Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 36


__ADS_3

Delmira hanya membalas satu huruf tapi di balik satu huruf itu ada orang yang sedang kegirangan membaca balasan sang istri.


"Aden kenapa?" heran Fernando melihat Zaidan lompat tinggi sambil menarik tangan kuat-kuat dan berseru kata yes.


"Ada deh," sahut Zaidan, matanya berpindah mengarah pada laptop tapi goresan senyum masih terlihat di wajahnya yang oriental.


"Pasti ada hubungannya dengan non Delmira," tebak Fernando.


"Jangan sok tahu."


"Sudah berhari-hari wajah ditekuk gara-gara bersitegang dengan non Delmira, kali ini sesumringah ini, pasti kalau bukan karena orang yang sama terus apalagi coba," ujar Fernando.


"Mungkin," sahut Zaidan, tangan dan otaknya bekerja cepat agar laporan yang sedang dicek cepat selesai.


Mata Zaidan terus mengarah pada jam yang tertata di barisan meja kerjanya. Dia dan Fernando baru saja selesai melaksanakan salat asar. Namun, Zaidan merasa waktu berjalan kian melambat, bagaimana bisa hanya menunggu sepuluh menit terasa sepuluh jam.


"Cepat Fer," titah Zaidan menata laporan yang masih berserakan di meja kerja. Kakinya segera melangkah keluar ruang kerja.


"Tunggu Den! Tunggu! Bukannya kita janji dengan mitra kerja nanti pukul 17.00?" bingung Fernando, napasnya tersengal-sengal mengejar langkah bos mudanya.


"Kamu yang handle, sekarang kita ke rumah sakit," titah Zaidan masuk ke dalam mobil."


"Siapa yang sakit Den?" tanya Fernando setelah mendudukkan pantatnya di kursi pengemudi lalu tangannya bergerak mengenakan sabuk pengaman.


"Ke rumah sakit itu tidak melulu karena sakit atau berkunjung orang sakit. Bisa juga bertemu pujaan hati," ujar Zaidan.


"Ya Allah, bilang saja temu non Delmira," seloroh Fernando diiringi senyum lebar kemudian gegas melajukan mobilnya membelah jalanan, menyelusuri setiap jalur yang dilewati hingga mobil itu berhenti di parkir sebuah rumah sakit.


"Kamu langsung ke TKP, salam buat pak Hariyadi, bilang kalau aku ada urusan urgent," ujar Zaidan segera keluar mobil.


"Oh sampai lupa, assalamualaikum," pamitnya.


"Waalaikum salam," seru Fernando.


Zaidan bergegas masuk lift.


"Duh apa tidak terlalu cepat? Masih ada waktu dua puluh menit sebelum jam kerjanya berakhir," gumam Zaidan, tubuhnya masih berdiri di samping kotak besi yang mengantarkannya di lantai 2.


'Lebih baik aku kunjungi ummi dulu,' batin Zaidan, kakinya bergerak menuju ruang paling ujung di antara ruang-ruang lain.


"Assalamualaikum,"


"Masuk,"


Zaidan membuka pintu setelah mendapat persetujuan dari empunya ruang.


"Kamu Nak," terkejut Aisyah.


Zaidan langsung mencium takdhim tangan umminya.


"Sendiri?"


Zaidan mengangguk.


"Sengaja mau menemui Ummi?"


Zaidan menggeleng.


Aisyah tertawa renyah melihat jawaban dari anaknya.


"Lalu? menemui siapa?" tanya Aisyah yang sekedar basa-basi karena tahu siapa lagi yang akan ditemuinya selain bukan menemui sang istri karena wajah Zaidan terlihat sumringah.


"Sudah baikan?" cecar Aisyah.


"Ummi tahu Delmira marah denganku?!" terkejut Zaidan.

__ADS_1


Aisyah melebarkan senyum, mengangguk pelan.


"Apa Delmira yang bilang ke Ummi?"


"Tanpa kalian berdua bilang, Ummi sudah paham kalian sedang tidak baik-baik," jawab Aisyah, "kamu ke sini karena mau baikan?" lanjutnya.


"Semoga Ummi, soalnya Delmira mau membalas pesanku."


"Apa yang telah menimpa dalam hidup kamu, jadikanlah pelajaran sehingga tidak kamu ulang di kemudian hari," saran Aisyah tanpa menanyakan permasalahan yang mereka hadapi.


