Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 41


__ADS_3

'Aku yakin, ini awal yang bagus,' batin Meilin.


Mobil melaju membelah jalanan. Meilin dan Verel terlihat akrab bercengkrama sedangkan Delmira hanya sesekali menyahutinya.


"Maaf, kita mampir dulu ke rumahku ya. Ada yang mau aku ambil."


"Ya, santai saja Rel," sahut Meilin walaupun sebenarnya Delmira sudah terlihat gelisah karena waktu semakin malam. Namun, dia tidak dapat menolak permintaan Verel yang langsung disetujui Meilin.


"Masuk dulu," pinta Verel setelah mematikan mesin mobil di pelataran rumah.


"Apa sebaiknya kita tunggu di mobil saja?" pinta Delmira.


"Tidak baiklah Del, kita kan sudah sampai di rumah Verel," sahut Meilin.


Delmira mengangguk merasa tidak enak karena Meilin sudah turun dari mobil. Delmira pun ikut turun.


"Anggaplah sebagi rumah sendiri," ujar Verel ketika masuk di ruang tamu rumah mewahnya lalu mempersilahkan Meilin dan Delmira duduk, "aku masuk dulu," sambung Verel.


Mata Delmira mengedar ke seluruh ruangan tamu.


"Dia orang tajir, kamu kenal dia dari mana? Apa dia punya hubungan khusus dengan kamu?"


Meilin tersenyum mendengar lontar Delmira.


"Kamu jangan buru-buru minta pulang, bantu aku memuluskan rencanaku," lirih Meilin.


"Oke deh!" semangat Delmira, mengartikan pinta Meilin adalah 'rencana' agar Meilin dekat dengan Verel.


Meilin kembali tersenyum mendengar jawaban Delmira. Tangannya merogoh ponsel di dalam tas, berselancar di layar ponsel itu lalu menutupnya kembali setelah beberapa pesan dia kirim ke nomor yang kemarin sore dia hubungi.


Verel keluar dari arah dalam membawa nampan berisi 3 gelas minum dan satu buah piring sedang.


"Pembantu tidak ada Rel?" tanya Meilin.


"Mereka sudah istirakhat semua," jawab Verel.


"Minum lagi?" lontar Delmira.


"Persiapan perjalanan pulang," sahut Verel.


"Minum Del, dia tidak suka penolakan," sela Meilin.


Delmira mengangguk dan segera meneguk orange jus dingin itu hingga tandas karena kerongkongannya memang sudah terasa kering.


"Kamu sangat haus?" celetuk Verel melihat gelas Delmira sudah kosong.


Delmira hanya nyeringis karena tanpa sadar langsung menghabiskannya.


"Aku ambilkan lagi."


"Eh tidak usah Rel, sudah cukup," cegah Delmira ketika pantat Verel akan bangkit.


"Ok," pasrah Verel, "oya makanlah cake ini. Aku sendiri yang buat," tawar Verel, menyodorkan piring yang tadi dia bawa.


"Serius?" antusias Delmira karena merasa ada partner yang sama-sama suka membuat kue.


Verel mengangguk.

__ADS_1


Delmira gegas memakan cake itu.


"Lembut sekali, manisnya pas, dan... topingnya sangat menarik," ucap Delmira setelah dua suap cake itu masuk ke mulutnya.


"Kamu suka buat kue?"


Delmira mengangguk cepat.


"Dulu pernah usaha on line kue home made."


"Oya? Wah hebat sekali. Kalau aku buat toko kue kamu yang kelola toko itu, kamu mau?" tawar Verel.


"Apa aku hanya pajangan? Kalian tidak mau mengajakku ikut ngobrol?" sela Meilin membuat Delmira dan Verel terkekeh.


'Aduh, kenapa kepalaku terasa berat?' keluh batin Delmira, tangannya bergerak memijit pelipisnya


Sementara itu, Zaidan yang sedari tadi menunggu balasan pesan dari Delmira kini merasa lega melihat notif masuk dengan nomor kontak Mrs. Delmira.


Aku masih di jalan, jangan kirim pesan terus! Tadi habis kumpul dengan sahabat-sahabatku.


"Setidaknya kamu balas pesanku Del," gumam Zaidan. Kepalanya yang sudah terasa berat karena ngantuk dia rebahkan ke kasur. Setelah membaca doa lamat-lamat mata Zaidan terpejam penuh.


...****************...


Pagi hari menyapa bumi Pertiwi. Panas matahari semakin terasa menembus celah gorden kamar.


Delmira menggeliatkan tubuhnya yang terasa remuk. Matanya mulai dibuka perlahan. Saat hendak bangun, Delmira merasa area int*imnya terasa sakit.


Matanya kini dia buka penuh. Tangan meraba tubuh yang tanpa sehelai benang pun. Netranya pun lalu berputar memandang kamar yang sangat asing baginya.


"Tidak mungkin!" teriak Delmira.


Tubuhnya beringsut dari ranjang king size itu. Tangannya bergerak menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang polos dan saat kakinya menginjak lantai kamar, area intimnya semakin terasa sakit.


"Auw," rintih Delmira. Air mata mengalir begitu saja mengiringi rasa bingung yang mendera Delmira.


