Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 69


__ADS_3

...****************...


"Non duduk saja, biar Mbok yang nyuci sisanya."


"Tidak apa-apa Mbok, lagian ini tanggung," sahut Delmira tangannya tetap mencuci perabot makan yang kotor.


Prak.


Tiba-tiba satu piring lolos dari tangan Delmira, pecahan itu berserakan di lantai.


"Astaghfirullah haladhim," lirih Delmira.


"Ya Allah, kenapa Non?" lontar Sa'diyah, "Biar Mbok yang bersihkan Non," pintanya.


Delmira tetap jongkok dengan susah dan memungut pecahan-pecahan itu.


"Auw," pekik Delmira, tangannya tergores pecahan itu.


"Tu kan, Mbok bilang apa Non, sudah Non duduk saja," ujar Mbok Sa'diyah menuntun Delmira agar duduk di kursi yang ada di dalam warung.


Sa'diyah gegas mengambil kotak P3k yang ada di dalam nakas.


Paket lengkap kotak ini jauh-jauh hari sudah disiapkan Verel. Begitu perhatiannya dia hingga hal kecil pun dia siapkan.


Sebelum diberi plaster mbok Sa'diyah membersihkan luka itu dengan antiseptik.


"Non harus hati-hati, kalau sedikit terluka, juru ngomelnya nanti beraksi.


Delmira tersenyum mendengar ucapan Sa'diyah, dia paham siapa yang dimaksud Sa'diyah. Siapa lagi kalau bukan Verel.


Di tengah senyum Delmira, Sa'diyah diam sejenak, menatap lekat manik Delmira yang dari bayi sudah diasuhnya hingga lima belas tahun.


"Non," panggil Sa'diyah dengan suara sendu, tangannya yang sudah berkeriput itu memegang tangan Delmira.


"Aku senang, Non sudah bisa tertawa, tersenyum, ada semangat hidup tidak seperti awal Non datang ke sini. Non banyak berubah."


Delmira semakin melebarkan senyum mendengar omongan dari Sa'diyah, "Aku harus tetap semangat hidup Mbok, karena bayi ini butuh aku," ujar Delmira tangan kirinya bergerak mengelus perut, sedangkan tangan kanannya dia biarkan tetap dipegang Sa'diyah.


"Syukur Alhamdulillah, Non mengerti itu."


Manik mata Delmira tiba-tiba berembun," Aku harus menjalankan hidupku, dengan lembaran baru," lontar Delmira, otaknya tiba-tiba terbayang wajah Zaidan.


Sungguh kalau mengingat mantan suaminya, Delmira merasa jadi orang yang paling bersalah.


"Astaghfirullah haladhim," lirih Delmira, tangannya gegas menyeka embun yang sudah menumpuk di pelupuk mata.


'Semoga kamu di sana baik-baik saja Zaid. Semoga Allah senantiasa memberi kamu kesehatan yang penuh barakah. Maafkan aku Zaid,' batin Delmira mengucap sebuah doa. Hanya itu yang bisa Delmira lakukan setiap mengingat Zaidan.


"Non masih mencintainya?" lontar Sa'diyah matanya menelisik wajah Delmira.


Delmira langsung menegakkan wajahnya, menatap ke arah Sa'diyah tapi seketika itu dia tundukkan kembali.


"Masih mencintai mantan suami Non?" ulang Sa'diyah


Delmira hanya bisa diam.


Sa'diyah menepuk pelan punggung tangan Delmira.


"Dia lelaki yang baik, insyaallah, Allah akan selalu menjaganya," ucap Sa'diyah yang ingin menghibur Delmira.


"Amin," lirih Delmira.


"Assalamualaikum," sapa Safira, masuk warung lalu salim takdhim dengan Sa'diyah dan Delmira.

__ADS_1


"Ya Allah ini kenapa Mbah?" tanya Safira melihat ada pecahan piring di lantai.


"Pecah," jawab Sa'diyah.


"Safira tahu Mbah, ini pecah. Maksud Safira pecah kenapa?"


"Jatuh."


"Pasti simbah nih yang jatuhin piring," ujar Safira, meletakkan tas lalu mengambil sapu dan serok sampah. Pecahan-pecahan itu dia bersihkan hingga bersih.


"Tangan Mbak Del kenapa?" lontar Safira selesai bebersih. Sedangkan mbok Sa'diyah masih melayani pembeli.


"Kena pecahan piring?" tebak Safira memutar-mutar jari telunjuk Delmira yang terpasang plester.


"Iya, tadi tidak sengaja kena," jawab Delmira.


"CK ck ck... ceroboh sekali," ejek Safira, tangannya yang sedang memegang ponsel, kini mengarahkan kamera ponsel ke jari tangan Delmira.


"Kamu ngapain?"


"Foto Kakak, dan tangan kakak yang berplester."


"Buat apa sih?!" protes Delmira mencoba meraih ponsel Safira.


"Dikirim ke om Verel," jujur Safira.


"Astaghfirullah haladhim... buat apa dikirim ke dia?!" geram Delmira.


"Buat tes om Verel, seberapa besar cintanya pada Mbak Del,"


"Dih, nih bocah, bener-bener deh perlu aku timpuk!" greget Delmira memukul beberapa kali bahu Safira.


"Ampun Mbak, ampun Mbak," seru Safira, berlari-lari menghindar dari amukan Delmira.


"Tidak," sahut Safira tubuhnya kini berlindung pada tubuh mbok Sa'diyah, sementara Delmira tetap mengejar Safira.


"Ya Allah...kalian ini apa-apaan seperti anak kecil," protes Sa'diyah yang posisinya sekarang berada di tengah keduanya.


"Mbok, Safira nih iseng sekali, main foto jari yang kena plester terus dikirim ke Verel.


