Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 81


__ADS_3

Zaidan terlihat diam, kedua tangan dia biarkan menutup wajah begitu lama.


Dia mulai frustasi, sudah satu minggu, Gombloh belum juga mendapatkan informasi keberadaan Delmira.


Bahkan, keberadaan Verel yang menjadi kunci dimana Delmira berada juga tidak dapat dia temukan.


Huft!


Zaidan mengempaskan napasnya.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Zaidan, bangkit dari duduknya.


Kakinya melangkah keluar ruang kerja. Matanya mencari keberadaan Fernando.


"Cari siapa Den?" lontar Fernando dari arah belakang Zaidan berdiri.


"Antar aku keluar," pinta Zaidan, kakinya tetap melangkah ke parkir mobil tanpa mendengar jawaban persetujuan dari Fernando.


"Kita akan kemana Den?" tanya Fernando setelah dirinya dan Zaidan duduk di dalam mobil.


"Ke rumah Meilin."


"Rumah Meilin?" Fernando memastikan.


"Ya," sahut Zaidan.


Tanpa tanya ada hal apa yang membuat Zaidan akan ke rumah Meilin, Fernando melajukan mobilnya. Melewati jalanan kota hingga mereka berhenti di sebuah rumah sederhana milik Delmira. Rumah yang pernah Fernando singgahi sewaktu dulu dirinya meminta kejelasan mengenai fakta mengenai kehamilan Delmira.


Zaidan memencet bel samping pintu rumah, tidak lama kemudian pintu itu terbuka.


Benar saja, di balik pintu yang terbuka, ada Meilin.


"Sepertinya ada hal yang sangat penting sampai seorang Alfian Zaidan Mukhtar bertandang ke rumahku?" ujar Meilin.


"Boleh kami duduk?" pinta Zaidan.


Meilin melempar sebuah senyum yang dibuat-buat.


"Silahkan," jawab Meilin, posisi tubuhnya bergeser dari ambang pintu dan tangan kanannya bergerak mempersilahkan kedua tamunya agar duduk di kursi.


"Aku rasa, kamu tahu apa maksud kedatanganku," ucap Zaidan membuka pembicaraan.


"Aku bukan peramal yang serba tahu apa yang ada dalam otak kamu," sahut Meilin, padahal dirinya jelas tahu, Zaidan datang ke rumahnya untuk apalagi kalau bukan bertanya mengenai Delmira.


Zaidan tersenyum kecut, "Dimana Delmira?"


Meilin langsung tertawa keras mendengar lontaran dari Zaidan.


"Kamu tanya apa, dimana Delmira?" retorisnya diiringi tawa, "hei, aku bukan ibunya yang serba tahu keberadaan Delmira," sambungnya.


Zaidan diam melihat ekspresi Meilin, "Katakan saja, apa yang kamu minta. Aku akan berikan kalau kamu memberitahu keberadaan Delmira sekarang."


Meilin menghentikan tawanya, "Wau... tawaran yang begitu menggiurkan," sahut Meilin lalu dia tertawa kembali, "sayangnya, hal yang lebih menggiurkan itu menyaksikan Delmira tersiksa," sambung Meilin.


"Begitu bencikah kamu pada Delmira?"


"Sangat!" sahut Meilin dengan cepat, matanya menatap nyala pada Zaidan, "sangat benci! Karena dialah, aku hidup menderita! Bahkan, karena dia pula adikku juga ikut menderita! Jadi, sampai matipun aku tidak akan melepaskan dia! Aku akan buat dia merasakan apa yang aku rasakan!" oceh Meilin, tangannya bergerak menyeka pelupuk mata yang sudah penuh dengan cairan bening.


"Hati kamu tertutup dengan dendam. Jadi, kamu tidak bisa melihat kebaikan yang pernah orang berikan pada kamu. Aku rasa, itulah yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini."


Meilin berdecih, matanya kembali penuh nyala, "Simpan saja nasihatmu! Pintu sudah terbuka lebar, silahkan keluar," titah Meilin, gemeretak menahan amarah.


Zaidan berdiri dari tempat duduknya, begitu juga Fernando. Mereka berjalan keluar tapi ketika di ambang pintu, Zaidan menoleh ke arah Meilin, "Apa adik kamu juga menjadi korban kegilaan kamu?" lontar Zaidan.


"Aku bilang keluar!" Nada suara Meilin meninggi.


Zaidan melangkahkan kakinya kembali.


