Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 74


__ADS_3

...****************...


"Sudah aku ingatkan untuk tidak mengganggu kehidupan Delmira!" tekan Verel memeot dua pipi Meilin.


Dua mata-mata Meilin yang digelandang masuk ke rumah Meilin terlihat babak belur.


"Kamu lihat kacung kamu!" Tangan Verel memaksa dagu Meilin agar mengarahkan pandangan pada dua anak buahnya, "kamu ingin seperti mereka hah?!" sambung Verel dengan suara meninggi dan tangan melepas dagu Meilin kuat-kuat hingga Meilin jatuh tersungkur.


Meilin tertawa dan mencoba bangkit.


"Kamu mau merencanakan apalagi sampai mengirim dua orang itu hah?! Sayang sekali, rencana kamu terendus olehku!"


"Kamu seharusnya berterima kasih padaku. Karena aku, akhirnya kamu bertemu wanita murahan seperti Delmira," ujar Meilin dengan gigi gemeretak menahan amarah.


Plak plak.


Dua tamparan keras mendarat di pipi Meilin hingga sudut bibir Meilin terlihat berdarah.


Dengan wajah yang dibuat tegar, Meilin mengusap darahnya.


"Apa aku salah bicara hah?" tatapan sengit mengarah ke Verel, "Delmira wanita murahan!" teriak Meilin sengaja membuat Verel semakin naik darah.


Benar saja Verel, terpancing emosi hingga menampar kembali pipi Meilin.


"Aku pastikan! Kamu akan mendapat hal lebih menyakitkan dari apa sudah kamu terima!" ancam Verel.


"Wanita murahan yang rela ditidur*i lelaki mata keranjang itu! Ingat! Dia sebentar lagi juga akan hancur karena tidak mau mendengarkan titahku!" sambung Verel.


"Sedikit pun aku tidak takut dengan ancaman kamu Rel!" teriak Meilin.


"Mungkin kamu tidak takut, tapi dua adik kamu, bagaimana dengan mereka?"


Meilin mendengus kesal. "Ini urusan aku dengan kamu dan juga Delmira, tidak ada sangkut pautnya dengan adikku pecundang!" suara Meilin meninggi.


"Aku tidak peduli itu! Kalaupun aku mati sekarang! Aku pun tidak akan menyesal!Kamu tahu, hanya satu penyesalanku! Belum melihat Delmira hancur, sehancur-hancurnya!" ujar Meilin diiringi tawa lepas.


"Dasar gila!" umpat Verel.


"Kamu lebih gila Rel!" sahut Meilin masih diiringi tawa.


"Awasi gerak-gerik yang mencurigakan dari dia!" titah Verel pada salah satu anak buahnya.


"Siap Tuan," jawabnya tegas.


Kaki Verel melangkah pergi meninggalkan rumah Meilin. Telinganya sudah pengak mendengar ocehan dari Meilin.


"Raka, tambahkan anak buah kita ke Pekalongan!" titah Verel ketika pantatnya duduk di kursi penumpang.


"Baik Tuan," jawab Raka, tangannya bergerak cepat mengambil ponsel dan melakukan apa yang menjadi perintah bosnya.

__ADS_1


...****************...


Dua Minggu telah berlalu, Delmira seperti biasanya membantu mbok Sa'diyah jualan. Walaupun Verel dan mbok Sa'diyah sudah melarangnya untuk membantu. Namun, Delmira tetap saja tiap hari membantu di warung.


Satu alasan Delmira yang akhirnya membuat Verel luluh mengizinkan dia membantu mbok Sa'diyah.


"Aku stres kalau hanya di rumah. Kamu tahukan, wanita hamil kalau stres itu sangat berpengaruh pada perkembangan janinnya," sanggah Delmira saat itu.


Verel pun akhirnya mengalah. Namun, tetap memperingati Delmira untuk hati-hati karena kandungan yang sudah masuk usia 9 bulan.


"Beli apa?" lontar Verel tiba-tiba ada di samping Delmira.


"Astaghfirullah haladhim, aku sampai kaget Rel," sahut Delmira mengelus dadanya.


Verel hanya tersenyum melihat reaksi Delmira.


"Tadi nyebrang sendiri?"


"Ya sendiri, masak iya dituntun pak polisi? Berasa aku jadi nenek yang mau nyebrang saja," sahut Delmira dan sekali lagi membuat dua sudut bibir Verel membentuk sebuah senyum.


