Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 22


__ADS_3

'Boleh aku memelukmu Mrs. Delmira,' pinta Zaidan yang tentunya hanya mampu terlontar dalam batin.


Zaidan mengambil ponsel yang ada di atas nakas, satu pesan dia kirim ke kontak atas nama Fernando.


Istriku sudah pulang.


Setelah mengirim pesan, Zaidan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


Lama Zaidan terdiam. Matanya tak juga dapat dia pejamkan barang sebentar pun, dia takut ketika mata itu tertutup lalu wanita yang sedang tidur nyenyak dengan posisi yang sudah menghadap ke arahnya tiba-tiba hilang kembali.


"Jangan pergi lagi," gumam Zaidan dengan pelan tangannya menggenggam tangan Delmira, dikecuplah tangan itu.


Zaidan bangkit untuk mengambil wudhu karena waktu Subuh sudah datang.


Selesai menjalankan salat Subuh, Zaidan memilih duduk menyandar di sofa, kepalanya sangat berat dan matanya terasa sulit dibuka. Sebenarnya pantang buat Zaidan untuk tidur setelah salat subuh. Namun kali ini, matanya tidak dapat diajak kompromi untuk tetap beraktifitas seperti biasa. Lamat-lamat matanya terpejam.


Delmira menggeliatkan tubuhnya, dia gegas bangun merasa waktu sudah siang, benar saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 7.15 menit padahal dia harus sampai kantor jam 7.30.


Aktifitas mandi dan dandan dilakukan secara kilat. Delmira sekilas melihat Zaidan yang tertidur di sofa. Kakinya yang akan melangkah keluar kamar dia urungkan, tubuhnya berbalik dan menatap ke arah Zaidan.


'Tumbennya dia tidur setelah Subuh?' batin Delmira menerka karena Zaidan mengenakan sarung dan sajadah dalam pelukannya.


'Apa semalam dia tidak tidur?' lanjut batin Delmira. Namun, terkanya segera dia tepis mengingat waktu yang sudah semakin siang.


"Den Zaidan belum turun Non?" tanya Mbok Muna ketika Delmira berjalan menuju garasi mobil.


"Dia masih tidur."


"Tumben sekali masih tidur, apa dia kurang enak badan?" tanya Mbok Muna.


Tanpa menimpali ucapan Mbok Muna Delmira memilih masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


Waktu terus berjalan seiring berputarnya bumi pada porosnya. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 pagi.


Zaidan menggeliatkan tubuh, matanya mulai terbuka walau daya kesadaran belum 100% tapi dirinya tahu kalau waktu sudah mulai siang.


Dia terkejut saat nyawanya benar-benar terkumpul dan matanya melihat ada Fernando yang sedang berdiri di depan kursi yang dia tiduri.


Zaidan mendengus kesal dengan tingkah Fernando yang hanya berdiri tanpa suara seperti hantu siang bolong.


"Sudah lama kamu berdiri?"


"Lumayan lama," jawab Fernando.


"Jangan duduk sebelum aku selesai mengenakan pakaian kerja!" seloroh Zaidan tanpa mendengar jawaban Fernando tubuhnya sudah masuk ke toilet dalam kamar.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Fernando melihat Zaidan keluar dari toilet kamar dan melangkah ke lemari pakaian.


"Dia menemukan cincin nikah yang dulu akan kuberikan pada Khanza."


"Aden tidak menjelaskan kejadian yang sebenarnya?"


"Kurasa tidak akan pernah."


Fernando mengempaskan napas kasar, "Apa Aden sengaja membuat Non Delmira marah dan akhirnya menceraikan Den Zaidan?" terka Fernando.


"Justru karena aku tidak ingin berpisah darinya," sahut Zaidan membuat wajah Fernando terpupuk beribu pertanyaan.


"Aku menikah dengan Delmira karena pinta abah, dia sangat merestui hubunganku dengan Delmira. Seiring berjalannya waktu ummi juga akhirnya merestui hubungan kami dan satu hal yang tidak kalah penting, aku menyetujui permintaan abah karena petunjuk Allah melalui istikharahku. Aku yakin, petunjuk Allah adalah sebaik-baiknya jalan," terang Zaidan tanpa Fernando bertanya alasan karena jelas dari raut wajah Fernando dia meminta penjelasan lebih darinya.


"Lalu apa hubungannya dengan kamu yang tidak ingin memberitahu kenyataan kalau cincin itu sebenarnya jatuh ke kolong ranjang sewaktu akan dijual? Dicari-cari tidak juga ketemu sampai kamu lelah mencari dan mengikhlaskannya,"


"Dia sudah mengatakan dengan jujur, kalau dia hanya menikah karena balas dendam. Delmira akan meninggalkan aku setelah aku jatuh cinta padanya agar aku maupun keluarga abah Fatah dapat merasakan sakitnya ditinggal oleh orang yang dicintai," terang Zaidan.


