Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 104


__ADS_3

Namun, seketika dia tundukkan dan kepalanya menggeleng sebagai jawaban tidak atas pertanyaan yang diajukan ibu mertuanya.


Aisyah mengempaskan napas, "Ingat Del, stres itu pemicu segala penyakit. Seorang ibu menyusui jangan sampai stres karena berpengaruh terhadap produksi ASI.


"Ya Ummi," jawab Delmira.


"Biar Ummi yang gendong Kaffah," tawar Aisyah, dua tangannya direntangkan.


Delmira menyerahkan Kaffah pada Aisyah.


"Masya Allah, anak salehnya siapa ini?" ucap Aisyah menimang sang bayi setelah Kaffah berada di gendongannya.


"Anaknya Papyang Zaidan dan Momyang Delmira ya?" lanjut Aisyah.


Delmira tersenyum mendengar timangan Aisyah.


"Kamu duduk saja, Ummi yang salawatin biar tidur," pinta Aisyah.


"Ya Ummi."


"Kalau mau tidur ya tidur saja," sambung Aisyah.


Delmira mengangguk, menyandarkan tubuhnya pada ranjang yang ada di kamar twins baby.


Salawat badar menjadi andalan sebagai senandung pengantar tidur ketika Aisyah menimang cucunya. Benar saja, tidak lama kemudian, Kaffah terpulas. Namun, kini berganti Kahfi yang terbangun.


"Waduh, Kahfi iri ya ingin ditimang Eyang?" lontar Aisyah pada bayi yang menangis itu.


Aisyah gegas mengambil bayi itu dari tangan Delmira.


"Ummi capek, biar sama aku saja," ujar Delmira.


"Kalau Ummi capek nanti Ummi kasihkan ke kamu," balas Aisyah.


Delmira menatap jam dinding kembali. Sudah setengah jam tapi tidak juga ada kabar dari Zaidan.


Aisyah terlihat menaruh Kahfi yang sedari tadi tidur dalam gendongannya setelah beberapa kali diputarkan senandung salawat badar.


"Ummi, apa kita lapor polisi saja?" ucap Delmira.


"Hust! Jangan begitu, insyaallah sebentar lagi juga Zaidan pulang."


"Aku coba hubungi Zaidan kembali," ujar Delmira tangannya bergerak menyentuh layar ponsel. Namun, panggilan itu tetap saja tidak terhubung.


"Assalamualaikum," sapa seseorang dari balik pintu.

__ADS_1


"Waalaikum salam, alhamdulillah ya Allah... orang yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang," seru Aisyah.


Delmira mendekat ke arah Zaidan mencium takdhim punggung tangan suaminya.


"Dari tadi istri kamu khawatir Zaid," ujar Aisyah.


"Maaf Momyang, ponselku baterai nya habis."


"Ponsel Fernando, apakah juga habis baterai nya?" telisik Delmira.


Mata Zaidan menatap ke arah sang istri lalu berpindah ke arah ummi nya.


Sebuah anggukan ditunjukkan Zaidan.


"Terlalu mengada-ada," lirih Delmira bibirnya mengerucut.


"Baterai ponsel Fernando habis saat masih di dealer AZM, dia isi baterainya tapi ketika akan pergi malah lupa untuk membawanya," terang Zaidan.


"Emmm," dengung Delmira sebagai jawaban, entah kenapa merasa jengah mendengar alasan Zaidan.


"Aku ke atas dulu Ummi," pamit Delmira kemudian melangkah keluar kamar bayi kembarnya.


"Aku juga pamit Ummi," izin Zaidan.


"Tunggu!" cegat Aisyah, membuat Zaidan menghentikan langkahnya.


Zaidan tersenyum lalu mengacungkan jempol, "Siap Ummi!" balasannya kemudian berlalu.


"Sus Fina, Sus Dila, jaga Kaffah dan Kahfi ya."


"Ya Ummi," sahut keduanya.


Si kembar memang sudah mulai tidur dengan dua suster sejak mereka sudah tidak ASI eksklusif. Awalnya terasa berat karena setiap malam sebelum usia mereka menginjak 6 bulan, selalu satu ranjang dengan Delmira dan Zaidan. Perlu penyesuaian diri untuk tidak satu ranjang, bahkan di dalam ranjang sendiri.


