
'Masya Allah Zaidan,' batin Delmira menyebut nama lelaki yang ada di dalam foto itu. Tangannya tanpa sadar mengelus wajah lelaki yang terpampang di layar ponselnya.
"Non,"
Delmira menoleh mendengar panggilan dari Sa'diyah.
"Wajah Non terlihat pucat," telisik Sa'diyah.
"Oh..., mungkin tadi malam kurang tidur Mbok," jawab Delmira sebagai alasan.
"Lelaki itu sering kali ke sini, apa karena itu kamu jadi tidak bisa tidur?"
Delmira menggeleng, melebarkan senyum.
"Dia sebenarnya baik Mbok, jangan terlalu mengkhawatirkan aku."
"Bagaimana bisa Non bilang dia baik. Dulu pernah mengancam Non untuk gugurkan kandungan Non, walaupun dia sudah mulai bersikap baik, tetap saja Mbok itu masih khawatir takut dia akan berbuat jahat lagi."
Flashback on
Tiga bulan yang lalu, tepatnya 1 Minggu setelah kedatangan Verel untuk pertama kali menemui Delmira, dia datang kembali.
Saat itu Verel datang membawa bukti foto Delmira yang sedang memeriksa kehamilannya di sebuah klinik puskesmas.
"Kamu tetap mau menyangkal?" ucap Verel dengan sikapnya yang acuh.
"Delmira melihat foto yang ditunjukkan Verel.
Delmira terdiam sejenak lalu mulutnya membuka suara, "Ya benar, aku hamil," ujar Delmira saat itu.
"Apakah itu bayiku?"
Delmira diam kembali. Rasanya berat mengakui kalau anak dalam kandungannya adalah anak dari Verel. Walaupun keluh akhirnya dia mengakuinya.
"Ya, ini anak kamu," lirih Delmira.
"Gugurkan!"
Satu kata yang keluar dari mulut Verel membuatnya meradang, mata Delmira nyala dan tatapannya penuh amarah.
"Kamu bilang apa?!"
"Gugurkan kandungan itu!"
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Verel hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Kamu berani menamparku hah!" geram Verel mencengkeram pipi Delmira.
"Jangankan menamparmu! Membunuhmu pun aku tidak akan takut!" ancam balik Delmira.
Verel melepas cengkeramannya dengan hempasan kasar. Dengusan napasnya menandakan kalau dia begitu marah dengan sikap Delmira.
"Apa mau kamu?!" tanya Verel.
"Mau aku, kamu pergi jauh dari hidupku!" jawab Delmira dengan mantap.
"Kalau kamu mau menggugurkan bayi itu, aku tidak akan menampakkan wajahku di depanmu!"
__ADS_1
"Beri aku alasan mengapa kamu tidak menginginkan bayi ini lahir ke dunia?"
"Dia hanya benalu!"
"Hanya itu?"
Delmira menatap Verel dengan sengit, lelaki itu tidak memberi lagi jawaban.
"Kalau itu alasan kamu, pergilah jauh-jauh dariku!"
Verel mendengus kesal. "Wanita seperti kamu ternyata lebih licik dari Meilin!" ejeknya membuat Delmira menatap Verel dengan tatapan tajam.
"Mengapa kamu bandingkan kehamilanku dengan kelicikan Meilin?!"
Verel terkekeh. "Aku sangat paham jalan pikiran licikmu!"
Verel diam membalas tatapan Delmira, "Kamu akan gunakan anak ini untuk menguasai hartaku kan?" Verel kembali tertawa sengit, "Kamu berakting menjauh dariku, setelah dia lahir, baru kamu datang padaku dan mengatakan kalau anak itu anakku, lalu kamu gunakan akal licik kamu untuk meminta harta yang kumiliki!"
Delmira tertawa, dua tangannya bertepuk tangan.
"Ide kamu boleh juga! Kalau begitu, sekarang pergilah! Tunggu anak ini lahir, nanti aku akan datang padamu!" jawab Delmira matanya masih memandang dengan sengit.
Verel terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apalagi.
"Aku bilang pergi!" teriak Delmira, "Pergi!" teriakannya semakin meninggi membuat mbok Sa'diyah dan Safira keluar dari dalam rumah.
"Ada apa ini?!" tanya Sa'diyah dengan kalut, "Kamu mau macam-macam dengan non Delmira hah?! Sekarang pergi! Kalau tidak pergi, aku teriak agar warga datang ke sini!" ancam Sa'diyah.
"Pergi!" histeris Delmira.
Raka langsung menarik Verel untuk segera pergi dari rumah itu. Mereka lalu melajukan mobilnya menjauh.
"Buatkan teh Saf," titah Sa'diyah.
"Ya Mbah," jawab Safira gegas masuk ke dalam. Sedangkan mbok Sa'diyah menuntun Delmira masuk ke dalam rumah.
Mobil yang dikemudikan Raka terus bergulir hingga memasuki pusat kota.
"Mengapa masuk ke hotel?" protes Verel, ternyata mobilnya memilih belok ke arah hotel dari pada melanjutkan lajunya untuk pulang ke Jakarta.
