
Sekali lagi, Delmira mencoba untuk tegar menerima kenyataan yang jelas sangat pahit dan terlalu getir.
Dia terlihat duduk di ruang tengah. Tubuhnya teras lemas tidak berdaya tatkala keranda jenazah dibawa masuk ke dalam mobil ambulans. Untuk alasan inilah, dia tidak bisa mengantar anaknya hingga ke tempat peristirahatan terakhir.
Yasmin masih setia duduk di samping Delmira, menggenggam erat tangan sahabatnya itu.
Air mata Delmira masih juga tidak berhenti mengalir. Saat diseka, saat itu pula air mata mengalir kembali.
"Astaghfirullah haladhim, astaghfirullah haladhim, astaghfirullah haladhim," kalimat itu terus saja terucap dari bibir, sesekali menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan, mencoba mengontrol emosi diri.
"Kahfi anak yang saleh. Insyaallah, akan ditempatkan di surga Allah. Jangan terlalu larut dalam kesedihan dan air mata, kasihan almarhum," ujar Yasmin mencoba menenangkan Delmira.
Ini juga menjadi salah satu penyebab Delmira tidak ikut ke tempat pemakaman, dia takut air matanya akan jatuh di pekuburan sang anak. Untuk itu, sebelum acara pelepasan jenazah, semua keluarga boleh melihat jenazah untuk terkahir kalinya.
Tangan Yasmin bergerak mengelus bahu Delmira, sementara satunya tetap memegang erat tangan sahabatnya tersebut.
"Aku belum sempat bicara padanya, kita akan mengajak mereka jalan-jalan saat liburan," gumam Delmira mengingat rencana liburan yang telah disusun rapi dengan suaminya.
"Ya Allah, kenapa Engkau tidak ambil nyawaku terlebih dahulu, Kahfi masih sangat muda," keluh Delmira.
"Hussst! Istighfar Del, istighfar. Tidak boleh berkata seperti itu. Aku tahu, kamu sangat terpukul atas meninggalnya anak kamu. Tapi kamu juga harus ingat, ada kembaran Kahfi yang pastinya tidak kalah terpukul. Dia butuh kamu Del, butuh untuk kamu semangati," ujar Yasmin mengingatkan.
"Kamu tahu sendiri, selama lima belas tahun lebih, bahkan sebelum lahir, mereka sudah bersama dalam perut kamu. Bagaimana perasaan Kaffah, tentu dia akan sangat kehilangan saudara kembarnya. Dia butuh kamu agar tetap kuat. Bagaimana bisa kamu menguatkan dia kalau kamu sendiri tidak menguatkan diri?" sambung Yasmin.
"Sabar, ikhlas, dan tawakal. Allah mengambil apa yang memang milik-Nya. Justru keikhlasan lah yang membuat derajat kamu di mata Allah akan semakin tinggi," ucap Yasmin berharap Delmira lebih terbuka pemikirannya.
Bukan sok bijak, tapi Yasmin memang banyak mengalami perubahan setelah menikah dengan Fernando. Keduanya memang lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Lebih aktif mengaji dan ikut serta dalam rutinan kajian Islam.
Delmira mangarahkan pandangan pada lelaki yang baru saja masuk ke ruang tengah. Wajahnya jelas terlihat lelah, kesedihan jelas tergambar di sana.
__ADS_1
Kakinya melangkah mendekat ke arah Delmira duduk, dua sudut bibirnya ditarik membentuk sebuah senyum.
Delmira pun membalas senyum itu.
Dengan susah, dia mencoba bangkit lalu memeluk lelaki yang tepat berdiri di depannya.
"Momyang yang sabar," ujar Zaidan dengan suara parau, nyatanya dirinya juga berusaha setegar mungkin, sekuat mungkin menerima takdir Allah ta'ala. Dia sadar, harus kuat demi Kaffah kembaran Kahfi juga demi istrinya.