Fernando terdiam. Dari dulu memang dirinya selalu memperingati Zaidan agar waspada dan hati-hati dengan Delmira. Dia curiga ada suatu tujuan dibalik setujunya Delmira untuk menerima pinangan dari Zaidan.


"Berarti dugaanku tidak salah Den," simpul Fernando.


Zaidan mengangguk.


Fernando menelisik wajah Zaidan, "Atau... jangan-jangan Aden sudah jatuh cinta dengan Non Delmira?"


"Karena kepastian itu tidak perlu dideklarasikan. Cukup aku lihat dari mimik dan gestur Aden aku sudah dapat menilainya, Den Zaidan jatuh cinta dengan Delmira Cinta Kusuma."


"Jangan sok tahu!" timpal Zaidan.


Fernando tersenyum menarik satu sudut bibirnya.


"Karena aku pakar mikro ekspresi!" sambung Fernando penuh keyakinan.


"Terserah kamu!" pasrah Zaidan.


"Kamu akan terus nerocos di sini atau ikut aku ke kantor?!" seloroh Zaidan dengan melangkahkan kaki keluar kamar.


"Tunggu Den," pinta Fernando melangkahkan kaki lebih cepat agar menggapai sang bos muda.


Sementara itu di tempat lain, waktu terus bergerak mengantarkan Delmira ke gerbang istirahat jam makan siang.


Mata Delmira mengedar ke sudut ruang resto. Dia melambaikan tangan pada sosok wanita yang telah menunggunya.


"Sudah lama?" sapa Delmira sambil mencium pipi kanan dan kiri Meilin.

__ADS_1


"Lumayan," jawab Meilin.


"Mbak pesanan kita segera antar ya," pinta Meilin pada salah satu pelayan yang lewat di samping kursi mereka.


"Baik Mbak, mohon ditunggu," jawab pelayanan dengan santun.


"Aku sangat penasaran mendengar info yang lebih jelas dari kamu," ujar Meilin.


Pagi tadi Meilin mengajak Delmira untuk makan siang, lantaran dirinya penasaran kejadian yang membuat Delmira pulang hingga larut malam. Dari kepanikan Delmira yang pergi tanpa kabar, akhirnya semua kerabat dihubungi Fernando termasuk dirinya.


"Aku sudah jujur pada Zaidan, kalau aku menikah dengannya karena dendam, aku akan buat dia jatuh cinta dan selanjutnya akan aku campakkan dia agar dia dan keluarganya tahu betapa sakitnya ditinggal orang yang dicintai."


Meilin terlihat melongo tidak percaya mendengar apa yang disampaikan Delmira.


"Kamu gila Del! Pengorbanan kamu sia-sia! Mengapa kamu begitu ceroboh sih?!" kesal Meilin.


Delmira kini yang terdiam, karena nyatanya dia yang salah.


"Aku harus bagaimana?" lirih Delmira.


Meilin mengempaskan napasnya kasar. tangannya memijat dua pelipis yang terasa kencang.


"Dia pasti akan menceraikanmu dan semua yang kita rencanakan hilang tidak berbekas," ujar Meilin dengan lesu.


"Zaidan terlebih dahulu akan membuatku jatuh cinta."


"Maksud kamu?!" Suara Meilin penuh penasaran.


"Dia membalas kejujuranku seperti itu,"


"Kamunya jawab apa?"


"Aku memastikan hal itu tidak akan terjadi."


Lagi Meilin mengempaskan napasnya dengan kasar. "Sebelumnya kalian membahas masalah apa sih kok sampai kamu mengatakan tujuan kamu menikah dengannya?!" tanya Meilin dengan geram.


"Dia masih menyimpan cincin nikah dengan mantan kekasihnya. Aku menemukan cincin itu di kolong ranjang."


"Cincin nikah dengan mantan kekasihnya?" ulang Meilin merasa tidak percaya.


"Ya ampun Del, seharusnya kamu tahan emosi, kenapa sampai kelepasan ngomong. Bisa juga itu cincin tidak sengaja masih kesimpan," ujar Meilin, gurat kekesalan masih terlihat di wajahnya.


"Karena aku tidak suka dengan pengkhianatan. Walaupun pernikahanku dengan Zaidan sebatas pernikahan sah di atas buku nikah!" tekan Delmira.


Meilin sontak terdiam.

__ADS_1


malam menyapa 🥱🥱 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian 🥰😍😘


__ADS_2