"Aku juga manusia Tuan, butuh untuk istirahat. Kita baru saja mendarat di Jakarta, langsung meluncur ke Pekalongan dan Tuan sekarang memintaku untuk kembali ke Jakarta? Ckckck... kejamnya dirimu Tuan," balas Raka.
Verel tidak menyahuti ucapan Raka dia memilih untuk turun dari mobil dan berjalan ke arah resepsionis untuk memesan kamar.
"Tuan jauh-jauh terbang dari Maurice hanya mencari keributan dengan non Delmira?" lontar Raka setelah mereka masuk kamar hotel.
"Kalau aku tahu begini, aku tidak akan menemani Tuan sampai ke sini!" sambung Raka dan Verel hanya diam. Kakinya justru melangkah ke kamar mandi untuk bebersih diri.
"Aku sedang bicara dengan kamu Tuan, apa kamu pura-pura tidak mendengar atau memang tuli beneran?"
Verel membuka pintu kamar mandi lalu melempar handuk ke Raka, hingga wajah sang asisten tertutup handuk itu.
"Lebih baik kamu diam!" seru Verel kakinya masuk kembali ke kamar mandi.
Raka meraih handuk yang menutupi wajahnya dengan geram.
"Dasar laki-laki labil! Apakah orang jatuh cinta akan seperti itu semua? Pikiran dan tindakannya tidak labil. Dari kemarin uring-uringan memikirkan sang pujaan hati. Giliran bertemu malah bicara yang tidak semestinya dia katakan," ucap Raka menggelengkan kepalanya.
Sepuluh menit kemudian, Verel keluar kamar mandi.
__ADS_1
"Besok kita temui Delmira lagi,"
"Untuk apa Tuan? Apa tuan lanjut mau memintanya menggugurkan kandungan?"
"Tidak!"
"Lalu?" cecar Raka karena jalan pikir dari tuannya tidak dapat ditebak.
Verel menatap tajam ke arah Raka.
"Besok kamu juga tahu!" sahut Verel.
"Kalau sampai terbawa emosi lagi, aku tidak akan mengantar kamu Tuan, aku malu."
...****************...
Delmira keluar kamar setelah dipanggil Safira karena ada tamu untuknya.
Delmira diam, menatap jengah melihat sosok yang duduk di kursi teras rumah.
"Kamu tidak ingin berkata apapun?" lontar Verel karena Delmira hanya diam sedari tadi.
Raka terlihat mengempaskan napasnya, merasa tidak habis pikir, apa yang ada di otak tuannya, "Bener-bener cinta itu membuat orang secerdas dia pun menjadi sebodoh ini," gumamnya.
Delmira terlihat jengah, tidak habis pikir kenapa dia yang malah melontarkan tanya seperti itu, "Katakanlah apa yang ingin kamu katakan!" cekat Delmira.
"Kembali ke Jakarta!"
Delmira mendengus, menarik satu sudut bibirnya. "Kalau bicara yang jelas."
"Kita menikah!"
Delmira membulatkan matanya dan terkekeh mendengar titah atau mungkin sebuah lamaran atau mungkin itu sebuah paksaan.
"Dia melamar orang atau memaksa orang?!" heran Raka dengan lirih.
"Itu tidak lucu," ucap Delmira menghentikan tawanya seketika.
"Setelah aku pikir-pikir, bayi dalam kandungan kamu tidak bersalah. Jadi, biarlah aku ikut mengurusnya," dalih Verel.
"Syukurlah kalau kamu menyadari itu, dia memang suci, tidak sedikitpun dosa menempel di bayi ini," jawab Delmira mengelus perutnya yang masih rata, "Kamu tahu, sangat berbahaya kalau ibu hamil itu stres. Juga perlu kamu tahu, kedatanganmu membuat stresku meningkat 90%. Jadi, aku minta, biarlah aku tenang dengan hidupku. Kamu jangan khawatir, aku akan jaga dia dengan segenap jiwa ragaku," terang Delmira.
"Kamu jangan egois, bayi itu juga menjadi tanggung jawabku!" sanggah Verel.
"Kalau kedatangan kamu hanya untuk berdebat masalah ini, sebaiknya kamu pergi!"
"Dia bayiku juga. Aku tidak ingin dianggap ayah durhaka olehnya."
"Tuan Verel jangan khawatir, dia tidak kekurangan sedikitpun kasih sayang. Aku janji, aku tidak akan menutupi siapa ayah kandungnya. Suatu saat aku akan perkenalkan dia padamu."
"Tetap saja itu tidak adil buatnya. Bukankah sejak dari dalam kandungan dia harus diberi kasih sayang oleh ayahnya?"
Delmira menatap tajam ke arah Verel.
'Seandainya aku mengandung anak Zaidan, pasti... pasti tidak semenyakitkan ini, ya Tuhan penguasa alam semesta, maafkan segala dosaku,' batin Delmira bergejolak, melihat niat baik Verel dirinya malah teringat akan segala kebaikan yang selalu Zaidan tunjukkan padanya.
malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏
sabar... kak Mel pengen kalian kenal Verel terlebih dahulu ya🏃🏃🏃
__ADS_1