Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Draft


__ADS_3

"Nabila!" panggil seorang siswi, dia melambaikan tangan dan Nabila gegas menghampirinya.


"Ada apalagi sih, katanya tadi pagi kamu berurusan dengan kakak senior?!" lontar Devi sahabat dari siswi yang bernama Nabila, "ini kenapa berurusan lagi dengan kakak senior yang lain?!" sungut Devi, sahabat Nabila.


"Orangnya masih sama yang tadi pagi!" jawab, Nabila, pantatnya dia dudukkan di kursi.


"Maksud kamu, yang tadi berurusan dengan kamu itu mereka?" kaget Devi.


"Hmmm," dengung Nabila sebagai jawaban.


"Issst! Kamu ini, anak baru tapi berurusan dengan senior!" protes Devi.


"Bukan aku yang mencari gara-gara tapi mereka dulu yang buat gara-gara!"


"Tetap saja kami yang salah Nabila!" simpul Devi.


"Enak saja, kalau mereka tidak berulah mana mungkin macan sepertiku berngaum!" balas Nabila.


"Ya deh, terserah kamu," pasrah Devi. Dia juga sebenarnya membenarkan ucapan Nabila, tidak mungkin Nabila akan melawan kalau si lawan tidak salah.


"Sudah ah, aku mau makan!" seru Nabila, tangannya bergerak membuka bekal yang dia bawa, "untung tidak tumpah," sambungnya melihat bawaannya masih utuh.


Nabila dengan cepat menyantap makanannya.


"Sudah cuci tangan belum?" tanya Devi, mengingatkan.


"Sudah dong," jawab Nabila.


Sementara Kahfi yang sudah selesai makan, gegas membereskan perkakasnya.


"Aku sudah selesai, nanti kamu nyusul saja," ujar Kahfi beranjak pergi.


"Brother! Aku baru saja makan," protes Kaffah.


Tanpa peduli penolakan kembarannya yang akan ditinggal, Kahfi tetap pergi dari hadapan mereka.


Kakinya terus berjalan hingga masuk ke gedung perpustakaan yang berada tidak jauh dari ruang makan siang.


Kaffah masuk setelah menyerahkan kartu perpustakaan pada petugas.


Kakinya menyelusuri setiap jejeran rak berisi berbagai jenis buku.


Tangannya berhenti bergerak ketika sebuah buku yang dilihat dari judulnya, menarik menurut Kahfi.


"Oh, maaf," ucap seorang siswi yang juga mengambil buku yang sama dengan Kahfi.


"Silahkan kalau mau kamu ambil, aku bisa cari buku yang lain," ujar Kahfi, melepas buku tersebut.


"Tidak, kamu saja yang ambil, aku sudah pernah baca bukunya. Hanya bingung saja mau baca buku apalagi, makanya aku asal ambil," terangnya, tangannya bergerak menyodorkan buku tersebut.


"Thanks," sahut Kahfi, menerima buku tersebut.


"Siswa baru?" lontar si siswi.


Kahfi mengangguk, "Kamu?"


"Oh, aku sudah masuk kelas 12," jawab siswi itu.


"Pasti masuk di jurusan IPA," retoris Kahfi.


"Menurut kamu?" balik tanya siswi itu diiringi sebuah senyum, karena sudah sangat jelas, lontar tanya yang diucapkan Kahfi hanya sebatas retoris.


Kahfi, membalas senyum. Pertanyaan memang hanya untuk sambung tanya saja. Buku yang dibaca siswi itu tentang anatomi tubuh manusia, sudah dipastikan dia ada di jurusan IPA, walaupun tidak salah jurusan selain IPA membaca buku tersebut.


"Aku permisi dulu, mau cari buku yang lain," pamit sang siswi.


Kahfi mengangguk.


Namun, mata Kahfi tidak lepas dari siswi yang masih terlihat punggungnya. Tatapannya baru beralih pandang tatkala siswi itu sudah tak terlihat karena tertutup di balik jejeran rak buku.


