Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 130


__ADS_3

"Hei, jangan main kabur!? Si Pe'i tahu segalanya tentang kamu, sedangkan saudara kembarmu ini sedikit pun tidak tahu, kamu sudah bosan selama 15 tahun jadi saudara ku?!" cecar Kaffah.


"Hei!" seru Kaffah karena Kahfi hanya menggeleng dan melempar senyum.


"Issst! Kebiasaan tuh anak! Aku tidak butuh senyummu!" sungut Kaffah lalu masuk untuk mandi.


...****************...


"Boleh aku bantu," tawar Kahfi saat bel istirahat, dia berjalan menuju perpustakaan dan berpapasan dengan Icha dan Sasi yang sedang membawa buku paket.


"Terima kasih Kahfi, aku bisa sendiri kok. Lagian nih sudah sampai perpustakaan," tolak Icha dengan santun dan tepat kakinya sudah menginjak gedung perpustakaan.


Kahfi melebarkan senyum.


"Sudah berapa buku yang kamu lahap?" lontar Icha, lalu duduk di depan Kahfi, meja menjadi pembatas di antara keduanya.


Kahfi hanya membalas dengan senyum.


"Kak Sasi tidak ikut baca?" lontar Kahfi, memastikan keberadaan teman Icha.


"Dia ke kantin, katanya belum sarapan," jawab Icha.


"Selamat ya, terpilih sebagai ketua PMR," sambung Icha tangannya merogoh saku rok lalu mengeluarkan sebuah hadiah bungkusan kecil.


Kahfi menutup bukunya lalu melihat kado yang diberikan Icha.


"Apa?" lontar Kahfi, seakan ingin tahu isi dalam kotak kecil itu sebelum dirinya membukanya.


"Lihat saja," ujar Icha, memangku dagu dengan dua tangan.


"Aku buka," izin Kahfi.


Icha mengangguk.


Kahfi tersenyum melihat isi kotak kecil tersebut berisi peluit.


"Kamu yang malas bicara cukup bunyikan peluit kalau mau mengumpulkan anak-anak PMR."


Kahfi melebarkan senyumnya kembali.


Bukan tanpa sebab mengapa Kahfi akhirnya setelah menjadi anggota PMR lalu dua bulan kemudian, ada pemilihan ketua PMR, dia terpilih menjadi ketua.


Hal itu karena penampilan Kahfi yang selalu memikat siapa pun yang melihatnya. Cerdas, tampan, santun, walau pun minim bicara tapi sekali bicara pasti berbobot dan sangat memancarkan aura kecerdasannya.


"Aku keluar ya, ada urusan penting," pamit Icha.


Kahfi tersenyum lalu menganggukkan kepala.


Icha pun pergi dari hadapan Kahfi.


Sementara itu, Kaffah sedang rapat untuk kegiatan sosial ekskul bela diri.


"Kita buat atraksi seni bela diri, dari pentas seni itu, kita galang dana lalu sumbangkan ke panti asuhan," usul Nabila.


"Menurut kamu Kaff?" tanya Faiz, sang ketua bela diri.


"Boleh juga idenya," jawab Kaffah.


"Untuk susunan acara, aku serahkan sepenuhnya pada kamu dan Nabila," ujarnya kemudian.

__ADS_1


"Kenapa harus aku?" protes Kaffah, "dipasangkan dengan cewek jadi-jadian lagi!" sambungnya.


"Ya Tuhan, siapa juga yang mau dipasangkan dengan kamu! Mending sama curut selokan!" sahut Nabila.


"Semoga Allah mendengar doa kamu!" ujar Kaffah.


"Issst! Kalian itu ya, setiap kali bertemu pasti cekcok," sela Devi.


"Dia yang mulai!" ucap Nabila dan Kaffah bersamaan dengan saling mengacungkan telunjuk masing-masing.


Devi tersenyum, "Tuh kan, kalian itu ibarat nya begini, saling benci kalau bertemu tapi kalau berpisah bakal saling kangen," ledek Devi.


"Tidak akan!" Kembali mereka berucap kompak.


"Tuh kan," sambung Devi.


"Iya, mereka bakal jodoh deh."


"Jadian saja Kaff, Nabila cantik juga loh."


"Aku berani taruhan, kalau mereka bakal saling cinta."


"Ibaratnya benci jadi cinta."


"Ingat benci dan cinta beda tipis."


Mereka saling bersahutat-sahutan memprediksi apa yang akan terjadi pada Kaffah dan Nabila kedepannya.


