Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 135


__ADS_3

"Lagian siapa juga yang rebutin kamu!" protes Nabila dengan gumaman.


Terpaksa dia mengulang pel kembali lantai yang mendapat jejak kaki Kaffah.


"Apa perlu aku kasih pengumuman! Aku tidak naksir Kaffah! Sial banget sih! Sudah gitu sering kena bullying gara-gara gosip itu lagi! Ada yang bilang orang miskin kek aku jangan ngayal dapat orang tajir, ada yang bilang anak kumel kayak aku gag pantaslah bersanding dengan sang pangeran! Belum lagi, diomongin cewek jadi-jadian tidak pantas jatuh cinta! Issst! Menyebalkan semua!" gerutu Nabila tapi tangan dan kakinya gerak untuk menyelesaikan hukuman dari bu Irma.


"Akhirnya selesai," ujar Nabila setelah semuanya lantai bersih dipel.


Tangannya bergerak membersihkan pel yang baru dia pakai, di keran depan perpustakaan.


"Hai, kamu yang ngepel?" tanya seorang siswi, dia berdiri di depan Nabila, sambil melayangkan senyum.


Nabila sempat diam melongo lalu akhirnya menganggukkan kepala.


"Emmm, Mbak... Mbak Icha?" lontar Nabila dengan suara gagap karena saking senangnya disapa oleh siswi populer.


Siswi itu tersenyum lebar, "Ya, aku Icha," sahutnya.


Nabila langsung mengelap tangannya yang basah dengan bajunya, lalu menyodorkan tangan yang bersih dan kering itu pada Icha.


"Aku Nabila," ucapnya memperkenalkan diri.


"Icha," sahut Icha, membalas uluran tangan Nabila.


"Kalau dari dekat, Mbak terlihat sangat cantik," gumam Nabila, mengagumi kecantikan Icha yang paripurna. Rambut hitam tidak terlalu pendek juga tidak panjang hanya sebatas bahu, mata besar warna coklat, hidung mancung nan runcing, kulitnya terawat sawo matang tapi lebih terang, tinggi sekitar 170 cm, bentuk tubuh ideal, giginya putih, bibirnya begitu sensual. Belum lagi, wangi tubuhnya, pakaian rapi, bersih, dan sepatu yang jelas tidak murah harganya.


"Kamu berlebihan, kamu juga cantik loh. Pantesan saja Ariyana takut Kaffah lebih memilih kamu," sahut Icha.


Nabila melongo, seorang kakak senior yang populer saja sampai tahu berita tersebut.


"Kakak tahu itu? Apa beritanya menggegerkan warga SMA Merdeka Berbudi?" lirih Nabila


Icha tersenyum lalu menganggukkan kepala.


Terdengar Nabila mengempaskan napasnya lalu bibirnya mengerucut, "Sungguh memalukan," gumamnya kemudian.


"Tidak ada yang memalukan, Kaffah cakep loh," canda Icha, menepuk pelan bahu Nabila, "aku ke perpustakaan dulu ya," pamitnya kemudian.


"Ya Kak," balas Nabila, matanya tetap menatap ke arah Icha hingga tubuhnya tidak terlihat karena sudah masuk ke dalam ruang baca.


"Aku harus ambil langkah nyata! Jangan sampai gosip itu makin tidak-tidak," ujar Nabila kemudian melangkah pergi.


Kakinya melangkah cepat dan terkesan lari sambil membawa alat pel dan ember. Karena terlalu terburu-buru tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang.

__ADS_1


Bugh.


Nabila tetap berdiri hanya tubuhnya sedikit geser mundur tapi siswa yang tertabrak Nabila terjatuh.


Nabila sebenarnya mau minta maaf karena sudah menabrak seseorang hingga terjatuh. Namun, saat melihat wajah korban, Nabila malah terkekeh.


"Ampun deh! Cuma senggol dikit langsung ambruk!" ejek Nabila.


"Eh, aku tidak boleh sok akrab dengan kamu deng," sambung Nabila, menutup mulutnya lalu ambil langkah seribu alias kabur.


"Siape sih! Nabrak lu kagak ada maaf maen kabur!" lontar Pe'i, lari ke arah Kahfi yang sedang membersihkan celana kotornya karena tadi terjatuh.


"Sepertinya dia salah sangka," ujar Kahfi malah tersenyum.


"Salah sangka begimane?! Jelas-jelas ntuh anak nabrak lu!" dongkol Pe'i.


"Yuk ah, ke perpustakaan saja. Kita sudah ditunggu di dalam," ajak Kahfi tanpa memberi penjelasan yang lebih detail pada Pe'i.