Tanpa menyahuti ucapan sang suami, Delmira menumpahkan sisa-sisa air mata. Menyusup masuk ke dalam dada suaminya.
Tangan Zaidan bergerak mengelus kepala Delmira, "Wajah Kahfi sangat bersih, seperti memancarkan cahaya, bibirnya juga tersenyum. Dia memang tampan seperti Papyangnya, tapi untuk terakhir kalinya, subhanallah... dia terlihat sangat sangat tampan. Aku bersaksi, selama ini, dia tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti pada kedua orang tua. Momyang harus ikhlas, insyaallah Allah akan menempatkan Kahfi di surga," ucap Zaidan panjang lebar, berharap istrinya dapat lebih tegar.
Delmira tiba-tiba melepas pelukan, "Kaffah dimana Papyang?" lontarnya, pikirannya baru teringat akan anak satunya.
"Ada di depan, menemui teman sekolah," jawab Zaidan.
Delmira gegas berjalan ke ruang depan, Zaidan pun mengekor langkah sang istri.
Kaffah menengadahkan wajahnya tatkala ada orang berhenti di depannya.
"Mommy," sebut Kaffah lalu berdiri.
"Mommy malah keluar? Istirakhat saja di ruang tengah," sambung Kaffah.
"Maaf, dari kemarin Momyang tidak mengecek keadaan kamu. Kita sarapan dulu," ajak Delmira padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB.
Kaffah mengangguk lalu meraih bahu mommy nya untuk jalan beriringan menuju ruang makan.
Zaidan tersenyum menatap anak dan ibu yang begitu dekat, dia juga bahagia, istrinya mencoba menguatkan diri untuk Kaffah.
__ADS_1
Sejak diberi kabar mengenai tragedi yang menimpa Kahfi, mereka bertiga sama sekali tidak memikirkan makan. Minum pun hanya bila haus.
Mereka bertiga duduk di kursi makan untuk menyantap menu makan yang sedari pagi sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga.
Tidak perlu dipanaskan dulu Nya?" tawar sang asisten sebelum mereka makan dan saat itu Delmira menolaknya.
"Momyang makan telurnya," ucap Zaidan yang sudah memindahkan telur itu dari piring besar ke dalam piring makan istrinya.
"Terima kasih Papyang," jawab Delmira lirih, sambil melempar sebuah senyum.
"Kaffah juga sama makan telurnya," sambung Zaidan memperlakukan hal yang sama pada sang anak.
"Terima kasih Pap," balas Kaffah.
"Berdoa dulu, yang mimpin_" seketika kalimat yang Delmira ucapkan terhenti.
Pandangan mata Delmira mengarah pada kursi kosong yang biasa diduduki Kahfi, karena seharusnya pagi hari adalah jadwal dia untuk memimpin doa ketika sarapan. Siang hari Zaidan, dan malam hari jatah Kaffah untuk memimpin doa.
"Biar Papyang yang memimpin doa," cekat Zaidan tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya.
Delmira membalas dengan sebuah senyum dan anggukkan.
'Ya Allah, terima kasih untuk segala yang Engkau berikan. Suami yang begitu luar biasa hebatnya, dan anak-anak yang saleh. Aku kembalikan Kahfi pada-Mu, semoga Engkau tempatkan dia di surga,' batin Delmira berucap di sela makannya.
Mata Delmira kini berpindah tatap pada sang suami, 'Umur dia lebih muda, tapi dialah yang selalu membimbing hamba dan anak-anak untuk tetap di jalan-Mu.Terima kasih ya Allah, atas segala nikmat yang selama ini Engkau berikan pada hamba,' sambung batin Delmira.
tamat.
pagi menyapa 🤗
__ADS_1
terima kasih kawan sudah mengikuti novel ini hingga akhir. Subhanallah... kalian luar biasa. Tanpa dukungan kalian apalah arti novel Kak Mel, semoga Allah selalu beri kesehatan pada kita, amin 🤲.
Ada info di kolom, tolong cek🙏