Mobil melaju ke jalanan kota, Fernando menatap ke arah spion dalam mobil. Terlihat Zaidan terdiam menatap layang keluar jendela mobil.


"Apa perlu aku bantu untuk mencari keberadaan non Delmira Den?" tawar Fernando.

__ADS_1


"Tidak perlu," sahut Zaidan.


Entah kenapa, sejak Fernando telah mengkhianatinya, Zaidan belum bisa percaya seratus persen pada sesosok Fernando.


"Aku sadar, pernah melakukan kesalahan fatal Den. Namun, insyaallah kesalahan itu akan aku perbaiki," ujar Fernando.


Zaidan terdiam mencerna ucapan Fernando.


"Den," panggil Fernando.


"Aku dan orang kepercayaan kita akan bergerak di bawah kendali Den Zaidan," tawar Fernando.


"Buktikan kalau kamu memang menyesali apa yang sudah pernah kamu lakukan," sahut Zaidan.


"Terima kasih Den," ucap Fernando, melebarkan senyum karena jawaban dari Zaidan dapat diartikan kalau dia setuju dengan tawaran dirinya.


Drt


drt


drt


Zaidan merogoh saku jas, mengambil ponsel. Satu panggilan masuk dari Ummi Aisyah. Jari Zaidan bergerak menerima panggilan itu.


"Assalamualaikum," sapa Zaidan dan dibalas salam oleh sang penelepon.


"Baik, saya segera ke sana," sahut Zaidan, setelah mengucap salam dia memutus sambungan telepon itu.


"Ke rumah sakit Fer," pinta Zaidan dengan wajah cemas.


"Rumah sakit Ummi Aisyah?"


"Ya, beliau tiba-tiba pingsan di ruang kerja."


Zaidan gegas masuk ke ruang perawatan yang biasa dipakai keluarga besarnya.


"Assalamualaikum," salam Zaidan lalu masuk ke ruang perawatan.


"Ummi belum siuman Mbak?" tanya Zaidan, pantatnya dia dudukkan di tepi ranjang, lalu tangannya bergerak memegang tangan Aisyah.


"Tadi sempat siuman, beliau sekarang tertidur," jawab wanita yang dipanggil Mbak oleh Zaidan.


Seorang asisten yang dua bulan ini diperkerjakan Aisyah, Yuni namanya. Wanita berusia 30 tahun itu dipilih menjadi asisten Aisyah karena kecakapan dan kecerdasan yang dia miliki.


Waktu terus bergulir, hingga malam telah datang.


Zaidan mengakhiri salat Isya dengan dua salam.


Aisyah, Fernando, dan Yuni yang menjadi makmum juga mengakhiri salat mereka.


Dua tangan Zaidan dia tengadahkan bermunajat pada Sang Penguasa alam.


'Ampunilah segala dosa hamba dan kedua orang tua hamba ya Allah. Ampuni pula segal dosa orang tua sambung hamba. Berikan tempat terbaik untuk mereka yang sudah tiada dan berikan kesembuhan untuk ummi Aisyah. Ya Allah..., hamba yang penuh dosa ini selalu saja meminta-minta pada-Mu tapi ketaatan hamba selalu saja berkurang setiap harinya. Hamba mohon ya Allah, jaga wanita yang masih saja singgah di hati hamba, jaga dia ya Allah, amin,' Zaidan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, setelah munajat doa dia lontarkan lewat bahasa kalbu.


Dia bergerak menghampiri Aisyah lalu mencium takdhim telapak tangan wanita itu.


"Biar Zaid bantu lepas Ummi," tawar Zaidan, tangannya gegas membantu melepas mukena yang dipakai Aisyah.


Aisyah membiarkan Zaidan melakukan itu, dia juga membiarkan Zaidan mengenakan kerudung ke kepalanya.


"Terima kasih Nak," ucap Aisyah.


Zaidan tersenyum sebagai balasan.


"Ummi istirahatlah. Ingat pesan dokter, jangan terlalu capek dan terlalu stres," ujar Zaidan, tangannya bergerak merapikan selimut yang dikenakan Aisyah.


"Lagian, Ummi stres mikiri apa sih?" tanya Zaidan kemudian.


Aisyah terlihat diam.


"Pekerjaan biar di-handle sama Mbak Yuni," lanjut Zaidan.

__ADS_1


"Ummi mikirin kamu Nak," sahut Aisyah sontak membuat Zaidan diam.


"Ummi memikirkan masa depan kamu," sambung Aisyah.