"Ya Ummi," jawab Zaidan.


"Kamu sangat mencintainya?"


Zaidan langsung menatap ke arah Aisyah karena terlalu terkejut mendengar lontar darinya. Namun, seketika pula dia tundukkan pandangannya sebagai rasa hormat.


"Kenapa tidak jawab?" pancing Aisyah yang ingin mendengar jawaban langsung dari Zaidan.


"Ya, Ummi."


"Ya apa?"


"Ya aku mencintai Delmira Cinta Kusuma," sahut Zaidan.


Dua sudut bibir Aisyah ditarik membentuk sebuah senyum lebar, "Alhamdulillah," seru Aisyah dengan mengempaskan napas.


"Itu yang memang harus kamu lakukan. Jangan lupa, cinta kamu juga harus dilandasi karena Allah."


Sebuah anggukan Zaidan layangkan.


"Delmira bukan wanita sempurna, tapi pasti memiliki hal istimewa. Selalu selipkan doa untuknya. Ummi selalu berdoa, keluarga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah."


"Amin ya Allah," jawab Zaidan.


"Sudah menyatakan cinta pada Delmira?"


'Mana mungkin aku menyatakan cinta, yang ada setelah pernyataan cinta, aku langsung ditinggal Delmira. Itu tujuan dia menikah denganku membuatku terluka sebagi bentuk balas dendamnya,' batin Zaidan.


"Apa arti sebuah kata kalau tindakan tidak bisa selaras. Cukup dengan tindakan pasti dia rasakan betapa besar cintaku padanya," jawab Zaidan sok puitis.


Aisyah sekali lagi terkekeh.


"Nak, tidak semua memahami bahasa tubuh seorang lelaki. Wanita juga butuh ucapan untuk sebuah kepastian," ujar Aisyah.


"Menunggu waktu yang tepat Ummi," sahut Zaidan.


"Ya sudah kamu temui dia. Wanita lebih suka ditunggu dari pada menunggu."


"Siap Ummi!" jawab Zaidan, ruas tangan diangkat sejajar pelipis bersikap siap hormat seperti sedang laporan dengan atasannya.


Tangan Aisyah mengipas agar Zaidan cepat keluar.


"Assalamualaikum," seru Zaidan kakinya melangkah keluar.


"Waalaikum salam," sahut Aisyah masih dengan senyum yang mengambang di wajahnya.


'Semoga kalian bahagia dunia akhirat anak-anakku,' batin Aisyah mendoakan Zaidan dan Delmira.


Masih tersisa lima menitan dari waktu pulang, Zaidan memilih duduk di dekat lift.


Lima menit berlalu, pegawai-pegawai rumah sakit sudah terlihat silih berganti masuk lift. Hingga lorong mulai sunyi, Delmira belum juga muncul. Zaidan bangkit dari duduk, mengarahkan pandangannya pada salah satu pintu ruang yang terbuka.


Sebuah senyum terpatri di wajah Zaidan karena yang dia tunggu akhirnya muncul dari balik pintu ruang itu. Langkah kaki Delmira seakan genderang yang menabuh hati Zaidan. Sungguh luar biasa rasa cinta, hanya akan berjumpa saja jantung bak genderang bertalu-talu, kian cepat taluannya tatkala Delmira semakin dekat, dekat, dan kini tepat di hadapan Zaidan.


"Sudah lama?" tanya Delmira.

__ADS_1


"Hei!" Delmira menggerakkan tangan di depan muka Zaidan, tentunya kepala yang hanya sebatas bahu Zaidan mau tak mau harus dia dongakkan.


"Oh, apa?" tanya Zaidan karena tanpa dia sadari, sedari tadi hanya mengurusi jantung dan hatinya yang bekerja secara tidak normal.


Delmira menggerakkan tangan agar Zaidan mendekat tapi tetap saja Zaidan tidak peka. Dengan terpaksa tangan Delmira bergerak menarik dasi Zaidan agar kepalanya sedikit menurun dan...


Plak!


Satu sentilan jatuh di dahi Zaidan. Sedangkan pelaku hanya melenggang jalan tanpa merasa berdosa.


Zaidan nyeringis, mengusap dahinya. Bukan sakit yang dia rasa tapi rasa senang bercampur suka dan cinta yang semakin menggelora. Kakinya segera berjalan cepat mengekor langkah Delmira yang sudah masuk ke dalam lift.