Kahfi menarik dua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyum kecil. Entah kenapa, hatinya merasa aneh. Jantungnya juga terasa terpompa tidak normal. Apalagi, beberapa kali lontar tanya yang keluar dari mulut Kahfi pada siswi itu, seakan bukan Kahfi yang sedang berucap. Dia yang dikenal lebih pendiam dan tidak banyak berinteraksi dengan orang yang baru dia kenal, untuk pertama kalinya bicara lebih banyak dari biasanya.


Mata Kahfi memutar mencari kursi kosong. Pantatnya dia dudukkan, lalu membaca sekilas buku yang dia pegang karena tidak lama setelah itu bel masuk berbunyi.

__ADS_1


...****************...


"Alhamdulillah sudah selesai semua," ujar Delmira, tangannya bergerak merapikan meja kerja.


Tok tok tok.


"Masuk," seru Delmira.


"Maaf Bu, mau mengingatkan jadwal Ibu selanjutnya," ucap Dini.


"Ya Mbak Din, agendanya apa?" lontar Delmira.


"Berkunjung ke pegawai rumah sakit atas nama Dewi Pertiwi, baru melahirkan, sudah pindah dari ruang persalinan ke ruang kepodang nomor 2.


"Ok," sahut Delmira, pantatnya dia angkat dan keluar ruangan.


Delmira selalu mengagendakan kunjungan pada pegawai rumah sakit yang sedang dirawat di rumah sakit.


Kaki Delmira berjalan melewati tiap lorong rumah sakit, kakinya berhenti jalan ketika sampai di depan kamar nomor 2.


"Assalamualaikum," sapa Delmira membuka pintu kamar.


"Waalaikum salam," jawab Pasien.


"Subhanallah, Ibu Delmira, Mbak Dini. Ayo, silahkan duduk," tawar Dewi, tangannya mengarah ke kursi yang ada di dekat ranjang pasien.


Suami Dewi menggeser kursi untuk diduduki tamunya.


"Terima kasih," jawab Delmira dan Dini, lalu pantatnya mereka dudukkan di kursi.


"Selamat ya, Ini Dewi dan suami atas kelahiran anaknya,"


"Ya Bu, terima kasih," jawab Dewi dan suami.


"Kami juga sangat berterima kasih untuk segala fasilitas yang diberikan rumah sakit ini. Bahkan kami juga diberi fasilitas lebih dari kelas yang tercantum di asuransi kesehatan yang kami miliki," ujar suami Dewi.


"Itu sudah menjadi hak Bu Dewi," sahut Delmira, "ibu Dewi Alhamdulillah tidak ada keluhan pasca operasi kan?"


"Bayinya juga sehat?"


"Alhamdulillah juga sehat, walaupun harus operasi cecar karena faktor usia dan juga tensi darah yang tinggi."


"Alhamdulillah kalau semuanya sehat," ujar Delmira.


"Anak ke berapa Bu Dewi?"


"Oh, anak ke-3 Bu Delmira."


"Yang pertama?" lontar Delmira merasa penasaran.


Dewi melempar sebuah senyum, "Sudah kuliah Bu, yang kedua juga sudah besar, duduk di bangku SMA kelas 12."


"Oh, sudah besar," sahut Delmira, otaknya sedikit parno, tangannya tiba-tiba meraba perut.


"Maklum Bu, anak ketiga kali ini, bonus tidak terduga," canda Dewi.


Delmira membalas dengan senyum kecil.


'Bonus tidak terduga,' monolog batin Delmira, tangannya kembali meraba perutnya, 'tidak! Tidak!' batin Delmira menyangkal pikirannya sendiri.


"Tapi ya Alhamdulillah, tetap saja bonus ini sungguh luar biasa. Semoga dia tumbuh jadi anak yang saleh," sambung suami Dewi, sambil mengelus kepala istrinya.


"Dia yang ngotot minta baby lagi Bu," seloroh Dewi, "katanya suruh coba lagi barangkali beruntung dapat cowok," imbuh Dewi, bibirnya manyun.


Suami Dewi tertawa geli, tangannya langsung mencubit gemas pipi istrinya, "Tapi bener kan Sayang, kita bener-bener beruntung dapat anak cowok," serunya.


"Kalau yang dicoba-coba lahir cewek? Mau dibuang itu anak?" celetuk Dewi Mariah dengan mimik yang sama.