"Astaghfirullah haladhim... Ummi... ada apa dengan masa depan Zaidan? Zaidan baik-baik saja, tidak perlu Ummi pikiran sampai Ummi sakit seperti ini."


Aisyah menyapu pelupuk matanya yang sudah berembun, "Kamu bilang, kamu baik-baik saja. Sedangkan kamu, sampai sekarang masih memikirkan Delmira Zaid, Ibu mana yang tidak kepikiran kalau anaknya belum bisa move on dari masa lalunya?"


Zaidan terdiam.


"Ibu sudah berusaha meminta kamu mencari pengganti Delmira, tapi kamu menolak semua wanita yang Ummi tawarkan," sambung Aisyah dengan suara parau.


"Kamu inginnya bagaimana Zaid?"


"Zaid" panggil Aisyah karena anaknya hanya diam saja.


"Maafkan Zaidan Ummi," jawab Zaidan dengan suara lirih.


Aisyah kini tidak bisa menyembunyikan air matanya, air itu mengalir membasahi dua pipi.


"Dulu, kamu menikah dengan Delmira karena permintaan abah Fatah. Kalau sekarang, Ummi meminta kamu untuk melupakan Delmira, apakah kamu dapat mengabulkan permintaan Ummi?"


Zaidan mengangkat wajahnya karena terkejut mendengar permintaan Aisyah.


"Tapi Ummi_"


"Pasti kamu menolak permintaan Ummi," potong Aisyah, tangannya bergerak menyeka bulir air mata.


"Bagaimana cara agar Zaidan bisa melupakan Delmira, Ummi?" lontar Zaidan berada di titik kepasrahan karena tidak tega melihat Aisyah yang terus menangis.


"Tinggalkan Jakarta. Temukan kehidupan baru di tempat lain," sahut Aisyah.


Jalan pikiran Aisyah, Zaidan akan sedikit demi sedikit melupakan Delmira kalau tidak ada di Jakarta. Karena, Jakarta adalah tempat dimana dia pernah menjalin sebuah rumah tangga dengan Delmira. Apalagi rumah yang dia singgahi, semuanya penuh kenangan dengan Delmira.


"Ummi_"


"Hanya itu permintaan Ummi, kamu bahagia menjalani kehidupan." cekat Aisyah.


...****************...


Dua hari setelah memastikan Aisyah dalam kondisi baik. Zaidan memutuskan untuk menerima tawaran Aisyah untuk pergi dari Jakarta.


Dia memilih salah satu tempat dimana cabang dealer motor AZM berada.


"Aden akan menyerah sampai di sini?" lontar Fernando ketika mengantar Zaidan ke tempat singgah baru.


Zaidan menghela napasnya.


"Aku percayakan pencarian Delmira pada kamu, di sini aku akan terus pantau pencarian itu," sahut Zaidan.


Fernando tersenyum, dia begitu bangga pada kegigihan Zaidan dalam memperjuangkan cintanya. Dia juga sangat senang atas kepercayaan yang diberikan Zaidan.


"Aku akan jalankan amanah den Zaidan dengan sebaik mungkin. Jaga diri baik-baik Den. Aku segera ke sini setelah semua urusan administrasi kantor dealer AZM selesai," ucap Fernando.


"Aku pegang janji kamu," sahut Zaidan diiringi sebuah senyum.


Fernando membalas senyum itu lalu memeluk Zaidan.


"Assalamualaikum Den," pamit Fernando setelah melepas pelukannya.


"Waalaikum salam," balas Zaidan tangannya melambai ke arah mobil yang mulai bergulir meninggalkan dirinya yang sekarang berdiri di sebuah cabang dealer motor AZM dan cabang dealer motor ini, memiliki nama berbeda, yaitu Dealer Motor Pekalongan.


Zaidan melangkah masuk ke dalam dealer, beberapa pegawai menyapa Zaidan, dia juga disambut oleh manager dealer.


"Mbak Del, terima kasih," suara nyaring dari salah satu pegawai membuat mata Zaidan menoleh ke arah sumber suara.


Deg.


Darah seakan berhenti mengalir, jantung Zaidan terpompa tidak normal. Melihat sosok wanita yang berada tidak jauh dari pandangannya.


"Delmira," ucap Zaidan dengan suara bergetar.

__ADS_1


malam menyapa 🤗 like komen hadiah vote rate 🙏 lope lope buat kalian yang masih setia dengan cerita ini 🥰😍🥰


__ADS_2