"Maaf," ucap Zaidan di dalam lift dengan posisi berdiri di samping Delmira.


"Lupakan saja," sahut Delmira paham Zaidan meminta maaf soal apa.


Zaidan baru berani menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya, ingin segera meraih tubuh itu dalam pelukan. Tapi takut Delmira tidak berkenan. Kakinya kini kembali bergerak setelah pintu lift terbuka.


"Biar aku yang nyetir," pinta Zaidan.


Delmira menyerahkan kunci mobilnya, lalu masuk ke dalam mobil setelah pintu untuknya dibukakan Zaidan.


"Ke taman kota mau?"


"Terserah kamu," sahut Delmira.


Zaidan gegas melajukan mobilnya, setelah beberapa menit terlewati mobil memasuki parkiran taman kota. Mereka turun dan berjalan menikmati setiap sudut taman yang mulai ramai pengunjung.


"Aku mau es itu," tunjuk Delmira ada sebuah kedai berbagai jenis olahan es dan cemilan.


Delmira lebih memilih lemon tea dingin Zaidan pun sama, tidak lupa dua buah sosis gulung bakar bertoping saus dan mayonaise juga Delmira beli.


Mereka kembali berjalan dan memilih salah satu kursi yang tersedia di taman itu. Menikmati angin sore, lalu lalang orang, deru kendaraan, dan langit sore yang semakin indah saat matahari mulai membenamkan diri di ufuk Barat dan lampu taman yang menyala menambah keindahan yang tiada tara.


Delmira menyeruput es yang dia pegang, dan mulutnya juga bekerja mengunyah sosis yang dia santap dengan lezat.


"Makanlah," Delmira menyodorkan sosis.


"Kamu gigit yang belum kena gigitanku," sambung Delmira merasa risih melihat keraguan di wajah Zaidan.


Bukan menggigit di bagian lain, Zaidan memilih menggigit di bagian bekas Delmira.


Delmira tersenyum melihat Zaidan menyantap sosis yang dia sodorkan, entah kenapa hatinya merasa begitu senang dengan sikap Zaidan. Tanpa Delmira sadari dua sosis habis termakan dan dengan cara makan yang terbilang romantis, saling bergantian gigit di tempat yang sama.


"Kamu seperti anak kecil, lihat ada saus dan mayonais di sudut bibir kamu," ucap Delmira menunjukkan sisa saus itu yang berpindah di ujung jarinya. Tanpa pikir panjang Zaidan langsung memakan sisa saus itu.


Delmira membelalakkan mata dengan aksi Zaidan yang benar-benar di luar dugaan. Zaidan hanya tersenyum melihat keterkejutan Delmira.


Tangan Zaidan menolehkan wajah Delmira agar memandang ke arahnya.


"Kamu tidak sadar kalau kamu juga seperti anak kecil," ucap Zaidan, ujung jempol dan telunjuknya membersihkan dua sudut bibir Delmira yang ada saus dan mayonaise.


Delmira semakin membelalakkan mata tatkala Zaidan kembali menyesap sisa makanan yang ada di ujung jemari.


"Kalau tidak dimakan mubazir," seloroh Zaidan.


'Sial! Apa yang dia lakukan?! Dia tidak tahu apa! Tindakan dia membuat jantungku terpompa lebih cepat?! Ah! Kamu juga kenapa harus sebaper ini! Ingat Delmira, ingat! Dia hanya akan membuat kamu jatuh cinta terlebih dahulu, setelah itu dia yang akan hempaskan kamu. Dia akan tertawa menang karena berhasil menyelesaikan misinya, sedangkan kamu? Kamu nanti malah terluka karena dia, itu artinya kamu yang kalah Del!' umpat Delmira pada diri sendiri.


Delmira dan Zaidan tidak tahu, di balik gerak mereka yang dipandang sebagai pasangan romantis ada sepasang mata yang menatap tidak suka.


'Dasar wanita murahan! Menolak ajakanku hanya untuk jalan dengan lelaki sialan itu!' monolog batin seorang wanita, tangannya meremas cup kopi yang telah habis dia minum. Kakinya kini melangkah ke arah Zaidan dan Delmira.


"Hai Del," sapanya.


pagi menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏 maaf aku hanya up satu bab tiap harinya karena kesibukan emak2 berdaster buat ngerjain urusan RL. pokonya

__ADS_1


lope lope buat kalian 😍😘🥰.


__ADS_2