
"Apa mobil ini mengingatkan Mas pada seseorang?"
Sengaja Khanza melontarkan kalimat itu, memancing Zaidan untuk membuka mulut sejauh mana dia masih mengingat mantan istrinya.
Berita perceraian Delmira dan Zaidan menjadi topik hangat waktu itu. Khanza pun ikut dengar mengenai berita itu. Banyak rumor di masyarakat, ada yang menyebutkan pihak ketiga menjadi retaknya rumah tangga, ada yang menyebutkan Delmira hanya memoroti harta Zaidan, ada yang bilang Delmira kurang bersyukur mendapatkan lelaki sebaik Zaidan, ada juga yang mengatakan Zaidan melakukan KDRT.
Pertemuan tidak sengaja di mall dengan ummi Aisyah hingga dipertemukan kembali dengan Zaidan inilah yang membuat Khanza ingin mempertanyakan hal yang menyebabkan perpisahan mereka. Namun, Khanza menyadari siapa dirinya, apakah etis untuk menanyakan hal pribadi pada Zaidan.
Zaidan tersenyum kecil, "Masuklah ke mobil," titah Zaidan membukakan pintu mobil depan untuk Khanza.
Dia yang sedang berdiri mematung menunggu jawaban Zaidan, terpaksa melangkah berat masuk ke dalam mobil.
Setelah mendudukkan pantatnya di kursi pengemudi, Khanza mengucap salam kemudian melajukan mobilnya.
Zaidan tanpa kedip menatap mobil yang mulai menjauh dari dirinya.
'Astagfirullah... ya Allah, tuntunlah hamba untuk selalu mengingat-Mu. Jangan jadikan kesedihan ini menjadi penutup hati hamba untuk dekat dengan-Mu. Ampunilah segala dosa hamba,' batin Zaidan berucap.
"Den," panggil Fernando yang tiba-tiba ada di sampingnya.
Zaidan menoleh, tanpa berkata apapun kaki Zaidan melangkah ke mobil yang ada di ujung, dimana mobilnya terparkir.
Zaidan melihat mobil Aisyah ada di depan mobil yang dikendarai Fernando.
"Ummi sudah tua. Mulai besok, tolong sopir mobilnya Fer," ucap Zaidan.
"Dua hari yang lalu bukannya ummi menolak untuk aku supiri Den?"
"Nanti aku coba bujuk kembali," sahut Zaidan.
Fernando mengangguk mengiyakan permintaan Zaidan. Matanya kini melirik ke arah samping, dimana Zaidan duduk menatap keluar jendela mobil.
"Aden, terlihat pucat, apa Aden baik-baik saja?"
Zaidan pilih bungkam mendengar basa-basi Fernando.
"Langsung intinya saja Fer," ujarnya kemudian
Fernando tersenyum kecil, karena Zaidan tahu maksud dari ucapannya.
"Wajah Aden semakin masam setelah melihat mobil yang dikendarai Khanza. Apakah mengingatkan pada_"
"Aku rindu padanya," cekat Zaidan.
Fernando langsung bungkam. Dadanya terasa sesak karena dirinya menyimpan rahasia besar tentang kehamilan Delmira yang sebenarnya.
"Meski dia sudah membuat aku terluka tapi kenapa hatiku masih merindukan dia? Delmira sudah punya kekasih, dan mereka sudah hidup bahagia bersama, tapi mengapa aku masih memikirkannya?" keluh Zaidan, terdengar hempasan napas kasar dari mulut Zaidan.
Fernando semakin bungkam, karena sekian lama dirinya baru mendengar isi hati tuannya.
"Mengenai... pertemuan tidak sengaja dengan kekasih non Delmira waktu itu, apa tuan percaya apa yg dia katakan?"
Saat itu memang Zaidan dan Verel dipertemukan secara tidak sengaja dalam acara pernikahan anak pengusaha ternama di Jakarta, bahkan mereka sempat tegur sapa dan sedikit terlibat obrolan.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Delmira?" tanya Zaidan saat itu setelah menyapa Verel karena dari lubuk hatinya terdalam sangat merindu Delmira dan ingin tahu kabarnya.
"Dia baik," jawab Verel singkat.
"Dia... dia_"
"Apakah wajar, sang mantan suami menanyakan mantan istrinya pada kekasih mantan istrinya?"
Zaidan tersenyum kecut, "Maaf, aku hanya penasaran bagaimana keadaan Delmira. Anda datang dalam acara seperti ini, tapi tidak membawa kekasih anda itu."
"Aku tidak mungkin bawa dia ke acara seperti ini sedangkan dia belum resmi aku nikahi. Bukankah kamu tahu sendiri, wanita yang sedang mengandung tidak boleh menikah?" jawab Verel saat itu.
"walaupun anak dalam kandungannya adalah anakku," sambung Verel mendekat ke telinga Zaidan.
Zaidan hanya menelan salivanya dengan susah. Verel tersenyum dan tangannya bergerak merapikan jas Zaidan walau jas itu terlihat rapi, "Tapi anda jangan khawatir, sedikitpun dia tidak kekurangan kasih sayang dariku," ujarnya kemudian.