Baik Delmira maupun Zaidan tidak begitu khawatir karena si kembar sudah makan pendamping ASI, jadi ketika malam, si kembar sudah dipastikan tidak akan lapar, bahkan tidurnya juga nyenyak hingga pagi hari.


Zaidan berjalan pelan ketika sudah masuk ke kamar.


Mata Delmira menatap seperti elang tatkala suaminya akan berlalu dari pandangannya.


"Keluar kota kenapa tidak bilang dulu?!" hardik Delmira dan sebenarnya pertanyaan tersebut ingin dia lontarkan sewaktu ada di kamar si kembar.


"Itu mendadak dan maaf Papyang tidak sempat memberi tahu kamu karena baterai habis."


"Siapa yang tanya baterai ponsel kamu yang habis!" sahut Delmira masih dengan tatapan elang yang siap menerkam.

__ADS_1


Zaidan menarik napas dalam-dalam lalu membuang perlahan, tanpa menyahuti ucapan Delmira kakinya hendak melangkah ke kamar mandi.


"Aku tanya ya dijawab jangan main melongos!" seru Delmira.


"Tadi_"


Zaidan menghentikan ucapannya, dia teringat akan nasihat dari Umminya, lebih baik diam. Bukankah tadi sudah memberi penjelasan.


"Aku mandi dulu," pamit Zaidan tubuhnya gegas masuk kamar mandi.


"Kita selesaikan dulu Zaid!" teriak Delmira menahan amarah.


"Awas saja alasannya keluar kota tapi kenyataannya bertemu dengan wanita!" geram Delmira.


Trauma akan masa lalu masih saja menghantui hidupnya, walaupun dari lubuk hati terdalam percaya dengan Zaidan namun lubuk hatinya pula ada rasa was-was yang menderanya.


"Manusia itu bisa berubah kapan saja. Kelihatannya saja baik ternyata main di belakang kita, itu juga bisa."


Nasehat dari Yasmin masih saja terngiang-ngiang di telinga Delmira karena Yasmin juga bernasib sama dengan dirinya. Bedanya Yasmin dapat membongkar semua kebusukan suaminya hingga keputusan untuk bercerai.


Sedangkan dirinya, di hadapkan pada hal yang terasa abu dan mengambang. Delmira menemukan bukti perselingkuhan almarhum suaminya tapi sang suami tidak mengkonfirmasi bukti tersebut secara langsung karena Tuhan telah memanggilnya.


Sepuluh menit kemudian Zaidan keluar kamar mandi.


Terlihat Delmira masih memangku tangan, seperti sengaja menunggu sang suami selesai mandi.


Zaidan melirik ke arah Delmira, "Momyang tidak tidur?" lontar Zaidan dengan lembut.


"Tidak ngantuk!" jawab Delmira dengan ketus.


Zaidan menelan salivanya dengan sulit mendengar jawaban Delmira.


"Kalau begitu, Papyang... tidur dulu ya," pamit Zaidan.


Zaidan terdiam menunggu jawaban dari mulut Delmira. Namun, wanitanya tetap saja diam seribu bahasa.


Dengan langkah pelan, Zaidan melangkah ke ranjang tidur, merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.


Tidak selang berapa lama, tubuh Zaidan terlihat sudah tidak bergerak dan terdengar napasnya teratur, menandakan lelaki itu sudah tertidur pulas.


Sedikitpun mata Delmira tidak dia pejamkan. Rasa lelah dan kantuk hilang seketika. Amarahnya belum juga reda. Namun, tak dipungkiri, semakin lama dirinya mematung diri di sofa sambil menatap lelakinya yang malah enakan tidur, itu jelas semakin membuat otaknya jadi tidak waras.


Kaki Delmira bergerak, melangkah mendekat ke ranjang. Tapi sebelum pantatnya dia dudukkan di ranjang, matanya berpindah pandang ke arah pintu kamar mandi. Dia ingat belum mencuci muka dan melakukan ritual memanjakan wajah. Namun, biasanya malas tidak malas tetap dia lakukan. Lain dengan sekarang, bukan malas yang menggiring tapi sungkan dan dongkol masih menguasai diri hingga mau melakukan apapun terasa berat.


Baru sebentar Delmira mendudukkan pantat di ranjang tapi seketika itu pula dia bangkit.

__ADS_1


"Pandai merawat diri saja dicueki seperti ini! Apalagi tidak!" gumam Delmira gegas ke kamar mandi untuk bebersih diri.


sore menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2