
"Zaid, gosok lagi," pinta Delmira.
"Hmmm," sahut Zaidan, matanya tetap dia pejamkan. Hampir setiap malam ini yang dia lakukan, menggosok-gosok punggung istrinya yang hamil tua.
"Zaid," panggil Delmira karena tangan itu sudah tidak lagi menggosok punggungnya.
"Sayang," panggil Delmira dengan sapaan lain, berharap sang suami bangun.
Dengan payah, Delmira membalikkan posisi tidurnya, menghadap ke arah Zaidan. Dilihatlah sang suami yang sudah tertidur lelap, mulut sedikit terbuka.
"Punggung aku masih pegal dan gatal," sungut Delmira.
Lamat mata Zaidan dia buka, "Maaf aku ketiduran Sayang," lirih Zaidan.
Sebuah senyum tergambar di wajah Delmira, "Sudah kamu tidur saja," sahut Delmira.
Zaidan membalas dengan senyum kaku, "Kamu juga perlu tidur Sayang."
Delmira mengangguk matanya langsung dia pejamkan.
Tangan Zaidan bergerak mengelus kepala Delmira lalu berpindah ke perut yang semakin membuncit.
"Dia aktif sekali Sayang," seru Zaidan mendapat respon dari bayi yang ada dalam perut Delmira, mata Zaidan langsung terbuka penuh.
"Hmmm," sahut Delmira yang sudah mencoba memejamkan matanya.
Setiap malam selalu seperti ini. Delmira mengalami kesulitan tidur. Bahkan pernah sekali dia sama sekali tidak tidur karena perut yang semakin begah.
"Sudah tidak sabar ingin melihat mereka," gumam Zaidan tanpa mendapat sahutan dari sang istri karena dia sudah terlelap.
...****************...
Delmira menatap telisik pada lingkar hitam mata yang terlihat begitu jelas.
"Kenapa Sayang?" tanya Zaidan.
"Berasa jadi panda," sahut Delmira, bibirnya mengerucut.
"Tetap cantik kok, kata siapa besar kayak panda?"
Delmira memicingkan dua alisnya mendengar sahutan Zaidan.
"Kamu ngatain aku gendut Sayang?!" sungut Delmira.
"Siapa yang ngatain kamu gendut?" gemas Zaidan mencubit dia pipi sang istri.
Delmira gegas menampik tangan Zaidan.
"Orang lagi hamil ya jelas aku terlihat gendut, kenapa juga pakai digamblaingin kalua aku gendutan! Lagian aku itu merasa kaya panda bukan dilihat dari bentuk tubuh aku! Tapi mata nih, yang item kayak panda!" oceh Delmira, lalu kakinya melangkah keluar kamar.
Zaidan mematung, mendengar ocehan sang istri.
"Salah lagi," keluh Zaidan, merasa pasrah karena dirinya tahu sendiri. Orang hamil memang emosinya naik turun, dan sangat sensitif.
__ADS_1
Zaidan berjalan menuruni anakan tangga. Kakinya kini memutar ke arah dapur.
Dilihatlah wanita yang dia cari, "Masak apa Sayang? Ada yang bisa aku bantu?" sapa dan tawarnya kemudian.
"Tidak lihat apa? Ini masak terong bakar," ketus Delmira.
"Galak bener," lirih Zaidan.
Delmira langsung melirik ke arah Zaidan.
"Kamu kenapa sih Zaid? Sensitif sekali? Jawabanku benar kan? Aku memang sedang masak terong bakar? Lagian kamu sendiri lihat aku sedang ngupas kulit terong bakar, kenapa masih kamu tanyakan aku masak apa?!" geram Delmira.
Zaidan kembali mematung. Diam seketika. Namun batinnya sebenarnya sudah meronta-ronta ingin menjawab apa yang dituturkan Delmira.
'Sabar Zaidan, sabar, sabar, sabar, ingat! Istri kamu masih hamil. Biasanya dia juga tidak seperti ini kan? Kalau kamu sampai ladenin tuh ocehan istrimu, bisa pecah deh rumah kamu,' ucap batin Zaidan yang mendapat bisikan malaikat.
Beda hal dengan batin Zaidan yang mendapat bisikan dari syetan, 'Zaid! Lu mau direndahin ame istri lu hah?! Lawan dia! Jawab dia! Kalau lu diemin aje, ntuh wanita bakal ngulang kek gitu lagi! Maen bentak ame suami! Kagak tahu ape suaminye udeh kerja keras banting tulang buat nyukupi semua kebutuhannye! Eh, dia bicara ketus kek gitu!"
Delmira melanjutkan kegiatan memasaknya. Sedangkan Zaidan lebih memilih untuk pergi meninggalkan Delmira, dan duduk di ruang tengah.
"Istri lagi sibuk masak, suami malah enak-enakan duduk santai sambil main ponsel!" gumam Delmira saat melewati ruang tengah.
Zaidan yang mendengar itu hanya bisa mengelus dadanya.
"Salah lagi, mau bantu tadi diomeli. Giliran aku pilih duduk saja eh, omeli lagi," ujar Zaidan.