"Awas saja kalau polisi berani sentuh tangan kamu," sahut Verel dan Delmira hanya bisa menggelengkan kepala.


"Ingat Del, jalanan itu ramai, bagaimana_" sambung Verel. Namun, kalimatnya tiba-tiba menggantung.


"Bagaimana kenapa?"


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Semuanya serahkan sama Allah. Kalau kita terus menerus was-was, jatuhnya jiwa kita malah tidak tenang," terang Delmira.


"Ya Bu Ustazah," jawab Verel dengan menampilkan senyum.


"Ini Mbak belanjanya. Total 125 ribu," sela seorang penjaga toko.


"Biar_"


"Rel," sebut Delmira wajahnya menoleh ke arah Verel, sebagai bentuk protes dari Delmira.


"Ya, ya uangnya aku masukkan kembali," sungut Verel memasukkan dompet ke saku jasnya kembali.


"Ini Mbak." Delmira menyerahkan lembaran uang dengan nominal yang disebutkan pelayan toko.


"Terim kasih ya Mbak," ucap Delmira dan dibalas ucapan yang sama oleh pelayan toko.


"Biar aku yang bawa," pinta Verel.


Delmira mengangguk, mereka berjalan beriringan untuk menyeberang jalan.


Tangan Verel direntangkan agar Delmira menyeberang dengan aman. Ketika setengah lajur terlewati dan setengah lajur lagi akan mereka lalui, kaki Verel akan berpindah tempat, Namun, tiba-tiba ada mobil melaju dengan sangat kencang.


Delmira yang melihat itu sontak mendorong Verel agar terhindar dari mobil. Akan tetapi, justru dirinya yang bersentuhan langsung dengan bemper mobil. Tubuh Delmira pun terpelanting jauh.

__ADS_1


Srekkkkk.


Prak.


"Delmira...!" jerit Verel, dia bangkit dan berlari ke arah tubuh Delmira yang sudah bersimpah darah.


"Del... Delmira," sebut Verel langsung memapah tubuh yang sudah berlumuran darah.


Darah mengalir dari kepala dan juga mengalir di antara dua kakinya.


"Raka yang tidak jauh dari lokasi, gegas mengambil mobil dan mendekat ke arah Verel dan juga Delmira.


"Bawa cepat ke rumah sakit Ka!" titah Verel.


Tangan, kaki semua terasa gematar. Verel tidak henti menyebut nama Delmira. Pikirannya benar-benar kalut melihat orang yang dia cintai kini tergeletak tak berdaya.


"Dokter segera tolong dia!" teriak Verel begitu sampai di ruang sakit yang letaknya sekitar 15 menit dari lokasi kejadian. Itu karena Raka melajukan mobilnya di atas rata-rata kecepatan.


Tubuh Delmira diletakkan di ranjang pasien. dan segera tim medis menanganinya.


"Selamat kan dia Dok," ucap Verel tanpa terasa air matanya sudah basah membasahi dua pipinya.


"Ya, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tolong Bapak keluar ruangan.


Raka menatap kasihan pada tuannya. Untuk pertama kali, setelah sekian lama bersama dengan Verel, dia melihat wajah Verel begitu cemas dan kesedihan yang tidak terbendung.


Selang beberapa menit perawat menghampiri Verel, "Maaf Pak, Bapak apanya pasien?"


"Saya ayah dari janin dalam perut pasien," jawab Verel.


"Tolong segera lengkapi berkas di administrasi karena kami akan segera melakukan operasi pada pasien.


"Ya Sus." Verel gegas ke meja administrasi, namun saat membaca surat persetujuan yang tertera di kertas. Verel langsung terdiam.


Air mata Verel kembali lagi menetes.


"Mengapa sesulit ini pilihan yang harus kupilih?" lirih Verel air matanya kembali membasahi dua pipinya.


"Mohon dipercepat Pak karena kami harus melakukan tindakan medis yang cepat," ucap seorang perawat mengingatkan.


Tangan Verel bergerak cepat menyeka lelehan air mata.


Dia telah menandatangani surat persetujuan. Di dalam surat itu, entah akankah dirinya masih dapat menatap wajah Delmira atau selamanya tidak akan menatapnya.


Atau... selamanya tidak akan melihat anaknya lahir kedunia dengan selamat.


"Maafkan aku Del," lirih Verel.


tengah malam menyapa🥺 vote ya 🙏

__ADS_1


__ADS_2