
Zaidan menarik dua sudut bibirnya, 'Kamu sangat cantik dengan jilbab itu Del, semoga pintu hidayah datang padamu,' batin Zaidan.
Sampailah Delmira di rumah sakit Medika Internasional, dia turun dari mobil berjalan ke ruang kantor rumah sakit. Kakinya melangkah pelan. Jujur saja, bayang-bayang rumah sakit masih terus menghantui dirinya akan masa itu. Dimana keluarganya pernah disemayamkan terlebih dahulu di rumah sakit sebelum di bawah ke rumah.
"Kamu harus kuat Del! Ayo! Demi cuan! Anak-anak panti butuh kamu Del! Ayo tepis trauma itu!" gumam Delmira menguatkan diri.
Menarik napas dalam-dalam, mengeluarkan perlahan adalah salah satu jalan membuat pikiran rileks. Semakin rileks ketika saat mata Delmira juga dipejamkan.
Namun, saat mata Delmira terbuka dia sedikit kaget, pasalnya ada orang di depannya.
"Pegawai baru?" tanya lelaki bertubuh tinggi sekitar 180-an cm, kulit putih bersih memakai baju putih dan kaca mata yang terpasang di mata menambah aura ketampanan lelaki itu.
Delmira mengangguk cepat.
"Kebetulan aku dokter baru, Kita masuk ke ruang bersama," ajaknya.
"Oh..., aku... aku bisa sendiri, silahkan anda duluan," jawab Delmira. Entah mengapa dia merasa risih kalau jalan dengan lelaki lain setelah pernikahannya dengan Zaidan. Walaupun pernikahan yang dilakukan sebatas sah di dalam buku nikah.
Lelaki itu mengangguk lalu berjalan masuk ke gedung.
Delmira pun melangkah kan kaki, langsung masuk dalam lift.
Ruang kerjanya ada di lantai 2. Namun, sebelum memasuki ruang kerja, hari ini ada apel penerimaan beberapa pegawai baru rumah sakit di ruang yang ada di lantai 5.
Papan ruangan bertuliskan auditorium Delmira masuki. Di sana sudah ada beberapa pegawai baru, terlihat dari pakaian yang mereka kenakan. Sama dengan pakaian yang dirinya pakai, seragam yang terlihat masih baru.
"Kita bertemu lagi," ucap lelaki yang tadi mengajak Delmira untuk bersama masuk ke gedung.
"Kenalkan, aku Riki, dokter spesialis anak," tuturnya.
"Delmira."
Lelaki itu tersenyum, lalu berucap, "nama yang bagus."
Deg.
Jantung Delmira berdetak kencang. Bukan karena mendapat pujian dari lelaki yang di depannya. Namun, dirinya tiba-tiba teringat saat pertama kali bertemu dengan Zaidan. Ucapnya sama persis dengan Riki.
'Apaan sih kamu Del! Pakai ingat dia segala!' protes Delmira.
Riki menyeret kursi di sampingnya lalu menawarkan Delmira untuk duduk.
"Aku di sana saja, sepertinya gadis itu juga masuk ke bagian administrasi," tolak Delmira lalu melangkah ke seberang meja.
'Wanita yang unik,' monolog batin Riki dengan sorot mata tetap mengarah ke Delmira.
...****************...
"Sudah satu minggu kamu kerja di rumah sakit, bagaimana perasaan kamu?"
"Melelahkan," jawab Delmira, tangan kanannya menutup mulut yang menguap karena kantuk mulai mendera.
__ADS_1
"Tapi asik juga sih. Dokternya ganteng-ganteng," ucap Delmira dengan antusias menyibak rasa kantuk yang tiba-tiba menghilang.
"Oh...," sahut Zaidan.
Delmira memanyunkan bibirnya, 'Hanya O? Memang lelaki es kutub!' umpat batin Delmira karena entah kenapa kali ini dia merasa tidak senang dengan tanggapan Zaidan. Padahal Delmira tahu Zaidan biasa tidak banyak bicara.
"Aku tidur dulu, selamat malam," ujar Zaidan merebahkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Delmira.
'Dia kenapa? Apa sakit?' batin Delmira kembali bermonolog melihat sikap aneh Zaidan, matanya menelisik.
'Del! Banyak berkas yang harus kamu baca! Sempat-sempatnya mata kamu tanpa absen menyecan tubuh Zaidan!' protes batin Delmira.
Pandangan Delmira berpindah fokus pada ponsel, ada beberapa file yang harus dia pelajari tentang humas dan tanggung jawab di pekerjaan itu.
"Memberi ucapan selamat ulang tahun pada dokter/ perawatan rumah sakit. Ada-ada saja tugasnya. Besok berapa yang ulang tahun," gumam Delmira Kemudian tangannya bergerak membuka file identitas pegawai.
