Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 16


__ADS_3

"Abah juga titip Nak Delmira pada kalian," lanjut Fatah tentunya kalimat itu tertuju pada Zaidan dan Aisyah.


Aisyah mengangguk lalu mengelus tangan suaminya.


"Kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Fatah pada Zaidan.


"Oh...," Zaidan terlihat gelagap, "Insyaallah akan aku jaga Delmira Bah," lanjut Zaidan.


Fatah tersenyum.


"Terima kasih Zaid," jawab Fatah.


"Oya, Ummi di rumah sakit ada lowongan? Delmira ingin kerja." tanya Zaidan mengalihkan pembicaraan.


"Kamu itu aneh, dua hari kemarin kamu kan sudah tanya ini ke Ummi dan Ummi meminta kamu mengantar Delmira ke rumah sakit untuk membawa CV dan berkas penunjang yang lainnya," balas Aisyah.


Zaidan hanya tersenyum.


"Zaidan sudah menanyakan ini ke Ummi?" ulang Delmira merasa tadi pagi dirinya baru meminta Zaidan untuk mencarikan lowongan kerja.


"Ya, kata Zaidan sepertinya kamu bosan hanya di rumah jadi dia mau menawarkan kamu kerja biar ada kegiatan," jawab Aisyah.


Mata Delmira melirik ke arah Zaidan, 'Mengapa tadi pagi berdebat seolah melarang aku untuk kerja?!' geram batin Delmira.


"Ummi minta nomor ponsel kamu," pinta Aisyah menyodorkan ponsel ke arah Delmira agar mengetik di ponselnya.


Delmira menyerahkan ponsel milik mertuanya setelah menulis 12 digit angka di ponsel berlogo apel tidak utuh itu.


Drt


drt


drt...


Tangan Delmira merogoh ponsel yang ada dalam tas.


"Itu nomor Ummi, segera nanti Ummi kirim syarat berkas yang harus kamu penuhi," tutur Aisyah melihat Delmira mengusap ponsel.


Delmira mengangguk, "Rumah sakit ini punya Ummi?" tanyanya kemudian.


Aisyah tersenyum mendengar lontar Delmira.


"Rumah sakit ini hanya titipan dari Allah, kapan saja Allah bisa ambil," sahut Aisyah.


"Ummi hebat loh," puji Delmira mengangkat dua jempol membuat Aisyah tersenyum karenanya.


"Laporan dari Fernando ternyata benar. Kamu yang lebih hebat, bisa cairkan si es kutub," canda Aisyah dengan tawa, tangannya menyenggol lengan Zaidan ketika menyebut si es kutub.


"Ummi," protes Delmira dengan wajah yang tertekuk membuat Aisyah semakin terkekeh.


'Aku harus yakin, pilihan abah benar. Delmira terlihat apa adanya. Walaupun jelas dilihat dari penampilan, dia jauh dibandingkan Khanza. Tidak mungkin hanya karena merasa bersalah atas tragedi tabrakan dengan keluarga Delmira, abah meminta Zaidan untuk menikah dengan Delmira. Pasti ada hal istimewa yang dimiliki wanita ini dan aku harus menguaknya,' batin Aisyah.

__ADS_1


Zaidan menatap interaksi sang istri dengan ummi Aisyah, dua sudut bibirnya dia tarik. Entah hatinya merasa senang melihat keduanya langsung menunjukkan keakraban.


"Aku ke toilet dulu," pamit Delmira.


Delmira berjalan ke wastafel setelah masuk ke toilet.


Dipandanglah wajahnya sendiri yang terpampang dalam cermin di atas wastafel tersebut.


'Harusnya kamu marah Del dengan mereka! Bukan malah sok akrab dengan mereka!' protes batin Delmira mengingat kejadian tadi.


'Harus kamu ingat! Dia yang membuat kamu kehilangan keluarga kamu!' lanjut batin Delmira dengan sengit.


'Itu takdir Del, Tuhan menyiapkan jalan terbaik untuk kamu,' batin lain Delmira berkata.


'Kamu terlalu lemah untuk bicara seperti itu! Realitanya dialah pembunuh keluarga kamu!'


Dua kata hati bersaing, masing-masing ingin menguasai otak si pemiliknya.


Delmira mengempaskan napas kasar. Mengambil air dan membasuh wajahnya. Merasa belum tenang beberapa kali air itu dibasuhkan kembali. Hingga suara ketukan pintu dari luar membuyarkan pertikaian batinnya.


"Del... Delmira...," panggil suara dari luar.


"Ya sebentar," jawab Delmira. Tangannya meraba kotak tisu.


"Kenapa tisunya habis!" gerutu Delmira.


Dengan terpaksa tangannya yang bergerak membersihkan sisa-sisa air yang ada di wajah.


"Ya Ummi, tadi... tadi perut aku mules," jawab Delmira sebagai alasan.


"Ummi tinggal ke kantor dulu, tadi staf Ummi telepon ada tamu penting," pamit Aisyah.


