Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 8


__ADS_3

"Hai, maaf ya aku telat," ucap Delmira mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya.


"Telat tidak apa-apa dari pada tidak jadi datang," jawab Meilin.


"Silvia, Yasmin, Marsya sudah pulang?"


Meilin mengangguk.


"Cuma aku yang masih setia menunggu kamu," seloroh Meilin.


"Thanks bebeb Meilin," sahut Delmira.


Meilin menatap telisik pada Delmira.


"Bagaimana perkembangannya?"


"Maksudnya aku dengan Zaidan?"


"Tentu."


Delmira mengempaskan napas kasar. Mulutnya menyeruput kopi yang diantar pelayan kafe.


"Apakah tadi malam kamu tidur di kursi lagi?" cecar Meilin karena rasa penasaran yang tinggi.


"Tidak sih, aku buat pembatas yang tinggi," jawab Delmira dengan senyum merekah.


Meilin melirik ke arah Delmira.


"Ingat! Jangan sampai pakai hati. Dia yang menyebabkan kedua orang tua kamu, anak kamu, dan Raffat meninggal," ujar Meilin tangannya mengepal, giginya gemeretak.


Delmira mengangguk.


"Mereka pantas mendapat balasan yang lebih menyakitkan!" lanjut Meilin terlihat matanya menyala penuh kebencian.


"Terima kasih atas kepedulian kamu," sahut Delmira mengelus tangan Meilin yang masih mengepal. Dia memang yang paling terdepan untuk rencana pembalasan ini. Kalau boleh dibilang, Meilin ikut andil besar untuk memuluskan rencana balas dendam.


"Dia kembali memintaku untuk mencabut tuntutan."


"Kamu menyetujui?!"


Delmira menggeleng keras.


"Bagus! Jangan sampai dia terbebas dari jerat hukum. Kalau tidak bisa dibayar nyawa maka mereka harus merasakan lebih dari kehilangan nyawa, siksa dan sesal seumur hidup!"


Delmira terasa susah menelan salivanya mendengar ucapan Meilin.


"Mei, apakah kecelakaan itu murni kesalahan pak tua itu?"


"Maksud kamu?! Ini bukan kesalahannya?! Lalu kesalahan kamu yang menyuruh Raffat menjemput orang tua kamu?!" sahut Meilin matanya nyala membara dan meninggikan suara.


"Mengapa kamu berkata seperti itu Mei?" lirih Delmira merasa dipojokkan Meilin. Padahal, dialah yang paling berat menerima ujian ini karena ditinggalkan oleh orang-orang yang dia cintai.


"Maaf, maaf, aku... aku terlalu sensitif kalau kamu meragukan akan kesalahan yang dibuat lelaki tua itu," ujar Meilin melemah.


Delmira mengangguk.


"Maaf aku pulang dulu Mei, aku sedikit pusing. Mungkin terlalu capek," pamit Delmira.

__ADS_1


Tanpa mendengar jawaban Meilin Delmira melangkah ke luar kafe.


"Del," panggil Meilin.


Tubuhnya langsung memeluk Delmira begitu wanita itu berbalik.


"Maafkan aku," ulang Meilin, khawatir Delmira marah dengan sikap dirinya.


"Ya, aku juga minta maaf," sahut Delmira. "aku pergi dulu," lanjut Delmira, masuk ke mobil lalu melajukannya.


Delmira langsung masuk ke kamar begitu sampai di rumah mewah milik keluarga Fatah.


Rumah ini, menjadi rumah satu-satunya yang dia tempati. Pasalnya, setelah kematian suami, rumah miliknya disita oleh pihak bank karena dirinya tidak mampu membayar hutang.


Ya, kepergian Raffat suami Delmira meninggalkan hutang yang cukup banyak hingga perusahaan dan aset-aset yang mereka miliki bahkan warisan yang diterima Delmira habis untuk membayar semua hutang. Hanya tersisa mobil dan tabungan pribadinya yang tidak seberapa.


Mungkin saja, kalau Delmira meminta bantuan Fatah agar menebus rumah satu-satunya yang dia miliki, Fatah atau pun Zaidan akan membantu. Namun, Delmira, pantang yang namanya meminta-minta. Dia selalu menanamkan prinsip itu, lebih baik memberi dari pada menerima.


Delmira mendekat ke ranjang, merebahkan tubuhnya yang memang terasa lelah. Air matanya tiba-tiba meluncur dari dua mata.


"Apa-apaan sih Del! Kamu tidak boleh cengeng!" gumam Delmira agar dirinya kuat apalagi tadi mengingat ucapan Meilin.


Empat bulan setelah kepergian orang-orang yang Delmira cintai adalah fase terberat dalam hidupnya. Walaupun tragedi besar juga datang sebelum kecelakaan itu.


