Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab140


__ADS_3

Kahfi menolehkan pandangan ke arah siswa yang ditunjuk Pe'i.


"Kenapa harus kamu yang menangani Icha," lontar Bryan atau tepatnya sebuah intimidasi untuk Kahfi, langkah kakinya dia hentikan tepat di depan siswa yang dianggap menjadi saingannya.


Kahfi diam, percuma berdebat dengan orang macam Bryan.


Bryan mendecih merasa tidak mendapat respon dari Kahfi. Kakinya kemudian dia lanjutkan untuk melangkah masuk ke ruang UKS.


"Kamu mau kemana?" cekat Kahfi memasang tangan di depan dada Bryan.


Bryan sontak menolehkan pandangan sengit dan tajam ke Kahfi.


"Mau ke swalayan!" jawab Bryan dengan geram mendengar retoris yang terlontar dari mulut Kahfi, "hah, sudah jelas aku mau masuk menjenguk Icha masih kamu tanya!" imbuhnya.


"Biarlah dia istirahat," larang Bryan.


"Oh, beraninya kamu nglarang-nglarang aku!" geram Bryan menarik kerah baju Kahfi.


"Sudah aku video kelakuan kalian," sela seseorang yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Dia menunjukkan ponsel yang baru dia pakai.


"Kaffah," lirih Kahfi menyebut nama siswa yang muncul dihadapannya.


Bryan menatap tajam ke arah Kaffah, lalu dengan terpaksa melepas cengkramannya diiringi hempasan napas kasar.


"Hapus tidak?!" gertak Bryan dengan suara kencang dan mata tajam.


"Aku tidak mau buat keributan, cukup kamu pergi, masalah ini selesai," jawab Kaffah dengan santai tapi tatapannya tidak kalah tajam.


"Kamu!?" tunjuk Bryan matanya nyala, kemudian tangan terkepal.


"Jangan khawatir, aku selalu menepati janjiku, apalagi hanya menghapus video tadi. Kalau kamu tidak mengancam, mencelakai adikku, pasti akan aku hapus," ujar Kaffah.


"Aye nyang bakal ngawasi. Ape lu bener-bener ngelakuin nyang diminta Kaffah, ape kagak?!" sela Pe'i.


"Kita pergi!" ajak Bryan pada dua teman, agar mengekor langkahnya.


Pe'i tertawa senang, merasa menang dari kakak senior yang terkenal dengan kearogannya itu.


'Brengsek! Aku tidak mungkin melawannya! Ternyata dia anak orang tajir. Belum lagi orang tuanya ternyata salah satu donatur di SMA ini!" monolog batin Bryan.


'Kalau dengan Kahfi aku masih bisa menggertaknya, tapi kalau dengan Kaffah, dia tidak balas melawanku saja sudah untung! Dia menjadi siswa terbaik di bela diri. Bisa-bisa bonyok nih muka aku,' sambung batin Bryan.


"Perlu aku ambil ponsel milik Kaffah? Takutnya dia malah tidak menghapus video kita?" tawar Morgan.


"Tidak perlu!" jawab singkat Bryan.


"Tapi kalau dia tidak menghapus video itu bagaimana?"


Bryan mengehentikan langkah kakinya, menatap tajam ke arah David, "Dia pasti hapus!" seru Bryan, melanjutkan langkahnya.


"Kamu takut dengan dia?!" lontar David merasa tidak suka dengan jawaban Bryan yang tidak jantan.


"Kamu bilang apa hah?! Aku takut dengan dia?!" geram Bryan mencengkeram kuat kerah baju David hingga lelaki itu sulit untuk bernapas.


"Hei Bryan! Lepasin! Kamu apa-apaan sih! Kita semua itu sahabat?" teriak Morgan, berusaha melerai cengkeraman tangan Bryan.

__ADS_1


Akhirnya, dengan tenaga lebih Morgan dapat melepas cengkraman tangan Bryan.


"Jangan gila! Pakai otak, jangan emosi saja yang kamu kedepankan!" geram Morgan, yang biasanya berani bicara macam-macam atau menentang apa yang diperintahkan Bryan, dia sampai berani berucap semacam itu.


Bryan menatap tidak suka ke arah Morgan, tanpa bicara apapun dirinya melangkah pergi terlebih dahulu meninggalkan dua sahabatnya.


Sementara itu, Kaffah lebih memilih duduk di samping Kahfi.


"Dia sakit?" lontar Kaffah.


Kahfi mengangguk.


"Sakit apa?"


"Kepalanya pusing, tidak sempat sarapan."


"Orang tuanya tidak buatin dia sarapan? Atau orang tuanya tidak punya uang untuk beli sarapan?" cecar Kaffah.


"Woe! Aku tanya kenapa kamu hanya diam?" desak Kaffah melihat saudara kembarnya memilih diam tidak buka suara.


"Aku tidak tahu," sahut Kahfi dengan entengnya.


"Kamu...," tunjuk Kaffah menjeda kalimatnya, "jangan bilang kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!"


Kembali Kahfi terdiam, sungguh ucapan Kaffah seperti sebuah tamparan untuk dirinya. Entah kenapa merasa seperti itu. Toh kalaupun dirinya tidak tahu mengenai info pribadi tentang Icha tidak jadi mengapa kan, Icha kan bukan kekasih dirinya.


Tet


tet


"Sudah bel masuk, aku ke kelas dulu. Ingat, kalau mau dekati seseorang, kamu juga harus tahu mengenai pribadinya," ujar Kaffah sebelum meninggalkan Kahfi.