Delmira mengangguk. Matanya memandang mertuanya yang berjalan ke luar ruangan hingga bayang tubuh itu tak terlihat.


Zaidan masih diam terpaku melihat Delmira, entah kenapa sisa-sisa air yang masih terlihat di dua alis, di mata lentiknya, dan anakan rambut membuat wajah Delmira terlihat semakin cantik.


"Abah tidur?" retoris Delmira setelah matanya memandang ke ranjang pasien.


"Oh... ya," jawab Zaidan dengan gelagap karena pertanyaan itu membuyarkan lamunannya.


"Tidur di jam 9 pagi tidak bagus untuk kesehatan," ujar Delmira.


"Kata Ummi semalam hingga pagi tadi Abah tidak tidur," balas Zaidan.


Delmira mengangguk pelan mendengar balasan Zaidan.


"Ada tisu Zaid? Tisu di toilet habis, wajah aku masih terasa basah karena tadi aku basuh," retoris Delmira karena dirinya melihat tisu di atas nakas dekat ranjang pasien. Namun, Delmira merasa risih akan mengambilnya.


"Biar aku bersihkan," sahut Zaidan tanpa persetujuan Delmira dan bukannya mengambil tisu tapi tangan Zaidan bergerak lembut membersihkan sisa-sisa air di wajah istrinya.


Delmira terdiam seketika saat merasakan lembut gerakan tangan lelaki yang duduk tepat di depannya.

__ADS_1


"Pejamkan mata kamu," pinta Zaidan.


Tanpa penolakan Delmira mengikuti apa yang dititahkan Zaidan, matanya terpejam penuh.


Zaidan merasakan jantungnya berdetak hebat tatkala mata itu benar-benar Delmira pejamkan. Jakunnya naik turun melihat pemandangan yang menggoda iman, dengan sedikit gemetar, Zaidan membersihkan sisa air yang menempel di dua bulu mata Delmira.


"Sudah," ucap Zaidan.


Mata Delmira dibuka perlahan. Tepat di depannya terpampang jelas wajah Zaidan yang belum menjauh dari wajahnya.


Delmira mengerucutkan bibirnya membalas tatapan Zaidan, "Apa aku terlihat sangat cantik sampai kamu betah memandangku seperti ini?!" sindir Delmira.


Dua sudut bibir Zaidan dia tarik membentuk sebuah senyum dan segera posisi duduknya dia benarkan lalu bergeser sedikit menjauh, dan pandangannya beralih ke depan.


"Malah senyum!" gerutu Delmira.


Mata Delmira kini membulat. 'Ya ampun Del! Lagi-lagi aset kamu tersentuh olehnya!' monolog batin Delmira, baru menyadari mengapa dia mempersilakan Zaidan membersihkan sisa-sisa air di wajahnya.


'Sial!' lanjut batin Delmira.


...****************...


"Kamu sudah sangat tepat mengambil langkah itu Del. Ambil hati Zaidan dan orang tuanya lalu empaskan mereka hingga ke dasar lautan." jawab Meilin ketika Delmira menghubunginya untuk mengonsultasikan masalah tentang kerja di rumah sakit milik orang tua Zaidan. Mereka kini di kafe tempat mereka biasa bertemu.


"Apa aku minta kerja di dealer saja?"


"Dealer mana? Milik Zaidan?" cecar Meilin.


"Iya," jawab Delmira.


"Dia kaya juga, punya rumah sakit, punya dealer," sahut Meilin.


"Aku tidak bahas kekayaan dia, aku sedang minta pertimbangan kamu. Enaknya kerja dengan Zaidan atau orang tuanya?" protes Delmira membuat Meilin menarik dua sudut bibirnya.


"Kalau menurutku lebih baik kerja dengan Zaidan biar kalian tambah dekat," ujar Meilin.


"Tapi kalau dekat dengan dia ada-ada saja kesalahanku," lirih Delmira.


"Maksud kamu?"


"Oh... maksud aku ya itu kesalahan, misal saja membuat minuman tidak sesuai selera dia," jawab Delmira dengan gelagap karena tidak mungkin Delmira menyampaikan maksud sebenarnya. Ya maksud sebenarnya yaitu kesalahan dirinya yang sudah membuat peraturan 'Jangan pernah sentuh asetku!'. Namun, kenyataannya aset itu biasa tersentuh bahkan kemarin dirinya sendiri memberi izin pada Zaidan untuk mengelap mukanya yang basah karena air.


"Terus ngapain tadi kamu memberi opsi kerja di dealer Zaidan?"


Delmira tersenyum nyeringis merasa benar apa yang dikatakan Meilin.


Meilin mengempaskan napas, terlihat kesal. Tangannya kini bergerak mengelus tengkuk leher.


'Tunggu! Syal itu? Sepertinya pernah kulihat, tapi dimana?' batin Delmira penuh tanya ketika matanya menatap ke leher Meilin.


"Syal kamu bagus Mei, beli dimana?" tanya Delmira.

__ADS_1


pagi menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


__ADS_2