Satu persatu file terbuka.
"Oh...Jadi direktur rumah sakit itu dijabat pak tua dan ummi Aisyah sebagai wakil direktur. Kenapa dia tidak kerja di rumah sakit saja malah memilih jualan motor," gumam Delmira dengan mata melirik ke Zaidan.
Delmira mendengus kesal karena setelah melihat file pegawai, tertera tanggal dan bulan seseorang yang dia kenal, lelaki yang belakangan ini selalu membuntutinya.
'Besok adalah ulang tahun Riki,' batin Delmira.
"Mereka ulang tahun, bagian humas yang memberi ucapan. Kalau aku yang ulang tahun yang kasih ucapan siapa?" lirih Delmira.
Delmira kembali menguap, ponselnya dia matikan lalu taruh di atas nakas. Matanya yang mulai sulit membuka tetap dibiarkan terpejam saat dirinya merebahkan tubuh.
...****************...
Tulisan di kartu ucapan membuat bibir dokter Riki merekah.
Tangannya bergerak cepat mengambil ponsel dan menuliskan kalimat.
Jangan hanya kartu ucapan dan setangkai bunga mawar sintetis, kadonya mana?
"Orang itu! Sok akrab! Kalau tidak karena tugas! Mana mau aku kirim kartu ucapan itu!" gerutu Delmira setelah membaca pesan masuk dari dokter Riki dan menjauhkan ponsel miliknya tanpa membalas pesan masuk.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam... masuk," ucap Delmira.
"Ummi," kaget Delmira ketika Aisyah masuk ke ruang kerjanya.
"Makan siang yuk," ajak Aisyah.
"Oh... tapi_"
"Aku lihat kamu terlalu bersemangat kerja sampai lupa waktu makan siang, makanya tadinya sekedar ngintip kamu dari celah pintu, akhirnya Ummi masuk," cekat Aisyah.
Delmira tersenyum lalu mengiyakan pinta Aisyah.
__ADS_1
Mereka berjalan di tiap koridor, dan turun di lantai paling bawah.
Duduklah keduanya di salah satu sudut kantin. Delmira lebih memilih makan nasi dengan sayur sebagai lauknya.
"Kamu suka sayur?"
Delmira mengangguk.
"Sebenarnya Ummi sudah tidak sabar ingin makan bersama dengan kamu di rumah tapi untuk kali ini Ummi tidak bisa. Kondisi abah belum stabil bahkan sering naik tekanan darahnya," ujar Aisyah dengan raut sedih.
"Ummi, fokus saja urus Abah," ucap Delmira dengan lirih. Jujur saja selama satu minggu kerja di rumah sakit dirinya belum jenguk Fatah. Setiap kali bertemu dengan Fatah pasti rasa sedih menyelimuti hati.
Aisyah tersenyum menggenggam tangan Delmira, "Terima kasih Sayang,"
Delmira kembali mengangguk.
Setelah aktifitas makan selesai. Delmira kembali ke ruang kerja.
"Mbak, bukankah hari ini jadwalnya Mbak ke CV. Dealer AZM?" ujar Tania, rekan kerja Delmira mengingatkan jadwal.
"Ya ampun aku sampai lupa," keluh Delmira.
"Berkas-berkasnya sudah kamu siapkan?" tanya Delmira.
"Sudah, itu di meja Mbak Del. Jangan lupa nanti sampaikan salam buat yang punya delaer, si mas ganteng Zaidan."
"Siapa?" retoris Delmira mendengar nama pemilik dealer, rasa gugupnya seketika hilang karena begitu terkejut.
"Mas ganteng Za-i- dan," eja Tania.
Delmira bergerak cepat membuka berkas yang akan dibawanya ke dealer tersebut.
"Ampun deh, ternyata beneran dia," lirih Delmira wajahnya terlihat gusar.
"Kenapa Mbak?" penasaran Tania melihat muka Delmira memucat.
"Oh...tidak kenapa," sahut Delmira.
"Mbak kemarin sudah menghubungi pihak dealer kan?"
Delmira menggeleng pelan, senyum nyeringis.
"Ya ampun Mbak. Hal sepenting ini kok Mbak bisa lalai. Kalau hari ini pemilik dealer tidak ada di tempat gimana Mbak? Padahal hari ini harus dapat kontrak kerja samanya loh Mbak." Tania terlihat kesal.
"Soal itu, serahkan padaku. Aku pastikan hari ini dapat tanda tangan kontrak," ucap Delmira penuh keyakinan.
"Kenapa mbak seyakin itu?" selidik Tania.
Delmira tersenyum, mengambil tas dan berkas yang ada di meja.
"Aku langsung pergi," ujar Delmira sekaligus pamit.
__ADS_1
malam menyapa 🥱🥱 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian 🥰😍😘