
"Duduklah," titah Kahfi melihat Icha mengangkat pantatnya akan ngeloyor pergi.
Icha pun mengurungkan niatnya, pantatnya Kembali dia dudukkan di kursi. Wajahnya jelas sudah seperti kepiting rebus. Sekali lagi dia nyeringis tidak jelas untuk menghilangkan rasa gugup yang mendera.
"Kamu bisa menghubungi bocah yatim piatu itu?" tanya Kahfi.
"Maksud kamu?"
"Amel!" cekat Kahfi.
"Kamu tahu tentang Amel?" lontar Icha penasaran.
"Kamu sampai nangis sesenggukan, siapa yang tidak penasaran dengan ulah kamu!" sahut Kahfi tanpa menjawab tanya dari Icha.
"Apakah kamu bisa menghubungi dia?" ulang Kahfi.
"Belum, nomor ponselnya tidak dapat aku hubungi," jawab Icha.
"Kalau sinyal sudah stabil, pasti bisa kamu hubungi," ujar Kahfi.
"Jangan ngomong sama yang lain kalau aku menangis sewaktu di pengungsian," bisik Icha.
"Kaffah tahu."
"Issst! Pasti kamu yang kasih tahu dia!" sungut Icha.
"Dia tahu sendiri," jawabnya kaku.
Mata Icha melebar, "Kok bisa begitu?"
"Bisa saja, dia kan punya mata dan telinga."
"Issst! Garing sekali candaan kamu!"
Kahfi melempar senyum kecil mendengar jawaban Icha.
"Icha...!" seru seorang siswi berlari menghampirinya, "selamat ulang tahun ya," ucapnya kemudian.
Icha berdiri membalas uluran tangannya, lalu saling cium pipi kanan kiri.
"Thanks Fio, kamu masih ingat loh hari ulang tahunku," balas Icha.
"Ya jelas ingatlah! Kamu teman terbaikku saat kita duduk di kelas 11," sahut dia.
Icha tersenyum mendengar pujian dari sahabatnya itu.
"Semoga kamu diberi umur panjang, tambah pinter, tercapai cita-cita kamu, tambah cantik, dan..."
Mata Fio melirik ke arah Kahfi.
"Cepet jadian dengan orang yang kamu cintai," ledek Fio, dagunya menunjuk ke arah Kahfi.
"Auw auw auw!" jerit Fio karena Icha langsung mencubit tangannya.
"Jangan hiraukan dia Kahfi," ujar Icha tapi jantungnya berdegup hebat. Ritmenya melebihi saat dirinya lari mengitari lapangan sepak bola 10 kali putaran.
Kahfi tersenyum simpul.
__ADS_1
Fio terkekeh, "Disenggol dikit tidak apa, biar peka," sindir Fio.
Semua warga SMA Merdeka Berbudi memang sudah tahu desas-desus hubungan Kahfi dengan Icha. Dari kedekatan mereka berdua, semua berkesimpulan kalau keduanya ada hubungan istimewa hanya belum ada yang mau buka suara hati masing-masing.
"Kadonya menyusul," bisiknya kemudian.
"Tidak perlu repot-repot, kamu sudah ingat hari ini ulang tahunku saja, aku cukup senang," ujar Icha.
"Aku pergi dulu ya. Takut ganggu kalian, babay...," pamit Fio sebelumnya meledek Icha.
Kahfi diam menatap lekat ke arah Icha.
'Ya Tuhan, ini orang! Kalau natap tajam banget kayak mata pisau siap nyongkel mata aku,' batin Icha berucap.
"Bodohnya aku, ulang tahun kamu saja aku tidak tahu," lirih Kahfi tapi masih terdengar oleh Icha.
"Tidak apa-apa, hari ulang tahun itu bukanlah hari yang istimewa. Bagiku semua hari sama. Malah, dulu aku sempat benci dengan hari ulang tahunku! Hari kelahiranku, mungkin... bencana bagi kedua orang tua ku," lirih Icha berucap.
Kahfi mulai mendengar dengan seksama.
"Maaf, aku terbawa suasana. Lupakanlah, aku mau masuk kelas saja," ucap Icha tanpa henti.
"Duduklah," lagi titah Kahfi.
"Kalau berbagi membuat beban hidup kamu menjadi berkurang, kenapa kamu simpan semuanya sendiri?" lontar Kahfi.
"Aku... aku tidak menganggap itu beban kok. Sudahlah lupakan," pinta Icha.
"Kalau hari ini kamu tidak bisa bercerita padaku, maka suatu hari berceritalah. Kalau denganku tidak bisa, maka dengan orang lain juga tidak mengapa, asal yang menjadi beban selama hidup kamu, bisa berkurang."
Icha tersenyum kecil bahkan nyaris tidak terlihat senyum itu, menimpali ucapan Kahfi.
Icha membulatkan mata, mendongakkan wajahnya.
"Apa?"
"Aku akan ke kelas, kamu lanjutkan makanmu," titah Kahfi tanpa mendengar jawaban Icha kakinya sudah melangkah pergi.