Tubuh Delmira kini luruh di lantai, otaknya masih berputar mengingat kejadian semalam. Terasa samar karena ingatannya lagi-lagi berhenti sampai dikeluhan ketika kepalanya terasa sakit.


"Apa yang aku lakukan tadi malam?" Delmira membungkam mulutnya sendiri menahan isak tangis.


"Apa mungkin aku melakukan hal terlarang?" gumam Delmira setelah air mata bebas meluncur ke pipinya.


"Pasti itu hanya mimpi!" lanjut Delmira ketika otaknya mulai sedikit memutar kejadian yang menimpanya tadi malam.


"Tidak!" teriak Delmira, mulai samar kejadian yang tidak terekam baik oleh otaknya sedikit terputar.


"Itu pasti mimpi!" tangisnya terus pecah.


Mata Delmira kini menatap bajunya yang berserakan di lantai bahkan celana dal*amnya terlihat sudah tidak berbentuk karena sobek kanan kiri.


"Ini tidak mungkin!" rutuk Delmira pada diri sendiri. Tubuhnya terasa lemas seakan tulang belulang lepas dari tempatnya.


Delmira mencoba bangkit walau area inti*mnya masih terasa sakit. Dia berjalan gontai memungut baju-bajunya kemudian melangkah ke arah toilet kamar.


Setelah memakai pakaian dan mencuci muka, Delmira melangkah keluar.


"Sudah bangun Non," sapa wanita paruh baya ketika Delmira ada di ambang pintu.

__ADS_1


"Aku baru saja mau membangunkan Non," lanjutnya.


"Dimana dia?" tanya Delmira dengan lemas dan wajah pasi.


"Maksud Non, Tuan Verel?" lontar wanita tua itu.


Delmira mengangguk pelan.


"Tadi subuh, Tuan Verel sudah terbang ke luar negeri Non."


Jawaban wanita paruh baya itu semakin membuat Delmira getir.


"Pesan Tuan, kalau Non mau sarapan silahkan sarapan dulu, Bibi Lipah sudah siapkan."


Tanpa menyahuti ucapan Bibi yang menyebut nama dirinya Lipah, Delmira berjalan meninggalkannya. Menuruni anakan tangga dengan langkah pelan, menopang tubuh yang lemas tidak terkira bahkan area int*imnya masih terasa sakit.


"Non, tasnya ketinggalan." Kejar bi Lipah ke lantai bawah


Delmira meraih tas yang disodorkan bi Lipah.


"Kalau Non mau pulang, Mang Jamil siap anter," ujar bi Lipah. Delmira tetap melangkah tanpa menyahuti ucapannya lagi.


"Aneh, setiap wanita yang dibawa Tuan Verel pasti pulangnya dengan wajah bahagia, kenapa dengan wanita itu? Apalagi ini Tuan Verel perhatian sekali, sampai saya disuruh menyiapkan sarapan segala dan mang Jamil disuruh ngantar dia pulang kalau dia minta" gumam bi Lipah, matanya memandang langkah Delmira hingga hilang tertutup pagar rumah yang tinggi.


Delmira Terus melangkah, melangkah dan melangkah meninggalkan rumah mewah yang meninggalkan bekas luka.


Kakinya masih berjalan, menapaki jalanan aspal. Tatapannya kosong, masih tidak percaya dengan apa yang menimpa dirinya. Kini kakinya berhenti melangkah, kembali menangisi nasib.


"Tidak mungkin aku melakukan itu!" gumam Delmira jongkok mengeratkan dua tangan yang melingkar di dua kakinya. Wajah Delmira ditenggelamkan dalam-dalam.


Isak tangis tak terbendung, kembali Delmira menangis.


"Mbak, Mbak..., Mbak... ."


Delmira mendongakkan wajahnya melihat ada seorang anak menyodorkan sebotol air mineral.


Delmira menerima botol itu.


"Minumlah, setelah itu cari tempat yang pas untuk menangis. Jangan di trotoar seperti ini. Bahaya mengancam keselamatan Mbak," ucap anak dengan seragam putih biru.


"Apa mau cari tempat aman bersama? Aku juga takut nih kalau ada satpol PP mencari anak sekolah yang berkeliaran di jam sekolah," lanjutnya sambil terkekeh.


"Minum Mbak," ulang anak itu karena Delmira tetap diam.


Delmira membuka segel minuman mineral itu, menegaknya hingga setengah lalu berjalan kembali dengan sedikit energi.


"Hati-hati Mbak," teriak anak itu.


Delmira menoleh, tersenyum kecil dan mengangguk pelan lalu berjalan kembali.


Jejak kaki yang tercetak langsung di aspal membuat kaki Delmira terasa panas. Delmira duduk di salah satu kursi halte. Beberapa kali dia menarik napas dalam-dalam dan mengempaskan dengan pelan.


"Aku harus temui Meilin!" gumamnya kemudian.


kak Mel itu suka baca komen kalian, kalau kalian rajin komen loh ...awas kalau part yang sudah mulai tegang ini gag komen😞😣 πŸ™


jangan sampai lupa hadiahnya lemap kemari kakπŸ₯°πŸ˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2