Suaminya kembali terkekeh, "Tidak mungkin lah Yang, pasti aku terima dia dengan lapang dada, ikhlas, dan penuh kebahagiaan," sahut lelaki itu.


Dewi tersenyum mendengar jawaban suaminya.


"Maaf Bu, kami tidak bisa lama-lama, semoga Ibu cepat sehat, dan kembali bergabung dengan kami, dan semoga anak ibu Dewi dan suami tumbuh sehat jadi anak yang saleh," ujar Delmira, tangannya mengulur dan disambut oleh Dewi.

__ADS_1


"Terima kasih juga Bu, karena Bu Delmira sudah menjenguk kami," jawab Dewi.


"Assalamualaikum," pamit Delmira.


Saat berjalan tiga langkah keluar dari ruang rawat Dewi, ponsel Delmira bergetar. Delmira gegas membuka pesan masuk, ternyata dari Zaidan.


Papyang sudah di bawah Momyang.


Delmira tersenyum membaca pesan itu, lalu membalasnya.


Tunggu sebentar Papyang.


"Mbak Din, kamu pulang duluan, saya langsung ke bawah karena suami saya sudah menjemput," ucap Delmira.


"Baik Bu, hati-hati di jalan," jawab Dini.


"Ya," balas singkat Delmira dilanjut memberi salam dan dijawab salam itu oleh Dini.


"Assalamualaikum Momyang," sapa Zaidan.


"Waalaikum salam, Papyang," jawab Delmira lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takdhim.


Delmira masuk dalam mobil, disusul Zaidan.


Mobil itu melaju membelah jalanan kota.


Namun, dalam perjalanan, Delmira yang biasanya penuh antusias bercerita kegiatan di kantor, kali ini hanya diam.


"Momyang tidak lupa kan sepulang kantor, kita akan mampir sebentar ke panti asuhan?"


"Momyang," panggil Zaidan karena Delmira tidak kunjung menyahuti lontarnya.


"Momyang," yang Zaidan.


"Eh, ada apa Papyang?" terkejut Delmira.


"Astaghfirullah haladhim, dari tadi rupanya Papyang dicueki, lagi nglamunin apa Momyang?"


Delmira tersenyum kecil, "Maaf, emmm, mungkin karena tadi Momyang terlalu sibuk dengan pekerjaan," jawab Delmira asal.


Zaidan melirik ke arah istrinya, lalu kembali mengarahkan pandangan ke jalanan. Dia dapat membaca dari raut wajah istrinya yang sedang berbohong.


"Kok belok kiri Papyang?" bingung Delmira karena Zaidan tidak mengambil jalan ke kanan yang ke arah rumah.


"Uangnya ada di amplop tas Momyang kan?" lontar Zaidan.


"Astaghfirullah haladhim, ya Allah. Momyang sampai lupa kalau hari ini kita akan mampir ke panti asuhan," seru Delmira karena sejak semalam uang yang dimasukkan dalam amplop itu sudah diserahkan Zaidan dari semalam.


Zaidan tersenyum tapi kepalanya menggeleng-geleng.


Mereka pun sampai di panti asuhan.


Beberapa anak-anak mengerubungi Zaidan dan Delmira. Selain bawa donasi untuk panti asuhan, Zaidan juga membawa makanan ringan.


"Anak Baru Bu panti?" lontar Zaidan melihat ibu panti menggendong seorang bayi.


"Ya, baru saja datang semalam," jawab ibu panti.


"Subhanallah, lucu sekali," seru Delmira mengulurkan tangan untuk meraih bocah kecil yang sangat lucu berusia kisaran 6 bulan.


Lalu Delmira menimang bocah itu dengan riang, sesekali mengajaknya bicara, dan mengecupnya dengan gemas.


"Subhanallah, Ibu Delmira sangat suka dengan anak kecil," puji ini panti.


Delmira tersenyum sebagai balasan.


"Kamu masih pantas punya bayi kecil Momyang," bisik Zaidan.


Senyum yang sempat mengembang di wajah Delmira langsung ditarik.


"Wah, sepertinya Bapak Zaidan ingin punya momongan lagi," sela ibu panti asuhan.


Zaidan tersenyum lebar, berbeda dengan Delmira yang langsung terdiam dan tanpa senyum.

__ADS_1


__ADS_2