"Issst! Tadi aku akan pergi tidak boleh, sekarang main pergi meninggalkan aku sendiri!" sungut Icha, tangannya memukul udara.
Kluntang.
Panitia Penggalangan Dana Korban Gempa Di Daerah XX harap kumpul di auditorium.
Satu pesan grup wa Icha baca.
"Katanya pembubaran panitia besok, kenapa sekarang di suruh kumpul?" gumam Icha.
Dia segera menghubungi Sasi karena dilihat dari info teman yang satu ini belum membuka informasi.
"Hai Sas, buka grup penggalangan dana, aku mau jalan nih ke lokasi. Kita bertemu di sana ya," ucap Icha begitu sambungan itu terhubung.
"Ok, nanti aku buka info dan segera menyusul," jawab Sasi kemudian memutus sambungan telepon itu.
Icha gegas berjalan menuju auditorium, kakinya melangkah cepat. Namun, saat akan memutar ruang kelas 10 untuk sampai di lokasi. Netranya menatap ada sosok lelaki yang tadi baru dia temui di ruang makan.
"Hai Cha," mau ke laboratorium kan?" retoris Kahfi.
__ADS_1
Icha menarik dua sudut bibir membentuk sebuah senyum lalu mengangguk pelan.
"Kita jalan bareng," ajak Kahfi, langkahnya dia hentikan, menunggu Icha jalan terlebih dahulu.
'Inikah yang dimaksud jalan bareng versi Kahfi? Bukankah ini namanya jalan mengiringi aku?! Seperti asisten mengiringi bosnya saja!' gerutu batin Icha.
Setiap melewati kelas, pasti mata mereka tertuju pada Kahfi dan Icha.
"Kok belum ada yang datang?" heran Icha karena baru mereka berdua yang masuk ke auditorium.
"Mungkin dalam perjalanan," sahut Kahfi.
Benar saja, tidak lama setelah itu, satu persatu masuk ke dalam ruangan.
"Pe'i tidak ikut Fi?" lontar Kaffah duduk di antara Icha dan Kahfi.
"Sebentar lagi paling nyusul, dia tadi ke toilet, makanya nyuruh aku pergi dulu," terang Kahfi.
"Kayaknye ade nyang nyebut nama aye?" ujar Pe'i ikut bergabung.
"Sudah bersih belum ceboknya?" ledek Kaffah.
"Jangan-jangan malah tidak cebok," sela Nabila yang juga baru datang.
"Hai Kak Icha," sapa Nabila kemudian.
Icha membalas sapa itu dengan sebuah senyum dan melambai tangan.
"Hai juga si tampan... ." Nabila melambai tangan dan mengerlingkan matanya ke arah Kahfi.
Tanpa ekspresi Kahfi hanya diam.
Nabila mengerucutkan bibirnya, tanda tidak suka melihat Kahfi tiada meresponnya.
Kaffah terkekeh melihat ekspresi Nabila.
"Jangan ngarep ya Nab," ledek Kaffah.
"Issst! Awas saja, aku bakal buktiin sama kamu, aku... aku_"
"Aku apa?" cekat Kaffah.
Nabila nyeringis, matanya menatap Kahfi bergantian arah ke Icha.
"Tidak deng," ujarnya kemudian, tiba-tiba nyali ciut melihat kedekatan antara Kahfi dan Icha ditambah lagi, hubungan mereka menjadi hubungan terpopuler yang sedang dibicarakan oleh warga SMA Merdeka Berbudi.
Banyak juga yang gemes dengan kedekatan keduanya, sering bersama tapi tanpa status yang jelas. Ada juga yang sirik karena tidak bisa mendapatkan Kahfi, ada juga yang senang jika mereka bersama. Intinya, ada yang suka ada yang tidak.
Icha memang gadis yang cerdas, cantik, ramah, dan tidak membedakan untuk bergaul dengan siapapun. Walaupun dia orang kaya. Jiwa sosialnya juga sangat tinggi.
Beberapa guru yang menjadi panitia kegiatan datang ke dalam auditorium. Acara pun dimulai.
"Maaf, seharusnya acara pembubaran panitia Penggalangan Dana Korban Gempa Di Daerah XX diadakan besok. Namun, berhubung besok, empat dari 7 guru yang masuk dalam kepanitiaan ada urusan penting, maka acara ini kami ajukan," teenage seorang guru.
Kahfi maju membacakan laporan hasil kegiatan. Semua anggota pun menyetujuinya. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang mengacungkan jari.
"Icha, kamu ditunjuk sebagai bendahara. Kami butuh laporan dari kamu secara lengkap. Bukan kami mencurigai laporan yang sudah kamu buat, tapi kami butuh transparan laporan," protesnya.
__ADS_1
Icha tercengang menatap orang yang baru saja bicara.
"Jangan sampai karena laporan pengeluaran yang terkesan tertutup ini menjadi petaka untuk sang panitia," sambungnya.