Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 99


__ADS_3

Memasuki minggu ke-32 usia kehamilan Delmira, Zaidan memang sudah cuti kerja. Semua pekerjaan dia lakukan dari rumah. Hal itu untuk mengantisipasi agar tidak terjadi suatu hal yang tidak dia inginkan.


Pagi menjelang siang, Zaidan sudah memakai kaos dan celana panjang sedangkan Delmira memilih memakai baju terusan yang berbahan adem. Hari ini, sesuai saran dari ummi Aisyah, Zaidan akhirnya mengajak Delmira untuk ke luar rumah.


"Kita mau kemana?" lontar Zaidan karena sedari tadi Zaidan menanyakan itu tapi Delmira hanya menjawab kalau sudah di mobil nanti dia akan diberi tahu.


Delmira nyeringis, matanya dia kedip-kedipkan secara cepat, "Ke taman hiburan yuk," ajak Delmira.


"Kamu mau naik wahana yang menegangkan itu?" seru Zaidan, sebagai bentuk protes atas permintaan Delmira.


Delmira menggeleng.


"Aku kira, kamu mau naik wahana-wahana yang menantang adrenalin itu."


Zaidan mengempaskan napas lega.


"Ok, kita ke sana, bismillahirrahmanirrahim," ujar Zaidan penuh semangat, menjalankan mobil.


Mobil itu gegas bergulir membelah jalanan kota, empat puluh lima menit kemudian, sampailah mobil itu di lokasi.


Zaidan membuka pintu mobil untuk Delmira, tangannya menempel di langit pintu mengantisipasi kepala Delmira agar tidak terbentur olehnya.


"Terima kasih Sayang," ucap Delmira setelah tubuhnya turun dari mobil.


"Sama-sama," sahut Zaidan lalu meraih tangan sang istri untuk jalan bersama.


"Berasa kereta gandeng," ledek Delmira.


Zaidan membalas dengan sebuah senyum, "Lebih baik dikatain kereta gandeng dari pada urusannya jadi berabe kalau sampai kamu ilang," balas Zaidan.


Zaidan segera ke tempat penjualan tiket. Setelah mendapat tiket itu, mereka berpindah ke pintu masuk.


"Janji ya, tidak naik wahana menegangkan," retoris Zaidan memastikan istrinya benar-benar tidak naik wahana tersebut.


"Ya, aku janji Sayang," jawab Delmira.


Benar saja, kaki Delmira langsung melangkah ke wahana jamur apung. Wahana ini hanya sebuah wahana air yang sama sekali tidak memicu adrenalin. Kita hanya duduk seperti di atas perahu kecil tapi bentuk perahu itu bulat bak jamur.


Selesai naik wahana itu, Delmira berpindah naik ke wahana komedi putar. Di wahana ini, hanya naik kuda buatan lalu berputar pelan. Namun, selesai naik wahana komedi putar, Delmira berhenti di wahana paku bumi. Wahana yang memacu adrenalin karena kita akan dinaikkan hingga 20 meteran setelah itu dihempaskan ke bawah, naik turun, turun naik, sekitar 5 menit. Namun, sensasinya luar biasa.


"Kamu mau naik?" lontar Zaidan memastikan sang istri yang hanya mematung di depan wahana itu.


Delmira menggeleng pelan, "Cuma mau lihat," sahutnya kemudian.


Zaidan terlihat lega.


Beberapa dari mereka yang menaiki wahana itu lalu turun. Delmira tetap berdiri di depan wahana itu hingga 3 kali putaran orang bergantian naik turun.


Delmira tersenyum menatap Zaidan.


"Kenapa senyuman kamu menakutkan," lirih Zaidan, apalagi tangan Delmira langsung menggelayut di lengannya, membuat Zaidan semakin merinding.


"Boleh aku bicara Sayang," ucap Delmira dengan nada memanja.


"Bicara saja Sayang," sahut Zaidan.

__ADS_1


"Tapi ..., aku takut dosa," lirih Delmira, tertunduk lemas.


Zaidan menatap telisik, "Katakan saja Sayang biar suamimu ini tidak penasaran."


"Sebenarnya... ."


Delmira terlihat diam tidak melanjutkan kalimat.


"Sebenarnya apa?" lontar Zaidan yang semakin dibuat penasaran oleh sang istri.


Delmira kembali nyeringis.


"Daria awal hamil aku pengen lihat kamu naik wahana yang menantang adrenalin," lirih Delmira menyampaikannya, "kebetulan hari ini kamu ajak aku keluar, ya sudah aku minta ke sini," sambung Delmira.


Zaidan menelan salivanya dengan susah, permintaan Delmira sungguh berat.


"Kamu mau ngerjain aku?" lontar Zaidan yang hanya mampu dia gumamkan.


Delmira menggeleng kepala dengan cepat.


"Kita cari wahana lain," ajak Delmira merangkul tangan Zaidan dan sedikit menarik tangan suaminya, untuk mengalihkan permintaan dirinya yang memang konyol.