Sementara itu.


Nabila yang masih dalam keadaan lari tiba-tiba terjatuh karena kembali menabrak seseorang.


"Aduh!" seru Nabila lalu gegas bangkit, mata Nabila membulat saat melihat siswa yang dia tabrak.


"Oh, jadi kamu dendam ke aku hah?! Tadi karena kamu jatuh, akhirnya balas aku biar gantian aku yang jatuh?! Jadi cowok Cemen banget sih, cuma kayak gini langsung mbales! Emang tadi aku salah karena tidak sempat minta maaf ke kamu, tapi nggak harus bales kayak gini juga kale!" oceh Nabila tanpa sedetikpun memberi kesempatan Kaffah untuk berbicara. Setiap mulut Kaffah membuka untuk menyela pasti Nabila nerocos tanpa henti.


"Sudah!" sahut Nabila singkat, kakinya beranjak akan pergi namun kerah baju bagian belakang ditarik oleh Kaffah.


"Auw! Auw sakit tahu! Kamu mau bunuh aku!" teriak Nabila, terbatuk-btuk karena lehernya merasa sesak.


Kaffah melepas tarikannya.


"Tunggu! Pertama, aku mau jelaskan, pasti yang jadi korban tabrak pertama kamu itu Kahfi, kembaranku. Yang kedua, korban tabrak kamu berikutnya tidak akan menuntut apapun. Cukup kata maaf yang memang harus kamu ucapkan," terang Kaffah.


Nabila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, terlihat nyeringis karena otaknya baru berpikir jernih. Ya, Kaffah itu punya saudara kembar dan membenarkan apa yang diucapkan Kaffah.


"Min-ta ma-af," ucap Kaffah, mengeja kalimatnya sebagai penegasan agar Nabila mengucapkan maaf.


"He he, ya aku minta maaf Kaffah yang baik hati badan tidak sombong," balas Nabila.


Tapi apa yang dilakukan Kaffah, dia langsung pergi tanpa menjawab ucap Nabila.


"Hei! Aku minta maaf sama kamu, kenapa kamu tidak jawab permintaan maafku!" teriak Nabila.

__ADS_1


Namun Kaffah tetap saja melangkahkan kakinya.


"Huh! Dasar cowok sinting!" sambung Nabila masih dengan teriaknya.


Tanpa disadari, siswa-siswi yang ada di sekitar Nabila mengarahkan pandangan ke arahnya.


Nabila nyeringis tidak jelas, badannya memutar lalu ambil langkah cepat untuk pergi dari situ, tangan kanannya menutup sebelah wajah untuk sedikit menutup malunya.


"Bodoh kamu Nabila, malah teriak-teriak! Dipandang anak-anak lain kan jadinya!" umpat Nabila pada diri sendiri.


...****************...


Zaidan diam, "Itu mengapa Papyang tidak mengizinkan kamu memberitahukan penyelidikan ini padanya," sahut Zaidan.


"Apa itu berarti..., Papyang mencurigainya?"


"Begitulah, kamu sudah sangat mempercayai dia. Bahkan untuk hal sepenting ini juga kamu percayakan pada dia. Tapi namanya manusia, terkadang ada sebagian dari mereka malah menyalahgunakan kepercayaan yang sudah kita berikan," sahut Zaidan.


Delmira mengempaskan napasnya kasar.


"Aku rasa tidak mungkin Papyang. Mengapa dia melakukan ini padaku, gajinya menjadi asisten sudah lebih dari cukup menurut aku," ujar Delmira.


Zaidan diam, semua bukti memang belum mengarah pada Dini. Namun, entah kenapa dirinya merasa mencurigainya.


"Kita lanjutkan saja penyelidikan ini."


"Semua berkas sudah terkumpul. Langsung panggil mereka saja!" titah Zaidan menyerahkan bukti-bukti.


Delmira gegas memangil bagian keuangan dan bagian pendataan pasien.


Mereka masuk ke ruangan lalu duduk di sofa setelah dipersilahkan Delmira untuk duduk.


"Milik siapa?" lontar Delmira memberikan stop map berwarna biru.


Mimik mereka terlihat kecut.


Tangan Bu Hilda bergerak mangambil map itu lalu membukanya.


"Apa anda lupa untuk menyimpan di tempat yang aman?" retoris Delmira.


Dua orang itu saling pandang, lalu menundukkan pandangannya.


"Seratus juta lebih selisih dari data yang sebenarnya. Anda kemanakan uang itu?!" cecar Delmira.

__ADS_1


Mereka masih diam.


"Anda kemanakan uangnya!" ulang Delmira dengan suara meninggi


__ADS_2