"Safira sedang jadi penguji untuk om Verel Mbok," jawab Safira, tatapannya masih fokus pada Delmira yang sudah siap mencengkeramnya.


"Kamunya loh Saf, iseng sekali," ucap Sa'diyah.


"Issst yang jadi cucunya Simbah itu aku apa mbak Del sih?!" gerutu Safira, mengerucutkan bibirnya.


"Hapus, sebelum dia buka," ancam Delmira.


"Iya!" sahut Safira, tapi pesan yang dikirimnya tiba-tiba berubah seketika menjadi centang dua biru.


Delmira mendengar ponselnya berbunyi, Safira gegas menunju ke nakas di mana ponsel itu berada. Safira begitu penasaran benarkah si penelpon itu sesuai dugaannya.


"Hei, jangan main ambil!" teriak Delmira berjalan cepat menuju nakas.


Safira yang sudah sampai dahulu, bahkan sudah membaca kontak penelepon, langsung tertawa renyah.


"Masyaallah... cintanya om Verel, langsung telpon kan," ujar Safira merasa senang karena tebakannya benar.


Delmira meraih ponselnya lalu dia tolak panggilan dari Verel.


"Kenapa Kakak usap tolak panggilan? Kasihan kak om Verel," ucap Safira, wajahnya menggambarkan kekecewaan.


"Safira, sudah jangan ganggu non Delmira. Kamu cepat bantu Simbah beberes warung," sela Sa'diyah karena hari sudah semakin sore.

__ADS_1


"Ya, Mbah," sahut Safira, memilih membersihkan meja.


Tuling.


Terdengar notif pesan masuk dari ponsel Delmira.


Apa perlu aku ke Pekalongan? Sepertinya kondisi jari kamu parah karena kamu tidak mau angkat telepon dariku.


"Issst! Cuma tergores pecahan piring kenapa beritanya sampai Jakarta!" gerutu Delmira dan tangannya kali ini mengusap layar ponsel untuk menerima panggilan masuk dari Verel.


"Lukanya sudah dibersihkan sebelum dikasih plester?" cecar Verel begitu panggilan darinya tersambung.


"Waalaikum salam," ujar Delmira, bentuk sindiran agar Verel terlebih dahulu mengucap salam untuk mengawali pembicaraan, walaupun itu lewat sambungan telepon.


"Iya, aku lupa. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Delmira melebarkan senyum membayangkan wajah cemberut lawan bicaranya. "Hanya goresan kecil, kamu jangan terlalu khawatir."


"Tetap saja itu mengkhawatirkan kalau berhubungan dengan kamu!"


"Kamu santai saja, goresan kecil seperti ini tidak akan berpengaruh pada kondisi bayi di dalam perut," ucap Delmira mengartikan kekhawatiran Verel karena takut luka itu membahayakan si bayi.


Verel hanya diam, 'Aku mengkhawatirkan kamu Del, bukan anak kita, karena jelas aku tahu, luka di jari kamu ya tidak berpengaruh bagi bayi kita,' batin Verel berucap.


Tercetak senyum dari wajah Verel. Namun, apapun prasangka Delmira yang terpenting buat Verel, Delmira merasa nyaman walaupun dirinya terkadang terlalu protektif soal keselamatan dan kesehatannya.


"Hati-hati, jangan suka ceroboh. Kamu hobi ya bikin orang khawatir," ujar Verel kemudian.


Delmira menyunggingkan senyum, "Ya, aku tahu."


"Aku ada urusan penting, sambung lain waktu, assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


...****************...


Di sebuah cabang dealer motor AZM, terjadi insiden yang menyebabkan Zaidan dilarikan ke rumah sakit.


Zaidan memejamkan matanya, menahan kaki yang sakit karena terkena runtuhan material bangunan.


Ranjang pasien, terus didorong memasuki lorong-lorong ruang perawatan yang ada di rumah sakit dan ranjang itu masuk ke salah satu ruangan.


"Astaghfirullah haladhim... kok bisa begini Zaid?" ujar Aisyah begitu masuk ruangan melihat Zaidan tergeletak di ranjang pasien.


Mendengar Zaidan kecelakaan terkena runtuhan material yang akan dipakai untuk pembangunan dealer cabang AZM yang baru, dirinya langsung putar balik ke rumah sakit. walaupun seharusnya Aisyah akan menghadiri rapat penting dengan mitra kerja.


"Ummi," sahut Zaidan matanya dibuka mendengar suara Aisyah yang terdengar panik dan sedikit parau.


"Jangan khawatir Ummi, sudah ditangani dokter kok, aku baik-baik saja," ucap Zaidan.


Dua pipi Aisyah sudah banjir air mata, "Bagaimana bisa kamu bilang baik-baik saja. Lihat kaki kanan kamu memar hingga berdarah seperti ini?" sahut Aisyah melihat kenyataan luka di kaki Zaidan terbilang parah.


"Dokter bilang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tidak sampai patah kok tulangnya," sambung Zaidan.


Sementara itu, di tempat lain. Delmira kini terlihat diam dalam perjalanan pulang diantar tukang ojek ke rumah mbok Sa'diyah.


'Padahal tadi aku pegang erat piring itu, tapi kenapa bisa lepas dari pegangan aku?' batin Delmira mengingat insiden piring pecah.


Mata Delmira menerawang ke langit.


'Ya Allah, perasaanku kenapa tidak enak seperti ini?' lanjut batin Delmira, matanya tetap menatap langit sore, tangannya bergerak memegang dadanya yang terasa sesak dan elu hati terasa nyeri.


'Semoga tidak ada hal yang buruk terjadi,' batin Delmira masih mengucap doa.

__ADS_1


siang menyapa 🤗 like, komen, hadiah, vote rate, 🙏


__ADS_2