Delmira berhenti seketika karena yang dia gandeng memberatkan diri untuk melangkah bersama.


"Kamu harus lihat suamimu naik wahana ini," seru Zaidan, melepas gandeng Delmira dan telunjuknya menunjuk ke arah wahana paku bumi.


Dua sudut bibir Delmira sontak dia tarik membentuk sebuah senyum yang lebar. Tangan Delmira mengepal lalu menyerukan sebuah kata semangat pada sang suami.


"Semangat Sayang!" teriaknya kembali.


Zaidan tersenyum dan mengacungkan jari jempol sebagai jawaban dari sebuah support yang diberikan sang istri.


Jelas takutlah.


Tapi kenapa tetap ngotot naik ke wahana paku bumi?


Apalagi kalau bukan demi istri tercinta.


'Aku harus mencetak senyum kebahagiaan di wajah kamu Sayang,' gumam batin Zaidan.


Kalau kamu mati karena naik wahana itu bagaimana Zaid?


'Lawan rasa takut dengan sebuah keberanian!' sambung batin Zaidan penuh dengan semangat.


Posisi penumpang sudah penuh. Sabuk pengaman telah terpasang dengan pas. Operator gegas mengecek tiap penumpang. Setelah semua dirasa aman sesuai standar dan prosedur, mesin wahana dioperasikan.


Sahutan jerit mewarnai setiap gerak permainan tersebut, sebentar ya hanya sebentar tapi... bagaimana dengan lelaki yang baru saja turun dari wahana itu?


Delmira gegas menghampiri Zaidan, ada senyum, tawa, dan dua jempol tangan diacungkan Delmira untuk suaminya.


"Hebat kamu Sayang, hebat, hebat," puji Delmira.


Zaidan tetap diam, wajahnya terlihat pucat, mulutnya seakan kaku untuk sekedar membalas pujian yang terlontar dari mulut sang istri.


Aku ke toilet dulu," ucap Zaidan langkah lari menuju toilet yang tersedia di wahana itu.

__ADS_1


Delmira mengekor langkah cepat Zaidan.


Sepuluh menit kemudian, Zaidan baru keluar dari toilet.


Mata Zaidan langsung menatap ke arah terakhir kali dia meninggalkan Delmira.


"Dia ada dimana?" gumam Zaidan kakinya cepat melangkah.


"Aku di sini Zaid," seru Delmira dan otomatis menghentikan langkah Zaidan.


"Kamu muntah?" selidik Delmira, matanya menelisik setiap inci wajah suaminya.


"Sepertinya perutku yg tidak bisa diajak kompromi."


Delmira tersenyum lalu menepuk pelan pipi kanan sang suami, "Seharusnya kamu jangan nekat Sayang. Kalau terjadi apa-apa dengan kamu?"


Zaidan tersenyum, membalas perlakuan Delmira dengan menepuk pelan pipi sang istri.


"Kita isi ulang perut yang sudah kosong ini," pinta Delmira.


Zaidan mengangguk menurut kemauan Delmira untuk makan.


"Mau makan apa Zaid?"


"Apapun asal bisa mengisi perut ku," sahut Zaidan.


Delmira tersenyum mendengar balasan Zaidan.


Mereka lebih memilih makan di luar wahana.


Mobil yang mereka naiki bergulir memasuki jalanan kota, berderu bising di antara yang lain.


Sampailah mereka di salah satu rumah makan favorit Delmira.


Setelah memesan dua bungkus nasi rendang bakar, mereka segera menyantap nasi itu.


Diam-diam Delmira mencuri pandang pada wajah suaminya, 'Kenapa kamu begitu tampan Zaid?' batin Delmira berucap.


"Ada apa Sayang?" lontar Zaidan merasa aneh melihat istrinya menahan senyum.


Delmira gegas menggelengkan kepala.


"Tidak mungkin tidak ada apa-apa," gumam Zaidan, matanya berpindah menelisik ke arah Delmira.


Delmira gegas menarik senyum yang sedari tadi menghias wajahnya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" sungut Delmira.


"Kamu sangat cantik," ucap Zaidan.


Senyum yang sempat Delmira tarik kini dia kembangkan kembali, "Serius Sayang?" lirih Delmira mendekat kan wajahnya ke Zaidan.


Zaidan mengangguk pelan karena merasa kaget dengan sikap Delmira.


"Aku ke belakang dulu ya," pamit Delmira tanpa mendengar jawaban Zaidan Delmira gegas ke toilet.

__ADS_1


"Apa aku salah ucap? Apa dia marah aku puji seperti dia cantik?" gumam Zaidan karena luar biasa sikap istrinya, emosi nya naik turun, mood-nya juga sering naik turun. Sering bukan kadang lagi, masalah sepele dibesar-besarkan. Cuma sekali lagi, Zaidan memang harus super sabar.


siang menyapa 🤗 like komen hadiah vote 🙏


__ADS_2