"Samakan pesan aye ame saudara kembar lu. Inget barang istimewa ntuh sulit kite dapet, perlu kerja keras," sambung Pe'i kakinya juga melangkah pergi menuju kelas.


Kahfi masih terdiam diri. Tubuhnya memutar, dia harus memastikan terlebih dahulu keadaan Icha sebelum ke kelas. Namun, ketika tangannya akan menyentuh gagang pintu, tiba-tiba pintu terbuka.


Muncul dua siswi yang tadi ada di dalam ruangan untuk menjaga anak-anak yang sakit di UKS.


"Bagaimana keadaan Icha," lontar Kahfi.


Dua siswi itu bukannya menjawab, malah terbengong menatap wajah Kahfi.


"Kak, hai...," panggil Kahfi melambaikan tangan di depan muka dua siswi tadi.


Keduanya nyeringis, "Maaf, tadi tanya apa?" lontar salah satu siswi.


"Astaghfirullah haladhim," lirih Kahfi beristighfar, "bagaimana keadaan Icha?"


"Oh, dia sudah membaik, tadi tidur mungkin karena pengaruh obat," sahutnya.


Kahfi mengempaskan napas, ada perasaan lega. Setelah mengucapkan terima kasih pada dua siswi itu, Kahfi pergi meninggalkan ruang UKS.


Walaupun sebenarnya Kahfi ingin melihat langsung keadaan Icha tapi itu tidak mungkin, di dalam tidak ada siapapun kecuali Icha. Pasti akan timbul sebuah fitnah kalau Kahfi melakukan itu. Sang dokter saat itu memang tidak ada, Beliau izin ada kepentingan yang sangat mendesak.


...****************...

__ADS_1


Delmira duduk membaca laporan keuangan yang dibuat staf keuangan.


"Ada apa Momyang?" tanya Zaidan mendekat kearah Delmira yang duduk di sofa kamar.


Delmira memberikan laptop yang dia pegang.


Zaidan memeriksa laporan tersebut dengan teliti.


"Jumlah uang yang kita keluarkan untuk menutup biaya operasional rumah sakit tidak sedikit Papyang," ujar Delmira dengan lemas.


Zaidan tersenyum kecil, tangan kanannya bergerak mengelus pipi sang istri.


"Sudah berpuluh tahun kita dikasih Allah nikmat keuntungan dari rumah sakit ini. Kalau kali ini Allah kasih cobaan sebuah kerugian, itu wajar. Kita ambil hikmah dari semua yang menimpa pada kita. Sabar, tawakal, semoga Allah mengangkat derajat kita," ujar Zaidan menenangkan Delmira.


"Tapi jumlahnya cukup banyak Papyang," sangkal Delmira.


Zaidan kembali tersenyum, "Papyang udah pernah bilang sama Momyang. Kekayaan Papyang masih lebih dan lebih dari jumlah yang yang harus kita keluarkan untuk biaya operasional rumah sakit."


"Tetap saja beda Papyang, Momyang itu... Momyang juga merasa gagal mengelola rumah sakit," ujar Delmira, wajahnya memancarkan kesedihan yang teramat.


"Kalau kali ini Momyang merasa gagal, bagaimana kerja Momyang yang selama puluhan tahun di rumah sakit? Ini hanya satu sandungan batu Momyang. Move on, yang terjadi biarlah terjadi. Yang harus kita kerjakan, kita tetap semangat memperbaiki diri. Kalau hari ini gagal, besok harus semangat untuk menembus kegagalan yang sudah terlanjur kita buat."


Delmira menatap ke arah Zaidan, "Masyaallah, terima kasih ya Allah sudah kirimkan aku suami yang super pengertian," ucap Delmira langsung memeluk tubuh tegap Zaidan.


Setelah merasa tenang dalam pelukan Zaidan, Delmira melepas pelukannya.


Cup.


Dengan cepat mengecup bibir suaminya.


Zaidan tersenyum lebar. Entah mengapa, setiap bibirnya disentuh oleh bibir istrinya, pasti meninggalkan rasa gejolak yang meminta lebih dari sekedar ciuman.


"Yang ini, belum Momyang kecup," ujar Zaidan menyentuh pipi kanan.


Cup.


gegas Delmira mengecupnya.


"Ini juga iri Momyang," imbuh Zaidan menyentuh pipi kiri.


Delmira pun gegas mendaratkan sebuah kecupan.


"Yang ini minta diulang Momyang," ucap Zaidan, kali ini menunjuk bibirnya.


Delmira membulatkan matanya, berkacak pinggang, "Itu modus, bisa-bisa sore hari Momyang disuruh mandi dua kali," protes Delmira, memilih berdiri lalu berjalan keluar.


"Momyang, harus tanggung jawab," teriak Zaidan diiringi sebuah senyum sebelum Delmira benar-benar keluar dari balik pintu kamar.


"Tidak!" seru Delmira, membalikkan tubuhnya sebelum dirinya membuka pintu untuk keluar.


Namun, di balik pintu kamar, Delmira malah tersenyum malu.


"Kelakuan suamiku selalu seperti itu," gumam Delmira. Tapi, seketika langkah Delmira terhenti.


"Astaghfirullah haladhim, usiaku sudah tidak muda lagi dan menua itu jelas akan datang pada siapapun yang diberi karunia oleh Allah umur yang panjang. Lalu, menopause... bukankah itu juga pasti dialami boleh semua wanita?" monolog Delmira masih berdiri di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku sudah menopause, tapi... tapi Papyang masih suka dengan kegiatan ranja*ng?" lontar Delmira untuk diri sendiri.


__ADS_2