Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 96


__ADS_3

Satu bulan sepeninggal Sa'diyah, Safira sudah lulus sekolah. Namun, dalam satu bulan itu, Safira lebih memilih berdiam diri di kamar. Kalau pun keluar, itu karena paksaan Delmira.


Keadaan itu membuat Delmira semakin khawatir. Sungguh kematian Sa'diyah membuat Safira putus asa.


"Mbak boleh masuk?" lontar Delmira, kepalanya menjulur melebihi ambang pintu.


"Bolehkan?" sambung Delmira, tanpa persetujuan sang pemilik kamar, tangannya membuka penuh pintu kamar lalu kaki melangkah menuju ranjang milik Safira dan pantatnya dia dudukkan di ranjang itu.


"Emmm, besok ke Dieng yuk?" ajak Delmira mencoba merayu Safira agar tidak larut dalam kesedihan.


"Malas keluar," sahut Safira dengan ketus.


"Kalau kamu malas keluar, apa kolam renangnya bawa ke sini saja?"


Tanpa sadar Safira menarik sudut bibirnya, "Nggak lucu Mbak!" sungutnya.


Delmira terkekeh, "Nggak lucu tapi kenapa kamu senyum ayo?" ledek Delmira menoel pinggang Safira.


"Geli Mbak!" elak Safira.


"Biar saja kamu geli," balas Delmira tangannya berlanjut menggelitik pinggang Safira.


Safira terkekeh karena tidak kuat gelinya kelitikan Delmira.


"Ya, ya besok kita ke Dieng," jawab Safira di tengah tawanya.


"Alhamdulillah," seru Delmira, berhenti menggelitik pinggang Safira.


Satu bulan ini, sungguh Delmira harus berjuang keras mendampingi Safira agar tetap tegar, kuat menghadapi kenyataan hidup. Sepahit apapun itu.


Delmira langsung masuk ke kamarnya setelah Safira menyerah untuk melakukan apa yang Delmira sarankan.


Pagi hari.


Delmira, Zaidan, Safira, dan Fernando tancap gas naik ke dataran tinggi Dieng.


Berbagai panorama yang menakjubkan menyejukkan mata siapa pun yang memandang.


Delmira menatap keluar jendela tanpa kedip, wajahnya menampilkan sebuah senyum merekah.


Namun, dibalik pemandangan yang sangat eksotis itu, sering kali mereka harus mengeratkan tangan pada pegangan yang ada di dashboard langit mobil.


Dua jam lebih, setelah melewati Linggo asri, Paninggaran, lalu menanjak ke atas melewati Kalibening, Wanayasa, Batur, dan berakhirlah di dataran tinggi yang terkenal dengan ke-eksotisan panoramanya itu.


Mobil terus bergulir hingga masuk ke pelataran parkir kompleks candi Dieng Wonosobo.


Mereka harus jalan beberapa kilo meter menuju kawasan candi dan juga mengeksplor beberapa candi yang berdiri kokoh hingga ribuan tahun. Candi-candi itu menjadi saksi bisu sebuah sejarah yang telah terbangun di tempat itu.


Delmira merentangkan dua tangannya, menghirup udara dalam-dalam. Udara di Dieng memanglah sangat sejuk.


Apalagi di kompleks candi yang masih terlihat asri, bahkan bentangan sawah hijau dengan tanaman kentang yang melimpah menambah keasrian setiap mata manusia yang tengah memandang.


Bukit-bukit yang terlukis dengan sempurna oleh Sang Pencipta menambah nilai keindahan tersendiri oleh pengunjung candi kompleks.


"Suka?" lontar Zaidan pada wanita yang betah memejamkan mata sambil menghirup udara dalam-dalam.

__ADS_1


Delmira membuka matanya, menatap lelaki yang berdiri di sampingnya.


"Sangat suka," sahut Delmira diiringi sebuah senyum.


"Hampir sepuluh tahun. Baru bisa kembali menginjakkan kaki di Dieng."


"Oya? Aku kira untuk pertama kalinya kamu ke sini," balas Delmira.


"Itu dulu, sewaktu aku masih di bangku SMA. Ada kegiatan Pramuka jelajah alam."


"Kajen ke Dieng?"


Zaidan mengangguk.


"Kuat? Kita naik mobil saja dua jam lebih," penasaran Delmira.


"Masa muda pasti kuat," jawab Zaidan, mengembangkan sebuah senyum.


Delmira mengerucutkan bibirnya. "Kenapa hanya mengingat saja sampai sebegitu senangnya?" telisiknya, "pasti ada sebab yang sangat kuat!" imbuh Delmira, otaknya kini dipenuhi prasangka buruk.


"Sap! Tunggu Mbak," panggil Delmira pada Safira yang sedang jalan kanan-kiri mengambil setiap jejak pahatan peninggalan bersejarah dan sesekali mengabadikan pahatan maha karya Sang Pencipta lewat bukit dan hamparan sawah.


Safira menoleh, menghentikan langkah kakinya, "Ada apa Kak?" tanyanya kemudian.


"Mbak ikut!" seru Delmira sedikit berlari ke arah Safira. Namun apa yang terjadi, kaki Delmira yang memang belum sembuh total karena kecelakaan yang pernah menimpanya membuat Delmira tiba-tiba menghentikan larinya dan seketika jongkok.


"Auw!" jerit Delmira. Wajahnya terlihat nyeringis menahan sakit, tangannya memegang kaki yang sakit.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, Delmira!" Ekspresi tak kalah terkejut terlihat di wajah Zaidan. Dia gegas berlari ke arah Delmira.


Safira dan Fernando juga tidak kalah terkejut dan khawatir. Mereka ikut menghambur memastikan keadaan Delmira.