Ummi Aisyah yang kebetulan baru pulang dari kantor hanya tersenyum mendengar keluhan Zaidan.
"Sing sabar anak lanangku (Yang sabar putraku)," ujar Aisyah menepuk halus pundak Zaidan.
"Ada apa?"
Zaidan tersenyum membalas, "Menghadapi ibu hamil harus sabar kan Ummi," ujar Zaidan bukan menjawab pertanyaan dari Aisyah.
"Betul sekali. Yang penting, istri tidak sampai melenceng dari koridor agama. Kalau benar seperti itu, ingatkan."
Zaidan mengangguk.
"Kalau kalian bosen di rumah terus, jalan-jalan saja. Coba tawarkan itu pada Delmira. Dia juga butuh refreshing biar otak nggak putek mikirin rutinitas."
"Aku takut nanti di jalan terjadi apa-apa dengan Delmira Ummi," sahut Zaidan.
"Tidak mengapa. Justru, hamil tua itu otaknya harus rileks, beraktivitas seperti biasa, tidak usah dibatasi selama si wanita masih mampu melakukan aktivitas itu."
Memang Zaidan terlalu protektif terhadap kehamilan Delmira. Dia sering melarang ini, itu, yang sekiranya bisa menggangu kesehatan kehamilan Delmira. Bahkan yang dibilang orang mitos, Zaidan juga memperingatkan itu pada Delmira.
Contoh saja memakan terong, Zaidan pernah mendapat nasehat dari salah satu klien nya tentang mitos seorang wanita hamil memakan sayur terong. Zaidan pun akhirnya melarang Delmira untuk memakannya, takutnya terjadi apa-apa dengan si jabang bayi, karena klien itu mengatakan, wanita hamil yang suka memakan terong, bayinya akan lahir besar, normal, sehat, tapi lama-kelamaan, bayi itu tidak tumbuh dengan normal, bahkan ukuran tubuhnya terlihat mengecil.
Delmira tidak begitu saja terima nasehat itu.
"Kalau itu makanan halal, ya sudah aku makan," jawab Delmira saat itu.
Padahal, sebelum istrinya hamil, Zaidan termasuk orang yang tidak langsung percaya begitu saja mengenai mitos yang berkembang di masyarakat.
__ADS_1
"Ok, besok aku ajak Delmira jalan-jalan," jawab Zaidan.
"Ummi," sapa Delmira mendekat ke arah Aisyah. Dia mencium takdhim tangan sang mertua.
"Jangan terlalu capek Nak," ucap Aisyah.
"Tidak kok Ummi, nanti kalau aku capek, aku istirahat," jawab Delmira.
"Maaf Nyonya, padahal aku sudah melarang Non Delmira ke dapur, tetap saja Non tidak mau dengar," sela mbok Muna.
Aisyah tersenyum membalas ucapan wanita paruh baya itu.
"Biarkan saja Mbok, selama itu menyenangkan buat Delmira, ya biarkan saja," ujar Aisyah.
"Ya Nya," sahut mbok Muna kemudian melangkah pergi dari ruang makan.
...****************...
Malam hari telah menyapa.
Zaidan terlihat berjalan mendekat ke sofa yang diduduki sang istri.
"Kamu suka sekali dengar lagu itu?" lontar Zaidan.
Tangan Delmira bergerak memutar lagi lagu Huwan nuur yang dinyanyikan ai Khadijah.
Delmira melirik ke arah Zaidan yang sudah mendudukkan pantat di sebelahnya. Tanpa menyahuti pertanyaan Zaidan, kepalanya dimiringkan dan disandarkan pada bahu Zaidan.
"Aku sangat suka lagu ini Sayang."
"Lagunya memang enak didengar, dan sarat akan nilai pelajaran," ucap Zaidan.
"Huwannuur yahdiil haa iriina dliyaauhu
Dialah Nabi SAW pelita cahaya yang memberi petunjuk orang-orang yang bimbang."
Satu bait syair, Zaidan nyanyi dan artikan.
Delmira tersenyum mendengar suara Zaidan, dan baru kali ini dia mendengar Zaidan bernyanyi.
"Suara kamu ternyata bagus Zaid," puji Delmira.
"Semoga, anakku yang laki-laki nanti suaranya bagus seperti papanya," ucap Delmira, dua sudut bibirnya ditarik membentuk sebuah senyum, dan tangannya bergerak mencubit gemas pipi kanan sang suami.
"Semoga pula yang perempuan nanti suaranya sebagus ai Khadijah," sahut Zaidan dengan senyum mengembang.
"Kenapa harus didoakan mirip wanita lain?!" sahut Delmira dengan mimik yang berubah. Bibir mengerucut dan terlihat lekukan rona mode tidak suka pada seuntai doa yang dilontarkan suaminya.
Delmira langsung bangkit, menjauh dari Zaidan dan lebih memilih duduk di ranjang.
"Salah lagi salah lagi," gumam Zaidan tangannya bergerak menepuk jidatnya.
siang menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate.
__ADS_1
maaf, apa kalian sewaktu hamil juga kayak Delmira 😁