Raffat Bagus Suwandi, lelaki yang dia cintai lahir batin, ternyata menyembunyikan rahasia besar. Rahasia yang hingga kini masih menjadi tanda tanya besar untuk Delmira.


Flashback on


"Itu orang kenapa ponselnya main tinggal?!" gumam Delmira melihat benda pipih milik suaminya di letakkan di meja makan.


Tuling.


Satu pesan masuk.


Delmira sekilas membaca ponsel yang dipegangnya.


Besok jangan lupa sayang untuk menemaniku ke dokter kandungan.


Bagai petir menyambar di siang benderang.


Delmira langsung mengusap ponsel itu memasukkan kata sandi.


"Kata sandinya diubah?" Delmira mencoba memasukkan digit angka tanggal lahir suami, tanggal lahirnya, dan terakhir tanggal lahir anaknya, barulah dapat terbuka.


Jari Delmira menyentuh aplikasi hijau lalu membuka pesan yang terbaca sebelumnya di layar ponsel.


Tangan Delmira terlihat gemetar membaca tiap pesan dan balasan dari nomor tanpa nama dan tanpa profil itu.


"Mas Raffat, astaga. Benarkah ini kamu Mas?"


Tubuh Delmira seketika lemas, terasa tulang belulangnya lepas. Air mata Delmira tak terbendung.


Ponsel Raffat bergetar, satu panggilan dari bunda Delmira.


Delmira segera mengusap air matanya, lalu menerima panggilan itu.


"Raffat, bunda dan ayah di tempat biasa kamu jemput," ucap wanita di seberang sana.

__ADS_1


"Bunda," panggil Delmira.


"Eh Sayang kok_"


"Ponsel Mas Raffat ketinggalan," cekat Delmira.


"Haduh, bagaimana menghubunginya?" Suara dari seberang terdengar khawatir.


"Oh itu dia!" seru Bunda Delmira.


Delmira mendengar sapa bundanya dengan seorang anak kecil, sudah dipastikan itu Dara anak perempuannya. Lalu menyapa lagi seseorang dan dipastikan itu adalah Raffat, suaminya.


Delmira juga mendengar bundanya lapor pada Raffat kalau dia menghubungi ponselnya.


"Hallo Del." Suara lelaki yang tidak asing bagi Delmira, lelaki yang telah menikahinya 4 tahun yang lalu.


Delmira tidak kuasa menahan isak tangis. Dia langsung mematikan teleponnya karena tidak ingin amarah yang sudah memuncak tak terkontrol.


"Sudah Raf?" tanya bunda Lina.


Raffat mengangguk dan memberikan ponsel itu ke mertuanya.


Sore itu, Raffat menjemput Ayah dan Bunda mertua di bandara. Mereka pergi berlibur ke Malaysia. Delmira tidak dapat ikut menjemput karena satu jam sebelum penerbangan, bundanya meminta Delmira untuk memasak rendang dan ingin memakannya untuk makan malam. Permintaan mendadak membuat Delmira belum merampungkan kegiatan memasaknya.


Delmira memang jago memasak, bahkan dia membuka usaha katering on line karena kecintaannya akan memasak. Usaha itu baru digelutinya beberapa bulan tapi lumayan menambah pemasukan dan untuk menuangkan hobinya.


'Apakah Delmira tahu semua?' batin Raffat saat menerima telepon dan hanya terdengar isak tangis dari Delmira.


"Raf, Raffat, hei kamu kenapa?"


Panggilan dari ayah mertuanya beberapa kali tidak disahuti Raffat, baru dia menoleh setelah bahunya ditepuk oleh mertuanya.


"Maaf Ayah, kenapa?"


Ayah Baren tersenyum menepuk kembali bahu menantunya.


"Kamu seperti dapat kabar apa dari Delmira, sampai melongo dipanggilpun tidak nyaut," ujar Baren.


Raffat tersenyum kaku membalas ucapan Baren.


"Kita jalan," ajak Baren.


Raffat mengangguk lalu membantu membawa salah satu koper.


"Nanti biar ayah yang nyetir," pinta Baren.


"Aku saja Yah. Ayahkan capek dari perjalanan jauh," tolak Raffat.


"Kamu yakin, tidak kenapa nih melihat kamu bengong seperti tadi?"


"Ya, tidak kenapa Ayah. Tadi hanya... hanya... merasa ada sesuatu yang hilang saja karena Delmira tidak ikut ke bandara," dalih Raffat padahal dirinya memang dalam keadaan kalut.


Kalut karena takut wanita yang selama ini setia dengannya mengetahui rahasia besar yang dia tutup rapat.


subuh menyapa 🤗 jangan lupa like, komen, hadiah, vote rate 🙏 terima kasih kamu juga bisa kasih hadiah tips lewat iklan video ya🙏 dukungan kalian sangat berarti buat kak Mel


__ADS_1


__ADS_2