Pengunjung yang lain, yang sedang jalan juga ikut menatap ke arah Delmira.


"Masih sakit?" Zaidan memastikan sesudah tangannya memijat sebagai kaki Delmira.


"Mbak kenapa main lari? Kayak bocah saja! Ingat usia Mbak!" celetuk Safira.


"Issst!" gemes Delmira mencubit lengan Safira karena dia asal ngomong.


"Auw! Sakit tahu Mbak!" gerutu Safira memanyunkan bibirnya.


"Kita jalan Sap!" seru Delmira, bangkit dari duduknya tanpa menghiraukan Zaidan.


Zaidan menatap Delmira berjalan menyeok kaki kirinya, "Aku gendong," tawar Zaidan kemudian setelah menyusul langkah Delmira.


Wajah Delmira berubah masam mendengar tawaran Zaidan, 'Hah! Gendong? Apa dia dulu juga seperti ini pada pacar SMA-nya?' batin Delmira penuh tanya.


Zaidan memasang diri di depan Delmira dengan posisi jongkok, "Ayo naik," titah Zaidan.


"Aku bisa jalan sendiri!" sungut Delmira, berjalan meninggalkan Zaidan di belakang.


Zaidan menarik satu sudut bibirnya, dia merasa ada yang tidak beres pada istrinya. Kakinya kemudian jalan mengekor langkah Delmira.


"Gendong itu asyik loh Mbak, kenapa tidak mau?" ujar Safira, dua sudut bibirnya ditarik membentuk sebuah senyum karena otaknya langsung traveling, menghayal dirinya digendong sang pujaan hati, siapa lagi kalau bukan Raka.

__ADS_1


Delmira malah tidak suka melihat ekspresi Safira, "Kamu pernah digendong?" lontar Delmira matanya menatap telisik pada gadis di sampingnya, "Sama lelaki? Apakah sama, sewaktu ada kegiatan jelajah alam juga?" cecar Delmira.


Senyum di wajah Safira ditarik, bibirnya manyun, "Issst! Mbak apa-apaan sih! Mana mungkin aku gendong-gendongan dengan lelaki lain! Kecuali om ganteng Raka mau menawarkan diri, maka aku rela," sahut Safira dengan senyum yang semakin mengembang dari wajahnya.


Namun, seketika wajahnya berubah ekspresi, "Oh... jangan-jangan... maksud Mbak dengan kata sama itu_"


"Dia cemburu mengira aku gendong-gendongan sewaktu jelajah alam, dulu masa SMA," cekat Zaidan yang jelas mendengar pembicaraan keduanya.


Delmira menghentikan langkah lalu membalikkan tubuhnya, menatap pada lelaki yang di belakangnya.


"Benarkah itu?" ujar Zaidan, sebuah senyum tercetak di wajahnya.


Delmira mendengus. Nyatanya memang benar apa yang diucapkan Zaidan. Entah kenapa dirinya berprasangka sejauh itu dan rasanya sungguh tidak mengenakan hati.


"Jangan kepedean!" sungut Delmira, entah kenapa malah tidak mau mengakui rasa cemburu yang menguasai diri.


Zaidan hanya menimpali dengan sebuah senyum.


Delmira membalikkan tubuhnya lalu melanjutkan jalan tapi seketika dia menghentikan langkahnya.


"Tidak jadi menggendong aku!" ujar Delmira tanpa menolehkan tubuhnya.


Senyum Zaidan semakin merekah, dia berjalan melewati tubuh Delmira lalu berhenti tepat di depan Delmira. Posisinya jongkok agar Delmira lebih mudah menggapai tubuhnya.


Delmira yang merasa kakinya yang semakin terasa sakit dan tidak mungkin terus dipaksa untuk jalan, lebih memilih meminta untuk digendong. Namun, satu hal yang harus Delmira pastikan. Dirinya harus menghapus jejak wanita masa lalu di punggung Zaidan.


'Aku hapus!' gerutu batin Delmira. Posisinya yang sudah ada dalam gendongan Zaidan, makin menempelkan diri di punggung sang suami.


Deg.


Zaidan bagai tersengat listrik. Jakunnya bergerak naik turun menelan saliva.


Ya, walaupun Delmira sudah menjadi istrinya, Namun, gerakkan Delmira sungguh membangkitkan bulu-bulu halus pada tubuhnya.


Sesekali Delmira melonggarkan pelukannya, lalu memundurkan tubuhnya dan tangannya bergerak menggosok punggung Zaidan, 'Pasti nempel di sini! Aku harus menghapusnya!' seru batin Delmira.


Kemudian posisi Delmira kembali memeluk Zaidan dengan erat.


"Jangan banyak gerak," ucap Zaidan. Setelah Delmira menempel seperti cicak tiba-tiba tangan Delmira dia longgarkan dan Zaidan tahu apa yang nantinya akan Delmira lakukan. Ya, apalagi kalau bukan menggosok punggungnya. Karena hal itu sudah Delmira lakukan sepanjang jalan.


"Punggung kamu kotor, makanya aku bersihkan!" sahut Delmira masih dengan nada ketus.


'Ya Allah... apa dia tidak tahu, celanaku semakin sesak istriku,' batin Zaidan.


"Eh... kenapa jalannya cepat sekali?" protes Delmira.


"Kita cari makan, lekas itu cari penginapan," sahut Zaidan.


"Baru jam 10, kenapa buru-buru?" sanggah Delmira.


"Memang harus ditindaklanjuti dengan buru-buru," balas Zaidan.


pagi menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate 🙏


maaf baru bisa up🙏

__ADS_1


__ADS_2