"Yang masih ngawur ngomong, aku tinggal nih. Jangan harap minta traktiran," ujar Kaffah, bangkit dari duduk, "kita ke kantin, makan yang seger dan pedes yuk," ajaknya kemudian berjalan terlebih dahulu.


"Kamu yang traktir Kaff?"


"Hei! Kita belum selesai rapat!" kesal Nabila.


"Gara-gara kamu mood aku jadi berantakan, dan satu-satunya cara ya makan yang pedas."


"Kalian, kalian jangan bubar dulu!" seru Nabila, mencegah yang lainnya bubar diri.


"Maaf, kita lapar Nabila. Rapat dilanjutkan di istirahat ke-dua," sahut lainnya.


"Issst! Memang tuh orang biang kerok?" sungut Nabila.


Anggota bela diri memang sudah sangat akrab. Mereka seperti saudara satu dengan lain. Bahkan semboyan mereka, merasa sakit kalau ada teman sakit, merasa bahagia kalau teman juga bahagia.


Tiga bulan bersama, membuat jalinan persahabatan mereka semakin erat. Tidak pandang sabuk yang sudah masing-masing disandang, yang penting satu rasa, satu jiwa.


...****************...


"Apa aku salah cek?" gumam Delmira, tangannya membuka kembali laporan keuangan yang diberikan bendahara rumah sakit.


Delmira mengempaskan napas kasar, mata memejam, jarinya memijat dua pelipisnya.


"Dini," tolong kemas semuanya. Nanti aku cek di rumah," pinta Delmira.


"Oh, masih perlu dicek Bu?" lontar Dini.


Delmira mengangguk.


Matanya berpindah tatap ke arah jam dinding yang terpasang tepat menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Sudah sore, sebaiknya aku pulang," ujar Delmira, tangannya bergerak mengambil ponsel lalu memesan taksi online.


Hari ini Zaidan tidak bisa menjemputnya karena ada pekerjaan di luar kota.


Sore, malam, dan semakin malam.


Delmira masih sibuk dengan berkas-berkas yang dia bawa dari rumah sakit.


"Sudah malam Momyang, kenapa belum tidur?" lontar Zaidan, walaupun sangat mengantuk karena lelah dari perjalanan nular kota, tapi kakinya mendekat ke arah sang istri yang masih duduk di sofa kamar.


"Bentar lagi Papyang," sahut Delmira tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


"Ada masalah di rumah sakit?"


Delmira mengalihkan tatapan ke Zaidan.


"Sudah Papyang tidur saja, nanti Momyang nyusul," ujar Delmira menyentuh lembut pipi kanan suaminya.


"Bantal guling Papyang tertinggal di sofa," canda Zaidan merangkul bahu sang istri.


Delmira tersenyum mendengar canda suaminya.


"Serius sekali, ada masalah di rumah sakit?" ulang Zaidan.


"Ada perbedaan jumlah klaim asuransi pemerintah."


"Maksudnya?"


"Jadi, aku melihat seperti ada kecurangan input data untuk klaim asuransi pemerintah. Misala saja, reelnya kita menerima pasien asuransi pemerintah sejumlah 100 tapi yang dilaporkan ke kantor asuransi pemerintah lebih dari itu," terang Delmira.


"Kok bisa? Apa mungkin Momyang salah cek?"


Delmira menggeleng, "Sudah aku cek beberapa kali, tetap saja penemuanku begitu."


"Momyang tidak cek dari awal?"


Lagi Delmira menggeleng.


Zaidan meraih beberapa berkas untuk dia cocokkan.


"Benar Momyang, ada yang berbeda dari laporan," seru Zaidan setelah membaca dengan seksama berkas-berkas yang dia periksa.


"Astaghfirullah haladhim, Momyang harus bagaimana nih Papyang?"


"Pantesan saja asuransi dari pemerintah itu meminta bagian keuangan untuk mengecek kembali laporannya," ujar Delmira.


"Apa itu artinya, rumah sakit belum menerima pembayaran klaim asuransi pemerintah?"


Delmira mengangguk pelan.


Zaidan terdiam.


"Kemungkinan kejadian ini bukan untuk pertama kalinya," gumam Zaidan.


"Apa berarti ada yang tidak beres di bagian keuangan?" tanya Delmira.


"Betul Momyang. Tapi maaf, ini juga bagian tanggung jawab Momyang, karena Momyang pimpinan rumah sakit," ujar Zaidan.


Delmira mendengus. Ucapan Zaidan memang halus, tapi sangat menohok hatinya.

__ADS_1


__ADS_2