"Aku permisi dulu tuan Zaidan," pamit Verel waktu itu dan melangkah pergi menjauh dari Zaidan.
"Den Zaidan...," panggil Fernando karena Zaidan hanya diam tanpa jawaban.
"Aden percaya kalau Verel hidup bahagia dengan non Delmira?" lontar Fernando setelah Zaidan menoleh ke arahnya.
"Aku hanya bisa mendoakan itu, dia bahagia dengan siapapun pendampingnya."
"Aden... tidak ingin menyelidiki kembali mengenai kehamilan non Delmira?"
"Bukankah dulu kamu yang aku tugaskan untuk menyelidiki semuanya?"
'Maafkan aku den Zaidan, kamu percaya penuh padaku. Namun, aku menyalah gunakan kepercayaan aden,' monolog batin Fernando.
...****************...
"Mereka sudah datang semua Tuan," lapor Raka pada Verel yang tengah rebahan santai di depan kolam renang rumahnya. Asap rokok membumbung tinggi karena di tengah jari Verel terselip rokok yang menyala.
"Ada berapa perusahaan kontraktor yang datang?" tanya Verel, tangannya bergerak mematikan puntung rokok di asbak.
"Lima Tuan," jawab Raka.
Verel masih berdiam diri di kursi santai, kaca mata hitam yang dikenakan ia lepas.
"Batalkan saja pertemuan itu," ujar Verel, tangannya bergerak memantik korek menyalakan rokok lagi.
"Tapi Tuan_"
"Mood aku sedang buruk!" potong Verel.
"Aku baut alasan apa Tuan untuk membatalkan rapat penting itu?"
"Itu urusan kamu!"
"Apa perlu, aku bilang Tuan sedang PMS?"
Verel melempar bantal yang menjadi tumpuan kepalanya ke arah Raka, "Kamu kira aku ganti kela*min! Kenapa alasannya PMS?!" gerutu Verel.
__ADS_1
Raka terkekeh berhasil membuat Verel marah.
"Aku kira ganti alat kela*min karena rudalnya tuan itu sudah tidak berfungsi normal," sindir Raka, semenjak bercin*ta dengan Delmira, Verel sudah tidak lagi main celap-celup dengan wanita manapun. Kalaupun dia memanggil wanita, permainan yang dia mainkan tidak sampai tahap bercin*ta, Verel menyuruh si wanita pergi darinya.
"Jangan banyak bicara! Cepat hubungi mereka!" tukas Verel.
"Baik Tuan," jawab Raka menyerah.
Raka gegas merogoh ponselnya.
"Tunggu!" titah Verel memotong pembicaraan Raka dengan seseorang, suruh mereka menunggu 20 menit."
"Jadi datang?" bingung Raka menjauhkan ponselnya agar tidak terdengar lawan bicara di sambungan telepon.
"Aku mandi dulu," ucap Verel tanpa menjawab lontar tanya dari rakat.
Raka melanjutkan pembicaraannya di sambung seluler, lalu menutup sambungan itu setelah menyampaikan apa yang diminta Verel.
"Issst! Dasar labil!" gerutu Raka dengan sikap tuannya, "untung asistennya aku, kalau bukan aku, pasti sudah minggat dari jaman dulu!" sambung Raka segera beranjak ke kamar Verel.
"Setelah rapat kita ke Pekalongan," ujar Verel di tengah perjalanan menunju tempat rapat.
"Menemui non Delmira?"
"Menemui Simbah Sa'diyah," jawab asal Verel mendengar retoris Raka, gregetnya bertambah ke ubun-ubun dengan sikap Raka.
"Untuk apa menemuinya?"
Verel menatap tajam ke arah asistennya, "Sejak kapan kamu jadi sebodoh ini?!" umpat Verel kakinya turun dari mobil.
Raka hanya bisa mendengus, "Aku bodoh gara-gara kamu yang juga semakin bersikap bodoh! Gila, bener-bener gila! Aku tidak tahu jalan pikiran orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan," dumel Raka, kakinya juga ikut turun dari mobil.
"Lelet sekali!" gerutu Verel menunggu Raka keluar mobil.
"Sengaja!" lirih Raka menjawab gerutu tuannya.
"Jangan sampai bonus tahunan kamu tidak cair!" ancam Verel, melangkahkan kaki masuk ke gedung rapat.
"Jurus andalan," sahut Raka dengan lirih.
"Silahkan tuan," seorang pegawai mempersilahkan Verel masuk ke ruang rapat.
Dengan postur tubuh yang tegap, dada yang dibusungkan, dagu terangkat, wajah oriental dan kaca mata hitam yang melekat di mata, membuat tampilan Verel makin memukau pegawai yang ada dalam gedung itu.
Verel melepas kaca matanya, menelisik satu persatu yang hadir dalam rapat tersebut.
Deg.
Sebuah senyum kecut tergambar di wajah Verel tatkala pandangannya terhenti pada sosok wanita yang sangat tidak asing baginya.
sore menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate.
"
__ADS_1