkan ketika sang istri menunjukkan kejutekannya. Bukankah itu hal yang biasa dia lakukan.
"A... aku bisa jalan sendiri," ujar Delmira, entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa bersalah sudah menampik tangan Zaidan. Kakinya pun melangkah terlebih dahulu dan Zaidan mengekor langkahnya.
"Ummi belum pulang?" tanya Delmira ketika duduk di kursi makan, matanya memandang ke arah pintu kamar Aisyah yang terlihat sepi.
"Mungkin besok," jawab Zaidan.
Dua hari ini Aisyah pergi ke rumah saudara yang sedang mengadakan acara hajatan. Delmira sengaja tidak diajak karena Aisyah tahu jadwal pulang Zaidan satu hari sebelum kepulangannya. Jadi Aisyah tidak mungkin mengajak Delmira.
"Makanlah yang banyak," ucap Zaidan.
__ADS_1
Delmira hanya mengembangkan senyum. Nyatanya dia tidak berselera untuk mengisi piringnya dengan porsi makan yang banyak. Kalau tidak enak karena menolak ajakan Zaidan tentu saja Delmira malas untuk mengisi perutnya.
Mereka hening, dengan pikiran masing-masing dan menikmati hidangan.
"Tadi malam sampai rumah jam berapa?" tanya Zaidan membuka suara.
Delmira semakin lemah mengunyah makanan yang ada di mulut.
Zaidan terdiam menunggu jawaban Delmira.
"Ta... tadi malam aku nginap di... di rumah Meilin," sahut Delmira dengan suara terbata. Untuk waktu sekarang Delmira tidak mungkin berkata jujur mengenai keadaannya pada Zaidan.
"Mengapa kirim pesan kalau kamu semalam sudah di jalan?" selidik Zaidan.
"Sudah di jalan?" ulang Delmira terkejut, merasa dirinya tidak mengirim pesan apapun pada Zaidan.
"Ya."
"Oh... itu, ya tadinya aku akan pulang, tapi Meilin minta ditemenin tidur, katanya kangen tidur bareng-bareng" sahut Delmira dengan gelagap.
'Pasti yang mengirim pesan itu Meilin,' batin Delmira berkata.
"Pagi tadi kamu tidak ke rumah sakit?"
"Aku kesiangan," jawab Delmira, Nasi dan lauk yang baru dimakan beberapa suap Delmira geser dari tempatnya, "Aku sudah makannya," sambungnya gegas beranjak dari kursi dan berjalan menuju ke kamar.
"Maafkan aku Zaid," lirih Delmira, tubuhnya luruh di balik pintu yang telah dia tutup.
...****************...
Satu minggu berlalu. Delmira mencoba berdamai dengan keadaan tapi jelas hati kecilnya tidak dapat menerima semua yang menimpa pada dirinya.
'Apa yang menimpaku sekarang tidak ada sangkut pautnya dengan Zaidan. Bukankah dari awal aku yang mengatakan sendiri, aku akan meninggalkannya. Harusnya sekarang waktu yang terbaik untuk meninggalkan dia,' keluh batin Delmira.
Sudah satu minggu berlalu tetapi pikirannya benar-benar tidak fokus untuk melakukan apapun. Seperti saat ini, di tempat kerja pun dia tidak dapat bekerja dengan maksimal.
"Del, Nak Delmira..., makan siang yuk," ajak Aisyah.
"Del...," ulang Aisyah karena Delmira tetap saja tidak menyahut ajakannya.
"Hai...," Aisyah mengelus punggung Delmira.
"Jangan sentuh!" teriak Delmira reflek.
Aisyah nampak terkejut dengan reaksi Delmira.
"Ini Ummi Sayang," ujar Aisyah.
__ADS_1
Delmira mengempaskan napasnya lalu meraup wajahnya.
"Maaf Ummi, aku... aku kira... ."
"Aku kira?" tanya Aisyah karena Delmira menggantung kalimatnya.
"Aku kira orang jahat," jawab Delmira sekenanya.
"Oh... ya Allah, anak Ummi kok sampai ngelamun dan teriak seperti itu. Yuk makan siang biar nggak oleng," canda Aisyah.
Delmira tersenyum lalu bangkit dari duduknya.
Di kantin, hal yang sama juga ditunjukkan Delmira. Dia sering melamun ketika diajak bicara Aisyah sering tidak menyahut dengan cepat bahkan jawabnya sering tidak nyambung.
...****************...
"Kamu ada masalah dengan Delmira Nak?" tanya Aisyah ketika dirinya menyempatkan waktu mengunjungi anaknya di tempat kerja.
"Kenapa Ummi menanyakan itu?"
"Oh, kemarin Ummi ajak dia makan siang tapi dia seperti punya masalah dan banyak beban pikiran," jawab Aisyah.
'Itu juga yang ada dalam benakku Ummi, akhir-akhir ini Delmira bertingkah aneh,' jawab Zaidan tentunya hanya mampu tersimpan dalam batin karena tidak ingin menerka hal yang belum jelas kebenarannya.
"Mungkin itu hanya perasaan Ummi," sahut Zaidan, "Ummi kan tahu, permasalahanku dengan Delmira ya permasalahan klasik," sambungnya.
"Permasalahan klasik? Maksudnya?"
"Dia belum membuka hati untukku," jawab Zaidan.
Sontak membuat Aisyah terkekeh. "Makanya Zaid, pepet dia terus jangan kasih kendor dan sekali-kali ajak dia jalan-jalan berdua."
"Jalan berdua? Ya Allah...ide yang bagus Ummi. Aku ajak dia kencan. Kenapa aku tidak pernah terpikir untuk itu Ummi?"
"Kamu terlalu sibuk mikirin kerja sih."
"Tidak juga Ummi, malah pekerjaanku sering di handle Fernando."
"Besok mumpung weekend, ajak dia jalan ke tempat yang ingin dia kunjungi."
"Siap Ummi."
"Kalau perlu, ajak dia berlibur sampai beberapa hari. Soal izin kerja gampang deh, yang punya rumah sakit kan Ummi. Kepentingan kalian jauh lebih penting dari hal apapun," ucap Aisyah dengan antusias mengajukan saran.
Zaidan mengangguk dengan melempar sebuah senyum.
siang menyapa π€ jangan lupa like komen hadiah vote rate π lope lope untuk kalian yang masih mendukung cerita ku iniπππ₯°
__ADS_1